
Arkan menatap langit malam di kota terpencil di Italia tepatnya di halaman teras paviliun.
Seketika Seorang perempuan tak sengaja lewat dia pelayan di mansion Giovano. Seperti menyukai Arkan dari pandangan pertamanya.
Pelayan seumuran dengan Arkan itu menatap Arkan dari jauh seketika ingat jika dirinya membawa kain tebal. Berjalan menghampiri Arkan.
"Permisi Tuan, Apakah Anda tidak dingin berada di luar," ucap Pelayan itu.
Arkan menoleh berbalik badannya menghadap pelayan perempuan itu.
"Tidak dingin." Ucap Arkan datar, tentunya dengan bahasa Italia karena Pelayan itu bicara bahasa Italia.
"Saya ada kain tebal anda bisa pakai jika kedinginan."
Seketika Giovano datang dan membuat pelayan itu malu dan membungkuk mundur tiga langkah di belakang.
"Terimakasih Senta. Biar aku yang menerimanya," ucap Giovano. Seakan mengerti Senta memberikannya dan pergi setelahnya.
Pelayan itu menjauh dengan perasaan malu.
"Kau tidak menyukainya," ucap Giovano dengan Wajah menyelidik.
"Tidak," jawab Arkan jujur.
Giovano menganggukkan kepalanya mengerti.
"Nanti tengah malam akan ada hujan salju aku harap kau tidak lupa menyalakan penghangat ruangan, atau mereka mati kedinginan," ucap Giovano.
Arkan menatap Giovano mengangguk sekali samar dan menatap ke langit berbintang lagi.
"Apa rencanamu kali ini," ucap Giovano mulai serius dengan melangkah sambil menyalakan rokoknya dan duduk di kursi di sampingnya.
Arkan menoleh dan ikut duduk disamping Giovano.
"Tidak terlalu baik jika membicarakannya sebelum terjadi," ucap Arkan pada Giovano.
Semirk aneh Giovano terlihat samar.
"Siapa mereka dan kenapa alasan mereka sama, hanya ingin aku tidak berkuasa di Mafia Tengkorak tapi, di sisi lainnya mereka mengejar dan membuat Dinda celaka," ucap Arkan.
Giovano mendengarkannya.
"Aku tahu kau, Arkan dan Alano sama mereka tidak berbeda." Kata Giovano dengan wajah seperti senang.
"Ibumu juga memiliki kejadian sama persis dengan gadis yang menyukaimu, dari yang aku tahu ibumu itu menyukai ayahmu lebih dulu hingga dimana ibumu hampir menyerah Ayahmu menoleh padanya dan ketika mereka dekat yaa seperti itu... banyak kejadian masa lalu yang datang dan kisah mereka tidak mulus seperti yang di harapkan, ketika menikah hingga memilikimu semuanya akhirnya terdengar di telinga kakekmu dan semuanya terjadi hingga kau bisa berdiri dan duduk di sampingku sekarang, Jadi aku harap kau tidak berniat menjauhinya, Katakan yang sejujurnya sebelum waktunya, Maaf.. jika aku lancang, Aku hanya mencari tahu siapa gadis itu, dan seterusnya tidak ada," ucap Giovano penjang lebar dengan tenang lalu kembali merokok.
Arkan terdiam.
"Apa semua memang berkaitan dengan masa lalu mereka dan siapa lagi orang yang tidak suka denganku," ucap Arkan langsung.
Giovano memiringkan tubuhnya.
"Tidak semua hanya beberapa, Aku tidak bisa membukanya sekarang karena semua hal yang kita lindungi akan terancam jadi perlahan saja kau berjalan mencari tentang semua hal yang ingin kau tahu, dan aku sarankan kau tetap berada di samping gadis itu, Cinta akan tumbuh jika sudah terbiasa, Hati-hati dalam menjadikan kata menjauh menjadi kenyataan, karena semua yang terjadi mungkin saja tidak ada dalam kendalimu," ucap Giovano dan bangkit memberkan selimut tebal pada Arkan.
Arkan sendirian sekarang.
Semua ingatan tentang orang tuanya semuanya kenapa Arkan lupa hanya beberapa hal yang Arkan ingat. Bersamaan itu kenapa masalahnya hingga Dinda yang terseret masuk malah membuat Arkan melihat luka lama itu.
Apa yang sebenarnya mereka mainkan, Arkan tidak akan terima jika permainan mereka membuat Hidup Arkan seperti rolercoaster seperti ini.
Seketika ingatan Arkan teringat dengan sikap kakeknya terhadap Dinda di rumah sakit dan ketika Sikap Kakek berubah ketika mendengar nama Dinda sebelum di rumah sakit.
