
Semua kursi penonton di padati oleh penonton dari SMA Bangsa dan SMA pahlawan. Awalnya lomba akan di adakan di SMA pahlawa tapi karena lapangan sedang tahap renovasi karena pohon besar membuat lapangan Basket SMA pahlawan menjadi kotor dan tak layak.
Akhirnya SMA Bangsa jadi tempatnya perlombaan. Dinda menonton juga tapi, di bangku paling belakang.
Arkan di sana bersama Leo, Rian dan teman-temannya yang lain.
Dinda berharap cemas. Apa bisa menang atau kalah, sudahlah Dinda untuk apa pusing memikirkannya.
Arkan yang fokus dengan pertandingan hingga beberapa angka mulai di cetak perbedaan angka yang lumayan membuat tagang hingga saling kejar angka poin.
Suara seru teman-teman Arkan begitu meriah begitu juga murid SMA Pahlawan.
Suara pluit mengema. Seketika pertandingan di hentikan sementara.
Dinda menatap Arkan dari tempat duduknya.
Seketika Syifa dan Citra datang.
Dinda mengalihkan wajahnya.
Kiran datang.
"Din makan yo... Laper nih ," ucap Kiran.
"Iya Ayo." Sahutnya sambil berdiri dan mengikuti Kiran.
Lomba di adakan pas istirahat kedua jadi setelah Istirahat kedua tidak ada pelajaran apapun.
Di Kantin sekarang Dinda duduk sambil memainkan ponsel dan menatap botol saos dan kecap.
"Gue boleh gabung?" ucap Rita.
Dinda mendanga menatap Rita, Lalu mengangguk.
Dari tempatnya Kiran memesan makanan untuknya dan Dinda. Kiran rasa sepertinya tidak bisa Dinda menghindar terus tapi, melihat Dinda mengalihkan wajah sedih ketika melihat Arkan di dekati dua gadis, Benar-benar Kiran tak bisa diam saja.
*
Di lapangan Arkan masih bertanding bersama teman temannya mencetak skor dan pion tinggi.
Citra dan Syifa mereka pergi menyingkir dari lapangan.
"Gue tahu lo gak bakalan bisa dapetin Arkan, Karena kayaknya Pertunangan lo di batalin deh," ucap Syifa menyindiri Citra yang baru sadar jika Syifadi manfaatkan Oleh Citra.
Citra menatap Syifa dengan remeh.
"Enak aja walaupun gak bisa tunangan gak masalah tapi gue masih bisa berusaha dapetin perhatiannya." Sarkas Citra menunjuk nunjuk wajah Syifa, Citra dengan wajah sombongnya.
Sambil melipat tangannya menatap Citra remeh Syifa yang terkekeh.
"Yaa.. terserah lo.. gue gak ngurus tapi, asal lo tahu selagi Arkan gak noleh ke lo jangan harap dapet perhatian, Gue yakin Lo bakan kalah dari Dinda dan Lo bakalan gak ada Apa Apanya di bandingin Dinda yang gak sengaja hampir deket banget sama hatinya Arkan sadar yaa... Dinda selama ini meratiin Arkan dari jauh an baru-baru ini dia nunjukin tindakannya, Lo baru, label lo masih keliatan kalo lo anak baru kemarin sore yang dateng di SMA Bangsa, dan Gue dah lama bareng Arkan di SMA Bangsa, yaah.. jelas gue tau gimana semua anak sekolah ini begitu mendambakan buat dapetin Arkan." Ucapan Syifa seketika membuat Citra marah kesal karena semua ucapan Syifa tidak bisa di bantahnya.
Kenyataannya Citra memang murid pindahan dan masih baru, mengenal lingkungan yang selalu bersama Arkan selama tiga tahun sekolah di SMA Bangsa dari awal masuk dan sekarang kelas dua belas itu benar-benar susah-susah gampang, mungkin juga Citra bakalan kalah saing karena saingannya banyak. Tapi, gak, gak boleh gitu aja Seorang Citra mundur, Citra punya segalanya sama seperti Arkan, tapi, usaha mendapatkan Arkan dengan caranya pasti lebih baik dari pada dengan bantuan orang tuanya.
" Ngomong lo gak guna, gue gak percaya. Jelas-jelas belakangan ini Dinda di jauhin Arkan, jelas gue bakalan bisa deket sama Arkan sesuka gue, Lagi pula gue cantik dan lebih dari segalanya dari Dinda yang cuman anak kelas sebelas dan juga gue pinter dan Dinda juga Lo masih kalah pinter dari gue," dengan percaya dirinya Citra menganggap Dirinya masih bisa mendekati Arkan padahal, dari awal juga Arkan tidak pernah menganggapnya Ada. Syifa tidak percaya menatap rasa percaya diri di wajah Citra.
