
Seketika sebuah rumah besar terbakar Dinda ada didalamnya dengan wajah penuh asap dan dimana-mana api, Tapi seketika berganti dengan halaman yang terbuka, jalanan Raya ini adalah jalan Raya yang ramai.
Seketiak Dinda di kejar seseorang dam lihat Ayah ibu dan Syifa mati di dalam mobil Dinda menghampiri dan memukul kaca hingga pecah Dinda menarik keluar Ayah ibunya. Banyak orang tapi, tidak ada yang tahu Dinda menangis minta tolong tapo, orang-orang seperti tidak lihat.
Seketika sebuah pistol menempel di kepalanya.
Dor....
Terbangun Dinda di atas kasur dengan keringat yang banyak dengan wajah penuh dengan keringat dingin pucat juga.
Dinda memeriksa jam ternyata sebentar lagi waktu subuh dan adzan lebih baik Dinda bersiap.
*
Di kamarnya Arkan baru saja menyelesaikan sholatnya dan terdengar suara orang mengaji dan bersholawat didekat.
Arkan segera berkemas untuk kuliah pagi ini.
Arkan menyiapkan segalanya sendiri seketika telpon dari Retrigo terdengar berdering.
Arkan mengangkatnya dan melospekernya.
"Bos, Kabar buruk..."
Seketika Arkan mematikan ponselnya dan bergerak kerumah Dinda. Rettrigo yang baru selesai bicara menunggu sahutan malah terdengar suara panggilan terputus.
Beberapa menit Akhirnya sampai, Rettrigo sudah didepan gerbang dan melihat Arkan dengan motornya menghampiri.
"Nona baru saja pergi naik sepedanya kerumah orang tuanya, Nona menangis sambil naik sepeda Bos," ucap Rettrigo seketika Arkan menatap tajam dan bergegas pergi melewati Rettrigo.
Di rumah besar Dinda dan Syifa berduka.
Syifa masih histeris membuat orang yang mendengar tangis pilunya merasa sedih.
"Papa... Mama, Hiks...." Dua orang yang sedang di mandikan di dekat halaman berama pelayat lainnya membuat Dinda tak sanggup bicara apapun.
"Kakak jangan sedih, ada Dinda kak, Dinda bakalan nemenin kakak," ucapnya menatap Syifa yang sudah menangis sejak selesai adzan subuh tadi.
Banyak tetangga yang melayat dan bendera kuning terpasang di depan rumah.
Dinda sebenernya juga menangis dan berusaha agar tidak histeris seperti Syifa.
Dinda baru saja bermimpi buruk ternyata langsung mendapatkan kabar buruk setelah selsai sholat subuh.
Dinda masih tidak menyangka.
Kenapa semua ini begitu cepat, Apa Dinda tidak bisa lagi merasakan namanya ayah ibu yang lengkap dalam hal kebersamaan.
Kecelakaan, Bibi Art bilang kecelakaan yang menimpa orang tua Dinda.
*
Di pemakaman, semua sudah selesai dan ini adalah hal terakhir yang bisa Syifa hadapi dan kedepannya dia tidak tahu harus bagaimana?
"Kakak yang kuat, Kakak jangan sedih," ucap Dinda. Seketika Dinda Bibi dan sopir juga asisten ayahnya yang lain pergi dari pemakaman.
Setelah semuanya pergi Arkan menatap dua kuburan yang masih baru itu mengingat apa pesan terakhir dari keduanya sebelum kecelakaan yang bahkan Arkan tidak tahu, mungkin setelah Arkan dari sana atau entahlah.
Pesan yang membuat Arkan harus menjaga putri mereka dengan baik dan jangan biarkan dirinya tidak menangis karena hal ini bisa membuatnya semakin sakit, mungkin pertanda atau sudah waktunya Arkan mengerti dan mengingatnya.
Tidak lama Arkan berdiri menatap kebawah lalu berjongkok dan membacakan doa untuk kedua makam baru itu.
Sebuah tangan menyentuh bahu Arkan.
Menoleh, ternyata Kakek.
"Nanti malam pernikahan kamu dengan Dinda akan dilakukan, Kakek Harap kamu tidak mengecewakan kami," ucap Kakek seketika membuat Arkan yang baru selesai doa bangkit dan masih menatap kebawah.
"Apa yang kakek bilang."
"Kakek serius Kakek hanya tahu jika perempuan itu bisa membuatmu nyaman, Kakek melamar Dinda untukmu, Kakek memang tidak mengerti kamu tapi, biarkan kakek tahu rasanya membuat kamu dekat lagi dengan Kakek," ucapan Kakek begitu lebut dan tenang.
Arkan masih bergeming dan Kakek berusaha menunggu jawaban Arkan.
Di rumahnya Dinda dan semua tetangga masih bertamu hingga beberapa kolega ayahnya juga masih bertamu.
Dinda memang baru saja selesai mandi dan kaget ketika mendengar telepon dari Syifa jika kedua orang tuanya sudah tiada.
Syifa yang menangis bisa Dinda lihat ketika sepeda Dinda baru sampai gerbang.
