
Arkan masuk kedalam perpuatakaan untuk mengambil buku yang ingin ia pelajari untuk ujian besok.
Seketika Arkan bersebelahan dengan Dinda tapi, saling memunggungi.
"Dinda ini buku lo yang lo mau," ucap Rian yang baru datang dari, entah dari mana.
Arkan berpura-pura tidak dengar dan tahu.
Dinda mengambilnya.
"Iya. Makasih Kak, Dinda sena sebentar, Kak Makasih kemarin di anterin pulang Kakak baik, Sayang hari ini gak bisa Dinda ada urusan," ucap Dinda sengaja membuat Arkan cemburu tapi, sepertinya Arkan tidak merespon. Dinda pergi dari sana tanpa menunggu jawaban Rian.
Arkan bergeser untuk melihat buku lainnya, Arkan sebenarnya mendengarnya.
"Lo denger, Dinda hampir deket sama gue dan Lo akan jauh," ucap Rian menyombongkan diri.
"Terserah." Acuh Arkan lalu pergi dari hadapan Rian dengan sengaja menyenggol bahu Rian.
Di sini di depan lapangan futsal Dinda duduk di bawah pohon dengan Kiran berdua. Mereka asik mengerjakan tugas kelompok untuk pelajaran Bu Siska nanti. Bersama Yeni dan Lia tentunya. Tugas untuk kelompok empat orang.
"Dari sini lo rangkum aja deh bisa kan," ucap Lia.
"Oh ini," sahut Yeni.
Dinda seketika Haus membuka botol airnya dan meminumnya.
"Kak Arkan sama Citra pelukan lo kemarin katanya baru aja Kak Arkan masuk kelas Citra meluk dia," ucap Biang gosip, Yeni.
Semburan Dinda seketika membuat ketiganya kaget, Kiran langsung menghentikan ketikannya ketika tahu Dinda menyembur seperti kaget untung, kesamping tidak kedepan.
"Eh... napa lo Din, sakit atau airnya basi?" ucap Yeni.
"Ya kali lo mikir air mineral basi lo kira apaan," jawab Lia.
"Nih tisu ucap Kiran," Dinda menerimanya.
"Iya.. makasih Ran," ucap Dinda.
"Gue tahu lo masih suka sama kak Arkan tapi cara lo salah, Kak Arkan ngejauhin lo karena dia itukan...." Seketika ucapan Kiran terpotong dengan tatapan tajam Lia dan Yeni.
Kiran menoleh ke Dinda yang murung.
"Karen dia ada alasan lain, dan cinta suka sepihak lo itu lebih banyak ngerugiin tahu," ucap Kiran lagi.
Dinda murung memikirkan hal yang seharunya di tidak lakukan tapi, kenapa hatinya tidak terima. Dinda sudah memaksakan perasaan untuk tidak menyukai Arkan lagi tapi, sulit sepertinya.
"Kalo lo maksa diri lo yang ada lo susah move on mending di bawa tenang aja," ucap Lia.
Dinda menghela nafasnya.
"Yaah makasih sarannya." Sahut Dinda dengan wajah kembali memaksa fokus membaca.
"Yaah susah Lia... Lo sih jomblo kelamaan gak tahu rasanya patahati, kalo lo ada di posis Dinda apa yang akan Lo lakuin?" Ucapan Yeni.
Lia mengedikkan bahunya.
"Udahlah gak usah bahas itu, gue jadi eneg," ucap Dinda sambil tersenyum.
"Yaa Dinda.." Ucap Yeni dan Kiran.
"Eh.. Tapikan Aneh Kak Arkan gak nolak sama sekali kalo dia di peluk Citra," ucap Yeni lagi.
"Udahlah Yen... biarin aja mau apa kek Mau pelukan kek, Yang penting gak ganggu lo aja,"ucap Dinda.
"Iya sih, tapi kan..." sahut Yeni.