*
Dinda diam di kantin hingga Mereka mendengar jika perlombaan selesai.
Tidak tersa Jam Lima sore tiba setelah dari Kantin Dinda berjalan sendirian pergi ke tempat yang membuatnya tenang,
waktu hampir sore ini Dinda belum kembali pulang Dinda minta pada Kiran untuk pulang duluan Awalnya Kiran ingin menemani tapi, Dinda memaksa tidak usah di temani, ya sudah... Kiran tidak bisa memaksa.
Di sini perputakaannya Dinda duduk diam sambil membaca buku yang menurutnya menarik. Seketika Perpustakaan Terbuka. Dinda tidak mau tahu siapa yang masuk.
"Lo belom balik," ucap Rian.
"Hem." Menoleh melihat Rian disana dan berjalan mendekat kemeja bacanya yang panjang.
"Mau gue anterin lo," ucap Rian dengan senyumannya.
Dinda diam saja Seketika Dinda menatap Rian.
"Pulang aja Kak Dinda masih mau disini sampe sekolah tutup."
"Kalo lo sedih jangan lo simpen mending lo keluarin lebih baik lo sama gue, gue janji bakalan ngebahagiain lo," ucap Rian.
"Maaf kak," ucap Dinda sambil berdiri dan pergi meninggalkan Rian.
"Dinda." Seketika Dinda menghentikan langkahnya dari meja baca yang panjang tanpa menoleh menatap wajah Rian.
"Lo kenapa gak bisa suka lagi sama gue, gue sebenernya suka sama lo lagi tapi, kejadian yang kemaren lo gak bisa maafin apa?" ucap Rian.
Dinda menghela nafas menatap lantai.
"Kakak pikir aja sendiri, Emang ada cewek yang masih berani di gitu sama cowok terus biasa aja kalo ketemu, gak... gak ada kak, Kalo Dinda Ogah, " ucapnya seketika melangkah pergi.
Seketika.
"Tapi Lo keliatan murahan banget deket sama Arkan lo di kasih apa aja mau lo dia nterin pulang tanpa alasan aja mau. Maksud lo apaan? Kalo Lo udah gak di sukaain jangan jadi murahan," ucap Rian, Membuat langkah Dinda berhenti lagi.
Seketika Dinda berbalik menatap Rian.
"Iya.. Kalo iya emang kenapa tapi, Dinda gak ngerasa murah, Kalo suka Kak Arkan iya tapi, Dinda masih punya rasa malu dan, Wajar kok gak terlalu berlebih gak terlalu kayak orang berharap, ITU MENURUT DINDA ALEA,Terserah menurut Kak Rian apa."
Dinda berbalik pergi setelah mengatakan hal itu.
Dinda jadi malas Sekarang keluar dari perpustakaan dan Rian masih mengikuti Dinda. Dinda risih. Dan memilih berlari.
Sampai di halaman depan Dinda melihat Syifa sendirian.
Dinda melewati Syifa seketika Syifa menghentikan Dinda.
"Tunggu, Lo mau kemana?" ucap Syifa.
"Pulang lah masa mau mandi," ucap Dinda dengan candaan tapi, tidak lucu bagi Syifa Dinda hanya meringis terkekeh kecil sendiri.
"Lo pulang sama gue gue mau ngomong sesuatu sama lo," ucap Syifa seperti Serius.
Ragu Dinda, seketika mengangguk dan mengikuti Syifa menaiki mobil di depan yang menunggunya.
Sudah di dalam mobil Dinda diam saja.
"Arkan menang sama timnya juga, Lo kenapa gak nonton sampe habis," ucap Syifa tiba-tiba.
"Eh.. em itu aku ke kantin trus perpustakaan," ucap Dinda malu dengan nada sopan.
Syifa mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
"Ini Ambil buat lo, Buka di rumah aja, Gue cuman suruh kasih ke elo dan kasih tahu kalo Arkan menang dan Lo kenapa gak nonton sampai akhir."
Kata Syifa dengan wajah terpaksa bahagia.
"Satu lagi, Gue minta maaf gue rasa gue gak perlu denger lo maafin gue karena lo orangnya terlalu baik, Hati-hati lo di rumah, Ini ada pesenan mama Buat lo juga," ucap Syifa.
