
Sampai Di halte barusan duduk. Awan hitam yang Dinda lihat sekarang mulai pekat.
Tik...tik....
Butiran air hujan mulai berjatuhan mengenai atap halte bus.
Dinda seketika merasa sesak nafas..
Sebenernya ini kenapa? tadi tiba-tiba keringat dingin pusing mual terus muntah, gemetaran sekarang di tambah lemes yang tadi belum hilang. Keringat dingin lagi.
Haaah... Susah nafas... ini kenapa?
Dinda memukul mukul dadanya pelan usahanya supaya bernafas dengan mulut hidungnya seperti tertutup sesuatu dan sama sekali tidak bisa bernafas dengan lancar.
Kepalanya sekarang tambah pusing tadi reda sedikit.
"Dinda," ucap seseorang dengan tangan terulur didepan wajah Dinda.
Dinda bergerak berdiri dari duduknya menjauh dengan wajah pucat keringat dingin gelisah nafas yang berusaha dengan mulut.
Hidungnya sama sekali sulit di gunakan menghirup udara.
Arkan, Arkan yang datang dan menghampiri Dinda dengan payung Arkan mengajak Dinda tapi, malah menjauh dan melihat wajah Dinda pucat Arkan seketika khawatir.
"Kamu sakit kenapa kamu gak...."
"Jangan deketin aku urus aja Violetta itu, Haaah... Aaargh.. pusing banget!"
"Dinda," panik Arkan mendekati Dinda. Dinda menjauh mendorong Arkan yang mendekat seketika tidak mau kalah Arkan menarik kencang tangan Dinda dan menggendong Dinda di punggungnya.
Dinda memberontak terus ingin turun karena terkejut juga rasa tak nyaman di dada dan nafasnya terus berantakan tak bisa normal Keringat dingin juga terus keluar.
Seketika percikan air hujan mengenai Dinda dengan cepat berjalan kekantornya Arkan minta mobil segera di siapkan.
"Cepat!" Teriak Arkan pada seseorang yang sedang mengambil mobil kantor di parkiran depan.
Dengan tatapan yang heran semua melihat betapa marahnya Arkan ketika sedang menggendong perempuan yang tadi masuk kekantor.
Semua yang bicara dan mengucapkan hal buruk tentang Dinda langsung berpikir masalah akan segera datang pada mereka.
Mereka tidak tahu siapa perempuan yang bersama Arkan jika wajah Atasan mereka sampai marah seperti itu, bukan hal baik jika tadi mereka bicara tak sopan pada Dinda.
Habis sudah riwayat mereka bekerja di kantor ini.
Dalam perjalanan Arkan mengajak Dinda untuk tenang tapi wajahnya semakin pucat.
"Rumah sakit terdekat, Lama sekali!" ucap Arkan tak sabaran kesal sendiri membentak sopir yang sedang menyetir.
"Maaf Pak ini macet." Sahut cepat Sopir sebelum kata Pecat keluar dari mulut Arkan.
Bukannya mudah memecat tapi, mereka yang peka dan sadar kondisi dan suasana hati Arkan sedang tidak baik kemungkinan Arkan akan langsung memecat pegawai sekarang.
Dinda memegangi kepala dan terus merintih sakit.
Memukul dadanya dan terus bernafas Arkan terus berusaha memenangkannya.
"Ru-rumah Aja, Pu-lang Haaha..h Pulang Aja kak, Aaarg.. gak enak susah nafasnya mau muntah, Pulang," ucap Dinda terus seperti itu di selah bicanya Dinda juga bernafas dengan mulutnya hidungnya masih sulit menghirup udara.
Dinda seketika sempat berpikir jika dirinya tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Mengambil air. Memberikan pada Dinda dan memintanya untuk minum.
Sedikit!
"Udah kakk, Mau muntah kak," ucap Dinda seketika Muntah juga Dinda di mobil dan tubuhnya benar-bener lemas perutnya kosong sudah. Baju Arkan juga kotor dan Bau.
Tidak masalah jika Dinda yang muntah.
"Eegh... Pusing, Susah nafasnya... Pulang aja," ucap Dinda seketika menangis tidak kuat dengan rasa gelisah yang dirasakan sekarang.
"Tidur... Kamu tidur Aja," ucap Arkan dengan lembut memberikan jasnya yang tidak kena muntahan dan menyandarkan Dinda pada sandaran mobil menyelimuti Dinda dengan jasnya.
Arkan memebersihkan muntah Dinda tanpa jijik.
"Tuan biar saya saja yang bersihkan," ucap Sopir itu tidak enak hati.
Arkan tetap membersihkannya dan tinggal bekasnya.
"Fokus pada kemudi," ucap Arkan datar.
Selesai sudah Arkan membersihkannya.