"Pikir aja sapa tau emang lagi jatoh kesandung kek di dram-drama atau sin*tr*n kan suka gitu, Lebay," ucap Dinda. Lia menyikut Yeni seketika Yeni diam tidak kembali bicara.
Di lapangan Basket sekarang Arkan sedang duduk istirahat setelah dua ronde latihan dengan tim Rian. Mereka akan di kirim untuk lomba besok di SMA Pahlawan di hari pahlawan besok. SMA Bangsa tempat Arkan sekolah sekarang sedang latihan dengan rajin agar bisa dapat yang terbaik.
"Arkan nih minum lo," ucap Syifa. Seketika Arkan menoleh ke belakang ada Dinda yang baru duduk.
Setelah selesai dengan tugasnya Dinda dan Kiran pergi ke podium penonton di lapangan Basket untuk melihat anak basket latihan bukan untuk melihat Arkan latihan, sebenarnya tujuan Dinda sih itu melihat Arkan latihan tapi, malu Dinda mengakuinya.
Dinda baru duduk seketika botol airnya di ambil Arkan.
"Maaf gue minta! ini gue gantiin," ucap Arkan meninggalkan uang pada Dinda dan mengambil air mineral Dinda yang dingin dan baru Dinda beli.
Dinda menatap Arkan tudak percaya, Syifa menatap Arkan dengan kesal.
Syifa pergi, malu Syifa jika kembali bertengkar dengan Dinda belum lagi dirinya sudah di beri peringatan Ayahnya tentang Dinda.
"Eh..enggak usah kak.. gak papa," ucap Dinda ketika akan memberikan uang itu arkan menatapnya sekilas dengan tajam lalu pergi menjauh.
Kiran melongo.
"Kayaknya kepala kak Arkan baru kepentok deh. Dah gak papa lumayan buat beli cilok, teraktir gue ya," ucap Kiran dengan senang dan sempat menatap Arkan lalu kembali menatap Dinda.
"Yaudah deh... Beli aja sekarang," ucap Dinda. Kiran dengan Dinda meninggalkan podium penonton dan beralih ke kantin.
Arkan sebenarnya belum pergi. Mendengar ucapan Dinda yang senang memakai uangnya Arkan kembali melangkah pergi untuk mengganti pakaiannya.
Arkan mengganti kemeja sekolah dengan kaos basketnya setelah mandi di ruang ganti.
Segar, Arkan sudah selesai dan kini keluar dari ruang Ganti.
Dinda baru saja mendapatkan dua bungkus cilok bumbu kacang dan cilok telor saos.
Seketika Citra melewatinya.
"Waah.. waah.. apa kabar pejuang cintanya Arkan, Nih gue kasih lo undangan dateng ke pesta pertunangan gue, ada tanggalnya disana oiya...Jangan berharap lagi karena setelah ini Arkan milik gu," ucap Citra sambil memberikan amplop berisi undangan pertunangan untuk Dinda.
"Baru mau di resmiin tuangan, Sombong babget gitu aja," ucap Kiran Dinda membukanya. Seketika Dinda sedih merobeknya dan menangis menutup matanya.
Beruntung Kantin tidak terlalu ramai. Kiran langsung menghampiri Dinda dan merangkulnya memeluk nya.
"Ran.. kenapa rasanya sakit ya, kenapa Kak Arkan lupa beneran sama gue. Gue gak enak kayak gini risih gue. Harusnya gue gak berharap tapi, Gue tiap hari berharap berdoa sampe akhirnya Kak Arkan noleh dan kemarin kemarin dia terus kasih perhatian walaupun dia dingin cuek gue suka tapi, kenapa kok rasanya gak adil buat gue ya Ran," ucap Dinda sambil menangis.
Dinda tidaknya dengan perasaan sakit ini apa benar Arkan amnesia apa itu sungguhan tapi, Arkan seperti sengaja beralasan seperti itu, Dinda suka Kak Arkan, tapi, Dinda bukan peramal yang tahu isi hati dan isi pikiran seseorang.