Tidak terasa mereka sampai di depan rumah Dinda dan Dinda juga langsung turun.
"Makasih ya Kak," ucap Dinda dengan senyuman dari jendela mobil. Seketika Syifa terdiam dan menatap Dinda yang melambai dengan senyuman manis. Nada bicara dengan panggilan Kak dari Dinda membuat perasaan Syifa sedikit terenyuh, ada rasa bersalah besar di hatinya juga.
Dinda melihat mobil Syifa menjauh, Lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Dari kamar setelah bersih-bersih Dinda langsung duduk di atas sofa sambil menatap tv dan camilan ruang tengah lalu ada Dua barang yang Syifa berikan padanya satu rahasia satu dari Ibu.
"Punya Ibu dulu kali ya," ucap Dinda. Barang yang ibunya titip ke Syifa apa isinya ya.
"Oh.. Kalung," ucap Dinda. Ada bandul bintangnya, sambil menatap melihatnya seketika Dinda juga melihat ada kartu di balik kertas yang menjadi alas kalung tadi.
Kartu atm untuk Dinda ada pswordnya juga.
Dinda juga melihat ada pesan dari ibunya.
Jika Kartu ini di gunakan Dinda untuk hidup sehari-harinya dan juga untuk menambah uang jajan Dinda.
Menghela nafasnya. Dinda beralih menyimpan kalung itu dan meletakannya di kamar lalu kartu itu Dinda letakan di dompetnyanya.
Kembali ke ruang tengah Dinda menatap kotak hitam polos itu.
Ragu, Malas membukanya.
Sudahlah buka saja, pikir Dinda.
Kotak hitam itu Dinda buka dan lihat isinya ternyata sebuah jepit.
Seketika Dinda ingat jika Jepit rambutnya pernah jatuh di atap ketika mengangis dan jatuh ketika habis menjenguk Arkan pertama kalinya.
Dan ini Jepitnya jadi bagus lagi, eh.. enggak, ada yang lama dan ini jepit rambut yang bagus baru ada dua pasang.
Ketika...
Pertandingan benar-benar berakhir dan semuanya saling merangkul, foto bersama dan sudah diketahui pemenangnya adalah SMA Bangsa. Arkan dan teman-temannya.
Arkan menatap ke arah podium.
Tidak ada Dinda. Seketika matanya menatap Citra dan Syifa yang sedang bicara berdua.
Seketika Lorenzo memanggil Syifa menariknya lebih temannya, juga memanggil sih namanya Syifa sambil menarik membawanya menjauh dari Citra.
"Ih.. Zo lo apaan sih." Kesal Syifa menghentakan tangannya kesal seketika lepas dari tangan Lorenzo.
Tidak lam Arkan datang dan Lorenzo pergi begitu saja.
"Gue minta tolong sama lo karena lo temen gue dari Sd. Lo kasih ke Dinda jangan bilang dari Gue, Kalo sampe ke tangan Dinda gue makasih banget sama Lo," ucap Arkan serius. Seketika Syifa terdiam berpikir sesekali menatap Arkan lalu menoleh ke kanan ke kiri.
"Alasan lo apa kenapa lo gak kasih sendiri," ucap Syifa acuh.
*
Arkan tidak mengatakan apapun ketika Syifa bertanya tapi, sepertinya ini sangat serius. Syifa juga harus mengalah untuk ini, mudah mungkin hidup Syifa jika dirinya menjadi orang yang ikhlas dan lapang dada tidak pelit dan suka bersyukur.
Kembali ke ruang tengah, di rumah Dinda.
Dinda menatap ke dua jepit rambut sepasang itu, Sama-sama hitam warnanya dan yang punya Dinda sudah jelek dan karat.
Jika satunya masih bagus.
Tidak ada surat apa pun, Apa benar ini dari Kak Arkan tapi gak Mungkin. Kak Arkan kan gak inget Dinda dan ngejauhin Dinda.
Kata Kuta dan Gareng mereka bilang itu cuman luka dan gak mungkin Arkan ngelupain Dinda.
Kejadian sebenarnya setelah Kuta dan Gareng mengatakan itu.
Di markas mafia tengkorak kemarin Arkan menjadikan Kuta sebagai tempat untuknya melampiaskan amarah.
Memanah beberapa organ vital dengan panah asli dan tajam dan juga menaruh bola pingpong di bagian bawah Kuta di tembak dengan senapan laras panjang .
Gareng sudah hampir menangis karena Arkan membuatnya benar-benar akan mati, Sekaligus menjadi bahan hiburan semuanya.