"Dingin," ucap Arkan pelan ketika tangan Dinda di pegangnya.
*
Sampai di rumah Arkan langsung turun dengan membuka sendiri pintu mobilnya dan Gressia membukan pintu mobil Dinda.
Setelah sopir berlalu pergi.
Rettrigo datang dengan berantakan.
"Bos ama Nona berantem kayaknya gegara uler cewek itu," ucap Rettrigo.
Suara langkah kaki mendekat ke Gazebo.
Mereka menoleh. Arkan belum berganti masih dengan pakaian tadi.
"Kalian bisa pulang," ucap Arkan datar. Gressia dan Rettrigo pamit pergi.
"Kenapa?" ucap Arkan menatap wajah Rettrigo.
"Tadi Nona hampir jadi sasaran jambret dan dua pemuda nakal. Saya sibuk menjauhkan mereka dan tidak tahu jika Nona hampir dalam masalah tapi, bos segera datang," ucap Rettrigo menjelaskan apa yang terjadi tadi dan kenapa wajahnya berantakan begini.
Arkan terdiam menatap tajam Rettrigo. Mengangguk menerima penjelasan Rettrigo. Arkan kembali melangkah berbalik masuk ke dalam rumah.
*
Setelah pulangnya Rettrigo dan Gressia.
Arkan mengurus Dinda lagi tapi, yang di perhatikan keras kepala tidak mau istirahat.
Selesai Dinda berganti baju di kamar mandi dan kembali muntah. Dinda diam keluar kamar mandi dan membawa keranjang cucian ke bawah, sudah berganti pakaian Bersih sebelumnya, ya ke tika sampai Arkan langsung meminta Dinda berganti pakaian. Lalu Arkan juga mandi di kamar mandi lain.
"Gak usah nyuci!" Kata Arkan dengan datar.
"Lah mau ngapai, aku mau..."
"Istirahat sekarang atau ke rumah sakit?" Wajah datar Arkan membuat Dinda meletakan kasar keranjang cucian. Dinda tidak menghiraukan wajah datar dan tatapan tajam Arkan.
"Gak mau! pusing, aku duduk aja," ucap Dinda dengan malas menatap Arkan.
Dinda keluar kamar dengan pelan dan wajah kesalnya. Lalu duduk di tangga lalu bergerak lagi turun lalu duduk di sofa. Lemes banget sebenernya.
Lemas sebenarnya tapi, Arkan membuatnya kesal.
"Tidur di kamar aja," ucap Arkan pelan.
Dinda bungkam tidak mau bicara pura-pura tidak dengar dan terus berjalan.
Seketika suara ponsel Arkan.
Telepon Arkan sedang bicara di telepon.
Dinda kembali diam.
Memejamkan matanya sambil berbaring di sofa.
Seketika suara mesin cuci terdengar
Muntah? Tapi, Dinda kesal! biar lah Itu juga sudah tidak tahan dan keluar begitu saja. Dinda malas bicara, apa bilang kerja tapi, di kantor sama Violetta.
Kalo gitu jadinya bikin senep yang liat, Dinda udah nikahin mantannya dateng dibiarin masuk duduk didepannya lagi.
Apa maksudnya?
Dah gitu nyium Kak Syifa. Kayaknya Kak Arkan itu tukang boong. Dinda polos banget sih.
Mengingat masa lalu.
Sekerang istirahat aja tidur nanti bangun sapa tahu, mendingan.
Jam terus berdetak menunjukan pukul tiga sore. Tidak terasa waktu berlalu. Dinda bangun dan menjejakkan kakinya yang lemah di lantai dan bersandar punggungnya di sandaran sofa empuk kepalanya juga di sandaran pada Sofa dengan nyaman lalu bernafas dengan pelan.
Dinda menoleh pada dapur melihat Arkan makan sendirian disana dengan menatap ponsel lalu membalik layarnya dan kembali makan sendiri.
Kasihan sebenarnya, tapi, kesal Dinda juga gara-gara Violetta di biarin masuk duduk lama di ruangan Kaka Arkan juga.
Arkan melirik Dinda yang bersandar di sofa.
Marah sepertinya?
Sudahlah... biarkan aja, nanti baik sendiri baru jelaskan, Dinda tidak akan macam-macam. Sudah seperti itu mau pulang dengan jalan kaki. Apa Dinda mau membuat Arkan Marah juga tanpa berpikir panjang tentang perbuatannya.
Arkan terdiam lagi selesai makan siang Arkan pergi ke tempat cucian baju dan membersihkan bekas cucian membilasnya dengan air bersih.
Telpon dari kantor di ponsel Arkan kembali terdengar.
Pyaaar...
Seketika Dida menatap gelas jatuh dengan terduduk di lantai memegangi sendok dan memukul mukul dadanya seperti orang tersedak.