"Yang sabar Djn, Gue juga bingung mau gimana lagi, Gue tahu lo gak terima lo cemburu ketika helm yang Kak Arkan beli buat lo malah Citra juga makenya dan Kayaknya helm itu di kasih sengaja iya kan, Tapi, gue tahu lo, lo pasti kuat lo bisa lewatin ini semua lanjutin hidup lo masih ada setahun lagi sekolah Sma setelah itu lo bener-benr harus ngadepin masa depan. Kak Arkan adalah masalqh yang di Atas kita serahin aja sama yang punya hati, biar jodoh dateng di waktu yang tepat bukan yang salah, ok sekarang lo tenang dan makan ciloknya," ucap Kiran.
Dinda mengangguk seketika terkekeh.
Mereka melanjutkan makan cilok mereka dengan senang hingga bel pulang sekolah setelah mata pelajaran terakhir selesai berbunyi.
Waktu terasa berlalu cepat. Besok pagi lagi sekolah dan belajar lalu pulang sekolah, siklus seirang pelajar tidak berubah.
Dinda belum pulang Dinda memutuskan di kelas sampai sore. Dinda ingin tenang sebentar, Kiran sudah pulang sejak tadi, Awalnya Kiran mengajak Dinda pulang bersama bukan hanya sekarang sih tiap hari tapi, alasan Dinda selalu sama menolak secara halus.
Kiran paham itu.
Dinda berjalan keluar kelas ketika merasa angin dingin mengenai kulitnya. Pukul lima sore Dinda melangkah keluar kelasnya dan berjalan untuk melihat suasan sore di sekolahan baru melangkah melewati kelas tiga. Dinda merasa hawanya tidak nyaman. Lalu turun ke bawah ke kelas sepuluh Melihat lapangan Basket masih ramai Dinda menyempatkan untuk duduk.
Ketika itu Lorenzo menoleh tidak sengaja melihat Dinda.
"Eh.. Dinda.. belum balik dia?" ucap Lorenzo Bagus sekatika berdiri dan justin juga lalu Lorenzo mengikuti.
"Dinda ngapain lo disini," ucap Bagus. Duduk di belakang Dinda lalu Lorenzo Justin duduk di belakang Dinda di samping Bagus.
"Eh.. Kak Bagus. Enggak Dinda cuman mau di sekolah sampe sore," ucap Dinda.
Mereka mengangguk.
"Kok lo kayaknya abis nangis?" ucap Lorenzo. seketika Bagus menyikutnya.
"Privasi ..." bisik Bagus.
Dinda menoleh.
"Oh.. ini gak papa kak Baik aja ini cuman abis cuci muka trus pedih jadi kayak gini masih merah ya.." ucap Dinda beralasan.
Mereka bertiga kembali Diam. Dinda juga diam saja
Tanpa sadar Citra datang dan membawa handuk untuk Arkan lalu air.
Dengan senyuman.
Dinda menatap itu dengan jelas seketika menatap kedepan dan menghapus Air mata yang keluar.
Menyakitkan sekali rasanya.
Dinda pergi dari sana Lalu melangkah ke lapangan Futsal berjalan pelan mengelilingi lapangan Futsal.
Lalu duduk di kursi tempat di bawah pohon samping Lapangan Futsal yang Dinda pakai untuk dirinya dan teman-temannya untuk mengerjakan tugasnya tadi.
"Kak Arkan kenapa sulit banget sih Apa karena Dinda jelek ya. Tapi, Dinda gak ngerasa kalo Dinda itu jelek, Oh.. iya Dinda kan gak pinter jadi gitulah," ucap Dinda pada dirinya.
Seketika Ingatan Dinda terbayang tentang ucapan teman-teman Arkan dan Teman-teman Rita.
"Ya jelas Arkan sama Citra orang cantik pinter anak orang kayak lagi. Lah Dinda anak kelas sebelas itu ngerep aja bisanya."
Pembicaraan teman Arkan ketika di lapangan Basket sewaktu Arkan menerima handuk dari Citra.
