
Presetan menelpon Kak Arkan Dinda harus berani menghadapi orang itu.
Dugh...dugh...dugh... Gedoran pintu jendela.
Dinda mengambil sapu dan keluar.
Seketika langsung perlawanan Dinda lakukan. Perempuan itu terkejut dan belum bersiap. Didorong mundur dan jatuh oleh sapu dari Dinda.
Dinda menatap sengit marah perempuan yang jatuh didepannya dan segera bangkit.
"Lo siapa, maen masuk rumah orang bawa piso." Omel Dinda.
Gareng yang berdarah di perutnya langsung di bawa Diyo seketika Kuta membuka gerbang dengan mudah dan masuk Seketika itu perempuan itu bergerak cepat menyandra Dinda. Sadar jika suara gerbang terbuka dan Kuta masuk.
Dinda terkejut.
"A.." pisau menempel di lehernya rasanya dingin dan perih.
"Woy..." Kesal Dinda memberontak. tidak berpikir jika pisau itu tajam dan bisa merobel urat leher dekat nadinya.
"Lepas Bego lo," ucap Dinda diluar kalemnya dan tenang perempuan, sekarang sifat premannya muncul saking kesalnya. Dinda tidak bisa takut sekarang!
Dinda harus berani, harus!
Kuta mendesak frustasi.
"Nona jangan bergerak," ucap Kuta memperingati Dinda karena urat nadi nya tepat bersebelahan dengan mata pisau belati itu.
"Apa.. ih.." Kesal takut, Terpaksa harus berani Dinda menginjak kaki perempuan itu dengan tumit dengan keras.
Menjauhkan pisau belati dari lehernya berputar memelintir tangan perempuan itu seketika itu melepas pisaunya.
Dinda memegang kedua tangan Perempuan itu dan menendang perutnya tanpa ampun Perempuan itu tidak terjatuh dan hanya mundur kebelakang. Dinda yang terjatuh Kuta segera menarik Dinda menjauh dari perempuan itu, menyembunyikan di belakangnya. Dinda menyentuh lehernya ada sedikit darah.
Perempuan itu menyeringai.
"Gadis urakan, Payah," ucapnya seketika membuat Dinda melepas sandalnya. Menantang bersiap melempar sendalnya
"Iya.. emang kenapa? masalah buat lo, lo juga cewek, baju lo kurang bahan ha, apa lo cuman bunya baju presbody haa, Jijik gue,gue lempar pala lo pake sendal nih, mau," ucapnya sambil melempar kedua sandalnya tapi, meleset semua. Kuta merasa sedang bersama perempuan yang lain bukan Dinda Kuta baru tahu sifat Dinda yang ini.
"Payah," ucapnya lagi pada Dinda, seketika kesal marah dan seketika matanya melihat pistol yang Gareng jatuhkan dari sakunya dekat rel gerbang.
Tak percuma mata Dinda menoleh kesana kemari mencari barang yang ingin di lemparnya.
Gareng dan Diyo tidak tahu kemana. Mungkin sudah pergi ke rumah sakit dengan Diyo. Se?pat Dinda melihat ada darah didepan gerbang mungkin punya Diyo yang tertusuk tadi.
Dinda memungutnya.
Gimana cara pakenya. Halah pegang aja. Nanti juga tahu buat anceman doang. Pikiran Dinda tidak sempat untuk memegang senjata dengan benar yang penting pegang dan terlihat berani. Aslinya bergetar takut pegang pistol ini.
Dinda mengambil pistol itu dan menodongkannya dengan dua tangannya memegang pistol itu Kuta terkejut mendegar suara senjata samping telinganya yang baru saja pematik atau pelatup pistolnya di tekan Dinda.
"Minggir," ucap Dinda dengan marah.
Perempuan yang bibirnya sobek dan baru mengeluarkan darah sedikit itu tersenyum getir.
"Kau tidak bisa bermain-main dengan benda berbahaya itu, bocah!" ucap Perempuan itu. Dinda tatap diam menatap sengit perempuan di depannya.
"Siapa yang kau bilang bocah haah, Liat aku tembak kepalamu sampai peluru menembus kepalamu," ucap Dinda dengan nada kesal.
Perempuan itu tidak merasakan senjata ini sangat berat padahal kecil tapi, getaran tangan Dinda semoga tidak terlihat olehnya ini memalukan.
"Nona biar saya," ucap Kuta sambil tangannya akan meraih pistol seketika tanpa sengaja Dinda membuka tuasnya benar-benar.
