
Arkan bangkit dari duduknya beralih berganti pakaian di kamar mandi meninggalkan Dinda sebentar lalu kembali lagi pada Dinda di sebelahnya.
Di kantin atau Cafe rumah sakit Syifa mengatakan tentang urusannya dengan Farles waktu itu.
"Dulu waktu sebelum ada kejadian di Cafe tempat Dinda kerja," ucap Syifa menjeda ucapannya.
Lorenzo mengerti.
"Kaca pecah karena peluru yang katanya nyasar itu kan," ucap Lorenzo dengan wajah Datar. Memastikan maksud Syifa.
"Iya.. Gue pernah sempat mau dateng kerumah Dinda tapi, gak jadi gue putusin buat datengin dia ke Cafenya pas itu dia udah pulang Gue sadar Kalo Dinda liat gue ngobrol sama Farles. Orang itu bilang kalo gue bantuin dia buat bunuh Dinda dan buat Dinda celaka, Gue bakalan aman," ucap Syifa.
"Maksud lo Kak.. Lo di amcemnya," ucap Kiran setengah kesal.
"Iya.. Gue gak tahu siapa dia tapi, Gue yakin kalo dia itu orang yang gak suka Dinda tapi, gue gak tahu kenapa alasannya. Gue Iya in aja, Eh. gak tahunya sebelum. Gue bener-bener pergi dari sana Gue liat Dinda sempet ngambil koin di pinggir jalan terus ada dua orang ngikutin. Gue waktu itu gak terlalu perduli, yaa gue acuh cuek aja."
"Farles orang yang ngomong sama gue dia bahasa indonesianya gak lancar jenggot yang di kepang warnanya hitam putih. Gue abis itu gak pernah berhubungan lagi sama dia, terakhir hal yang gue lakuin ke Dinda di sekolahan waktu itu buat satu sekolahan gempar." Kata Syifa dengan wajah merasa bersalah.
'gue gak nyangka kalo Farles bener-bener ngajak Syifa, batin Justin.'
'Senekat itu Farles gak nyangka kalo sampe Farles masih hidup dan buat Syifa yang kayak gini jadi bonekanya, batin Yuda.'
"Tapi Orang itu udah mati," ucap pelan Yuda seketika membuat Lorenzo dan Bagus di samping kanan kirinya menatap tajam Yuda.
"Gak.. Maksud gue setelah itu apa lo gak pernah nemu hal aneh karena lo udah gak di kontek lagi ama si Farles-farles itu?" ucap Yuda mengalihkan ucapannya.
Syifa menggeleng.
"Kak.. Belle... Tante.. Kakak Belle mainan kursi roda," ucap Lala. Seketika Justin dan Bagus menoleh bersamaan.
Susana yang kaku ini seakan mencair mudah dengan ulah Belle dan Lala.
Justin bergerak bangkit dan juga Bagus.
Mengakat masing-masing anak kecil.
"Papa.. Itu Ponakannya Om Jutin(Justin) santik(cantik)," ucap Lala dengan polos.
"Om.. Belle suka sama Dia, dia oon kalo di ajak naek kursi roda gak mau padahal kan gak capek." Kata polos Belle seketika membuat Lorenzo terdiam.
"Tin.. Ponakan lo gampang amat ngatain orang oon?" ucap Lorenzo dengan tatapan datar.
Seketika Justin terkekeh malu.
"Gak boleh gitu Belle, itu adek Lala kan belum tahu apa itu kursi roda." Kata Justin dengan lembut. Belle mengerti dan mengangguk.
Kak Luna datang bersama Larisa. Mengambil putri mereka di gendongan para lelaki yang sedang menggendong anak mereka.
"Kayaknya kita bisa jenguk Arkan sama Dinda. Kalian semua mau ikut kan," ucap Syifa.
Semua mengangguk.
Syifa barusan mendapat pesan balasan dari ibunya jika ada teman-teman Dinda datang atau teman-temannya Arkan tidak apa-apa jika ingin menjenguk. Kakek dan ayahnya sudah keluar dan bicara di ruangan dokter.
Sekarang mereka semua sedang menuju ruangan Arkan di antar Syifa
Sampai di ruangan tunggu keluarga. Nenek dan ibu Dinda menyambut mereka. Mereka juga menyapa Nenek dan Ibu Dinda.
"Nek.." Sapa Lorenzo Bagus Justin Yuda dan kiran juga Indri dan Larisa bersama Luna. Mereka menyalimi neneknya Arkan. Tidak lupa dua anak kecil itu juga Belle dan Lala.
"Nenek Selamat malam," ucap Belle.
"Oh.. Belle. Iya sayang, malam juga," ucap Nenek dengan nada lembut.
Lala memperhatikan Belle dan nenek Arkan.
"Eh. Kamu siapa namanya?" ucap Nenek Arkan.
Seketika Belle menarik dan merangkul Lala.
"Nenek dia temen Belle, Namanya Lala, itu Mamanya Lala sama Mamanya Belle," jelas Belle dengan polos. Nenek tersenyum.
"Oh.. gitu sini. Kalian sama Nenek sama mama kalian," ucap Nenek.
"Maaf Tante saya Kiran, Tante masih ingat sayakan," ucap Kiran.
