
Dinda sampai didepan rumahnya. Ketika baru turun Arkan ikut turun mengikuti Dinda sambil membuka helmnya.
"Loh.. kak mau apa?" ucap Dinda.
"Ketemu orang tua lo," ucap Arsan santai.
"Mau ngapain?" ucap Dinda lagi dengan nada suara yang bingung heran menoleh Dinda ke pintu rumah lalu menatap Arkan lagi.
"Ah.. enggak usah gak apa-apa, ibu ku lagi gak dirumah nanti gak enak kalo ada tetangga yang liat," ucap Dinda. Arkan mengerti.
Arkan pamit pulang Dinda mengantar sampai motor.
"Makasih ya kak," ucap Dinda. Arsen menoleh menatap lalu pergi dengan motornya.
*
Melangkah dengan riang dan senyum seperti hari ini hari yang indah untuk Dinda.
"Permisi," ucap Dinda di depan kelas Arkan.
Dinda malu sebenernya tapi, ini kan tanggung jawab Dinda karena Arsen ngasih pinjem hodie hitamnya.
Dinda menatap ke dalam kanan kiri.
"Cari siapa?" tanya Rita yang sedang di kelas dengan teman-temannya.
"Eh.. itu kak mau cari Kak Arkan," ucap Dinda.
"Eh.. lo kan Dinda bukan," ucap Rita dengan ramah.
Dinda mengangguk dengan senyum tipis.
"Oh.. Arkan biasanya kagi latian basket kalo gak ada di lapangan ya Perpustakaan," ucap Rita.
"Iya.. itu tempat yang sering di datengin Arkan," sahut teman sebelah Rita dengan ramah.
"Oh.. gitu ya, Terimakasih kak."
Dinda pergi. Rita dan teman-temannya langsung saling menatap.
"Cantik juga tu anak," ucap Desi.
"YAelah.. Desi.." Sahut Farah.
Dinda akhirnya sampai di lapangan basket seketika melihat Arkan disana sedang bermain basket. Dinda mendekat ke podium penonton dan duduk di tempat yang nyaman.
Seketika semua selesai Arkan menghampiri bola dan membawa semua keranjang bola sendiri membawanya ke gudang alat olah raga.
Dinda segera mengikutinya. Ketika sampai Di gudang Dinda berhenti di dekat ruangan lab.
Arkan keluar dari gudang Dinda langsung mendekat.
"Kak Arkan!" Panggil Dinda.
Arkan menoleh saja dengan datar dan dingin.
"Ini kak aku balikin makasih ya," ucap Dinda. Malu Dinda terlalu malu tatapan mata elangnya sambil tangannya meraih kantong berisi jaketnya.
Dinda malah jadi salting.
"Kalo gitu Dinda duluan ya kak, daah...." Arkan diam saja tidak menjawab apapun membuka kantong itu dan melihat jika itu hoddienya.
Menjauh Dinda dari Arkan. Arkan pergi seketika Lorenzo datang dengan tergesah-gesah.
"Kan... huuh.. kan..." Arkan menatap Lorenzo dengan tajam Lorenzo seketika meredakan nafas ngos-ngosannya.
" Rian sama Bagus berantem di belakang sekolah." Seketika Arkan berlari kencang Lorenzo mendesah kesal.
Lorenzo berlari lagi mengejar Arkan.
Di belakang sekolah Arkan melihat Bagus dan Rian berkelahi. Seketika Arkan memisahkannya dan menatap keduanya. Seketika itu juga Rian melepas tangan Arkan yang menahannya dengan kasar.
"Kan.. jangan hentiin gue buat bunuh nih anak." Kesal Bagus mencapai ubun-ubun.
"Kalo mau berantem di luar sekolah gak di sekolah." Suara Arsen meninggi hingga urat lehernya terlihat menatap keduanya yang berkelahi tidak lama Pak Samino datang.
"Heh.. he.. Kalian ini ada apa kenapa kalian ribut ribut di sekolah, kayak anak kecil aja," ucap Pak Samino.
"Kan emang masih kecil pak, belom bisa cari uang sendiri." Lorenzo menjawab ucapan pak Samino. Pak Samino menatap Lorenzo.
Kumis tebalnya menambah kegarangannya.
"Heheh....bercanda pak.." Lorenzo ciut mundur kebelakang perlahan.
"Bawa ke uks di bersihkan lukanya, Kamu Arkan kasih tahu Bu Ayu kalo Rian dan Bagus ada di uks."
Kata Pak Samino. Arkan mengertu Pak Samino membawa Rian dan Bagus ke uks. Dan meminta petugas piket memberikan obat. Tidak lama Bu Ayu datang.
