
Dinda berangkat sekolah dengan ojol yang sudah siap Dinda keluar dan melangkah keluar gerbang sambil menenteng helm lalu menutup gerbang tidak lupa menguncinya. Lalu memakai helm dan naik.
Dinda merasakan sesak di dadanya tiba-tiba. Dinda seketika merasakan hal tidak baik tentang Arkan, seketika itu juga nama Arkan terlintas di benak dan pikirannya.
Sampai di sekolahannya Dinda tidak melihat motor Arkan dan hanya ada motor teman-temannya di parkiran.
Ini gak mungkin. Firasat ini pasti bohong, iya bohong. Mungkin aja Arkan lagi bareng teman-temennya atau dianter sopir atau taksi. Dinda harus berpikir positif.
Dinda masuk ke dalam kelasnya seketika Dinda melihat wajah Kiran yang pucat dan kurang tidur.
"Selamat pagi Kiran ku tersayang," ucap Dinda dengan setengah berteriak dan raut cerianya.
Kiran menoleh lalu menghembuskan nafasnya. Dinda langsung duduk tanpa bicara apapun, ini aneh, apa yang terjadi pada Kiran.
Dinda menepuk bahu Kiran pelan.
Seketika Kiran memeluk Dinda dan menangis kecil seketika Kiran melepas pelukannya dari Dinda dan mengusap air matanya.
"Dinda... gue sedih banget Kak Yuda masuk rumah sakit sama Arkan, Mereka...." Terpotong dengan suara bel tanda waktu masuk ke dalam sekolah dan mulai jam pelajaran pertama di kelas dan mata pelajaran masinh-masing.
Dinda tidak sempat mendengar apa yang ingin Kiran ucapkan. Sekarang Dinda memilih diam dan mendengar apa yang sedang guru mata pelajaran jelaskan.
Di rumah sakit Yuda dan Arkan satu ruang VIP dengan dua ranjang terpisah cukup luas.
"Lo... bego... gue kan dah maju duluan, Kan lo bengong aja emang masih ada yang sakit." Suara Yuda tanpa menoleh ke arah Arkan yang sedang duduk di atas ranjang rumah sakit menghadap keluar jendela. Arkan terdiam. Yuda tetap fokus ke game onlinenya.
Membayangkan kejadian semalam lalu jahitan di perutnya dan luka di dahinya.
Belum lagi ada Pak Johan di sana yang duduk menunggunya sambil mengerjakan pekerjaan kantor. Yuda juga sedang asik bermain game onlinenya.
Di sekolah Bagus Lorenzo dan Justin saling murung dan Diam masalahnya mereka tidak tahu kondiri Arkan setelah sekolah ini juga kondisi Yuda. Bagaimana Arkan kalo gak sadar?
Pikiran mereka sudah penuh dengan kalimat negatif tentang Arkan dan Yuda.
Semalam ketika mereka membantu Hansimon mereka tersudut dan Hansimon mati begitu saja ketika melindungi Arkan dari tembakan yang bertubi-tubi yang harusnya mengenai Arkan malah mengenai Hansimon semua.
Arkan miris memikirkan kejadian semalam.
Tidak hanya Arkan.
Yuda, Lorenzo Bagus dan Justin juga menatap nanar dan marah. Tanpa aba-aba mereka berempat membalas dengan berutal tanpa persiapan Beruntung yang Justin Lorenzo dan Bagus lawan tidak bisa berbuat banyak dan juga senjata mereka hampir tidak bisa mereka pegang.
Dan Yuda memilih lawan yang cukup berpengalaman Hingga jatuh ke lantai dan ketika hampir di tusuk Arkan melompat menendang lawan Yuda dengan tendangan berputar dan memukul wajahnya. Seketika lengah sedikit celah yang padahal Arkan meremehkan celah sangat kecil itu, tapi, ternyata orang yang memukuli Yuda sampai tak sadarkan diri itu cukup lihat dan sedikit bisa memanfaatkan situasi.
Sedikit goresan Arkan dapat di perutnya. Seketika itu Arkan di pukul dari belakang hingga ada darah di tengkuknya dahinya juga lecet.
Arkan jatuh Dan terbangun ketika ada di ruang oprasi. Arkan di pindahkan keruangan rawat.
Kakek neneknya ada disana Rettrigo juga Diyo ada mereka mengatakan jika ada sekelompok berandalan menghalagi jalan Arkan dan Diyo menjelaskan jika dirinya dan Rettrigo tidak sengaja lewat dan membantu. Kakek awalnya tak percaya tapi setelah memberikan beberapa saksi dan kamera rekaman cctv dari dasbor mobil Diyo.
Kakek percaya.
