Arkan Dinda

Arkan Dinda
Menjauh



Tujuh hari berlalu dari kejadian malam itu sekarang Arkan sudah disini duduk di dalam pesawat bersama Rian Bagus Lorenzo Justin dan Yuda.


Yuda terpaksa harus mengejar target tugas makalah kampusnya dengan daring. Karena kedua hal ini tidak bisa di tinggalkannya.


Lagi pula Dosen Yuda tidak masalah.


Selama tujuh hari Arkan tidak berani menghampiri atau mendekat ke Dinda. Setelah semalam itu lima jam kemudian Dinda sadar dan Ayah ibu juga Syifa senang. Setelah malam itu juga Arkan meninggalkan rumah sakit.


Tapi, Arkan tidak tahu jika Dinda melihat Arkan pergi dari pintu ruangan kamarnya yang terbuka.


Dinda menatap Arkan menjauh. Dinda melihat ada Arkan tapi, Arkan tidak tahu jika Dinda melihatnya.


Selama tujuh hari itu Dinda yang baru sadar langsung mengikuti ujian sekolah di rumah sakit di temankan Syifa dan ibunya lalu Kiran juga datang setelah sekolah selesai.


Dinda mengikuti ujian dengan sebisanya karena selama itu Dinda tidak belajar dan hanya terbaring.


Selama tujuh hari berlalu Dinda yang sudah menyelesaikan ujian di rumah sakit lalu bisa kembali pulang setelah tujuh hari lebih beberapa jam.


Sekarang Dinda sudah di rumah Ayahnya Syifa tadinya Dinda keras kepala ingin di rumah Ibunya tapi, karena permintaan ayah tidak Dinda hiraukan dan malah semakin marah, Ibunya yang bicara seketika itu Dinda patuh dan tinggal sementara di rumah ayah Syifa. Kiran juga sering main dan Hubungan Kiran dengan Syifa lumayan akur walau salah satunya masih mendominasi dan tidak mau kalah, kadang Dinda yang menjadi penengahnya.


Kiran tersenyum senang ketika Dinda mulai membelanya tapi, Kiran sedih juga karena Dinda gak tahu apa yang Kak Arkan lakuin malam itu.


*


Di pesawat Kali ini sudah mengudara dan Arkan duduk tenang dengan membaca buku. Sesekali Bagus memanggil Arkan untuk menawarkan makanan yang di ambilnya dari paramugari yang menawarinya makanan. Arkan mengeleng.


Justin juga lalu Yuda juga ragu-ragu Bagus menawari Rian seketika Lorenzo menyambarnya dan meletakannya di hadapan Rian.


"Mau kan lo, dah makan aja," ucap Lorenzo. Tanpa ingin mendengar Rian menolak, Lorenzo tahu wajah Rian itu ingin tapi, malu.


Benar saja di makan Setelahnya. Bagus memberikan lagi dan mereka makan bersama.


Mereka Berlima mengambil kelas khusus masih dengan penerbangan biasa tapi, kelas mereka yang khusus bersama dengan orang-orang yang sangat sibuk, penting dan tidak suka keramaian.


Arkan meminta izin pada Neneknya untuk pergi keluar dan menginap di rumah temannya selama seminggu begitu juga Lorenzo Bagus dan Justin juga Yuda. Termasuk Rian, Berarti berenam bukan berlima lagi.


Yuda harus ada karena penting.


Rian juga di ajak karena dia tahu sedikit informasi.


Awalnya Kakek tidak menyukainnya tapi, kali ini nenek bisa membuat kakek percaya dan memberi izin Arkan dengan terpaksa. Sebenarnya nyaman jika Kakek mengizinkan kadang juga biasanya pergi begitu saja selama lima hari tanpa izin kakek hingga di marahi.


Arkan sudah biasa pergi hingga kembali pulang biasa saja seperti tidak ada yang terjadi.


Hari mulai gelap Arkan menutup jendelanya dan begitu juga tidak terasa Justin di sebelahnya sudah tertidur. Arkan menutup bukunya dan menatap gantungan kunci yang sama dengan milik Dinda.


Arkan juga menatap tidak percaya jika dirinya melakukan semua ini sampai seperti ini hanya untuk tahu siapa pelaku yang membuat Dinda seperti itu.


Di rumahnya Dinda.


Dinda duduk di atas kasur menatap buku yang terbuka buku dengan banyak tulisan tanpa gambar tidak lama Syifa masuk dan Ibunya.


"Makan sayuran saja," ucap Ibu Dinda dengan wajah datar.


Dinda mengangguk dan mengambil sepiring nasi dan beberapa lauk dengan nampan dari tangan Syifa.


"Makasih Kak," ucap Dinda.


Syifa mengangguk lalu melangkah seketika Syifa tertahan oleh ingatannya.