Jalannya peluru keluar siap di lepaskan. Kuta yang sadar itu seketika keringat dingin, jika sampai Dinda ceroboh bisa ada darah disini sekarang, dan Kuta akan berurusan lagi dengan Arkan.
"Nona biar saya," ucap Kuta.
"Kuta.. Minggir lah," ucap Dinda marah. Seketika tanpa sadar tangan Dinda bergerak mengangkat pistol didepan wajah perempuan itu. Jari telunjuk Dinda siap menembak.
Seketika Pistol berpindah di tangan Arkan. Tepat waktu Arkan datang.
Dinda terkejut dan terdiam, menatap wajah Arkan Tangan Arkan sigap merangkul pinggang Dinda seketika tubuh Dinda terhuyung ke samping Seketika itu juga Dinda reflek memeluk leher Arkan dan berpindah menatap kedepan lalu menatap Arkan lagi.
"Tutup matamu," ucap Arkan. Dinda menatap Arkan seketika melepaskan tembakannya di kaki perempuan itu. Meringis sakit Dinda sepontan memejamkan mata dan menutup telinga ketika Arkan melepaskan tembakannya.
"Aaaa...." Teriak Dinda. Seketika Arkan memeluk Dinda dan menengkannya meredam teriakannya di dalam pelukannya.
Beruntung pistol itu di pasang peredam suara, Sebenarnya percuma tapi, setidaknya suaranya tidak terlalu keras dan hanya seperti petasan ledak biasa.
Bagaimana bisa tidak tahu Senjata mafia tengkorak, punya dan rakit sendiri?.
Disini didalam rumah Arkan meminta yang lain membereskannya termasuk bekas kejadian semua Teman Arkan bergerak termasuk Kuta yang sebelumnya di tatapan tajam Arkan
dan sekarang Dinda duduk sambil bergetar tangan dan seluruh badannya, tiba-tiba sesak seperti serangan panik seketika itu Dinda teringat waktu dirinya tertembak Arkan yang mengobati luka di lehernya saja di acuhkan Hingga Arkan berdiri menyimpan kotak obat.
Setelah menyimpan kotak obat Arkan mengambil Air hangat untuk Dinda minum.
"Tenang... minumlah dulu ini," ucap Arkan memberikan air hangat.
Dinda menerimanya Arkan memberikan jaketnya dan menyelimuti punggung Dinda yang duduk bersila di atas sofa.
"Ka-kak ka-kak.... I-i-itu pistol-pistol itu tadi nembak perempuan itu, A-a-ada darah, darahnya di-di kaki, Ga-Gareng kak, Ga-reng tadi tusuk!" Ucapan Dinda bergetar dan terputus. Arkan menatap tenang Dinda yang bergetar takut.
Seketika Arkan mengambil gelas itu dari tangan Dinda dan memeluk Dinda.
Seketika Dinda menggil dan menangis dalam pelukan Dinda.
Pelukan Arkan di balas Dinda lebih dalam.
Suara isakan di pelukannya terdengar sangat jelas.
Lucu sekali! tadi Arkan melihat Dinda sok berani memegang pistol dan melawan giliran sudah tidak melakukan apapun berbahaya dan bersalah tidak melukai siapapun tapi, sekarang takunya Dinda bisa Arkan lihat dengan jelas.
*
"Kak.. ngapain di depan sini aja," ucap Dinda dengan duduk seenak jidatnya.
Arkan bangkit dari duduknya dan menghampiri Dinda.
"Aku pulang kamu baik-baik," ucap Arkan seketika membuat terkejut Dinda sikapnya.
Apa? Apa baru saja kak Arkan mencium pucuk kepala Dinda. Hoho... tidak mungkin ini kak Arkan hwaaa!
"Hem.." Dinda berdehem menetralkan degup jantungnya.
Dinda mengangguk.
"Hati-hati kak," ucap Dinda. Arkan keluar.
Seketika mengambil kunci cadangan.
"Aku ambil satu kunci cadangan kan ada tiga," ucap Arkan santai sambil keluar. Dinda terdiam berpikir seketika nyambung dan berlari. Pintu sudah tertutup dan suara pintu terkunci.
"Tidur udah malem kunci rumahmu masih gantung, di luar aku kunci pintu dari luar," ucap Arkan. Seketika membuat Dinda menatap gantungan kunci lalu berlari ke jendela.
Dinda membuka jendela.
"Tapi kak, Dinda kan gak bilang iya Kak, Woy... Kak Arkan," ucap Dinda seteng berteriak.
Arkan berbalik dan tersenyum tipis.
