Arkan Dinda

Arkan Dinda
Dinda



Di ruang tunggu keluarga. Semua sudah melihat keadaan Dinda sekarang tinggal Ibu Dinda yang masih Di dalam setelah Ayah Syifa keluar.


Mengobrol ringan dan saling bicara ringan karena sama saja seperti tamu.


"Hemm.. Sepertinya dua orang tua ini harus kembali pulang yaa kan," ucap Kakek Arkan pada semuanya.


"Iya.. Kek Hati-hati ya," ucap Belle sambil menggandeng Lala dan mengajak Lala untuk mencium tangan Nenek dan Kakek.


Kakek tersenyum mengusap kepala keduanya.


Nenek juga melakukan hal yang sama yang kakek lakukan untuk Lala dan Belle.


"Hati-hati kek," ucap Belle dan Lala bersamaan Semua langsung merasa gemas dan tersenyum senang termasuk nenek dan Kakek yang terkekeh.


Baru akan keluar Arkan masuk dan semua mata menatap Arkan yang berdiri dengan pintu terbuka.


"Kau pulang lah biar ayahnya yang menjaganya," ucap Kakek dengan wajah tegas dan Datar.


"Biar Arkan aja," ucap Arkan. Arkan menatap wajah kakeknya dan neneknya bergantian.


"Sudahlah, lebih baik kamu pulang sebelum ada wartawan kemari." Kata Nenek dengan cepat.


Ayah Dinda melangkah maju dan bicara didepan Arkan.


"Alangkah baiknya jika Tuan muda kembali saja biar saya dan keluarga saja yang menjaga Dinda," ucap Ayah Syifa.


Arkan terdiam berpikir.


"Ketika urusan selesai aku akan mampir, Kabari aku," ucap Arkan dengan wajah Tenang.


Arkan berpikir jika dirinya memaksa menjaga Dinda tapi, Ayah kandung nya sendiri malah meminta pulang, Arkan kalah, Siapa Arkan bisa membantah ayah dari seorang putri yang sekarang mengusik pikiran Arkan.


Dinda dan Arkan belum ada ikatan, apa harus Arkan memaksa kehendaknya pada orang yang jelas-jelas memiliki hak penuh. Sedangkan Arkan tidak ada. Tentu tidak sama sekali, jawabannya.


Tuan Dhanu, Ayah Syifa dan Dinda mengangguk menyetujui ucapan Arkan, untuk memberikan kabar pada Arkan tentang Dinda.


Malam ini semua pamit dan termasuk Arkan. Langkah kakinya terasa tidak rela hingga akhirnya neneknya menggandeng tangan Arkan.


"Berdoa lah, untuk kesembuhannya, itu yang bisa membantu dan yang terbaik," ucap Nenek.


Arkan mengangguk mengerti dan kembali berjalan menggenggam tangan neneknya yang kini menjadi memegang lengan atas Arkan.


Luna bersama Justin dan Belle pergi menaiki mobilnya.


Lalu Bagus dengan Larisa dan Lala naik mobil yang Bagus sendiri kemudikan.


Kak Indri Rita dan Lorenzo satu mobil dengan Yuda dan Kiran. Mereka menumpang di mobil Yuda karena mobil Lorenzo masih ada di Hotel posidion.


Malam itu semua kembali dan hanya ada Syifa Ibu juga ayahnya disana.


Syifa menemankan ibunya menunggu Dinda.


Tirai Dinda di buka dan Syifa juga menyalakan televisi dengan suara pelan agar Dinda dan Ibunya tidak terganggu.


Di ruangan tunggu keluarga, sebrang ruangan rawat Dinda. Ayah Syifa duduk menatap keluar jendela dengan wajah sedihnya. Ayah Syifa tidak kuat menahan sedih ini jika melihat dan duduk di samping Dinda. Putri kesayangannya terbaring lemah, Semua adalah salahnya. Jika dulu dirinya lebih bisa dan lebih kuat dari orang tuanya dalam mengambil keputusan mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi. Tapi, semua sudah terlanjur. Hanya bisa mengatakan kata Seandainya.. seandainya saja tanpa waktu bisa berputar kembali ke masalalu.


*


Kembali sekolah seperti biasa Kiran masuk kedalam kelasnya tanpa adanya Dinda seketika Yeni dan Lia yang akan mengagetkan Dinda malah terkejut ketika Kiran sendirian yang masuk kelas.


Chintiya bingung dan langsung menghampiri Kiran.


"Lo kenapa Ran," ucap Lia. Duduk di bangku depan Kiran.


"Oiyaa.. Hari ini Dinda gak masuk ya, dia sakit," ucap Kiran dengan wajah mendungnya tidak ada semangat seperti biasa.


"HAAH.. KOK SAKIT.. DIA BISA SAKIT EMANG!" Suara Yeni dan Chintiya membuat satu kelas dan seluruh ruangan kelas mereka penuh.


"Iya.. Gue gak bisa jelasin alasannya." Lanjut Kiran dengan pelan.


Lia mengangguk.


"Lah kok gitu kenapa sih Ran kenapa kok gak bilang sakitnya apa? Masalahnya tu anak gue pikir kebal sama semua kuman dan bakteri." Kata Yeni dengan wajah berpikir lalu menatap Kiran pasti.


"Kiran mengapa kau bersedih huuuh..." Dodi. Suara itu datang dari kaleng rombeng yang Dodi bunyikan, Suara cemprengnya setengah merdu Dodi membuat Kiran menatap dan menanggapi biasa tidak heboh seperti biasanya.


Dodi malah merasa heran.


