Arkan Dinda

Arkan Dinda
Sakit



Dinda berjalan keluar dari sekolah bersama Kiran.


Di rumah sakit sekarang Lorenzo dan Bagus juga Justin datang.


Masih dengan pakaian sekolah.


Seketika itu dua penjaga Arkan di depan Pintu menghalangi Lorenzo dan Bagus juga Justin masuk.


Arkan melihat kedatangan teman-temannya segera meminta untuk membiarkan mereka masuk dengan wajah datar dinginnya.


"Pak Johan bisa keluar sebentar," ucap Arkan dengan sopan dan wajah datar yang tak pernah terlihat senyum.


Pak Johan mengangguk melangkah pergi.


Loerenzo Bagus dan Justin masuk.


Seketika Mereka melihat Arkan berdiri bersandar pada pinggir ranjang.


"Arkan.. Teman gue nih.. lo gak papa... Ya Allah bersyukur banget gue." Kata Lorenzo dengan deramatis.


Seketika deheman Yuda membuat Mereka bertiga menoleh. Sadar ada manusia lain selain Arkan yang sedang di rawat bersama Arkan, dan menjelma menjadi pasien.


"Eh... Abang Yud.. bagaimana kabar bang, Sorry ya bwang..." ucap Lorenzo dengan Lebay dan langsung duduk saja di atas ranjang Yuda di depan Yuda. Tak lupa mencium tangan Yuda seperti Yuda bapaknya Lorenzo.


Yuda menatap jengah kelakuan Lorenzo.


"Bawa apa kalian kemari, Pasti modal angin doang," ucap Yuda.


Seketika Bagus menghampiri Yuda dan meletakan sikutnya di bahu Yuda dan merangkul Yuda.


"Kita kemari bawa perasaan senang biar lo pada cepet keluar dari sini," ucap Bagus.


" Lagian kalo kalian heppyy kalian cepet sembuhnya," ucap Lorenzo menambahi ucapan Bagus sambil tangannya mengambil buah di samping Yuda.


"Bagi ya Yud," ucap Lorenzo.


Yuda berdehem sebal.


"Emang bener semalem Bang**t Banget mereka," ucap Justin dengan kesal sambil duduk di kursi depan Arkan.


"Kalo aja Hansimon gak cepet di tanganin gak bakalan selamat dia," celetuk Bagus tiba-tiba.


Seketika Arkan menoleh.


"Laah lo tahu dia selamat dari mana," ucap Lorenzo heboh.


Bagus menggoyangkan ponselnya yang berisi pesan dengan Rettrigo.


"Ohhh..." Lorenzo sambil mengangguk.


"Gue mau bilang ke kalian kalo Dinda nanya kabar gue bilang aja...." terpotong oleh Lorenzo seketika Arkan menatap Lorenzo tajam.


"Bukan gitu.. maksudnya Justin udah terlajur bilang tapi, kayaknya si Justin gak bakal cerita rinci karena lo pasti gak bakalan boleh hin, eh.. beneran. Si Jasjus bilangnya sama kaya yang Rettrigo sama Djyo bilang." Jelas Lorenzo dengan wajah pura-pura tidak bersalah.


"Zooo.. Gue tonjok juga lo ngubah nama gue aja dari semalem lo, apa perlu gue gebuk lagi pala lo," ucap Justin kesal pada Lorenzo. Lorenzo cengenegsan sambil berucap maaf-maaf.


Arkan mengangguk, Teman-temannya suka memotong pembicaraan Seperti kebiasaan Arkan maklum saja.


Arkan menatap Justin dan Justin mengangguk.


"Kalian ikutin rencana gue jangan ada yang minta penjelasan sebelum waktunya," ucap Arkan.


"Kan lo kok gitu sih." Seketika Bagus menyela.


"Bener tuh." Tambah Lorenzo.


Arkan tidak menjawab dan kembali duduk di atas ranjangnya sambil memainkan ponselnya.


