
Sehari sudah bertambah waktu Arkan di tempat Giovano, sekarang di pagi hari ini Arkan akan kembali pulang dan benar-benar akan pulang. Arkan menatap jalan yang sedang di laluinya dari jendela kaca mobil yang di kendarai Tez.
Sampai di bandara Arkan tidak boleh naik pesawat umum, Giovano memberikannya tumpangan gratis dengan pesawat jet pribadinya. Juga Istri Giovano memaksa semuanya.
Mereka mengangguk dan mengiyakannya dengan perasaan tak enak. Awalnya mereka harus mendengar sepasang suami istri itu bertengkar hingga pemenangnya tetap istrinya.
Saling sapa dan juga jumpa ketika sampai di bandara, Arkan pergi bersama teman-temannya, Giovano menatap Arkan dan semuanya yang naik kedalam pesawat. Istrinya juga tersenyum menatap mereka yang akan segera kembali ke Indonesia.
"Apa mereka akan sampai Indonesia dengan aman?" Ucap Istri Giovano dengan bahasa Italianya.
"Sudah lah sayang selagi mereka dalam jangkauanku aku yakin mereka aman, Lagi pula si Rayhan itu tidak akan mau menyuntikan dana untuk perusahan cabang kita jika aku sampai membuat Arkan lecet atau masalah besar selagi Arkan akan kembali pulang," ucap Giovano dengan wajah lesu, hal yang di katakan Rayhan waktu kemarin malam yang membuatnya malas berucap tentang Rayhan lagi, ancamannya bukan menakutkan tapi, malas.
Siapa yang tidak tahu jika Giovano adalah pengusaha terkenal semua hanya tahu Giovano pengusaha terkenal biasa tidak terlalu atau begitu terdengar namanya seantero, lalu memiliki kolega yang sama-sama terkenal dan mansyur yaitu Rayhan. Dari awalnya juga Giovano tahu siapa Arkan dan siapa Rayhan semenjak Alano menikah dengan Adiknya Rayhan.
Sejak saat itu semua informasi mereka saling bertukar hingga sekarang Arkan besar serasanya mereka mengawasi pertumbuhan Arkan dari jauh, Mereka juga sedikit kesal karena semua yang Arkan dapatkan dari kerja kerasnya dan pendidikan yang baik semuanya dari perintah dan tekanan kakeknya, Bagus sih, tapi, itu terlihat sekali kekangan yang mengekang Arkan.
Di pesawat Arkan kembali membuka buku yang sebelumnya menemani penerbangannya datang ke Italia.
"Kan...Kemaren adalah hal yang bener-bener buat gue di medan perang, Gue sempet kalo kalo tu cewek buat lo kenapa-kenapa," ucap Justin berlebihan dengan wajah yang memancing Lorenzo untuk berbuat berlebihan juga, sudah biasa Arkan. Jastin itu gitu, diem-diem baek tahunya absurd juga tingkahnya.
Arkan menutup bukunya.
"Lo kenal gue, kenapa masih ragu," ucap Arkan mulai ikut bicara.
Yaah.. Yaah.. mulai lagi, datar dingin tapi, jelas Justin suka, Justin itu senang jika Arkan seperti ini berarti dia baik-baik saja. Sengaja ceritanya, Justin cuman mau tahu jika Arkan baik dan tidak terlalu memikirkan tentang hal yang waktu Giovano bicarakan.
Seketika Lorenzo datang dan membawa Pizza yang dibawa pramugari.
"Eh.. eh.. katanya ini cocok tahu buat nemenin perjalanan kita, Cucok breeh." Seru Lorenzo heboh. Memeberikan masing masing sepotong ketika sampai di Arkan. Arkan menatap Lorenzo dengan datar.
"Tenang Kan, Kagak buat tuh perut kotak-kotak lo luntur, Cobain aja, Ini sengaja gue minta dan ini katanya makanan yang biasa nemenin perjalanan bisnis Giovano," ucap Lorenzo berusaha membujuk, Arkan menyicipinya.