"Woy.. napa Dia.. apa lo kepentok jendela kamar mayat makanya lo kesambet setan anggun nan kalem," ucap Dodi sambil melangkah mendekat ke Kiran dan Lia.


Dodi mendengus kesal.


"Ya udahlah, gak papa kalo gitu, berarti pihak keluarga gak ngizin banyak orang buat jenguk Dinda. Kalo gitu kita titip salam ya," ucap bijak Lia pada Kiran, Kiran mengangguk.


"Dinda sakit...Sakit?" ucap Dodi mengulang perkataan yang ada di pikirannya.


Bruak...


Gebrakan di meja depan Kitan karena Dodi membuat Kiran Lia Yeni juga Chintiya menatap horor Dodi, yang di tatap justru santai.


"Sakit.. Kok dia bisa sakit?" ucap Dodi membuat Lia dan Yeni menutup telinganya.


"Dodi kaget gue lo ngomong suara lo gede di samping gue, Buset dah... lu toak banget cowok juga." Kata-kata Yeni membuat Dodi malu.


"Eh maaf gue gak sengaja," katanya sambil senyum-senyum.


"Lo pada kan tahu Dinda itu orang, manusia ya bisa sakit lah pake tanya kok bisa sakit, kalo gue tanya lo pada kok bisa mati gak bisa idup gimana?" ucap Lia.


Seketika membuat Yeni dan Dodi terdiam.


"Maaf, yaa kan basa basi Lia," ucap Dodi.


"Emang Lia, Jangan ngeri gitu napa ngomongnya, Tidak beradap tahu, untung gue kenal lo kalo gak dan ciut gue denger kata-kata lo barusan," ucap Yeni.


"Iya nanti gue sampein ke Orang tuanya Dinda. Makasih ya perhatian kalian," ucap Kiran dengan pelan. Seketika semua mengangguk dan kembali duduk di bangku masing-masing setelah bel berbunyi.


Di ruangan peraktek sainsnya Arkan berada satu kelompok dengan Rian dan Justin.


Di sela praktek yang hampir selesai. Lorenzo berteriak membuat semua terkejut, guru yang mengajar praktek hari ini terkekeh dan menggeleng melihat Lorenzo ketakutan, karena apinya terlalu besar dan Laskar yang satu kelompok dengannya malah tertawa terpingkal-pingkal. Padahal Laskar yang menyalakan apinya, paling suka Laskar membuat Lorenzo menjadi bahan hiburan.


"Tangan kamu di buka aja, kalo terus telungkup nyatu apinya nyalah terus sampe tangan gosong," ucap guru prektek Sains yang mengisi pelajaran di kelas Arkan kali ini.


Ternyata benar tangan Lorenzo terlepas dan busa hilang api juga langsung hilang, tangannya tidak terbakar, aman.


"Kamu ini." Kata Guru itu sambil menggeleng. Lorenzo memukul bahu Laskar keras.


"Lo sih..." Kesal lorenzo.


"Ih.. iya maaf tapi, gue lucu pertama kali liat ekspresi jelek lo kalo ketakutan, ngakak gue, Asli!" ucap laskar jujur tapi, Lorenzo malah kesal mendengarnya.


"Baiklah anak-anak kelas kita sampai disini gak terasa dua jam berlalu...." Guru praktek Sains menutup perjumpaannya hari ini dengan semua muridnya di kelas hari ini.


Lalu keluar.


Tak berapa lama semua keluar Lorenzo mengisyaratkan memukul Laskar tapi, Laskar tidak takut dan malah tertawa. Justin Bagus dan Lorenzo menghampiri Arkan.


Bagus seketika berbalik dan menutup ruangan praktek dari dalam tanpa di kunci mengambil kursi dan berubah duduk menjaga pintu. Seketika tingkah konyol Lorenzo muncul, mengikuti Bagus yang duduk di samping kanan pintu, Lorenzo mengambil kursi dan duduk di samping kiri pintu dengan duduk di kursi.


"Cocok kita!" Seru Lorenzo sangat senang. Bagus menatap Lorenzo geli.


"Apaan lo, Geli gue," ucap Bagus.


Lorenzo berdecak.


"Bukan gitu Gus.. Lo parno mulu lo, Nih kita kayak malaikat penjaga pintu surga... gimana kerenkan pintu yang kita jaga nih," ucap Lorenzo.


Bagus berbalik menatap Lorenzo yang menghadapnya dari samping tadi.


"Gue pintu surga, Lo neraka aja," ucap Bagus.


"Yee lo.. Kampret... Gue ini baek dan berbudi rajin menabung.. tabungan deposit kw maksudnya." Balas Lorenzo pada Bagus.


" Iyaa.. Lo jagain Setan iblis ama nek lampir ama orang-orang berdosa. Sedangkan gue yang baek-baek adem beriman bertakwa, Lo.. Api doang." Kata Bagus membalas Lorenzo lagi.


"Enak aja lo.. Dahlah.. Males Adek mendapingi abang di pelaminan," ucap Lorenzo. dibuat-buat lebai dan dramatis.


Seketika Bagus mengucap syukur dengan keras.


"Bagus.. Baguslah nama gue hidup gue, di jauhkan dari manusia seperti dia, Bahagia hidup gue," ucap Bagus.


"Apaa lo kata.. Sialan lo gus," ucap lorenzo kesal seketika Arkan berdehem ketika Lorenzo ingin bergerak menjitak Bagus.


Seketika itu juga keduanya memilih keluar dan bicara di luar melanjutkan goadaan dan candaan absurd mereka.


Di dalam Rian duduk dan menatap Arkan.


Rian tahu jika situasinya seperti ini pasti ada yang ingin Arkan sampaikan padanya. Atau masalahnya malah tentang Dinda.