Arkan Dinda

Arkan Dinda
Rencana



Tidak lama Rian sampai seketika itu sebuah email masuk dan memintanya untuk meretas cctv. Seketika Rian menelpon orang itu.


"Apa maksud lo, Ogah gue." Katanya dengan emosi ketika panggilan tersambung.


"SERIUS LO?" Kata Rian dengan terkejut seketika menutup teleponnya dan langsung pergi ke tempat dimana dia harus melakukan hal ini.


*


Arkan baru sampai didepan rumah Dinda dan langsung turun. Dinda melihat Arkan yang turun. Terdiam menatap Arkan.


"Kak... Kakak ngapain?" tanyanya dengan bingung.


Arkan memegang kepala Dinda.


"Dinda... Lo jaga diri." Katanya dengan wajah menatap wajah Dinda yang menatap keatas tangan Arkan yang memegang kepalanya.


Dinda mengangguk dengan wajah Lucu. Arkan menepuk atas helm yang Dinda masih gunakan.


"Bagus!"


Arkan berbalik untuk pergi. Seketika Dinda melepas helmnya dan menatap Arkan belum Arkan dekat dengan motornya.


"Kak..." Panggilnya.


Arkan membalik badanya dan menatap Dinda dengan wajah datar yang selalu terlihat.


"Eh... itu... mm," ucap Dinda tidak jelas dengan berjalan mendekat dan menatap wajah Arkan dari jarak yang dekat.


"Kak..." Panggil Dinda lagi. Dinda seperti bingung ingin mengatakan sesuatu.


"Itu.. Kakak anter jemput Dinda ada apa ya.. sampe Kakak mau nganterin Dinda pulang berulang kali. Apa kakak gak kasihan sama Kak Citra tunangan Kakak yang katanya mau di jodohin sama Kakak. Dinda tahu.. Ini gak tepat tapi, Jujur Dinda suka sama kakak, Waktu di sms itu Dinda beneran Dinda tulus, yaah.. Dinda tahu Dinda gak pantes nembak duluan tapi, setidaknya kakak tahu perasaan Dinda dan Kakak yang gak suka Dinda iya kan? Eh.... Itu gak masalah kita saling maklumin aja, Tapi, Perlakuan yang gak sengaja buat aku makin suka sama Kakak maaf ya kak. Kalo suka kakak tanpa izin dan berusaha dekat." Dinda menatap Arkan yang terdiam Arkan mengangguk tanpa sadar, dengan wajah datar.


Dinda menatap kecewa.


'Gak ngomong juga, batin Dinda.'


Dinda berbalik pergi masuk ke dalam gerbangnya.


Arkan berbalik dengan ekspresi biasa seperti tidak terjadi apapun. Arkan menaiki motornya dan Memakai helemnya. Tak lama di ujung gang sebuah mobil sport dengan bak terbuka berwarna coklat gelap. Terparkir di sana. Dengan pengemudi dan satu orang yang tak asing bagi Arkan, turun.


Seketika ponsel Arkan berdering dengan pesan masuk.


"Kita bagi tugas, siap di tempat." Pesan dari nomor tak di kenal itu.


Arkan menutup pesan itu tanpa ingin membalasnya dan memasukannya kedalam saku hoddi Biru mudanya. Arkan membelokkan motonya untuk pergi. Di jendela kaca Dinda masih melihat Arkan lalu Arkan pergi setelah membaca pesan ponsel, mungkin. Dinda merasa jika Arkan membaca pesan bukan menolak panggilan masuk.


Sulit ya... Iya sulit banget buat Arkan tersenyum lebar pada Dinda. Dinda ingin menyerah tapi, Arkan adalah hal yang Dinda harapkan, setiap malam Dinda terus meminta jika salah satu mahluk ciptaannya bisa menjadi teman hidupnya dan Tiap Doa Dinda selalu memberikan ciri-ciri yang mirip dengan Arkan.


Dinda tahu, keluarga Arkan mungkin tidak akan mudah menerima maka dari itu doa lengkap plus plus dan exstranya di panjatkan setiap selesai sholat.


Dinda hanya ingin hal bahagia juga datang pada orang terdekat dan orang yang baik padanya.


Dinda seketika mendapat pesan dari tetangganya di depan gang untuk datang ketika berbalik untuk melangkah ke sofa. Segera membuka dan membacanya, Dinda langsung bersiap dan menggunakan hoddie hitamnya.


beberapa menit kemudian Dinda keluar gerbang dengan sepeda.


Dinda menggunakan aerphonenya dan ketika akan menjalankan sepedahnya Dinda berhenti tiba-tiba.


"Lupa.. kunci gerbang." Dinda segera turun dari sepeda dan mengunci derbang. Lalu mengetik sesuatu di layar ponselnya seketika aerphon berwarna warni dengan cahaya bagus yang samar karena tertutup tudung jaket hoddi dan rambut hitam yang terurai.


Dinda menggoes sepeda dengan berdiri lalu membelokkan tajam di ujung gang dekat mobil sport bak terbuka dengan warna coklat itu.


Lampu jalanan yang terang membuat Dinda santai dan menikmati jalanan kompleks.


Sampai di rumah kecil dekat kantor Rt.


"Assalammualaikum." Sambil mengetuk pintu gerbangnya Dinda memanggil orang yang ada di dalam rumah.