Ibunya Dinda mengangguk.
"Makasih ya kamu mau jadi temen anak saya, Saya gak nyangka kamu Sahabat anak saya sampe sekarang, Saya bener-bener terimakasih sama kamu." Kata Ibu Dinda seketika Kiran memeluk Ibu Dinda.
"Enggak Tante gak perlu terimakasih justru Kiran seneng bisa ketemu dan kenal anak tante, Dinda sahabat terbaik Kiran jadi mau sesusah sesulit apapun keadaannya bersahabat sama Dinda Kiran pasti akan sama Dinda, Sekarang Tante harus kuat ya, Kiran juga sama yang lainnya Doain yang terbaik buat Dinda. Kita juga sayang sama Dinda. Tante harus tegar, Kalo Tante sedih kayak gini terus Dinda juga bakalan lebih sedih." Penjelasan Kiran seketika berhasil membuat Ibu Dinda mengangguk dan membalas pelukan Kiran.
Semua yang melihat itu terharu. Bagus dan Yuda hampir menangis. Melihat begitu sedihnya Ibu Dinda.
"Kalo kalian mau jenguk Dinda bisa nanti Suster kasih arahannya tapi, penjaga kamarnya harus kalian ajak keluar dulu," ucap Nenek Arkan tiba-tiba yang datang bersama dua perawat satu laki-laki satu perempuan.
Seketika semua terkekeh kecih tahu maksud nenek adalah Arkan penjaga kamar Dinda.
Kali ini Syifa dan Kiran lebih dulu masuk dan ingin melihat ke adaan Dinda.
Suara pintu terketuk.
Arkan menoleh melihat Kiran dan Syifa masuk lalu bangkit.
Arkan melangkah melewati mereka.
"Tidak lama." Suara Arkan tepat ketika melewati mereka.
Kiran terdiam membeku, baru kali ini telinganya, seumur-umur mendengar suara datar Arkan yang yang kesal dan dingin hawanya bikin suasana satu ruangan rawat mencekam, ketika Arkan melihat kedatangan Kiran dan Syifa Rasanya seperti dingin dan tercekik.
Kiran dan Syifa mengangguk. Mereka melangkah mendekati dinda yang pucat dan lemah di atas ranjang rumah sakit.
Arkan keluar dengan pakaian santai dan juga pakaian sterilnya sudah di lepasnya didalam.
"Kalian?" suara Arkan ketika keluar ruangan Dinda. Melihat semuanya datang.
Seketika Yuda dan Bagus menepuk bahu Arkan dan Justin juga Lorenzo mengangguk dari ke jauhan.
"Lo Gak sadar waktu buka Lift itu ada gue, maen lari melingset gitu aja," ucap Lorenzo seketika Indri memukul bahu Lorenzo.
"Bahasanya..." Kata Kak Indri.
"Maksud gue lo lewat aja," ucap lorenzo membenarkan ucapan melingset nya.
Seketika semua menganguk paham.
"Makasih kalian dateng," ucap Arkan datar dan nada bicaranya seperti lemas.
Lorenzo dan Justin mendekat.
"Kayaknya kita berempat pengen ngomogin sesuatu sama Lo, bisa?" ucap lorenzo tiba-tiba.
"Waah... Semakin bijak bahasa lo, ada apa kah gerangan, jangan-jangan ada hantu di hotel posidion makanya lo jadi bijak, Hantunya dewa-dewa Yunani jangan-jangan," ucap Bagus sempat sempatnya bercanda.
Arkan mengangguk.
Mereka berlima pergi.
Seketika Belle dan Lala menghentikan Arkan dengan melebarkan tangannya.
"Om.. Arkan Belle sebenernya ikut-ikut dia Belle gak tahu apa-apa jadi jangan marah ya Om." Kata Belle dengan polos.
Arkan mengajak Lala dan Belle duduk di kursi.
"Kalian mau tanya apa, hem?" ucap Arkan sangat hangat dan tidak ada kesedihan di matanya. Luna dan Larisa yang sudah menjadi Ibu pun bisa tertipu sedikit jika Arkan menyembunyikan kesedihan mendalam di dalam tatapan matanya, di hadapan kedua anak kecil Arkan terlihat baik-baik saja dan tidak terlihat sesuatu yang berat sedang menimpanya.
"Om ganteng, Lala mau tanya, Tante santik(cantik)nya Lala kok gak keliatan Apa bobo di dalem masih lama, Mama bilang gitu," ucap Lala dengan nada bicara yang sangat polos. Arkan mensejajarkan tingginya dengan berjongkok di hadapan keduanya.
"Tante cantik lagi tidur kecapean, Nanti kalo bangun pasti bisa maen lagi sama Lala," ucap Arkan.
"Ah.. Boong waktu itu waktu mama Lala masuk lumah(rumah) sakit Lala gak bisa ngomong sekalang(sekarang) tante santik(cantik), Tapi, Om kalo Tante undah kelual(keluar) lumah(rumah) sakit Tante jangan sakit lagi ya om," ucap Lala polos.
Arkan mengangguk seketika mengusap kepala Lala dan Belle. Arkan kembali berdiri dan pergi di ikuti Yuda Bagus dan Lorenzo, Justin juga.