
Perempuan rambut merah suruhan Citra di bawa Lorenzo dan Yuda ke ruang tunggu dengan mengikatnya menggunakan lakban dan tidak lama telepon Yuda berlayar panggilan dari Gres.
Lorenzo keluar dari ruang tunggu keluarga dan melihat Gresia sudah didepan pintu kaca dan tidak bisa masuk.
Lorenzo menggunakan kartu akses milik Arkan dan membukakannya. Gres mengambil kursi roda yang ada di pinggir ruangan dan membawanya kedepan pinth ruangan tunggu keluarga, mengikuti Lorenzo masuk.
"Wah..wah.. mudah sekali kamu tertangkap mereka Farah," ucap Gres mengejek Farah.
Farah menatap Gres dengan tatapan yang benci.
Arkan menoleh sambil menutup sedikit laptopnya dan bangkit.
"Sudah siap." Kata Arkan pada Gres. Seketika raut wajah dan Sikap Gres berubah segan dan mengangguk dengan wajah takut, ketika Arkan berucap menatapnya.
"Kemarikan Gres," ucap Yuda meminta suntikan bius pada Gres dan Gres memberikannya Perempuan itu berontak.
Arkan berbalik menatap ke depan membelakangi perempuan itu. Sudah, Yuda dan Lorenzo membawa wanita rambut merah itu ke kursi roda dan mengelimutinya dengan kain. Wanita rambut merah yang bernama Farah itu sudah pingsan karena dosis bius yang cukup membuatnya pingsan hingga sampai ketempat tujuan.
Lorenzo ikut keluar bersama Gres dan kursi roda dengan perempuan rambut merah yang pingsan.
Arkan dan Yuda yang masih duduk menghela nafasnya dan menyibukkan diri lagi seketika merasa lega sebentar.
Di belakang Di parkiran tepatnya. Lorenzo dan Gres keluar lewat pintu belakang pintu Basmant tempat dimana Arkan dan Lainnya waktu itu membawa orang dengan tato mawar dan Kalajengking.
Lewat pintu belakang parkiran tempat yang langsung keluar di parkiran belakang khusus kendaraan karyawan.
Lorenzo dan Gres langsung pergi ke mobil putih disana dimana Mobil Gres terparkir.
"Kau mengenalnya?" ucap Lorenzo sambil berjalan.
Gres berdehem.
"Kalo gitu kau tahu tato mawar hitam yang bentuknya lumayan besar ini," ucap Lorenzo.
Gres membuka pintu mobil belakang dan mengangguk menatap Lorenzo.
"Jangan penasaran sekarang karena sebentar lagi kau juga tahu," ucap Gres acuh dan membantu Lorenzo mengangkat Wanita rambut merah ke dalam mobil. Setelahnya Lorenzo pergi dengan kursi roda itu dan Gres masuk ke mobilnya setelah menutup pintu mobil penumpanng.
Gres Pergi begitu saja dan Lorenzo kembali masuk meninggalkan kursi roda itu bersama dengan kursi roda lainnya.
Sampai di depan pintu kaca Lorenzo masuk dengan santai, sempatnya Lorenzo menoleh ke kaca pintu ruangan Dinda disana, Kiran sedang mengajak Dinda bicara. Helaan nafas kecewa Lorenzo lepaskan.
'Mereka seperti sangat kehilangan,' batin Lorenzo.
Lorenzo membalik badannya menuju ruang tunggu keluarga. Seketika melihat Yuda tidur.
"Kan... Lo gantian sama Kiran sono, Kayaknya kalo gue apa Yuda yang ke dalam sana kurang pantes. Rasanya," ucap Lorenzo.
Arkan yang sedang memainkan ponselnya mengangguk.
Arkan bangkit setelah mematikan dan menutup laptopnya. Arkan juga menatap Lorenzo sesaat.
"Lo tidur aja, Yuda gak bakalan tidur, boongan dia," ucap Arkan datar.
Lorenzo membenturkan alisnya heran. Menoleh ke Yuda yang berbaring di atas sofa santai.
"Yud." Suara Lorenzo memanggil Yuda.
Deheman Yuda.
Benar!
"Lo gak tidur, gue kira lo udah tewas." ucap Lorenzo seenaknya.
Yuda berdehem lagi. Seketika membuka ponselnya dan mengganti lagunya.
"Main game," ucap Lorenzo seketika Yuda bangkit dan melepas aerphone tanpa kabelnya dan berjalan ke toilet.
Kembali wajahnya sudah segar.
