
Arkan menatap Rian dengan tatapan datar juga dengan wajah yang lumayan malas tapi, Sepertinya ada paksaan diwajah Arkan untuk memberikan penjelasan dan bicara pada Rian.
Arkan Mantap menatap Rian.
"Lo buang waktu," ucap Rian. Arkan masih menatap Rian biasa.
Ketika tiga langkah Rian menjauh, Arkan mengeluarkan suaranya.
"Dinda masuk rumah sakit, Kejadian semalem gue gak bisa prediksi tembakan itu kena dada Dinda dan sekarang belum ada tanda-tanda Dinda bakalan siuman." Penjelasan Arkan dengan tenang dan jelas. Rian juga tidak ingin penjelasan itu di ulang.
Terkejut Rian tapi, harus tenang untuk sekarang. Rian berbalik menatap Arkan.
Wajah Rian kesal.
Berjalan menghampiri Arkan dan mencengkram kuat kerah baju Arkan.
"Gue udah wanti-wanti ama lo, dan lo malah bikin hal yang harusnya gak terjadi malah terjadi, Gue bilang jangan seret Dinda ke dalam masalah lo, dan jangan kasih tahu kalo lo keturunan Brathadika, BATU LO! " Kesal Rian.
Arkan melepasakn cengkraman kuat Rian Menatap Rian dengan datar.
"Gue cuman manusia biasa kalo gue malaikat gue pasti cegah itu Tapi, gue masih bisa dapet ngelakuin hal lainnya karena orang yang gak suka sama Dinda dia orang yang sama yang gak suka sama Gue," ucap Arkan datar.
Rian memainkan rahangnya. Tatapan matanya seperti mencari benda untuk melampiaskan amarahnya.
"Fine.. gue ikutin mau lo, Asal Dinda selamat, Jangan berpikir kalo gue gak nonjok lo bukan berarti lo aman karena lalai jaga Dinda." Ucapan Rian sama sekali tidak membuat Arkan menciut justru Arkan tersenyum seperti menyepelekan Rian.
"Ada satu orang yang gue curigain dia punya tato mawar hitam dan Kalajengking, Lo tahu?" ucap Arkan.
Rian terduduk dan membuka ponselnya.
"Ini maksud lo?" ucap Rian perlahan suaranya yang sedang marah, perlahan tenang sedikit-demi sedikit.
Arkan mengangguk.
"Farles orang yang udah ngirim anak buah buat nembak Dinda di cafe waktu sama Lo, dia adalah bawahan langsung dari gengster black rose dan scorpion. Gengster terkenal di Benua asia setengahnya di barat, Penyebaran mereka luas, Lo...gue saranin tanya pimpinan sebelum lo, bukannya yang pertama dia dan lo turun kedua darinya," ucap Rian.
Arkan menatap ke arah jendela.
"Italia." Bisik Arkan.
"Liburan besok dua minggu kita bisa pergi," Celetik Justin.
Arkan menatap Rian
"Gue rasa bisa lo ikut kita," ucap Arkan dengan wajah seriusnya.
Rian terkekeh.
"Waktu yang bisa jawab, kalo gue bilang sekarang lo kePd an, Alasan gue ikut kalian hanya Dinda bukan karena gue mau jadi temen kalian lagi," ucap Rian. Arkan mengkat bahu.
Berjalan pergi meninggalakn Rian tanpa mengucap Apapun.
"Gue rasa gak terlalu berat ini masalah, kita masih SMA," ucap Justin.
"Terlanjur, Harusnya dari awal kita nolak Giovano. Kalo nolak dan berhenti disini kita pengecut," ucap Arkan Seketika membuat Justin bungkam, berpikir ulang Justin.
Ya...ada benarnya Arkan, Kenapa sekarang Justin harus takut, harusnya sebelum semuanya terjadi sekarang hanya bisa maju tidak bisa mundur.
Dikanti kali ini Dodi dan Beto bersama teman lainnya satu deret kursi dan meja kantin bersama Kiran Yeni dan Lia tidak lupa kembaran toaknya Yeni, Chintiya, siapa lagi.
"Seblak mak..." ucap Chintya menggoda Kiran.
Kiran terpaksa tersenyum.
"Ya elah Ran, Ceria napa ran, Kalo sedih nanti Dinda sedih, Waktu itu gak akan membuat seseorang berhenti terlalu lama jadi, Semangat Bleeeh...." Ucap Yeni dengan heboh.
Kiran terkekeh.
"Iya dong Bleh.. Bakso mercon seblak level sepuluh atau es jeruk nipis Mau yang mana lo," ucap Lia.
Seketika Yeni dan Chintiya bersorak.
"Semuanya kita makan bareng-bareng pake porsi berempat aja," ucap Kiran.
"Yeee..." Seru Yeni dan Dodi.
"Ih.. Didi lo kut aja," ucap Yeni.
"Lah suka suka gue lah, Masalahnya Neng Kiran gue dah ceria lagi," ucap Dodi
Yeni kembali duduk dan berdecih menatap Dodi.
Dodi kembali duduk dan kembali mengobrol seru dengan teman-temannya.
Saat ini di rumah sakit ruang rawat Dinda Johan dan Ayah Dinda sedang bicara di ruang tunggu keluarga. Dan Dinda hanya bersama perawat yang terus bergiliran memeriksa kondisi dan peningkatan kesehatan Dinda.