Seketika seorang ibu-ibu keluar dengan anak lelakinya yang sepertinya masih berumur smp.


"Ini pesenan Ibu kamu," ucapnya.


Dinda mengangguk tersenyum. Dinda mematikan musik di ponselnya.


"Udah di bayar bu," ucap Dinda pada ibu-ibu daster merah panjang itu.


"Udah di transfer kemaren, Oiya... Satunya kamu bawa ke rumah. Satunya kamu kirim ke alamat ini ya," ucap Ibu-ibu itu.


"Maaf ya Dinda ngerepotin kamu Ibu gak bisa nganter dan ibu kamu bilang kamu aja dan gak boleh pake kurir." Jelasnya pada Dinda.


Dinda pergi dengan menaiki sepedanya sebelumnya juga meminta kantong pelastik lagi agar aman.


Dinda sampai dirumah dan membuka gerbang tanpa menstandarkan sepedanya.


Dinda masuk kedalam garasi lalu tidak lama keluar dari garasi dengan sekuternya yang lama tidak di pakai karena Dinda tidak bisa membeli bensinnya.


Sebelum berjalan dengan sekuternya Dinda melihat isi bensinnya. Lalu memeriksa spedo.


"Masih berfungsi." Dan terlihat juga bensinnya masih cukup.


Dinda mengeluarkan motor dan langsung pergi setelah mengamankan gerbang dan garasi.


Sekitar Dinda memang sepi karena semuanya sibuk bekerja.


Dinda menggunakan helm yang Arkan berikan dan Melaju kan motornya tenang.


Boby langsung keluar dari mobilnya untuk memberi kode pada seseorang dengan Kalx Merah.


Mereka saling mengangguk.


Disini Arkan di markas Tengkorak setelah mengantar Dinda dan mampir di rumah sebentar.


Arkan masuk tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan. Seketika Farles dan Hansimon terkejut dan segera menghampiri Arkan.


"Ada apa kenapa kamu kesini, ini aneh?" Kata Hansimon dengan wajah tenang dan bahasa Inggris yang begitu fasih dan suaranya juga terdengar sedikit terkejut walaupun wajahnya tenang.


Lorenzo seketika meletakan beberapa senjata laras panjang pistol berbagai ukuran dan belati Lalu peluru dengan berbagai merek dan tipe.


Di meja panjang ini Bagus dan Lorenzo menatanya Semua bentuk dan macam-macam senjata lalu beberapa kotak berisi plat nomor samaran.


Seketika semua terlihat terkejut. Arkan menyeringai dengan tipis menatap Hansimon dan Farles dengan berani. Seketika Arkan mendekat tinggi mereka hampir sejajar tapi, masih lebih tinggi Arkan. Arkan diam-diam mengendus bau.


'Wine, batin Arkan.'


Arkan mengedikkan bahu.


Melangkah mundur Arkan mengambil tongkat basball di meja pingpong.


Bruak...


Tyaaaar....


Kotak besar seketika pecah menjadi dua. Terlihat didalam itu adalah pin untuk permainan Casino.


"Kita sudah bicarakan ini siapa Diantara kalian yang bermain hal ini, kalian bisa bermain ini tapi, tidak disini Karena Arkan tidak suka," ucap Farles dengan nada marah dan mengacungkan pistolnya.


Arkan berbalik menyeret tongkat Baseballnya.


"Ragazzi muori o questa cosa la distruggo."


[Kalian yang Mati atau Benda ini yang aku hancurkan]


Kata Arkan dalam bahasa Italia. Arkan akan melihat siapa yang memilih mati atau barang hancur.


Seketika Hansimon memilih Mati dengan menyiapkan pistol lalu menodong kepalanya Di ikuti setengah orang yang Ada disini. Hingga Arkan meminta Yuda dan Justin memisahkan mereka membawa mereka keluar memilih mati.


Seketika Farles juga melakukan hal yang sama tapi, bukan ke kepalanya dan bukan pintol melainkan belati dengan warna yang berubah karat coklat ungu kebiruan.


Arkan menatap Farles dengan senyuman aneh.


"Maaf tapi, aku tidak bisa mengulur waktu sampai tiga tahun Karena kau tidak mau menunggu setidaknya perkenalan sementara bisa membuatmu tahu," ucap Farles dengan bahasa Italia yang fasih. Sekitar dua puluh orang berkumpul di dekat Farles.


Arkan menatap dingin wajah Farles tanpa ekspresi.


"Kau yang dianggap adik Oleh Giovanno jangan senang karena kau hanya lah anak ingusan yang tidak tahu tentang dunia kejam ini," Kata Farles dengan wajah sok berani dan terkekeh di akhir ucapannya.


Arkan seketika menendang dada Farles sekuat tenaga hingga membuat satu kotak di bawah ring tanding, pecah.


Seketika itu Farles terkekeh dengan terbatuk darah. Tanpa mereka tahu jika beberapa anak buah Fales yang berkumpul di belakang Farles adalah mata-mata Arkan.


Dan sekerang tersisa enam orang yang mendukung Farles dan sisanya membantu Arkan.


Farles bangkit dan berdiri dengan mengusap darah yang keluar dari mulutnya dengan lengan nya.


...Penghianat harus mati tapi, tidak cepat perosesnya ketika, Kepercaanya yang sudah di berikan hancur, ada hal yang harus di nego dulu sebelum bertemu Mautnya....


...~Arkan Prawira....