
Dinda meletakan kepalanya diatas meja belajar seminggu lagi akan ada ujian ujian mapel.
Suaminya kembali membaik setelah lima hari lalu sekarang Arkan sudah biasa dan menjelma menjadi guru les Dinda sekarang tapi, harus sabar karena Dinda sangat malas belajar.
Seketika ponsel Dinda berbunyi terus.
"Dinda jadi kumpul gak," pesan dari Kiran. Tidak lama Yeni lalu Lia pesan itu saling susul seketika Arkan mematikan ponselnya.
"Kak nanti malem ajalah belajarnya ini masih jam lima sore Dinda mau main dulu lah, Kalo gak belajar kelompoklah tempat mereka,"ucap Dinda menatap wajah Arkan memohon, yang ditatap Acuh dan malas menanggapi permohonan Dinda.
"Nilai kamu di bawah kkm semua sayangku, Liat mtk dapet 25 35, 60 itu paling besar Sayang, Belajar yang rajin," ucap Arkan dengan gemas di teken terpaksa lembut menatap wajah cemberut sang istri labilnya ini.
"Iya.. Tau oon Dinda mah, tapi, gak usah Di jelasin Malu kak, Dinda sendiri malu dengernya itu aib, ih..."
Kesalnya, Dinda memakan senek kerupuk di depannya lalu minum air di gelas depannya sekarang yang airnya sedang di tuang lagi.
Arkan menatap Istrinya seketika memberikan soal latihan dan Dinda menerimanya lalu mengerjakannya.
Arkan menunggu Dinda sambil mengerjakan tugas kuliahnya.
"Udah kak," ucap Dinda Beberapa saat kemudian.
Arkan mengambil buku Dinda dengan satu tangan fokus di mouse dan wajah masih memeperhatikan layar.
Seketika beralih. Arkan melihat rumus matematika dari pelanet pluto yang tidak jelas dan asal berputar. Angka benar hitungannya hasilnya dari penjumblahan dan pengalian juga pembagian benar tapi, bukan ini rumusnya caranya salah.
"Dinda apa ini." Arkan memberikan lagi buku dengan soal di hadapan Dinda.
"Itu jawabannya,"ucapnya dengan santai sambil memakan jajanannya.
Seketika Arkan berdecak malas dan menyudahi tugasnya yang selesai di periksa. Arkan fokus mengajari Dinda.
Belajar sungguhan kali ini. Arkan memberikan Dinda penjelasan sambil Dinda makan snacknya.
Seperti mengajari anak sekolah smp belajar dirumah. Lebih mirip adik kakak mereka berdua di bandingkan dengan suami istri tapi, ada satu waktu mereka lebih cocok menjadi suami istri dengan anak ada juga satu waktu mereka di bilang lebih baik terlihat seperti sepasang kekasih yang akan putus, Ngenes...
ucapan terakhir dari orang julid eh, tapi kenyataan ada kan memang ada yang tidak suka melihat Dinda dan Arkan walaupun Kenal gak kenal.
Arkan memulai dari beberapa rumusan yang sering keluar dan mengajari Dinda caranya belajar dengan baik dan tanpa perlu susah trik Arkan di turunkan pada Dinda.
Sepanjang penjelasan Arkan, Dinda mengangguk anggukan kepalanya tidak tahu mengerti atau tidak faham atau sama sekali tidak ada yang di ingat.
Dinda meminta di ajari Fisika Biologi Kimia lalu pelajaran lainnya terus sampai di jeda sholat di jeda masak makanan untuk makan malam di jeda ketoilet dan segala macamnya.
Di tempat Lia Kiran Chintiya ada Dodi juga Yeni ada Beto juga yang baru datang membawa pizza bersama Dody.
Mereka belajar kelompok dengan si Lia juara sekolah nomor dua sepadan dengan Maulana. Mereka banyak mempelajari trik belajar Lia entah mereka faham atau sebatas iya dan sudah lewat begitu saja.
Mereka walaupun doyan main doyan haha hihi mereka sebenernya rajin belajar gak terlalu pintar tapi, nilai pas kkm.
"Kira-kira tadi kita telepon kayaknya langsung di matiin bukan Dinda geh yang matiin sambungan," ucap Yeni mengingat tadi menduga.
"Dah lah urusan Dinda gak usah ikut campur," ucap Dodi.
Seketika Dodi mendekati Kiran dan memberikan minuman soda.
"Beb minum dulu beb," ucap Dodi dengan tengilnya terus menggoda Kiran.
"Dodi, Lo ya, Kiran, gue gak mau jadi pacar lo jangan bab beb," kesal Kiran.
Seketika Lia menengahi dan membuat mereka kembali fokus.