Arkan cucunya, dan tinggal satu rumah tapi, Arkan tidak bisa memahami Kakeknya begitu juga neneknya yang tiba-tiba berubah waktu itu meminta Arkan untuk tidak membantu Dinda.
Sebentar, Apa kakek sebenarnya tahu jika Arkan mempunya geng lain selain geng motor apa Kakek kenal dengan Giovano, Selama Arkan belum tahu hal yang orang dewasa bicarakan dan rencana orang dewasa lakukan. Apa selama itu hubungan Kakek dan Giovano terjalin atau malah sama sekali memang tidak ada hubungan atau pembicaraan apapun. Sampai sejauh ini Arkan berpikir tapi, perhatian Arkan tidak salah dengan gelagat kakeknya.
Dan kenapa Arkan mendengar cerita banyak tentang ayahnya dari Giovano yang selama ini Arkan kenal sebagai orang asing dan hanya sebatas kerabat jauh.
'Baiklah, Arkan... Cukup! Kali ini rangkai dulu permainan balasan untuk menjebak Mereka,' batin Arkan.
*
Dua Hari dua malam Arkan tinggal di Paviliun Giovano hingga menemukan beberapa hal yang membuat terkejut. Sekarang waktunya Arkan kembali ke Indonesia. Arkan tidak ingin berlama-lama.
Klontang krecek..... Suara dari Lorenzo dan bagus.
"Kalian," ucap Justin dan Rian. Yuda dan Arkan Menatap datar.
"Maaf Kan. Tuh.. temen-temennya bininya Giovano yang nenek-nenek juga mereka ngasih kita oleh-oleh barang-barang." Lorenzo malu mengatakannya.
Istri Giovano terkekeh menyembunyikan senyum gelinya.
Sedangkan Giovano malu dengan ulah Istrinya dan temam-teman tetangganya.
"Kalian memalukan," ucap Yuda.
Bagus seketika mendekat suara berisik itu seketika membuatnya berhenti lagi.
"Kan.. Gimana ini, Gue pulangin kagak enak, lah ibu-ibu nenek-nenek ama anak kecil juga ngasih, Gue tolak rasanya juga gak enak," ucap Bagus dengan wajah memelas.
Lorenzo juga ikut memelas.
"Kita akan memaketnya ke markas utama di Indonesia," ucap Tez saat itu yang baru datang dengan dua kardus besar.
"Tez.. penolong," ucap Lorenzo dan Bagus bersamaan.
Tez seketika malu. Giovano menganggukkan kepalanya.
Sekarang mereka sudah siap dan sudah juga akan berangkat seketika Pelayan yang memberikan Arkan kain tebal malam kemarin datang menghampiri Arkan.
Istri Giovano tersenyum.
"Arkan, terimakasih karena kamu menerimanya, Senta sangat tulus memberikan itu untuk Gadismu jadi terima dan sampaikan pada gadismu setelah sampai, jika rajutan itu di buat setulus hati dan perasaan. Semoga gadismu menerimanya," jelas Istri Giovano dengan lembut bahasa Indonesianya kurang lancar.
Arkan mengangguk.
"Ah.. iya.. Saya juga meletakan beberapa nomor atau alamat sosial media saya, Saya penasaran dan ingin berkenalan dengannya," ucap pelayan itu dengan Antusias. Seketika semua terdiam sepi.
Menatap Senta dengan tatapan penuh tanya.
"Ehmm Maaf saya ti-tidak bermaksud seperti itu..."
Seketika Lorenzo dan Bagus tertawa kecil. Suara gugup Senta membuat mereka geli dan gemas.
"Tidak masalah Nona Senta kami mengerti," ucap Lorenzo dengan bahasa Indonesia.
Istri giovano menerjemahkannya. Senta mengangguk mengerti dan tersenyum.
"Iya.. terimakasih, Senta," ucap Arkan datar, seketika Senta tersenyum dan mengangguk malu.
Tamu tak di undang datang setelah Rayhan siapa lagi yang Giovano undang, pikir mereka ketika sebuah mobil mewah memasuki halaman.
Arkan menatap mobil sport merah yang mendekat lalu menurunkan seseorang yang menggunakan pakaian rapi, dan beberapa orang lainnya dari mobil sport besar lainnya.
"Pak Jersey." Seru Yuda dan Bagus. Rian menatap jengah.
"Salam Arkan, Apa kabar, kita bertemu lagi disini, kebetulan kalo gitu, Aku hanya ingin menyampaikan beberapa hal tidak perlu sambutan setelahnya aku langsung pergi," ucap Pak Jersey.
Arkan berbalik menatap Pak Jersey.