Bu Ayu datang ke UKS bersiap untuk memarahi Bagus dan Rian. Baru Bu Ayu masuk UKS, Bu Ayu sudah hampir naik pitam.
Rian mengaduh sakit karena lebam di wajahnya lebih parah dari pada Bagus, dan Bu Ayu menyentuh asal. Pakaian Bagus dan Rian juga kotor dan tidak karuan.
*
Waktu pulang sekolah tiba, Bagus berjalan sendirian menuju parkiran tidak tahu jika Lorenzo dan Justin di belakangnya.
Bagus langsung menaiki motornya seketika itu yang muncul duluan adalah Arkan dan langsung menaiki motornya.
"Lo lebih baik ngelampiasinnya sama kerjaan aja biar lega dapet untung juga," ucap Lorenzo.
Arkan menatap Lorenzo dan juga Bagus.
Arkan menghela nafasnya dan pergi.
Arkan yang sudah berlalu segera Bagus susul sambil memakai helmnya.
Di bengkel mereka berempat sampai tepat waktu ketika pergantian shift dan pas ramai-ramainya.
Tanpa banyak hal mereka turun dan langsung melayani service motor mobil.
Sedang sibuk dan bergantian keluar masuk pelanggan yang sudah selesai yang baru datang.
Tiba-tiba sebuah motor metic beat masuk. Ada obrok dengan dagangan sayuran lalu anak kecil berusia dua tahunan lebih.
"Mama pelan-pelan ya.." Suara anak kecil itu mengintupsi mamanya.
Bagus menghampiri wanita dengan helm hitam dan anak kecil itu.
Bagus menyapa seketika helm hitam terlepas.
"Larisa." Bagus terkejut.
"Iya." Sahut Larisa santai.
Seketika sadar siapa yang menyapanya Larisa diam membeku.
Larisa mantan Bagus kakak kelas Bagus. Larisa setahun lebih tua dari Bagus lalu putus sekolah di kelas sebelas dan Bagus masih kelas sepuluh. Larisa di kabarkan di jual ayahnya pada pria hidung belang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi lalu hilang kabarnya seperti di telan bumi, baik Bagus atau pun teman-teman dekat atau sahabat Larisa tidak ada yang tahu.
Sekarang Larisa muncul lagi tapi, masih cantik seperti pertama kali Bagus lihat.
Anak kecil perempuan itu berjalan sendiri seketika hampir jatuh Justin menjaganya.
Ketika mengakat dan menggendongnya tidak di sangka. Justin juga terkejut.
"Larisa. Apa kabar lo?" Tanya Justin. Larisa mengangguk malu.
"Eh.. Lala kamu gak boleh gitu omnya kasihan sini sama mama aja," ucap Larisa cepat ketika melihat anak kecil itu di gendong Justin.
"Lala," ucap Bagus dengan nada suara kecil.
Lala adalah panggila sayang Bagus pada Larisa ketika Larisa marah waktu Pms atau sulit di bujuk.
Lalu anak kecil ini.
"Lala mereka temen mama sapa yang baik hayo," ucap Larisa yang berusaha membuat suasana nya mencair.
"Halo om.. om.. aku Lala," ucapnya dengan malu-malu dan pintar sekali.
"Wah pinter yaa," ucap Justin tersadar dari lamunannya.
"Ehm.. ada yang bisa aku bantu," ucap Bagus gugup.
Larisa juga tidak kalah gugup.
Seketika Arkan datang.
"Biar gue sama Justin lo sama Larisa aja," ucap Arkan yang tiba-tiba datang.
"Tapi, Kan lo lagi istirahat," ucap Bagus seketika.
Arkan menoleh menatap tajam.
"Udahlah sana," ucap Justin menengahi. Arkan langsung melihat kerusakannya.
"Itu ganti oli sama kenalpotnya bocor, bisakan?" ucap Larisa pada Justin dan Arkan.
"Ok," sahut Justin sedangkan Arkan diam saja.
Bagus masih diam disana sedangkan Larisa sudah duduk di kursi bersama anak kecil itu.
Arkan menoleh dan memegang kunci T berukuran sedang.
Tatapannya menatap Bagus dengan sengit.
"Iyaa.. gue kesana," ucap Bagus terpaksa ketakutan dengan tatapan Arkan.
"Emang tu bocah keras kepa banget, ngomong gak cinta ngomong gak rindu, bencilah ini lah itu lah, giliran ketemu sok-sok gak kenal, Basi..." Kata Justin sambil mencari Oli di rak dekat motor Larisa. Sedangkan Arkan memeriksa kelapotnya yang kata Larisa bocor. Arkan pergi dan membiarkan Justin yang mengganti olinya.