Waah.. Seru Bagus bersama Lorenzo dan membenturkan pizza mereka dan memakannya. Ehmmm Lezat.. yakin deh.
Ala-ala orang Italia Bagus dan Lorenzo, mengisyaratkan jika pizza ini lezat.
Justin melempar gumpalan tisu pada Lorenzo karena wajahnya membuat Justin geli, seketika tawa mereka pecah.
Ini lah, Beruntung semua selamat jika di medan perkelahian Arkan memang harus fokus pada intinya dan membuat Inti lumpuh alias pemimpin musuh lumpuh baru mereka selamat jika Arkan tidak menghabisi beberapa orang penting yang dikirim pembencinnya mungkin teman-temannya tidak ada yang selamat atau terluka parah.
"Arkan.. ngelamun baek, Aak.. Sakit Gus Kampret biru nih," ucap Lorenzo pada lebam yang Bagus senggol.
Seketika Bagus menyenggolnya untuk kedua kalinya.
"Haha.. Lebay lo, Makan Kan, Lo gak makan kita yang sakit," Ucap Justin mendramtisir keadaan
"Yaah.. Pak Justin drama," ucap Lorenzo.
Posis pesawat sudah mengudara.
Di dalam pesawat semua sedang melakukan tingkah absurd ada yang berpidato seketika Lorenzo singkirkan lalu berbicara receh membuat Bagus dan Yuda terkekeh.
Rian bangkit dan seketika membuatnya menjadi sasaran stand up comedy Lorenzo. Seketika semua menggeleng. Rian membalas.
"Nih.. dia Rian gaes namanya kalo liat Duit mata ijo, Beuh.. heran kalo Ijo dan ngiler ngeliat duit kira-kira apa warma matanya kalo liat cewek cakep?" ucap Lorenzo heboh di barengi tawa besarnya.
"Pasti buta," ucap Yuda asal.
Semua menatap Yuda.
"Kok buta?" ucap lorenzo menyerahkan mic dari sendok pada Yuda. Yuda berpikir dan mengambil sendok itu dan berdiri.
"Ya karena Cinta itu buta, Semua yang tidak mungkin akan mungkin dan terjadi hanya untuk engkau semata," ucap Yuda lebai dan di biat berlebihan seperti seorang yang sedang berpuisi.
Yaaah.. tawa mereka pecah kecuali Arkan, Hanya tersenyum tipis saja, dari awal Lorenzo dari awal tingkah absurd mereka di mulai.
"Ijo, Ijo... Mata gue normal kalo liat duit Indonesia kecuali Liat cewek cakep," ucap Rian keceplosan seketika Lorenzo tertawa keras Rian malu.
Naah... kenapa malah kepelosan harusnya tidak bicara.
"Tu...kan bener," ucap Justin dan Lorenzo bersamaan.
Arkan hanya diam saja.
Mendengar mengamati dan sedikit merasa terhibur.
Rasanya pesawat itu milik sendiri mereka berbuat dan bertingkah menghibur seperti apapun seakan tak masalah pramugari dan Pramugara disana juga terhibur pilot di depan juga terhibur walau tidak mengerti.
Benar-benar, Tawa itu menular ya.
*
Arkan terdiam memikirkan tentang hal yang membuat dirinya masih bingung.
Apasebenarnya alasan mereka?
Saat ini Arkan di kamarnya sudah istirahat dan tidur sudah lebih dari beberapa jam Arkan di rumah setelah sampai bandara mereka langsung pulang masing-masing ke rumah.
Tapi, bangun di tengah hari dan keluar membawa Helmnya. Arkan berjalan cepat keluar menghampiri motornya. Tidak lama ponselnya Bunyi dengan nama panggilan telepon Justin.
"Hallo Kan Kemarkas sekarang bisa Lo," ucap Justin dari Telepon.
"Di jalan," sahut Arkan lalu menutup teleponnya.