"Lo Sekolah aja, gue ada Bibi gue juga bakalan Kuliah, Kita gak bisa diem aja habis ini kita harus lanjutin kuliah sama sekolah, Nanti biar tahlilan Bibi sama Pak Yanto sama Pakde satpam yang urus," jelas Syifa menatap Dinda ketika waktunya hampir siang waktunya berangkat sekolah.
"Tapi, Kakak janji ya jangan sedih Dinda nanti maen lagi kesini." ucap Dinda.
Sebenernya Dinda lebih sedih dari pada Syifa tapi, jika Dinda ikut menangis siapa yang akan menenangkan Syifa
Kecelakaan itu terjadi ketika beberapa hari lalu orang tua Dinda pergi keluar kota dan kembali dengan kabar duka tidak tahu kenapa tapi, sebenernya sebelum kejadian itu mamanya Dinda dan Syifa sempat menelpon juga mengirim pesan pada Arkan. Tanpa dinda dan Syifa tahu.
Syifa melihat Dinda yang pulang dengan naik sepeda seketika kembali menangis. Bibi langsung memeluk nonanya.
"Kasian Bi, Besok dia mau nikah Mama sama papa malah pergi dulu, Kasihan Bi, Syifa gak kuat, Walaupun Syifa jahat sama dia dulu sekarang Syifa sayang banget bi," ucap Syifa didalam pelukan bibinya.
"Iyaa.. Non udah Ya Non sekarang Non tenangin diri nanti Bibi biar manggil yang lain nyiapin keperluan non, Sekarang Bibi mau buat sarapan buat non, Kuat non tabah ya, Anggep aja Bibi sebagai bibinya non okeh," ucap Bibi dengan wajah sedih.
Syifa mengangguk kembali memeluk Bibi.
Sampai di rumahnya Dinda terkejut melihat Arkan dengan pakaian rapi, seperti akan kekampus dan berdiri disamping motornya.
"Kak Arkan," ucap Dinda dengan cepat memeluk Arkan tanpa sadar dan menangis. Sepedanya dibiarkan jatuh.
Arkan yang masih menggunakan helmnya tersenyum tipis dan menyambut pelukan itu dengan lembut.
Beberapa menit Dinda menangis lalu masuk kedalam rumah diajak Arkan Dinda juga langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian sekolah Arkan tentu menunggunya.
Karena akan berangkat bareng.
*
Siap berangkat sekolah seketika Arkan menatap Dinda dengan aneh.
"Kamu masih nyimpen hoddie itu?" ucap Arkan datar. Melihat Dind menggunakan hoddie hitam yang entah ada beberapa di tinggal di tempat Dinda.
"Iya lah kak Dinda kan suka pakenya apa lagi ini helm Dinda juga jaga wanginya setiap hari bersih," ucap Dinda dengan semangat.
Arkan mengangguk dan mengajak Dinda segera. Dinda langsung bergegas menutup pintu dan langsung menaiki motor Arkan.
Sebenarnya Dinda aneh rasanya karena Arkan tiba-tiba ada didepan rumahnya. Ada apa kenapa. Tapi, kalo ditanya apa di jawab. Sudahlah hari ini saja tidak tanya kalo ada lain hari baru tanyakan.
Di perjalanan. Dinda bicara.
"Kak Kakak datengin Dinda ada apa?" ucapnya dengan wajah senang. Tidak tahan jika tidak bertanya bingung harus mulai bicara mencairkan suasana dari mana.
"Kenapa?" Sahutnya singkat.
Tanya lagi gak ya, Tanya aja lah.
"Ya Gak Papa kak kan Dinda cuman tanya aja, kaget gak nyangka kalo kakak dateng, Tapi, Maaf kak buat pelukan tadi, Dinda gak sengaja, jangan bilang calon istri Kakak ya, Kakak pasti mau kasih undangannya ya, sini Dinda mau liat?," ucap Dinda panjang.
Hal bodoh apa ini Dinda kenapa ngelantur jauh banget. Liat aja kalo marah Kak Arkan, bakalan nurunin kamu di pinggir jalan cari lah angkot sendiri.
Dinda ketakutan karena Arkan tak bersuara.
Arkan bergeming.
"Kak, Kakak tahu Ayah sama ibu udah gak ada," ucap Dinda seketika bercerita tentang kedua orang tuanya. Mencairkan suasana.
"Rasanya Dinda semalem mimpi kalo mereka gak ada dan juga Pas Dinda mau nyelametin mereka Dinda di todong pistol pas suara pistol itu Dinda kaget. Kebangunlah, Gak tahunya ternyata emang mimpi buruk, paginya kenyataannya," ucap Dinda.
"Jangan pikirin itu, Ada Gue," ucap Arkan.
Seketika Dinda terkejut, aneh rasanya dengan kata lo gue kak Arkan.
"Kakak marah Dinda curhat ya, Katanya gak aku kam... eh iya deng lupa Kakak kan udah mau itu... ehm lupaa in aja semoga gak denger," ucapan Dinda yang aneh dan belepotan gak jelas itu sebenarnya Arkan dengar. Tapi, Arkan diam saja.
Dinda akan tahu setelah malam nanti.