Giovano mengajak semuanya ke paviliun tempat kemarin Arkan mendapatkan semua informasi.
Duduk mereka mengelilingi meja bundar.
"Mereka adalah orang yang sangat berbahaya, ini tugas pertama yang di berikan beberapa walikota dan kepala negara yang negara dan nama juga identitasnya di samarkan alis rahasia, Mereka tahu jika kita bisa mereka andalkan dengan memberikan tugas ini," ucap Pak Jersey.
Anak buahnya memberikan tiga lembar kertas yang sudah di print dan tersusun rapi. Arkan dan semua temannya termasuk Rian mendapat bagiannya melihat kertas itu.
"Aku tidak perlu tahu siapa kalian kenapa kalian bergabung, Aku percaya Arkan karena Arkan mengajak kalian bergabung dan ikut tidak akan pernah sembarangan dan membahayakan," ucapan Pak Jersey menyindir Arkan dan Rian.
Seketika Rian mengangguk. Berdiri sebentar.
"Saya Rian Daman, Saya sengaja ikut karena saya tahu beberapa hal, Saya akan merahasiakan apa yang kita bicaraka," ucap Rian tegas lalu duduk kembali.
Pak Jersey mengangguk paham tersenyum.
"Baiklah aku rasa kalian cukup membaca. Jika ada hal yang tidak ingin kalian tahu jangan hubungi aku," ucap pak Jersey seketika suasana menjadi sunyi.
"Tidak lucu ya," ucap Pak Jersey. Seketika Bagus dan Lorenzo tertawa terpaksa dengan suara sedikit keras. Pak jersey tersenyum.
"Jangan memaksakan." Sahutnya menatap Lorenzo dan Bagus.
Seketika tawa mereka berangsur berhenti.
"Ini hal yang sama yang kemarin kita bahas," ucap Yuda seketika membuat wajah Giovano dan Jersey tersenyum aneh.
"Itu menjadi tugas kalian sekarang, Dan untuk Farles, Dia sudah..." Terpotong oleh anggukan semuanya.
Pak Jersey berdehem.
"Ternyata aku telat memberi tahu kalian, Baiklah, Hati-hati, dan Arkan jangan bunuh target sebelum hukumannya," ucap Pak Jersey mengingatkan Arkan.
Arkan mengangguk.
Restoran mewah tepat di pusat kota Italia.
Seorang Lelaki dengan jas rapi dan kacamata hitam ada tato kalajengking di lehernya.
Baru saja turun dari mobil mewahnya.
Perempuan cantik dengan gaun ketat dan rambut lurus hitam terurai.
Memberikan laptop yang menayala pada lelaki yang baru saja duduk di hadapannya.
"Rekeman itu didapat dari bandara Internasional Kemarin dua hari yang lalu, Ada Alano bersama mereka," jelas perempuan cantik dangan rambut hitam terurai.
Lelaki itu membuka kaca matanya dan melihat dan memperjelas rekaman itu.
"Apa yang Rosella kerjakan selama ini," ucap Lelaki itu dengan wajah tampan dan datar.
Perempuan itu terdiam. Menghadapkan wajahnya keluar jendela.
"Jika Mereka sudah datang ke Italia dan mencari Giovano jangan harap permainan kita akan berjalan dengan sama, Yang kau lihat adalah putranya bukan Alano, kau lupa kau yang menembak jantungnya dan kau membuat Istri mati terbakar di dalam mobil," ucap Lelaki itu dengan sarkas dan cuek.
Perempuan itu berdecih dengan seringainya yang lebar.
"Sungguh kejam, Kurasa aku bisa membalikkan semua fakta jika sekali lagi kau menyalahkan ku," ucap Perempuan itu dengan berani.
"Oiya.. Lametta, Tugasmu adalah membuat mereka tidak bisa kembali ke rumah, Jangan sampai kaki mereka menginjak tanah Indonesia," ucap Lelaki itu lalu bangkit dari duduknya dan pergi.
Perempuan itu juga bangkit bersama dari duduknya dan membungkuk lama hingga lelaki tampan itu keluar.
"Dia yang tak becus bukan anak buahnya, pengecut dari awal akan tetap Pengecut payah, Bodohnya aku bisa bekerja di bawahnya, Lagi pula Rosella hampir di ambang kehancuran setelah kekuasaan berpindah pada gadis sok cantik itu menyedihkan, Farah kemarin tertangkap, siapa lagi besok," Omelnya setelah restoran tempatnya ada sepi dari pelayan dan pengunjung.
Waktu hampir kembali Senja perempuan itu pergi dari restoran dan membayar sejumlah uang dengan lembaran yang cukup banyak, hingga ukiran senyuman manager itu terlihat lebar dan tulus palsu.