Bukannya di tutup dengan tenang tapi Beto tidak sengaja salah memasukan pulpen Yeni membuat Yeni kesal.
"Itu pulpen pink ada pita marsha bear," ucap Yeni.
"Itu pulpen gue beli pake duit tabungan jangan sampe ilang percuma gue nabung kalo ilang."
Jelas Yeni sedih.
"Ya udah kita periksa lagi aja siapa yang bawa pulpen Yeni keluarin semua pulpen buku." Kata Kiran dengan bijak tiba-tiba.
Yeni menerima usulan Kiran dan seketika merebut tasnya Beto disampingnya dan menumpahkan semua isinya untung ponsel masih di pegang Beto sendiri.
Keluar semua isinya seketika itu ada pulpen yang terakhir keluar pulpennya Yeni.
Senangnya bukan main serasa dapet hadiah lotre Yeni senangnya bukan main.
Beto membereskan buku dan pulpen, sadar Yeni sudah membuat berantakan barang Beto langsung Yeni turun tangan membatu seketika itu Beto memasukan semuanya dengan cepat sebelum Yeni menyentuh barangnya.
"Jangan pegang barang gue, haram hukumnya buat lo," ucap Beto seketika membuat wajah Yeni di tekuk kesal Yeni mencubit lengan Beto kecil seperti di gigit semut.
"Aw sakit, Mak," kaget Beto mengusap lengannya yang sakit perih panas di cubit Yeni.
"Lo nih tengil mulu, mau di bantun malah sok suci barang," oceh Yeni.
Semua menggeleng diam hanya bisa memperhatikan. Selesai belajar kelompok mereka semua kembali pulang dan juga membereskan bekas makan-makan mereka.
Lia mengantar semuanya sampai teras dan mereka semua satu persatu keluar bersama dengan motornya.
Di rumah besar sedang kedatangan tamu keluarga, maksudnya Rumah kakeknya Arkan.
"Thaliya!" ucap Kakek ketika melihat perempuan cantik seumuran dengan Arkan.
"Kakek, Maaf Kek lama ya datengnya, Papa baru ngizinin Liya kemari," ucapnya.
Seketika Kakek mengajak Thaliya duduk bersama dari sana di dalam Kamarnya Nenek baru keluar melihat dengan siapa kakek bicara.
Nenek dengan hangat menyambut juga memeluk Thaliya.
"Oiya Nek Dimana Arkan?" Tanya Thaliya seketika merubah suasana bahagia menjadi sunyi.
"Arkan sudah menikah sayang, Kamu kemari karena kuliah kamu perpindahan pelajar," suara Bundanya Rama.
Ya, Gimana? ya, sebenernya Setelah mamanya Arkan menikah lalu Rayhan menikah tapi, mereka semua baru tahu jika Rayhan menikah baru-baru ini, rumit kisahnya Rayhan dan istrinya tapi, ketika keadaan membaik setelah Arkan berbaikan dengan Rayhan. Maka dari itu Thaliya putri pertama Rayhan baru keluar lagi dan bisa datang, tentang hubungan yang renggang antara Kakek dan Rayhan itu... Thaliya tidak tahu. Intinya sempat merenggang karena kakek mengira Ambar mamanya Arkan celaka karena Rayhan.
Bundanya Rama menyalami nenek dan Kakek dan duduk bersama dengan Rayhan dan Rama, setelah menyalimi kedua orang tua lanjut usia.
"Kalo gitu Thaliya mau kangenan sama nenek kakek aja deh," ucap Thaliya.
Rama adiknya sendiri melipat tangannya malas berbicara atau bertingkah nyeleneh lainnya.
"Rama kamu kenapa sayang," ucap Nenek memanggil Rama.
"Pokoknya Kakak Gak boleh tinggal disini Kakak di rumah," ucap Rama.
"Eh.. Sayang besok kamu harus sekolah juga Kakak juga jarang sekolahnya lebih deket dari sini dari pada dari rumah," ucap Bundanya.
Rama menghela nafasnya. Lemas wajahnya.
"Iya Bunda." Sopan Rama.
Di rumah Arkan sedang duduk melihat televisi seketika ponselnya bergetar dengan nama sopir kakeknya yang suka menggantikan Pak Johan.
Arkan mengangkatnya dengan posisi kepala di pangkuan Dinda dan Dinda duduk bersandar sambil menonton tv.
Arkan mengangkat dan panggilan terhubung. Di sebrang sana seketika menjelaskan semuanya. Sampai nama Thaliya terdengar Arkan mengubah raut wajahnya menjadi lebih datar dan dingin.
Dinda sebenarnya sama mendengar seketika itu juga ingatan Dinda melayang pada foto yang Dinda lihat di ruangan kerja di album foto itu.