Mereka berdua baru akan mulai main seketika Kiran masuk.
*
Arkan masuk Ke ruangan Dinda dan Membuat Kiran menoleh.
"Dinda gue pergi dulu ya," ucap Kiran pada Dinda yang sedang berbaring lemah.
Arkan menatap Kiran yang bicara pada Dinda lalu Berbalik pergi.
Kiran keluar Arkan sekarang yang duduk disana menjaga Dinda.
"Lo bodoh banget, Gak cape lo tidur," ucap Arkan cuek. Wajah datarnya seperti bicaranya itu sangat serius jika Dinda sadar mukin sudah takut dan senyumnya hilang tiba-tiba, tapi muncul seketika lagi.
Arkan duduk meletakan ponselnya di atas nakas dan menyentuh lalu menggenggam tangan Dinda.
Arkan menatap wajah pucat yang tidak kunjung tersenyum dan sadar hingga tatapan ceria itu seperti hilang.
Arkan terdiam dengan posisi memandangi wajah Dinda.
Hingga waktu terus berjalan. Arkan tertidur di dekat Dinda masih dengan posisi duduk dan tangan masih menggenggam tangan Dinda.
*
"Kenapa tidak bisa," ucap Dinda.
"Dinda ingin disini, Gak.. gak mau pergi dari sini, Kenapa semua melihat ke Dinda. Dinda gak salah apa-apa," ucap Dinda lagi.
"Dasar murahan," ucap seseorang dengan wajah tampan dan datarnya.
"Tapi, Aku suka sama Kakak..." ucap Dinda dengan wajah yang menangis.
Seketika semua tempat yang tadinya terang dengan cahaya matahari menjadi gelap dan dingin.
"Dinda... Lo bodoh banget, gak cape lo Tidur," suara acuh Arkan membuat Dinda yang menangis memeluk kakinya menatap ketas ke arah wajah Arkan yang yang dingin.
"Kak Arkan balik lagi," ucap Dinda.
"Maaf." Kata Arkan lagi.
"Maaf." Kata Arkan lagi. Hingga Dinda terkejut karena Arkan menangis di hadapannya Dinda mendekat ke Arkan seketika Arkan hilang.
Dinda seketika memejamkan matanya dan menangis.
Sudah sesegukan sekarang, Dinda mengusap matanya dengan lengannya seperti anak-anak yang menangis.
Dinda kembali berlutut seketika tidak jadi karena seseorang menahannya.
Pelukan tiba-tiba tanpa melihat wajahnya.
Seketika itu Dinda melihat orang dengan mata biru akan menembak orang yang memeluknya.
Dinda melepaskan pelukannya dan seketika Dinda yang tertembak.
Tersenyum.
Meneteskan air mata.
Menangis.
"Jangan tutup mata...Jangan tutup Mata...." Hingga semuanya gelap Dinda seketika bangun dan melihat ruangan begitu gelap dan lembab bau yang sangat busuk. Darah hingga suara berisik.
"Jangan... Jangan." Rangekan Dinda saat itu juga Dinda bangkit berlari seketika itu dirinya jatuh ke dasar laut. Melihat diatasnya ada cahaya masuk seperti sinar.
"Apa aku harus pergi, Hem.. maaf Kak Arkan... kayaknya Dinda bakalan gak bisa liat Kak Arkan senyum buat kedua kalinya dan selamanya, Dinda gak bisa nepatin janji Dinda. Maafin Dinda, Ayah Ibu semuanya Maafin Dinda. Kak Syifa jangan tangisin Dinda ya," ucap Dinda dalam hatinya.
*
Arkan terbangun untuk minum Seketika Arkan merasa tangan Dinda semakin dingin seperti es.
Wajahnya pucat seperti kapas.
Arkan melihat grafik alat medis seketika melemah.
Segera Arkan menekan tombol darurat. Dan saat itu juga dua dokter dan tiga perwat masuk lalu empat perawat lagi.
Dinda. Gak mungkin, Arkan tidak percaya jika Dinda akan pergi.
Arkan terus mengendalikan paniknya. Berjalan keluar ruangan Dinda.
Kiran merasa tak nyaman dan bangun seketika Kiran melihat beberapa perawat dan Dokter masuk seperti ada situasi darurat di ruangan Dinda.
"Kak.. Dinda... Kak," ucap Kiran panik seketika langsung menyambar dan memakai Hoddienya. Lorenzo sudah bangkit dari duduknya setelah Kiran berucah Dinda dengan nada bicara panik. Yuda keluar ruang tunggu bersama Kiran. Lorenzo duduk di kursi depan ruangan Dinda bersama Arkan.
