
Dinda menatap semua barang itu dan menatap wajah Arkan, kalung sudah di pasang dan itu kalung pemberian mamanya dan ada sesuatu kecil yang Dinda rasa beda.
"Itu kalung Syifa kasih pagi tadi lewat pak Johan. Kamu masih tidur dan itu ada liontin dari aku dan punya ibu kamu dan gelang ini aku tuker talinya pake rantai, Kamu pek gelang talinya dari serat kain kuat aja masih bisa putus." Jelas Arkan.
Dinda tersenyum menyentuh bandul kalung dan menyentuh gelang yang sudah berbentuk beda.
"Makasih Kak," Kata Dinda dengan tulus, mata berkaca-kaca.
Arkan kembali menjalankan mobilnya seketika baru akan berjalan seorang lelaki dengan motor turun dan dan memukul kaca mobil Arkan.
Ketakutan di wajah Dinda terlihat jelas.
Tanpa ada pikir panjang Dinda punya inisiatif menelpon semua teman Kak Arkan.
Yang pertama di teleponnya adalah Yuda.
Tapi, Dinda.
"Kak..." Arkan meminta Dinda tenang. Seketika ponsel Dinda habis baterai.
Telpon yang baru tersambung terputus.
Yuda beralih menelpon Arkan.
Seketika Arkan sudah turun dan ponsel Arkan di samping Dinda berdering.
Baru Dinda menoleh akan meraih ponsel Arkan seketika Arkan terbanting kepalanya di kap mobil membuat suara benturan keras mengejutkan juga.
Dinda juga langsung menutup mulutnya.
Dinda tidak segera mengangkat telponnya membuat Yuda kesal bukan main.
Arkan memberi isyarat pada Dinda untuk tidak keluar mobil.
Dinda membekap mulutnya melihat beberapa orang melawan Arkan sendirin seketika pintu mobil di gedor dan kacanya dan hampir di pukul.
Seketika tendangan seseorang membuat orang yang akan memecahkan kaca jendela jatuh.
"Kak Rian."
Rian turun membantu Dinda dan Arkan ketika dari jauh melihat Arkan. Rian tidak sengaja lewat dan melihat Arkan di hajar dan kepalanya membetur kap mobil lumayan keras.
Tanpa basa basi Rian membantu langsung menghajar tanpa jeda.
Arkan juga melawanya. Bersamaan itu satu mobil datal lagi.
Arkan sudah sangat kacau bersamaan itu Rian juga. Dari mobil baru yang datang, menurunkan beberapa orang.
Arkan kewalahan. Belum sarapan dan sempat makan apapun pagi tadi hanya air dan cuaca siang ini panas. Tapi, itu bukan apa-apa Arkan tidak bisa biarkan Dinda terluka.
Jalanan sekitar sini juga sepi tidak ada yang lewat, seorang sekali pun, padahal siang.
Seketika Yuda datang dan menghajar habis mereka Arkan menarik Rian yang tangannya patah juga terinjak di samping trotoar.
Arkan dengan luka sedikit di wajahnya berjalan mengarah ke mobil. Seketika sampai di mobil Arkan di todong senjata dari belakang.
"Turunin senjata lo apa lo yang kita seret pergi," teriakan Yuda membuat orang itu tersenyum aneh.
Seketika sebuah motor berhenti dan menurunkan pengendaranya, Violetta.
"Yuda? Benar! Dia wakil Arkan." Kata Violetta dengan nada manja dan menenteng pistol yang baru di ambil di belakang jaketnya.
"Heeh.. Aneh memang, Hanya karena perempuan tidak berguna lemah penakut seperti itu kalian sampai harus membelanya seperti ini, Ini namanya berlebihan," ucap Violetta menyindir Dinda.
Arkan sudah mengepalkan tangannya.
"Anak yang tidak di perdulikan dalam keluarga besar, karena kurang pintar, Dinda... Dinda harusnya kamu itu merasa tahu diri orang tua yang tidak bisa dianggap orang tua malah menjodohkanmu dengan anak keluarga terkaya, Ck..ck.. keberuntungan, tapi cukup, sepertinya Kamu tinggal duduk diam di dalam situ dan aku akan memanggangmu didalam mobil hidup-hidup.
Seketika Semua reka adegan dimana Ibu Arkan di bakar hidup hidup didalam mobil terbayang di ingatan Arkan. Terbayang di ingatan Rian.
Dengan susah payah Rian bangun dan berdiri. Berlari.
Violetta mundur beberapa langkah bersiap seketika Yuda akan mendekat Violetta mengancamnya. Tangan Violetta yang satunya menodongkan pistol kewajah Yuda.
