Arkan Dinda

Arkan Dinda
Brithday My Wife



Arkan mengangkat wajahnya menatap Dinda.


"Kakak kenapa? Apa Dinda buat salah, Kakak ngerokok udah banyak banget," ucapnya menatap asbak yang sudah berisi lima puntung rokok.


"Bau Rokok," ucap Dinda lagi dengan pelan menutup lobang hidung dengan jari telunjuk tangan kanan.


"Kamu ulang tahun besok?" ucapan Arkan mengalihkan pembicaraan Dinda mempertanyakan tentang rokok.


"Jawab punya Dinda dulu kak!" Katanya menatap gemas wajah Arkan yang sangat dingin dengan sorot tatapan tajamnya.


"Iya, aku ngerokok! kamu gak suka?"


Arkan menatap mata Dinda dengan tajam dan tenang. Dinda juga berani menatap mata Arkan tapi tidak terlalu berani.


Dinda memalingkan wajahnya.


"Gak baik kak Buat kesehatan," ucapan Dinda seperti sesuatu yang membuat Arkan kesal.


"Tahu udah kebiasaan, Sekarang udah ada Dinda masa iya kakak..."


"Kalo aku ngerokok kamu jauhan dari aku," ucap Arkan menatap lembut Dinda sekarang. Dinda menoleh menatap wajah sempurna juga tampan jarang senyum ini.


"Kakak ih susah banget di bilanginnya, baru ngerasa bandelnya kak Arkan," ucap Dinda kesal sendiri bangkit dari pangkuan Arkan seketika di tahan pinggangnya oleh Arkan.


Kejutan manis Arkan membuat Dinda bungkam seketika Dinda menjaukan dada Arkan mengambil nafas banyak.


"Ini halal," ucap Arkan sambil terkekeh. Dinda masih menjauhkan dirinya dengan kedua tangan menyanggah di bahu Arkan.


"Yaa dahi juga kecupannya malu lah, Kakak ini doyanya nyosor aja," Kesal Dinda.


Tidak ada aba-aba Arkan berdiri dari duduknya sambil bersamaan menggendong Dinda. Gerakan Arkan yang cepat tanpa sadar seperti terangkat keatas Dinda kaget! Dilihat sudah melayang tangannya di kalungkan di leher Arkan.


"Kaak," kagetnya.


Arkan tersenyum.


Melangkah sambil menggendong Dinda ala pengantin baru. Masuk ke dalam dengan menunjuk pintu kaca. Setelah masuk dan tertutup dengan bantuan Dinda di buka sebelumnya juga dengan bantuan Dinda.


Arkan membaringkan Dinda di kasur perlahan lalu pergi sambil membuka kaosnya dan masuk kamar mandi menyikat gigi juga berkumur. Setelah selesai Arkan mendatangi Dinda lagi.


Bohong, jika Dinda sudah meringkuk masuk kedalam kasur. Arkan duduk perlahan dengan tidak menggunakan pakaian atasan. Dan tidur di sebelah Dinda. Wangi badan Arkan membuat Dinda berbalik lalu berbalik lagi memunggungi Arkan.


"Kakak Pake bajunya!" Tidak Arkan dengarkan dan memilih memeluk Dinda yang berbaring dari belakang.


Gerah! Dinda berbalik melihat wajah Arkan seketika serangan ciuman di wajah tak terlewat satupun di wajah Dinda membuat sang empunya kesal memarah malu.


"Tidur sayang besok kamu sibuk," ucap Arkan dengan mata terpejam.


Dinda langsung faham apa arti kata sibuk. Tidak! Kenapa muncul adegan 18+ dan 21+ di kepalanyaa... Haah.. Dinda jangan tidur sampe subuh jangan Dinda pokoknya jangan tidur.


Dua jam kemudian mata Dinda sudah tidak kuat terbuka dan akhirnya Tidur tanpa sadar mencari pelukan nyamannya pada suami yang sedang memeluknya..Arkan membuka matanya tersenyum lalu mengecup dahi Dinda.


Kembali memejamkan mata tidur dan hanyut sampai mereka bener-bener tidur pulas malam ini.


*


Ramainya panti asuhan yang terlihat sederhana tapi nyaman. Hari ini untuk kesekian kali Arkan dan teman-teman Geng motor Adventure free mendatangi panti asuhan ini tidak dengan para senior karena beberapa sibuk dan sulit di hubungi jadi hanya ada angkatan Arkan angkatan Dodi dan angkatan Wira.


Arkan datang dengan mobil yang kemarin di bawa dan di rapikan mesinnya di bengkelnya dan Justin juga membawa mobil bak sportnya.


Dodi dan lainnya membawa motor termasuk Lorenzo dengan Rita pastinya. Justin sengaja membawa Lia karena suruhan Rita terpaksa begitu Lia mengajak Kiran Yeni juga Chintiya.


Lengkap geng Dinda di bawa Justin. Lalu pemeran utama tiba masuk ke tempat berkumpul dengan mata tertutup. Dinda risih akhirnya melepasnya waktu didalam mobil terlihat di leher Dinda ada selayer Tengkorak menggantung itu, bekas menutup matanya tadi. Kesannya mau romatis Dindanya yang risih.


Dinda bingung awalnya tempat apa? Eh ada plang tulisan besar Dinda membacanya dan menoleh ke arah Arkan.