"Mau tutup jendela atau kamu tidur sama aku," ucap Arkan seketika Dinda menutup jendela tanpa bicara.
Dinda langsung pergi ke depan tv dan duduk diam seketika tangannya bergerak mengambil gelas dan meminum airnya.
Dinda kalah, gugup apa! apa ancaman Kak Arkan beneran tapi, Ucapan Kak Arkan selalu terwujud dan benar di lakukan.
Tenang Dinda tarik nafas hembuskan. Haaah.... tenang ok.
*
Di luar Arkan menutup gerbang dan melihat ada bekas air ini pasti sudah di siram. Darah Di depan gerbang juga, Arkan menghampiri Justin dan Kuta mereka berdua sedang mematik korek api salah satunya.
"Gimana Gareng?" ucap Justin Pada Kuta, terdengar Arkan ketika berjalan mendekat.
"Gak papa, udah biasa, Itu kedua kalinya dia dapet yang pertama kan waktu markas diserang," ucap Kuta. Justin mengangguk sambil menghembuskan asap rokoknya ke bawah Kuta juga ke arah lainnya.
Arkan datang dan duduk di motornya.
"Maaf Bos kita gak bisa lakuin sesuatu cepet," ucap Kuta takut-takut.
"Gak masalah, " ucap Arkan dengan tatapan dinginnya. Seketika mengeluarkan rokok mintnya dan menyalakannya dengan korek yang Justin berikan.
"Gak ada kata besok buat kejadian ini. Gue gak bisa dateng lagi besok," ucap Arkan seketika membuat Justin dan Kuta menatap heran. Arkan diam merokok hingga rokoknya habis Arkan mematikannya dengan menginjaknya.
"Gue balik," ucap Arkan setelah menatap jam tangannya. Arkan langsung pergi dengan motornya tidak lama Lorenzo dan Bagus juga pulang Justin juga setelah Rettrigo dan beberapa temannya datang.
Kuta menatap Arkan dan semuanya dengan wajah tak enak.
"Lo makannya jaga calon bini Bos yang bener," ucap Rettrigo pada Kuta.
"Yee.. lo nyalahin gue, nih info orang itu terlambat datengnya makannya kita belum ada persiapan pas." Selah Kuta.
"Alasan aja lo," ucap Rettrigo.
*
Di sekolah. Tepatnya di depan Toilet.
Dinda di hampiri Maulana teman dekat Dinda waktu kelas sepuluh dulu di depan toilet perempuan ketika Dinda mengantar Kiran dan menunggu Kiran di depan Toilet.
"Eh.. Dinda, ngapain Lo disini? nungguin siapa lo?" ucap Maulana.
"Suka Suka gue lah, mang toilet mbah mu apa?" ucap Dinda kasar, Maula tersenyum.
Dinda tidak berubah sejak pertama kenal Dinda waktu MOS.
"Mana ada Mbah gue yang ada, punya sekolahan kali." Seru Mulana
Seketika Dinda meringis malu tapi tetap di perlihatkan wajah santainya.
Emang! Sih...
*
Lorenzo dan Bagus Justin Arkan dan Rian mereka berbeda tempat dan jadwal ujiannya sesi terbagi menjadi empat dan Beruntungnya mereka berlima di waktu pagi tapi jamnya beda dan tempat beda tetap pagi belum lewat jam 12 siang. Arkan ada di ruangan satu Rian Bagus Lorenzo ruang tiga.
Kali ini ujian tengah hanya latihan tapi, ini hari terakhirnya tiga hari waktu itu adalah percobaan pertama lalu kedua di hari ini dan besok minggu depannya adalah sungguhan.
Arkan harus bagaimana Arkan tetap harus diam sejak kemarin malam kembali dari tempat Dinda membuat Arkan tidak tenang tapi, terus memaksakan untuk tenang.
Perkataan kakeknya waktu malam itu masih terngiang. Untuk menjauhi Dinda. Arkan melakukannya demi Neneknya.
Tapi, Arkan sekarang tidak bisa jauh setelah Gareng masuk rumah sakit karena orang tak bisa terlihat apa maunya dan informasi terlambat itu.
Seperti Gareng saja masih di kalahkan kali ini siapa? yang mengirim mereka.
Arkan harus diam untuk kemarin-kemarinnya tapi, sekarang gelisah.
Arkan menghentikan pikiran paniknya dan menghela nafasnya.
Kriiing... Suara bel masuk terdengar. Arkan dan lainnya masuk keruangan ujian.
Di luar Maulana dan Dinda bersama Kiran sedang membersihkan lapangan kerja bakti bersama Teman kelas sebelas lainnya.