Arkan Dinda

Arkan Dinda
Singa betina



Dinda terdiam menatap kebawah melihat belut listrik berukuran kecil.


"Silla, Lo mirip sama Citra," ucapan Dinda membuat Silla terdiam.


"Iya Gue adik kembarannya, Maaf karena waktu itu gue yang masang kamera pelacak di tas lo," ucap Silla dengan merasa bersalah.


"Udahlah, gak udah di bahas. Gue udah biasa aja, gue juga salah karena udah benci Kakak kembaran lo, Oiya, Lo jangan sungkan sama gue, panggil aja nama Kalo Gressia emang gitu dia," ucap Dinda seakan tidak terjadi apa pun diantara mereka.


Silla terdiam.


"Terimakasih Dinda, ternyata Kak Arkan memang pantes dapetin lo," ucap Silla seketika mendapat pelukan lengan dari Dinda.


"Makanya hidup yang tenang tanpa ada permusuhan, lagian bahagia gak kemana kalo kita gak cari masalah mulu," ucap Dinda diangguki cepat oleh Silla.


Seketika mereka berjalan melihat kandang binatang buas yang bersih dan terawat lalu sampai di pintu dekat tangga tanpa sadar sudah lama berjalan melihat-lihat kandang binatang buas.


"Pintu apa lagi ini," ucap Dinda berjalan sendirian lebih dulu, seketika Gressia memberikan kartu akses pada Silla.


"Ini pintu keluar Nona," ucap Silla seketika kembali formal karena sempat mendapat bisikan dari Gressia.


Dinda menatap Silla.


"Lah kok gini lagi suasananya," ucap Dinda yang merasa panggilan nona dari Silla sedikit tak nyaman.


"Maaf Nona Dinda ini sudah perintah dan pekerjaan saya," ucap Silla.


Ya sudahlah.. Dinda ikut saja.


Pintu terbuka dan terlihat halaman yang luas dan hijau juga seperti lembah bukit kecil yang terlihat lengkungan tanah turun naik.


Ada beberapa binatang kecil disana.


"Loh kok itu di bebasin dan yang itu di kandang," ucap Dinda bingung.


"Mereka hewan yang sakit dan umurnya juga tua, Datangnya mereka kesini ada yang sudah berusia tua ada yang muda," jelas Silla.


Silla tentu tahu Karena Silla yang mengurus semuanya dari tempat favorit ayahnya, Arkan meminta semua di pindahkan ke Markas tengkorak. Lagi pula terlalu sepi membuat Hantu semakin senang jika ada hewan seperti itu malah tambah lebih ramai bukan, juga meningkatkan kewaspaadan, mengurangi kecerobohan anak buah, itung-itung pekerjaan anak buahnya akan bertambah.


Terlihat sebuah box besar di dorong tiga orang masing-masing mendorong satu.


"Waktu makan malam mereka nona," ucap Gressia tahu arti tatapan Dinda.


Dari luar sana Dinda melihat Arkan sedang bicara dengan Justin Yuda sambil merokok.


Menajamkan penglihatannya Dinda mengepalkan tangannya.


"Kok Kak Arkan disana," ucap Dinda.


Suara auman singa besar dan lolongan serigala besar.


Dinda beralih pada hewan hewan itu dan memilih masuk lagi untuk melihat mereka di beri makan juga ada yang mau di mandikan.


Heey... itu buaya besar di sikat giginya, Dinda tersenyum lebar sangat senang.


Kegiatan binatang menjelang malam menjadi hiburan Dinda sekarang.


*


Di halaman depan Arkan Justin dan Yuda sedang bicara tentang Beto yang akan menjadi asisten atau teman Diyo untuk meretas beberapa Data penting yang berniat berurusan dengan tengkorak. Devan bisa belajar itu karena dari Diyo.


"Diyo juga tahu dia akan mendapat tugas tentang Beto, Sebenarnya setelah Farles waktu itu Mereka sulit percaya," ucap Yuda.


"Ya kali kalo Kita gak kasih Beto tempat belajar bisa bahaya ngretas data besar tanpa pengalaman," ucap Justin menyanggah pendapat Yuda.


"Yaa.. Gue juga tahu itu, Gue juga udah bilang Ke Diyo berbagi tugasnya sama Beto, Gue yakin Beto bisa ngelakuin itu, Masalahnya Beto sendiri yang nyuri semua berita itu dari Diyo," ucapan Arkan mendapat tatapan aneh heran sekaligus Bingung dari Justin dan Yuda.


"Yang Ayah Dinda bayar orangnya buat ngehapus semua pemberitaan itu Diyo dan Ayah Dinda gak tahu kalo Diyo itu salah satu anggota tengkorak, Anggep aja itu kerjaan sampingan Diyo." Lanjut Arkan.


Penjelasan Arkan membuat Yuda dan Justin diam.


Arkan menghidupkan rokok barunya dan mematikan yang suda habis di tepat sampah khusus.


