Arkan Dinda

Arkan Dinda
Cafes's



Arkan dan lainnya duduk berbincang dan mengemil memesan hingga Kini Lala tertidur di pangkuan Arkan karena lelah.


Seketika Bagus mendapat telepon dari Larisa.


"Hallo La." Jawab Bagus langsung ketika telepon terhubung.


"Oh.. iyaa gue mau pulang ini nanti sampe rumah gue telepon. Jangan mikirin Lala biar Lala sama gue. Ada nenek lagian nenek suka ada Lala," ucap Bagus.


Seketika Bagus meneguk ludahnya kasar ketika tatapan Lorenzo menyeramkan sadis.


"Nenek? Lala? Larisa maksudnya? Wah... Waah.. kebangetan lo.. nikung gue lo selingkuhin gue. Gue gak suka ya lo gitu. Pokoknya... Hpmmmpm," ucapan Lorenzo terhenti dan hanya terdengar gumaman tidak jelas. Justin yang membekap mulut Lorenzo.


"Berisik lo.... Lala lagi tidur bangun nangis habis lo sama Arkan. Gak liat noh pak ketu mukanya siap makan lo idup-idup... kebanyakan nonton Drakor lo, Gxg... Jorok lo," ucap Justin asal.


Seketika Lorenzo menggeleng kencang.


"Enggak... enak aja lo," ucap Lorenzo ketika Justin sudah membuka bekapan mukut Lorenzo.


Bagus menampar pipi Lorenzo pelan seperti menempelkan telapak tangan dan membuat kepala Lorenzo terdorong ke samping.


Selesai telponan dengan Larisa.


Bagus memutuskan pergi.


"Makasih Kan, Yud, Zo.. Tin," ucap Bagus sambil membawa Lala yang masih tertidur didalam gendongannya pelan.


"Okay Breeh... Ati-ati ama janda genit... kalo janda kek Larisa lo hubungin gue aja," ucap Lorenzo asal seketika kepalanya di tempeleng Justin.


"Ngaco lo..." Ucap Yuda.


Tiba-tiba Dinda datang dan menghampiri Yuda. Arkan menatap tajam.


"Ehm.. Kak Yuda.. Kiran telepon nih katanya Hp Kakak gak bisa di hubungin," ucap Dinda dengan santai sambil menyerahkan ponselnya ketika akan mengambilnya Arkan menyambarnya lebih dulu dan memberikan pada Yuda. Seketika itu kali ini mereka benar-benar terkejut.


"LO SAKIT?" Serempak Justin, Lorenzo, Yuda bersuara.


Arkan malah menatap mereka seketika itu Arkan kembali biasa seperti tidak terjadi apapun dan diam saja tidak menggeleng mengangguk atau berdehem.


Disini Dinda berdehem karena merasa malu, tidak tahu kenapa ia gelisah dan gerogi.


Seketika tatapan Arkan membuat Dinda menoleh kesamping. Arkan kembali menatap ponselnya.


"Oh.. iyaa.. Iya.. gue balik," ucap Yuda pada Kiran di telepon.


Yuda yang akan menyerahkan pada Dinda seketika meletakan lagi diatas meja dan menunduk berdehem. Peka dengan tatapan intimidasi Arkan walaupun Yuda tidak lihat secara langsung.


"Gu- ehm.. Guee balik duluan," ucap Yuda dengan tatapan takut dan menghindar. Arkan menatap ponselnya lagi.


Justin dan Lorenzo mengabaikan Dinda yang pergi karena mereka males dengan tatapan membunuh Arkan.


"Gue gak nyangka kalo Itu Arkan pak Ketu..." Pesan Lorenzo pada Justin.


"Sama gue juga." Sahut pesan Justin.


"Dah pura-pura gak tahu aja." Pesan Justin lagi.


Seketika Arkan berdehem.


"Kalo mau gosip jangan di grup." Suara Arkan tiba-tiba membuat mereka terkejut.


Justin dan Lorenzo bersamaan langsung tersenyum malu sadar mereka salah tempat mengirim pesannya.


"Sorry..." Kata mereka bersamaan. Arkan mengangguk pelan dan kembali pada ponselnya. Arkan seketika mengangkat ponselnya.


"Iya.. Pak, Baik.. Besok jadwalnya Bapak siapkan saja," ucap Arkan lalu menutupnya.


"Kayaknya sibuk banget lo Kan gue liat lo maen hp bukan maen game dah." Kata Lorenzo seketika menggeser duduknya. Justin juga mengangguk sambil meminum airnya.


"Kakek tiba-tiba, nyerahin tanggung jawab perusahaan hari ini." Katanya dengan wajah datar tak teralihkan dari layar ponselnya.


Seketika Lorenzo menepuk bahu Arkan.