Setelah dua suster yang mengecek Dinda keluar.
Membuka masker dan topinya.
"Cantik sekali, Kenapa kau begitu mirip dengannya, Maafkan aku, Kau tudak bisa bersama anak lelaki itu, Kau harus disini, Aku akan pergi," ucap orang drngan pakaian serba hitamnya dan bergerak keluar lewat jendela.
Lupa orang itu menutup tirai. Seketika perawat tadi masuk lagi dan mencari pulpen juga mengambil satu papa catatan cek infus atau kesehatan Dinda.
Seketika tanpa sadar tolehan Perawat itu menatap jendela.
Tatapan heran, tirai jendela yang tadi tertutup kenapa terbuka, Tunggu ada jejak sepatu.
Sangat teliti perawat itu melihat.
Perawat segera keluar dan memberitahu Ayah Dinda dan Johan asisten Kakek Brathadika.
"Maaf Tuan menyela, Kamar Nona Dinda!" Ucapan Perawat itu tidak bisa berlajut karena Ayah dinda dan Johan langsung bangkit dan pergi melewati perawat itu.
Masuk mereka berempat dua perawat Johan dan Ayah Dinda.
"Disini Tuan ini jejak sepatu dan Tirai iti tertutup jika terkena angin, tirai hanya bergeser sedikit tidak seperti ini," helas perawat yang tadi masuk dan melihatnya sendiri.
Ayah Dinda melangkah maju dan melihat apa yang Perawat itu jelaskan. Lalu melangkah ke jendela. Mustahi! Jendela ini ada di lantai delapan tidak mungkin seorang bisa naik dengan mudah tanpa tali atau merayap dengan alat bantu.
Melihat kesekeliling jendela yang tidak memiliki balkon itu membuat Ayah Dinda berpikir, siapa yang masuk barusan. Setelah ayah Dinda Johan yang memeriksa.
Tidak ada yang mereka temukan.
"Beesihkan ini. Lainkali, buka jendela ketika ada orang didalam jika tidak ada kunci jendela ini," ucap Ayah dinda pada perawat.
Perawat itu mengangguk mengerti dan pamit pergi.
Ayah Dinda menatap putrinya yang masih terbaring lemah, Semakin cantik Dinda tapi, pucat diwajahnya masih terlihat.
Johan menelpon seseirang sambil melangkah keluar meninggalakan Ayah Dinda bersama Dinda di ruangan rawat.
Di rumah. Kakek Bratha langsung bergegas pergi ke rumah sakit.
Karena telepon dari Johan.
"Ada apa lagi," ucap nenek.
"Urusan," jawab kakek Acuh. Nenek kembali Diam.
Nenek membuirkan Kakek pergi dan Kembali lelek masuk kedalam rumah.
Di sekolah Arkan mendapat pesan dari Kuta yang mengawasi Jendela ruang rawat Dinda dari teropong jarak jauhnya.
Tidak lama Ayah Dinda memberi kabar pada Arkan jika Baru saja ada orang sing yang tidak di undang masuk. Telapak sepatunya seperti seorang peria dan tidak tahu bagaiamana masuknya, tapi, sekarang semua baik-baik saja.
Pesan Kuta adalah seorang dengan tudung dan jaket hitam menggunakan tali dan masuk ke ruang rawat Dinda hanya sepuluh menit dan kembali keluar.
Kuta mengirimkan foto itu pada Arkan.
Arkan sedang membaca semua pesan itu dan mulai menanggapi dengan pikirannya.
Seketika Citra datang ke meja kantin dimana Arkan dan teman-temannya duduk.
"Haiy.. Arkan aku gabung ya," ucap Citra dengan ceria.
"Haa Aku," ucap Lorenzo.
"Gabung," ucap Bagus.
"Tidak bisa lah ya... Sory Nyonir, Nyonya menir, sebaiknya Anda pergilah dari meja kami, Pak bos lagi gak mau di ganggu Jablay kek lo," ucap Lorenzo.
Citrs menTap kesal mendengus pada Bagus dan Lorenzo.
"Ih.. Ya suka-suka guelah gue yang mau deket Arkan, Kalian yang sibuk, mau gue pake aku kamu atau sayang buat ngomong ama Arkan, Yaa mulut gue suka-suka gue dong," ucap Citra.
Seketika Arkan berdiri sambil membawa segelas esteh tanpa gula pergi.
"Ih.. kok pergi, liat gegara kalian pergi kan," ucap Citra mengomel pada Justin dan Lorenzo, Bagus.
"Yaah nyalahin kita, Lo berisik Lampir," ucap Lorenzo.
Citra mendengus dan berbalik pergi mengejar Arkan seketika Justin menariknya dan membuat Citra duduk.
"Lo samperin Arkan sekarang ntar pulangnya sakit hati lo," ucap Justin.
Citra menepis rangkulan tangan di bahunya oleh Justin, Benar yang Justin bilang lebih baik Citra jangan buru-buru. Pergi Citra dari kursi sebelah Justin. Seketika Syifa berhadapan dengan Citra.
"Ih.. minggir lo," ucap syifa Seketika membuat Citra ternganga.
Kali ini Syifa membuatnya merasa di permalukan,Sialan lihat saja Citra akan merebut Arkan dari Perhatian lain dan membuat Arkan fokus dan harus fokus bersamanya.