Satu tangannya menyalakan korek yang apinya tidak mati jika tidak di matikan dengan menutupnya.
korek api sudah menyala apinya. Seketika itu. Rian menendangnya dan terlempar tinggi keatas. Pas! Rian menangkapnya.
Arkan seketika berbalik mematahkan lengan orang itu melepaskan peluru ke udara membuka isi peluru dengan cepat ketika Violetta teralihkan Yuda menarik pistol seketika itu Violetta menembak dan tidak mengenai siapapun.
Rian Yuda menatap Violetta dengan tatapan yang sulit di artikan.
Dari kejauhan Rettrigo dan Kuta datang. Gareng juga ada.
Dua mobil hitam itu mendekat dan menurunkan mereka.
Arkan berbalik menyerahkannya pada Yuda dan Rian.
Juga pada Rettrigo.
*
Sampai Di rumah Dinda langsung memperlakukan Arkan begitu baik seperti seorang raja, harusnya dari dulu tapi, karena sekarang Arkan sedang tidak baik-baik saja, makanya Dinda sangat gesit.
Arkan menarik Dinda dan menyuruhnya Duduk.
"Duduk diam temani aku istirahat, duduk disana," ucap Arkan. Menunjuk tempat meletakan kaki Arkan dan seketika Dinda duduk Arkan langsung meletakan kepalanya diatas pangkuan Dinda dan meminta Dinda mengusapnya.
Katanya pusing minta di elus, Dinda mengusap kepala Arkan sambil menempelkan kantong es pada luka lebam.
Dinda juga sambil bernafas lega.
Di markas tengkorak Rayhan datang sedirian dan melihat Violetta dan bawahannya. Mereka berlutut seperti seorang pencuri tertangkap warga.
Seketika itu tatapan bengis Rayhan di tunjukannya.
"Setidaknya kau tidak melukai dan membuat kejadian masa lalu terulang, beruntung kau membuat reka adegan itu, aku jadi tahu putri siapa kau sebenarnya!"
Perkataan Rayhan membuat Violetta menatap benci.
Ya.. Lametta adalah ibu Violetta, Ibu yang tidak mau mengakui Violetta sebagai anaknya.
Silla yang ada disana terkejut mendengar omongan Rayhan pada Violetta.
Veronica juga tidak kalah kaget. Karena selama ini yang mereka tahu jika Lametta juga menyukai Seseorang dari Tengkorak tapi, tidak mungkin jika Tuan Besar Alano Marcquez alias Alano Prawira.
Di rumahnya Arkan kedatangan Tamu. Rama datang berteriak dengan panik memanggil nama Arkan. Istri Rayhan juga datang.
"Itu suara Tante deh," ucap Dinda. Seketika Arkan bangun dan menatap ke arah pintu.
"Buka pintunya, Anak itu pasti akan marah kalo aku gak ngebolehin dia masuk," ucap Arkan pada Dinda.
Dinda mengangguk.
Dinda segera pergi membuka pintu dan menyambut Rama dan Bundanya.
Di kamar Arkan. Dinda membawa mereka masuk kekamar.
Baru saja masuk Rama langsung menghampori Arkan dan memegang tangan Arkan.
"Kakak.. Kakak Gak papa, Kakak sakit banget, Rama khawatir banget," ucap Rama panjang kali lebar tidak henti sampai disitu.
Selesai Bundanya Rama memeriksa. Arkan menatap perlengkapannya yang di bereskan.
"Kamu udah kasih pertolongan pertama sayang?"
"Iya Tente semuanya udah termasuk lebam-lebamnya," ucap Dinda menjelaskan. Bundanya Rayhan mengangguk dengan wajah tersenyum teduh mengusap kepala Rama.
"Jangan tanya terus sayang, Kakak lagi sakit," ucap Bunyanya menjelaskan pada Rama yang sejak tadi tidak berhenti bicara. Rama mengangguk dengan wajah sedih juga lucu.
"Maaf Kakak. Kakak baik-baik ya, Kakak kalo mau Rama panggil Abang Kakak harus sehat, nanti Rama adu jotos kalo udah sehat," jelas Rama dengan lucu.
Maksudnya adu Jotos itu tes bela diri dengan Arkan karena Rama sudah bisa karate walau sedikit. Walaupun gak di panggil abang aja Arkan biasa aja.
Arkan mengangguk dengan wajah terpaksa tersenyum.
"Kak Aku temenin tante kebawah," ucap Dinda pada Arkan. Arkan mengangguk.
Kini Rama duduk didekat Arkan dan mulai tersenyum menatap wajah Arkan.
Ini permulaan sebelum bocah ini mulai bicara lagi lalu bercerita banyak.
Seketika Arkan melihat Rama bergeser dan memijit bahunya.
Arkan tidak sanggup diam seperti ini jika merayunya sudah seperti ini. Arkan akan mengajaknya untuk bercerita.