Dinda dan Kiran sampai di rumah sakit. Baru saja masuk dan Sekarang sudah sampai di depan ruangan Arkan dan Yuda. Pak Johan membiarkan Kiran lewat tapi, tidak dengan Dinda.


"Tapi, dia temen saya," ucap Kiran.


"Maaf Nona Karena didalam ada Tuan kami tidak bisa sembarangan," ucap Pak Johan dengan tegas.


Dinda mengerti.


"Udah gak papa... gue di sini aja."


Kiran terpaksa mengangguk. Dinda duduk di kursi tunggu sebelah Pak Johan.


Pak Johan sedikit melihat wajah Dinda. Setelah itu kembali fokus pada tugasnya.


Dinda duduk diam dan seketika jenuh, lalu membuka ponselnya. Dinda mengirim pesan ke nomor Arkan. Tidak di baca atau di lihat.


Dinda memilih membuka hiburan apapun di ponselnya, sosmed atau game.


Di dalam Kiran yang baru duduk di samping kakaknya seketika menangis menyembunyikan wajahnya di tangannya terlipat diatas ranjang kakaknya.


"Huuuh.. Kakak ini sukanya begitu aja, ama Kiran gak sayang apa... Kakak ini terus aja pukul-pukulan sampe Mampus sekalian," ucap Kiran sambil menangis.


Seketika Lorenzo tersedak.


Uhukkk.. uhukkmmm... hmmm..


Bagus membantu dengan memukul punggung Lorenzo.


Mereka sedang makan camilan dan Kiran mengatai Yuda agar cepat tiada.


Yuda yang mendengar ucapan Adiknya tidak kesal tapi malu dan menciut.


"Yaa. Maaf Abangkan gak.. tau kalo gini ceritanya," ucap Yuda.


"Halah.. Sini Kiran Bantuin robek jantung kakak," ucap Kiran lagi masih dengan tangisan seketika Arkan meneguk ludanya dan berpaling ke jendela.


Seketika Yuda mengelus kepala Adiknya dengan lembut.


" Maaf ya." Kiran mendengar suara lembut Kakaknya langsung mengangkat kepalanya dan memeluk kakaknya. Yuda juga menerima dengan senang hati dan membalas pelukan adiknya.


Setelah puas Kiran melepaskan pelukannya dan menatap Yuda. Yuda seketika mencubit hidung Kiran dan Menghapus air mata Kiran.


"Oh iya," ucapnya sambil menarik ingus dan mengusap air matanya.


Di tempat duduknya Justin menoleh pada Arkan Bagus dan Lorenzo juga menatap Arkan sekilas.


Arkan acuh saja.


"Terus kenapa kamu gak ajak masuk," ucap Yuda.


"Itu.. Sama Orang-orang didepan Dinda gak boleh masuk karena Dinda bisa ngebahayain Tuan mudanya," jelas Kiran menyindir Arkan tapi, yang disindir tidak terpengaruh.


Yuda mengangguk.


"Bilang Gue manggil dia," ucap Arkan tiba-tiba. Seketika Kiran menoleh menatap Arkan.


Seketika itu juga Kiran mengangguk dan bangkit pergi keluar memanggil Dinda.


"Bentar ya kak," ucap Kiran pada Yuda. Yuda mengangguk.


Kiran keluar dan memanggil Dinda.


"Ayo masuk Kak Arkan manggil lo," ucap Kiran. Pak Johan tidak bisa menghalanginya dan membiarkan saja.


Dinda masuk dengan malu tersenyum kikuk.


Berdiri Dinda di samping Kiran.


"Kak Yuda udah sehat," ucap Dinda menyapa.


"Tenang aja Din.. ini gak seberapa sakit." Sombongnya Yuda.


Kiran mendengus kesal dengan ucapan Yuda dan mencubil lengan kerasnya.


Seketika Kiran mendorong-dorong Dinda.