"Lo butuh apapun kita bantu kita temen sekaligus sodara. Kecuali Money... Ribet gak mau gue jadi akuntan lo," ucap Lorenzo dengan percaya diri tinggi. Justin mengangguk membenarkan.


"Ya iyalah Playboy gak mungkin bisa pegang keuangan yang ada miskin tiba-tiba lo." Celetuk Justin membuat Lorenzo berkomat kamit mengumpatinya.


"Bener omongan gue." Seketika Arkan bangun dan pergi ke tempat kasir memesan minuman dingin teh tawar mawar.


"Ya Elah.. dari tadi lo belom pesen apa-apa... Gue aja dah abis banyak." Kata Lorenzo dengan wajah tak menyangka.


Arkan mengedikkan bahu sambil menyedot minumannya dan duduk di samping Lorenzo tempatnya tadi.


Di ruang kerja kakeknya Arkan beberapa orang berdiri dengan wajah yang menunduk takut.


"Kalian lakukan tugas kalian masing masing, Pak Johan lakukan tanpa ada celah, jangan kecewakan aku ini adalah rencanaku dan pekerjaan kita bersama."


"Kalian harus melakukannya dengan benar," ucap Kakek lagi setelah beberapa menit diam membaca beberapa lembar kertas putih.


"Baik Tuan besar." Kata mereka dengan bersamaan dan segan.


Foto wajah anak kecil dengan kepang dua dan kaca mata berbentuk bintang kuning gigi ompong di samping kanan atas.


Sedikit terlihat dari lembaran foto yang tertumpuk ada data diri seseorang dan rambut terurai dengan hoddi hitam.


Kakek bangkit dari duduknya dan mrnatap keluar jendela.


"Tak ku sangka jika dia adalah perempuan itu, Perjodohan ini akan langsung terjadi besok setelah semua aset perusahan jatuh ketangannya." Kakek menatap keluar jendela dengan tatapan datar dan dingin.


Di Cafes's.


Dinda baru selesai dan waktu hampir isya.


Dinda pergi keluar dengan menenteng helm Arkan karena ia berakat pagi dan teringat jika naik ojek gunakan helm yang Arkan belikan untuknya.


Arkan yang niatnya pergi ke Cafe hanya kumpul tidak sangka jika datangnya bersamaan Dinda.


Dengan santai mereka berdua masuk bersamaan dan mengundang praduga Yuda, Justin, Lorenzo, Bagus.


Sekarang jam kerja Dinda sudah selesai karena sekolah pulang di waktu tengah hari menjelang sore hari jadi Dinda bisa berangkat dengan awal. Lalu selesai cepat.


"Ayo." Suara itu. Dinda menoleh.


Arkan.. Dinda bingung apa maksudnya.


"Kenapa kak?" ucap Dinda sambil berjalan menghampiri.


"Bareng gue." Seketika Arkan menarik tangan Dinda dengan wajah datar dan Dinginnya Arkan membawa Dinda ke motornya dengan bergandeng tangan. Di sebrang jalan seseorang tersenyum senang jika ini adalah kesempatan yang tidak boleh di sia-siakan.


Arkan yang menyadari sesuatu tidak enak seketika menarik dida cepat kedepannya dan membuar Arkan yang berjalan di belakangnya.


Dor...


Sebuah peluru nyasar hampir melukai Dinda jika Arkan tidak memindahkan posisi Dinda menjadi di depannya.


Kaca Cafes's seketika pecah karena tembakan itu. Semua orang berkumpul. Pegawai Cafe yang melihat kejadian yang sangat cepat itu langsung menelpon polisi dan ambulan.


Orang-orang berteriak terkejut sesaat dan menatap kaget pada kaca besar Cafes's.


Arkan menarik Dinda dan memakikannya helm.


Seseorang dengan senjatanya mengumpat keras marah karena tembakannya meleset.


Arkan menatap mobil van hitam yang sama dengan yang mengejar Dinda.


Arkan langsung melajukan motornya lain arah memanfaatkan ramainya jalanan. Seketika Dinda berpegangan pada Arkan.


"Eh.. Maaf kak, kaget," ucap Dinda ketika sadar memeluk Arkan tiba-tiba.


Dinda berdehem untuk menekan gugupnya.


Seketika tangan Arkan menarik tangan Dinda agar memeluknya lagi dan melajukan motornya kencang.


Dengan tanpa sadar Dinda juga berpegangan dengan memeluk pada Arkan dengan kencang.


Arkan terlihat marah dari sorot matanya menatap jalanan.


Dari selah Jari-jari tangannya memerah ketika menggenggam setang dan rem lalu tangan kananya mengendalikan gas motor.


Mereka berani menyentuh Dinda dan ingin menggoresnya maka jangan salahkan Arkan jika mereka akan tidak bisa berjalan normal nantinya.