"Jadi pagi itu suruh Dinda mandi aga siang santai dan lainnya dah aneh ini, kenapa bawa kesini kak," cerocos Dinda tidak henti.


Arkan menatap Dinda seketika mulut Dinda tertutup rapat dan tersenyum lebar.


Menurut masuk kedalam Dinda disambut anak-anak panti asuhan dan pengurus yayasan yang menatap kagum pada Arkan.


"Cantiknya, Siapa dia Arkan, makasih banyak, Kamu mau repot-repot gini," ucap Ibu Panti Asuhan.


Arkan mengangguk.


"Istri saya Bu," ucap Arkan sopan.


Dinda terdiam kaku tersenyum kaku.


Seketika dorr... suara meriah menyambut Dinda bersamaan itu ada nyanyian lagu selamat ulang tahun di buat-buat lucu yang di nyanyikan anak panti.


Dinda yang kaget menoleh seketika matanya berkaca-kaca dan menatap Kiran Yeni Lia Rita Chintiya ada disana. Chintiya memasukan ceri kemulut Dinda seketika langsung di peluk Dinda.


Penuh Suka di waktu ini ada sedikit haru di wajah Dinda. Dinda mengusap Air matanya.


"Oiya ada yang ulang tahunnya Di bulan ini siapa atau kemarin atau..." ucapan Dinda menatap semua Anak panti. Mereka terdiam, termasuk teman-teman Arkan dan Dinda menatap Dinda heran.


"Hem siapa?" ucapan Dinda seketika tangan Arkan menyentuh bahu Dinda.


Dengan wajah haru bercampur senangnya Dinda meminta sepotong kueh dan piring. Di berikan suapan pertama pada Arkan lalu anak-anak panti semuanya. Mereka kaku melihat Dinda tapi, setelah Dinda menyuapi mereka sepotong sepotong mereka jadi tahu jika Dinda tidak seperti yang mereka bayangkan.


Lalu berlanjut berkumpul di ruangan yang lebih lebar dengan ada papan tulis dan meja kuersi kecil khas ruangan tk.


Anak-anak yang sudah remaja juga di kumpulkan.


Di jaraknya berdiri Arkan mengambil gambar Dinda dengan wajah yang terus tersenyum tanpa henti.


"Kak Dinda dia ngompol," ucap anak kecil perempuan dengan berani.


"Ih.. Enggak loh Boong kak Aku gak ngompol aku ketumpahan air," ucapnya anak lelaki membela diri dari tuduhan anak perempuan disampingnya.


"Kakak percaya kok, kalo gitu kita makan bareng-bareng," ucap Dinda.


Kiran Yeni Lia Chintiya mereka bertiga kaku hanya Rita dan Dinda yang banyak bicara juga banyak bercampur dengan anak-anak panti.


Sampai bercanda sampai main tebak-tebak. Bagi-bagi sembako lalu memeriksa sekitar panti. Memang panti terlihat sederhana dan luas Bangunan baru juga ada seperti tempat Mandi dan keperluan bersih-bersih lainnya.


Lalu foto bersama. Setelah melakukan semua sekarang membagikan kotak-kotak besar berisi peralatan sekolah dan keperluan belajar anak-anak panti.


Arkan yang menjadi fotografer bersama Dodi dan Wira dan orang tambahan Rita Yeni Lia Chintiya Kiran dan Dinda menjadi model bersama yang lainnya yang tidak menjadi fotografer. Kadang ada sesi foto selfi bersama tapi, Arkan tidak akan melakukannya karena tak suka foto katanya.


Setelah acara selesai kini Di dalam mobil dekat taman yang tidak jauh dari panti asuhan Arkan menghentikan mobilnya.


"Kamu suka?" Sunyi seketika setelah Arkan membuka suara.


Dinda meneteskan air mata menggeleng sambil mengusapnya.


"Enggak kak, Dinda malah pengen marah, Kakak gak bilang, Kakak harusnya bilang! Dinda gak suka ulangtahun di buat acara, Dinda lebih suka semua lupa ulang tahun Dinda," ucapnya sambil menangis Arkan beralih menatap memperhatikan wajah yang sejak tadi ceria kini menangis sedih.


"Maaf."


"Makasih Kak, Dinda gak pernah seseneng ini selama ini, Makasih, dari dulu Dinda pengen makan bareng anak panti pengen tukar bicara omongon cerita semuanya ternyata baru sekarang bisa dan Itu karena Kak Arkan, Dinda sedih hiks.. hiks... Dinda gak bisa ngasih apapun di ulang tahun kak Arkan tapi kakak buat Dinda jadi perempuan paling bahagia lebih dari kata bahagia," jelasnya sambil menangis.


Arkan tersenyum mengusap air mata Dinda.


"Udah nangisnya, Kamu jelek," ucapan Arkan berhasil membuat tangis Dinda berhenti. Seketika pukulan melayang di lengan atas Arkan.


Arkan terkekeh.


Tiba-tiba sesuatu terpasang di leher Dinda dan itu kalung.


Eh.. ini kalung ibunya dan gelang pemberian kak Arkan. Gelang itu di modifikasi hingga sesuai di jadikan kalung bersamaan Leointin yang sudah ada di rantai kalungnya.


Arkan tersenyum menatap Dinda tidak ada suara apapun. Dinda terdiam sambil menyusap air mata dan menarik ingusnya agar tidak keluar.