"Yaa jelas Citra suka dan Arkan nanggepin tanpa diem baek kek Arkan sama anak kelas Dua belas siapa namanya Iya.. Dinda Iya kan Dinda namanya, Emang aneh, Cewek kok ngejar-ngejar Cowok, gak banget murahan kayaknya," ucap Teman Rita ketika di kantin.
"Lo apaan sih ada orangnya tuh," ucap teman-teman Rita yang lain.
" Buset lo pada, gibah mulu, Suka-suka dialah, Dinda jangan dengerin ini emang Anak-anak setan hobi gibah jangan dengerin ya," ucap Rita berusaha membuat temannya diam dan Menoleh pada Dinda. Dinda hanya mengangguk.
Sudah cukup... pembicaraan orang seharusnya membuat Dinda sadar.
Dinda harus pulanh sebentar lagi sifh kerjanya tiba.
Dinda pulang kerumah dengan Ojol lagi karena menunggu Angkot tidak sempat lagi.
Sampai Dinda Di rumah Dinda bergegas untuk segera berangkat kerja part time.
*
Arkan Menyikap tangan Citra yang terus-terusan sesukannya.
"Jangan sembarang," ucap Arkan lalu pergi membawa tasnya keluar lapangan Basket ke tiga temannya Arkan juga mengikuti Arkan pergi.
Di parkiran Arkan langsung melangkah mendekat ke motornya memakai helmnya dan ketika itu dia melihat Dinda baru saja naik ojol.
"Dinda," suara Arkan.
"Gak, Usah kaget gitu, dia dari tadi di dalam sekolah terus ke lapangan Basket terus dia nangis noh di bawah pohon deket lapapangan Futsal." Bagus bicara ketika tahu Arkan terdiam dan menatap keluar gerbang dan mereka bertiga tidak hanya bagus ikut melihat kearah gerbang.
"Iya.. dia kayaknya sakit hati banget sampe segitunya, Kalo ini ulah lo gak mungkin deh, Entah kenapa gue rasa penyebabnya Citra," ucap Justin seketika.
"Walaah.... lupa gue sebenernya tadi Citra nitip undangan ke gue buat kita bertiga dan itu undangan pertunangan lo sama Citra,c celetuka Lorenzo seketika sambil terkejut dan mengingat ingat sesuatu. Seketika Lorenzo mengeluarkan amplop dua untuk Bagus dan Justin. Mereka berdua menerimanya.
Arkan masih menatapnya.
"Tunangan lo minggu depan?" ucap Justin.
"Kayaknya filing Justin kena sasaran, kayaknya si Dinda sedih karena itu deh," ucap Bagus.
Arkan diam saja hanya mendengarkan temannya bicara. Naik ke atas motornya dan pergi keluar are sekolahan.
Justin menatap Arkan begitu juga bagus.
"Alamat perpecahan di rumah nih," ucap Bagus dan Lorenzo bersamaan.
"Hus.. udah pada ngapain malah ngurusin hidup orang, Ayo buka bengkel," ucap Justin.
Seketika Bagus berbalik badan dan Lorenzo mengambil kunci motor Justin.
"Kita hari ini libur Arkan juga abis latihan jadi tutup cuman sampe Pak Tejo doang Justin, Gercep amat lo ama kerjaan," ucap Lorenzo.
"Oiyaa ya.. lupa, Yaudah balik aja lah nanti ke markas motor aja," ucap Justin.
Mereka pulang kerumah masing-masing dan berpisah di perempatan.
Arkan yang sudah sampai rumah segera masuk dan menghampiri kakeknya.
Melempar amplop undangan pertunangan di depan Kakeknya. Kakeknya menatap dengan tenang tidak lama suara kelakson mobil masuk halaman.
"Itu pasti Orang tua Citra."
"Kakek minta mereka pulang atau Arkan buat malu Kakek," ucap Arkan lalu pergi begitu saja dengan emosi. Kakek tersenyum.