"Lo udah tahu tugas berikutnya tentang Alderos Sozhak, dan Rian juga yang bantuin Lo," ucapan Justin sambil duduk di kursi dekat tempat sampah.


"Hem, Itu gue masih mikirin ninggalin Dinda dalam waktu lama," ucap Arkan.


Terdiam dalam waktu lama. Mereka bertiga masuk ke dalam ketika matahari mulai tenggelam.


*


Dinda kembali masuk kedalam ruangan meninggalkan ruangan kandang sambil membawa singa betina kecil.


Di dalam ruangan Arkan sekarang Dinda sendirian.


"Hehe.. Lucu, Ini susunya," ucap Dinda tertawa di ruangan Arkan seketika Arkan masuk ruangannya dengan rambut dan wajah basah.


"Kak.. Pulang aja yuk," ucap Dinda.


"Nanti," ucap Arkan.


"Nona ini singa betina kecil di ruang bawah," ucap Anasty.


"Eh.. Iya, Kamu tahu ada kandang binatang, kukira cuman beberapa orang yang tahu," ucap Dinda.


"Siapa namanya?" ucap Anasty.


"Alea."


"Singa betina ini lahir waktu induknya pertama kali datang kemari. Kondisinya kelaparan setelah melahirkan anaknya singa itu mati saudaranya ada dan di bebaskan liar di belakang itu tapi, singa betina kecil ini tidak bisa sepertinya dia punya sifat pemalu."


Penjelasan Anasty membuat Dinda sedih.


"Apa bisa di bawa pulang," ucap Dinda sambil berjongkok mengelus Alea singa betina kecil.


"Tidak ada hewan dirumah," suara besar Arkan di tangga membuat Dinda langsung merubah raut wajah berharap dengan kecewa.


"Kak, nanti aku tanggung jawab kan Alea sendirian disini," ucap Dinda memohon.


Arkan menghela nafas.


"Anasty bawa Alea masuk ke kandangnya," ucap Arkan dengan wajah datar dan dingin.


Dinda sedih berpisah dengan Alea.


"Yaah.. Alea... Kakak kok di bawa..." Kesal Dinda pergi berlalu dengan marah Arkan pergi juga ke lain arah.


Dinda masuk keruangan Arkan dan mencari mukenah.


"Mukenah dimana?" ucap Dinda


Seketika Arkan masuk memberikan paper bag.


"Aku tunggu di bawah dekat meja biliyar," ucap Arkan sambil melangkah pergi setelah meletakan Paperbag di sofa.


*


Dinda turun ke bawah setelah ibadahnya.


Dinda lalu menghampiri Arkan di meja Biliyar.


"Kak," panggil Dinda Seketika Arkan menoleh.


"Ikut Silla," ucap Arkan menunjuk Silla di sana dengan dagunya.


Dinda melangkah dengan tangan didalam kantong jaket sweternya.


"Mari Nona," ucap Silla.


Masuk ke sebuah ruangan dengan banyak pintu tapi satu pintu berwarna coklat di buka.


Silla mempersilahkan Dinda masuk dan terlihat didalam sana Anasty sedang bermain bersama Alea.


"Tadinya namanya Adalah Salsa, Karena Nona sudah memberi nama belakang anda dan keliatannya juga menyukai nama itu singa betina itu di panggil Alea sekarang." Kata Silla.


Dinda mengangguk mengerti.


Dinda berjalan masuk Alea seketika menatap kedatangan Dinda.


Berlari dengan melompat menghampiri Dinda.


Auman kecil yang lucu. Dinda memberikan kedua tangannya, seperti kucing Alea memberikan dua kaki depannya.


"Nona tidak bisa membawa Alea karena Tuan sudah memberika kamar khusus ini untuk Alea, Tuan sudah memiliki pemikiran ini, karena itu pas sekali Nona meminta Tuan langsung menggunakan kamar ini untuk singa betina kecil ini," ucap Anasty.


Dinda menatap Anasty sendu. Ternyata alasannya tidak boleh ada binatang dirumah adalah karena Arkan sudah memiliki tempat sendiri dan tidak bisa sembarang tinggal.


Dinda juga rela jika Alea disini. Kandang untuk singa besar saja selalu bersih apa lagi buaya yang jorok saja sampai di sikat terus giginya.


Bisa-bisa semua binatang disini jadi jinak walaupun ada riwayat menyerang dan makan manusia.


...****************...



...[Singa Betina #Alea dan #Citra Silla Betricias]...



...♡♡♡Haai Alea♡♡♡...


■Singa betinya Nyonya Prawira alias Dinda Alea□


Warna bulu agak beda karena pake filter yaa....


Sumber: Pinterst


Singa betina namanya Alea, Dinda yang ambil gambarnya karena lucu, tadinya mau Dinda tapi, biar di wakilin sama Silla. Arkan gak mau ada bulu hewan di bawa pulang kerumah, jadi Dinda menjaga untuk tidak terlalu dekat dengan Alea.