Arkan menelpon semuanya. Hingga tidak lama Setelah beberapa menit Arkan selesai menelpon Ayah dan Ibu Dinda datang bersama Syifa. Lalu Kakek dan Johan.
Mereka terkejut ketika semuanya duduk di luar ruangan dan wajah mereka panik. Ayah Dinda menghampiri Arkan dengan wajah paniknya.
"Kondisi Dinda melemah," ucap Arkan dengan wajah sedih tapi, masih bisa mengontrol emosinya.
Didalam Dokter sudah berusaha hingga saling menatap antar dua dokter.
Salah satu Dokter wanita keluar.
"Ayah dari pasien," ucap Dokter itu.
"Saya dok," ucap Ayah Dinda cepat.
Dokter terlihat mengambil nafas tenangnya.
"Maaf tapi, putri anda lebih memilih pergi, Maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi, Tuhan sepertinya sangat menyayangi putri anda." Jelas dokter dengan tenang.
Arkan mengepalkan tangannya, merasa tidak terima.
Ayah Dinda berlutut lemas tidak bisa menopang tubuhnya lebih lama Syifa memeluk ibunya dan menangis. Kiran juga memeluk kakaknya hingga menangis.
"Gak.. Dokter gak berguna, Dia gak mungkin pergi gitu aja," bentak Arkan dengan marah ada percikan api amarah besar di matanya. Kakek segera menghentikan Arkan.
"Tidak.. Jangan Arkan," ucap Kakek dengan tegas dan tenang.
"Arkan gak bisa hidup kayak gini kek," ucap Arkan dengan wajah marah.
Kakek melepaskan tangannya yang menahan Arkan dan menghela nafasnya ke depan dengan kasar.
Arkan masuk dan melihat Dinda hampir di lepas semua alat medisnya.
"Jangan di lepas.. dia gak bisa pergi," ucap Arkan.
"Tenang ... anda tidak bisa seperti ini," ucap Dokter lelaki itu yang menahan Arkan. Seketika Arkan menatap marah pada Dokter itu.
Semua menciut mereka menghentikan melepas selang oksigen dan alat medis bantu.
Siapa yang tidak kenal tatapan dan wajah Arkan cucu dan putra dari penerus keluarga Brathadika.
Perawat dan dokter itu menyingkir membiarkan Arkan melangkah maju dan menggoyang bahu Dinda dengan kasar. Mereka tidak berani menghentikan Arkan.
"Aku tahu kamu pasti pergi jauh, tapi, gak sekarang bukan sekarang waktunya, gimana ucapan kamu gimana omongan kamu, kamu gak mau lagi ngejar semuanya, Apa cuman aku yang kamu sakitin, kenapa, Dinda... Bangun Dinda... DINDA!" Kata Arkan tanpa sadar kembali berucap tidak seperti biasanya yang kasar dan acuh, Ucapan Arkan terdengar seperti ada rasa yang akan hilang tapo, Arkan tidak mengizinkannya.
Arkan terus menatap wajah Dinda wajah Arkan sudah sangat kalut hingga raut sedih mendominasi ekspresi wajahnya. Arkan menangis di samping Dinda.
Seketika suara terbatuk dan suara alat medis grafik kembali menyala karena memang belum benar-benar perawat lepaskan.
Arkan mengangkat wajahnya berdiri menjauh.
Seketika itu batuk Dinda kembali terdengar keras hingga Dokter kembali memeriksanya Dokter wanita itu segera melakukan hal yang harus ia lakukan dan perawat wanita secepat mungkin ini kesempatan pasien untuk bisa hidup lagi.
Arkan tersenyum getir. Seketika menghapus air mata yang keluar dan keluar ruangan dengan wajah bersih dari air mata.
Semua menatap Arkan termasuk Syifa yang menatap Arkan dengan menuntut.
"Lo gak bisa bilang maaf atau apapun, Gue tanya, Lo berhasil atau gak, jawab iya atau.." Kata Syifa dengan menekan amarahnya dan sedih yang bercampur menjadi satu.
Arkan menatap Syifa lalu semuanya. Arkan mengangguk samar semua tidak jelas melihat Arkan mengangguk tapi, Syifa yang tepat ada didepan Arkan melihatnya. Syifa mundur perlahan dan ada sedikit cahaya di wajahnya, senyum kecil itu sedikit samar.