"Dah.. sono noh Kak Arkan sana tanyain juga," ucap Kiran mendorong-dorong Dinda untuk dekat.


"Kak.. Arkan gimana kabarnya?" Tanya Dinda gugup sedikit terkekeh dan mengontrol dirinya, pada Arkan yang hanya bermain ponsel.


"Siapa lo?" ucap Arkan. Seketika membuat Dinda mundur selangkah. Arkan menatap Dinda acuh Seketika itu juga Lorenzo Yuda Bagus Justin terkejut bersamaan.


"Oh.. aku..." Dinda terdiam. Kak Arkan lupa padanya apa yang terjadi?


" Kak Arkan lupa ya," ucap Dinda dengan malu, berusaha tidak terlihat kaget.


Arkan menoleh kesamping ingin mengambil air minum seketika Dinda membantunya dan memberikannya Arkan tidak menerima uluran air dari tangan Dinda.


Seketika Dinda meletakannya dan mundur perlahan. Arkan lalu menoleh dan mengambil gelas yang Dinda berikan padanya tadi.


Dinda melihat ada perban di belakang kepala Arkan dan juga luka di wajah Arkan. Ada seperti Perban yang tidak sengaja Dinda lihat ketika Arkan tidak sengaja minum dan baju pasiennya terangkat sedikit.


Deg...


Sakit apa dan apa luka Kak Arkan begitu parah. Dinda masih diam Arkan meletakan gelasnya dan kembali memainkan ponselnya.


" Kak Aku boleh ngomong berdua sama Kakak gak," ucap Dinda dengan berani seketika itu suasana jadi sepi.


Arkan meletakan ponselnya dan mengangguk.


Semuanya keluar termasuk Yuda dan Kiran.


Mereka keluar duduk didepan menunggu Arkan dan Dinda bicara.


"Kakak.. kenapa? Kakak kena pukulan keras atau lupa ingatan," ucap Dinda.


Arkan diam menatap Dinda.


"Kakak lupa beneran sama Dinda?" ucapnya.


"Lo siapa Dinda, Dinda siapa?" ucap Arkan.


Rasanya sangat sesak. Arkan sakit dan Dinda terlupakan, apa yang tejadi sebenarnya.


"Eh.. enggak papa.. Kakak cepet sembuh ya.. Oiyaa.. Kakak inget gak kakak pernah anter jemput Dinda terus bantu ngobatin luka Dinda?"


Arkan menggeleng.


"Emang gue pernah gitu?"


Seketika Dinda terdiam tiba-tiba Dinda tersenyum getir.


" Pernah.. Kakak pasti akan inget Dinda lagi, Dinda akan terus suka sama Kakak walaupun Kakak lupain Dinda.. Kakak Harus sembuh, Dinda pulang Dulu ya," ucap Dinda.


Seketika Arkan memanggil Dinda dengan nama. Dinda seketika berhenti dan menoleh berharap Arkan menipunya.


"Apa kita pacaran, kenap lo bilang masih suka?" ucap Arkan.


Dinda terdiam. Menggeleng.


"Enggak kita cuman deket Kak Arkan suka kasih Dinda perhatian tapi, Kita gak pacaran."


Dinda mengangguk dan pergi.


Seketika Dinda keluar dengan menangis.


Seketika itu semua berdiri termasuk pak Johan. Justin Lorenzo juga Bagus tidak bisa bicara apapun.


Kiran langsung memeluk Dinda.


"Din.. lo kenapa?" ucap kiran.


"Hehehe .. gak papa.. Kayaknya gue harus pulang dan bentar lagi gue harus kerja."


Kiran mengangguk.


"Eh.. Mau gue pesenin taksi atau gue anterin lo," ucap Kiran.


Dinda menggeleng.


"Enggak Makasih Kiran Lo harus jagain kakak lo, Semuanya duluan," ucap Dinda berpamitan.