"Gue pinjem ini," ucap Syifa mengambil salah satu buku di depan Dinda. Dinda mengangguk.


Ibunya duduk di kursi menunggu Dinda menghabiskan makannya.


"Makasih Bu..." ucap Dinda ketika itu ibunya Dinda mengangguk.


Dinda tersenyum.


Selesai makan malamnya Dinda kembali diam di kamar.


Bosan tidak ada hal yang ingin Dinda lakukan. Arkan kabarnya tidak ada dirumah, kondisi Dinda juga seperti ini gimana ingin mendatangi Arkan jika seperti ini. Dinda juga tidak tahu jika Arkan sedang ada di luar negri dan itu alasannya karena Dinda.


Arkan.. Arkan...


Dan apa yang Dinda lakukan, sepertinya Dinda kalah kali ini karena Citra lebih banyak waktunya dengan dengan kak Arkan dan pasti kak Arkan sudah sangat dekat dengan Citra.


Sudahlah, pusing kepala Dinda memikirkan Arkan dan Citra. Dinda bergeser kepinggir kasurnya.


Hanya sendirian di kamar apa yang ingin dirinya lakukan. Dinda bangun, dan duduk di kursi dekat jendela.


Dinda menatap bintang di atas dan juga menatap harapan yang semu dan abstrak di udara. Hanya awang-awang yang tidak jelas.


*


Arkan Justin Lorenzo Bagus Rian dan Yuda sampai di bandara internasional di Italia dan sekarang mereka harus pergi ke tempat Giovano kota terpencil di Italia yang langsung bersebelahan dengan pantai.


Populasi di kota terpencil di Italia itu cukup sedikit karena banyaknya manula yang tinggal disana.


Dari kabar Hansimon, jika Giovano sengaja memilih tempat itu karena orang tua istrinya dan kakek nenak anaknya disana, juga masa kecil Istrinya ada disana.


Baru keluar dari Bandara untuk mencari taksi. Tidak lama Tez datang dengan mobilnya berwarna putih.


"Tuan Arkan," ucapnya dengan bahasa Italia khas. Arkan mengangguk.


Seketika Tez menahan Rian.


"Tidak apa, dia teman kami," ucap Justin.


Tez mengerti.


Tez tahu siapa Justin Arkan Lorenzo Yuda dan Bagus tapi, Rian. Tez merasa curiga dengan Rian.


Mereka tidak jadi naik taksi dan langsung naik bersama di mobil jemputan Tez.


Dalam perjalanan Tez memberikan Arkan pistol.


"Disini lumayan bebas jika polisi tidak tahu," ucap Justin dengan bahasa Italia mengejek Tez, Tez mengangguk samar dengan menaikan alisnya.


Tez terkekeh.


"Bukan untuk hal tak penting tapi, dari pada kalian di tangkap Brandalan aneh yang suka menjual organ atau mengambil barang berhaga, lakukan ini sesekali untuk menakuti mereka." Jelas Tez dengan bahasa italia yang Di mengerti Arkan dan Justin dengan jelas, Yuda tidak terlalu jelas. Diam-diam Rian paham apa yang Tez ucapkan. Jangan tanya Bagus dan Lorenzo mereka hanya bisa diam karena tidak mengerti


Dua jam perjalanan akhirnya sampai dan di depan mansion lumayan sederhana untuk ukuran Giovano dan Arkan. Jika ukuran Bagus, Lorenzo,Justin dan Yuda juga Rian ini terlewat megah.


"Selamat datang Brother, Apa yang ingin kau ketahui sampai kau mengunjungi kota terpencil ini dan membawa tamu se-pesial," ucap Giovano dari dalam sambil melangkah mendekati Arkan.


"Tez jangan jauhi dia, Kalian cukup sama." Kata Giovano dengan bahas Italianya mengejek Tez.


Tez mendengkus malas dan menoleh benci pada Rian.


Mereka berenam masuk bersama Arkan dan Giovano sedangkan Tez pergi membawa mobil.


Seketika seorang perempuan cantik dan satu seperti pelayan datang membawakan camilan dan minuman.


"Waah dia istrimu Kak," ucap Lorenzo dan Bagus bersamaan.


Memalukan!


mata mereka tidak pernah terkontrol untuk melihat perempuan secantik istri Giovano.


"Hey.. berhati-hatilah jika mata kalian tidak ingin lepas dan hilang dari tempatnya." Ucap Giovano pada Lorenzo dan Bagus dengan bahas Indonesia yang sedikit tidak lancar.


Bagus bedehem.


Seketika tawa Giovano terdengar.


Mereka kembali bersendgurau padahal tidak ada yang bisa tertawa lepas hanya senyum paksa atau terkekeh paksa.



[Rumah Giovano sebelahnya ada pantai, Paviliun ada di sebelah belakang dekat taman di belakang]


...Sumber: Google...