Motor Arkan berjalan keluar Pak Joko kembali menutup gerbang ketika Arkan sudah keluar.
Rettrigo Gareng mereka sudah berdiri dengan membawa hasil dan juga informasi.
Orang yang pingsan didepan Markas tengkorak kini sudah sadar dan duduk di hadapan Hansimon Justin juga Yuda dan Lainnya.
Arkan sampai dengan motornya.
Masuk ke dalam menenteng helmnya. Sampai didekat meja Arkan meletakan helemnya dan menarik kursi untuk duduk.
"Bos, Ternyata namanya Adalah Gabriel Qnciz, Dia punya tato di leharnya tato scorpion Orang yang datengin dia langsung di bunuh di tempat dan di penggal saat itu juga, Rumah itu tidak jauh lokasinya dari perumahan mewah yang ada di pulau Jawa. Sekitar Kota disana dia juga punya bisnis jual beli berlian dan emas." Penjelasan Gareng berhenti.
Rettrigo menggeser foto-foto yang didapatnya pada Arkan, Arkan melihatnya.
Seketika meletakannya perlahan dan menatap orang didepannya dan Hansimon.
"Tuan dia adalah orang yang menembak Nona tapi, tidak sampai melepaskan peluru seseorang memukulnya dari belakang, tapi setelah di sadar dia malah menekan tuas dan melesat peluru tepat mengenai dada nona, sebenarnya dia tidak ingin melakukan tapi, seluruh keluarganya disandar dia terpaksa karena terlilit hutang..." Hansimon berhenti ketika tatapan Arkan menyisyaratkan untuk diam.
Arkan menatap Orang itu tajam.
"Biar dia bicara sendiri dia punya mulut, untuk bicara." Kata Arkan dengan wajah menakutkan seperti akan memangsa orang di hadapannya.
"Maafkan saya Tuan, Saya sebenarnya tidak pernah membunuh tapi, karena keluarga saya taruhannya saya tidak bisa berbuat apapun. Tapi, sekarang setidaknya saya tidak ingin membuat pengorbanan keluarga saya sia-sia, Saya akan katakan apa yang saya tahu," ucap Orang itu dengan wajah mengigil ketakutan.
Arkan menatap tajam seketika menerima uluran pistol dari Kuta.
Cklek, Pistol siap menembak. Arkan memainkannya sambil mendengarkan orang yang akan memberinya penjelasan.
"Sebenarnya dia adalah orang yang mirip dengan Tuan Rayhan Raxsen, tapi, dia memiliki perbedaan di wajahnya yang sulit terlihat yaitu luka di dahinya yang tertutup oleh rambutnya, Luka itu bekas luka lama yang meninggalkan bekas. Tuan Rayhan tidak memiliki tato, tubuhnya bersih dari tato, tapi, Tuan Gabrien Qnciz punya tato naga di punggungnya dan scorpion di lehernya, Tuan Gabriel adalah..." ucapan orang itu terhenti.
"Apa.. yang kau tunggu," ucap Hansimon dengan wajah kerasnya menahan kesal.
Orang itu ragu.... benar-benar takut setelah informasi selesai maka nyawanya melayang.
"Nyawamu terlalu mahal aku tidak bisa seenaknya, Aku berbeda dengan mereka, Lanjutkan sekarang," ucapan dan intrupsi perintah untuk melanjutkan bicara dengan wajah datar dan dingin Arkan seketika membuat orang itu semakin tidak kuat menahan ketakutannya tidak hanya orang itu anak buah di belakang Arkan dan belakang Justin juga teman-teman Arkan semua merasa sesak dan takut.
"Se-se-se...sebenarnya Dulu mereka saling kerja sama untuk menyingkirkan orang yang mengaku ketua dari Tengkorak, Namanya Tuan Alano prawira," ucapnya menjeda mengangkat wajahnya melihat wajah Arkan yang menatapnya bengis.