Kakek menatap Arkan lalu pergi. Nenek menangis mencium tangan Arkan. Arka seketika melepas infusnya dan juga alat bantu nafasnya.
Awalnya nenek marah Arkan langsung mengatakan alasannya tak suka dan Nenek meminta dokter dan perawat membiarkannya.
Arkan juga minta pada Neneknya membiarkan kamarnya jadi satu dengan temannya Nenek mengangguk. Nenek meminta perawat bicara dengan Arkan.
Sekarang Mereka bertiga, Justin dan Lorenzo juga Bagus. Sedang bersama dan sangat malas.
Seketika Dinda datang menghampiri meja mereka di kelas.
"Permisi." Suara Dinda membuat ketikanya menoleh.
Rita menoleh dan menarik Dinda.
"Eh.. Dinda.. Duduk sini jangan berdiri." Kata Rita. Dinda duduk.
"Ehm.. makasih Kak." Dinda duduk di samping Rita yang bersebelahan langsung dengan meja Lorenzo dan Arkan.
"Eh.. Kak.. apa kabarnya Kak Arkan kok aku..." ucap Dinda terpotong dengan Citra yang masuk dan berdiri di samping Dinda. Seketika Bagus dan Lorenzo terpaksa berdiri.
"Dinda ngomong aja sama Bang Justin ya, Kita urus pintu sama dia," ucap Bagus. Dengan senyum malu dan Lorenzo juga Bagus langsung menarik Citra keluar.
"Eeeh.. apaan sih kali, gue perlu sama Dinda bukan kalian." Marah-marah Citra pada Lorenzo dan Bagus.
Seketika di depan Syifa akan masuk Lorenzo langsung menahannya.
Seketika Laskar teman Sekelas Lorenzo dan bagus lewat.
"Eh.. Kar. Tutup pintu biarin siapapun masuk kecuali dua cewek ini. Lo buka pintu pas Dinda keluar tuh cewek yang lagi sama Justin." Laskar mengerti dan menutup pintu kelasnya.
Di dalam Dinda mendengar penjelasan Justin tentang Arkan dan kondisinya yang keritis semalam tapi, setelah itu Arkan tidak tahu karena mereka harus pulang dan Kakeknya Arkan datang.
"Dinda lo mau jenguk Arkan," ucap Justin menatap wajah Dinda dengan tajam dan datar.
"Eh.. itu kalo boleh, Aku juga mau jenguk kakaknya Kiran," ucap Dinda dengan malu.
Dinda merasa kurang puas tapi kabar yang di ketahuinya dari Juatin membuat Dinda sedih. Arkan masuk rumah sakit dan gak sadar. Dinda merasa jika dirinya penyebabnya.
Dinda seketika berdiri tersenyum paksa.
"Maaf Kak.. makasih aku keluar dulu," ucap Dinda dengan sopan Dinda keluar dan melangkah pergi.
Seketika Laskar membukakan pintu untuk Dinda. Seketika Itu Bagus dan Lorenzo menatap Dinda. Dinda menatap Citra dan Syifa.
"Makasih Kak." Katanya pada Bagus dan Lorenzo.
Loerenzo mengangkat tangannya dan mengangguk Sedangkan Bagus mengangguk saja. Dinda pergi ke uks. Lalu melihat Kiran disana. Kiran tertidur.
Dinda tidak tega membangunkannya seketika Kiran bergerak dan membuka matanya.
"Eh. Dinda.. Lo dateng, dari mana Lo," ucap Kiran.
"Eh.. itu dari kelas Kak Arkan," ucap Dinda jujur.
Dinda bingung Kiran saja tidak tahu ceritanya tahu-tahu kakaknya keluar malam dari rumah dan masuk rumah sakit bersama Arkan tiba-tiba.
"Apa kata Kak Justin?"
"Itu.. kak Justin bilang katanya cuman kecelakaan dan Arkan masuk rumah sakit karena keroyok ."
Kiran mengangguk saja.
Di sekolah tiba-tiba ada pengumuman yang mengatakan jika hari ini bisa pulang awal karena sekolah sedang akan rapat penting dan semua siswa harap langsung pulang ke rumah tanpa mampir-mampir.
"Ah.. ada pengumuman tuh, yoo.. gue bantun lo pulang," ucap Kiran.
"Kiran.. Kebalik gue yang harusnya anterin lo," ucap Dinda dengan sedikit kesal tapi diakhiri dengan tawa.
Kiran terkekeh...
"Oiya. lupa gue," ucap Kiran.
"Bentar gue ambilin tas lo dulu," ucap Dinda. Langsung pergi kekelas mengambil tasnya dan Kiran.