Seketika ketukan jari Arkan berhenti ketika mendengar nama orang itu adalah nama ayahnya
"Tuan Rayhan tidak suka karena Adiknya, Nona Ambar mencintai Tuan Alano, tapi, semua berubah dan Tuan Rayhan merestuinya. Tuan Gabriel tidak karena Tuan Gabriel menyukai Nona Ambar. Tuan Rayhan tidak bisa melakukan apapun karena Tuan Gabreil adalah sahabatnya," ucapan orang itu terhenti untuk mengambil nafas.
"Dan aku terpaksa karena tekanan ekonomi dan juga keluagaku,"ucapnya lqgi.
Jadi, jelas sekarang kenapa Om Rayhan bilang jika mereka akan bertemu Rayhan di Indonesi, ada perbedaan, jadi itu perbedaannya. Jadi, selama ini Gabriel Qnciz namanya, Arkan Justin Yuda Lorenzo juga Bagus dan Rian menggeleng tak percaya, Rumit masa lalu ayahnya Arkan merembet mulai mengikat masa depan Arkan hingga membuat Dinda yang celaka.
Rian maju seketika Bagus menahannya.
Arkan menoleh kesamping.
"Lo mau bunuh dia," ucap Arkan.
"Mungkin beberapa pukulan," ucap Rian dengan emosi. Arkan mempersilahkan seketika Bagus melepaskan Rian seketika itu Rian menghampiri orang itu dan mencengkarm kerah bajunya.
"Haah.. jika lo mukul Petunjuk kita otomatis akan berhenti menunjukan jalan, Terserah padamu!" Ucap Arkan seketika membuat Rian berhenti.
"Akh... brengsek, lo maunya apa sih Kan," ucap Rian kesal. Rian mendorong kasar orang itu dan Pergi mengejar Arkan.
"Kan, jawab gue!" ucap Rian menuntut.
Mereka di halaman markas.
"Gak gue gak maksud apapun," ucap Arkan tenang.
"Kenapa lo setenang ini sedangkan pelaku ada didepan lo," ucap Rian kesal.
"Dia ngakuin kesalahan, kita tahu dia ngelakuin semua itu karena dia punya alasan dan dia berhasil sampe sini jual informasinya secara Cu-ma-cu-ma itu bagus, Berarti dia memang ada tujuan lain, setidaknya gue menghargai itu, gak perduli dia mau jadi musuh atau teman sekarang, jika selangkah dia macem-macem, Markas tengkorak juga gak akan diem aja, " ucap Arkan santai. Seketika melepaskan satu peluru.
Dor... Menembak tanah di halaman lalu menyimpan pistolnya diatas jok motor.
"Haaah.. iyaa lo bener, gue kebawa emosi, Sorry," ucap Rian yang akhirnya mengalah, nada suara yang tak ikhlas meminta maaf, yang Arkan dengar.
Arkan berbalik menatap Rian mengambil pistolnya dan pergi melewati Rian dengan menepuk bahunya.
Arkan masuk ke dalam terlihat Lorenzo membongkar paketnya.
"Kan nih Sweter yang Cewek italia itu buat, Mau kasih ke Dinda kan lo," ucap Lorenzo menyimpan bingkisan itu di tempat yang sedikit jauh dari bongkaran barang-barangnya.
"Kalian ambil aja, nih istri Giovano kasih, Han lo ambil aja," ucap Bagus. Hansimon plonga plongo karena tidak mengerti.
"Eh... maaf Han sini geh," ucap Bagus. Justin menepuk bahu Han.
Justin menjelaskan dengan bahasa Italia dan mencontohkannya.
"Haaa.. Yaa.. A-pa, Bo-leh?" ucap Hansimon putus-putus karena baru belajar bahasa Indonesi baru-baru ini.
"Yaa.. Boleh dong brooh.." ucap Lorenzo dengan antusias.
Hansimon melongo karena kata Broh membuatnya bingung. Justin menjelaskan lagi.
Hansimon mengangguk mengerti.
Arkan menatap bingkisan itu dan seketika Kuta lewat.