
Di Cafes's sekarang.
Arkan datang dengan tenang sambil membawa Dinda masuk seketika Justin Yuda dan Bagus juga Lorenzo yang baru mengambil pesanannya terkejut.
"Maaf kakak, jangan salah paham," ucap Dinda ketika melihat raut wajah semuanya yang menatanya datang dengan Arkan. Sambil mengibas tangannya .
Seketika Lala melompat dari kursi dan menghampiri Dinda.
"Kakak cantik dateng kecini (ke sini) telnyata(ternyata)."
Dinda langsung berjongkok dan Lala langsung mengambil tangan Dinda di ciumnya, salim.
Dinda tersenyum mengusap kepala Lala lalu membawanya duduk bersama Bagus lagi.
"Kakak Kerja dulu ya," ucap Dinda. Lala menatap dengan polos lalu menatap Bagus.
"Kakak kerja Lala." Kata Bagus dengan tenang. Lala mengangguk dengan kecewa. Seketika Arkan mengambil Lala dan memangkunya.
Bagus langsung terkejut dan syok berat.
"Gue.. khawatir, Sebaiknya Lala di pangku gue aja, Makasih Kan." Mengambil Lala dari pangkuan Arkan seketika Lala menatap Arkan.
"Emang kenapa?" ucap Arkan dengan wajah sangarnya.
Bagus menciut seketika Justin dan Lorenzo diam dan berpura-pura tidak melihatnya.
"Lah emang om kenapa, Om ini ganteng tau!" ucap Lala dengan polos seketika Cafe sunyi. Seketika itu juga Bagus makin gelisah dan panik.
"Ehm... gak papa duduk aja yang tenang jangan Nakal."
Kata Bagus dengan tenang terpaksa.
"Makasih Kan, Karena lo mamanya Lala bisa berobat di luar negeri. Nanti kalo ada rezeki gue gantiin ongkosnya Larisa." Kata Bagus dengan malu.
Sebenarnya Arkan tidak melakukan banyak semua itu adalah usaha Bagus dan kebetulan Arkan tahu dan Arkan menyarankan untuk rumah sakit milik kedua orang tuanya yang ada di luar negri. Awalnya Bagus ragu tapi, Arkan memberi keyakin dalam beberapa Bulan atau beberapa pengobatan dengan obat yang sangat baik, Larisa pasti sembuh dan bisa bersama selamanya dengan Lala. Pilihan berat untuk Larisa tapi, Bagus juga memikirkan kebahagiaan Lala.
Arkan pun memberikan Dokter yang pernah bekerja sama dengan kedua orang tuanya yang pernah mengurus pasien dengan kasus yang sama seperti Larisa alami. Jadilah sekarang Lala akan bersama Bagus terus dan Bagus membawa Lala seperti anak tapi, orang melihatnya sebagai adiknya.
Arkan menatap Bagus mengangguk samar. Justin menggeleng seketika Yuda menatap keduanya.
"Kalian ngomongin Larisa? dan dari tadi yang duduk disini adalah anaknya Larisa.. Gila.. gue satu aja belum tebar benih aja gak pernah udah ada anak aja si Larisa dan segede ini gue gak nyangka." Kata Yuda dengan asal. Seketika Mata Arkan, Bagus, Justin, Lorenzo menatap tajam Yuda.
Yuda meneguk ludahnya kasar.
"Bu-bukan... dah lupain aja omongan yang tadi," ucap Yuda seketika merasakan suasana menyudutkannya.
Dinda yang sibuk melayani pelanggan tidak hilang dari pandangan Lala.
"Cibuk( sibuk) banget kakak," ucap Lala lemas.
Bagus memakan otak-otak Lorenzo dengan santai seketika tangan Lorenzo memukul tangan Bagus.
"Kebiasaan comat comot makanan orang lo pada punya duit punya mulut pesen napa. Justin ama lo mirip nih," ucap Lorenzo menunjuk Bagus dengan sedotan.
"Ya elah.. Eh.. Lala mau ini gak." Kata Justin tiba-tiba memberikan otak-otak ini pada Lala.
Lala menatap semuanya yang menatapnya menunggu jawaban seketika tatapannya jatuh pada Lorenzo.
"Tapi, Om itu, punya om itu," ucap Lala. Seketika Lorenzo luluh.
Rasanya tidak tega.
"Lala mau? Ambil aja biar Om enzo ambil lagi yang baru atau Lala mau sosis panggang." Kata Lorenzo dengan wajah terpaksa senang seketika wajah Lorenzo langsung berubah sungguh-sungguh ikhlas ketika suara deheman Bagus dan Arkan membuat batinya tertekan.
Lala menatap Arkan dan Bagus dengan polos.
"Kacian (Kasihan) Om enjo(Om Enzo)." Ucapan polos Lala semakin membuat Lorenzo serba salah.
"Ok sebentar ya." Lorenzo segera bangkit dan membuat pesanan.
Setelahnya Enzo kembali dengan membawa otak-otak panggang goreng dan dua sosis Panggang.
"Ini buat Lala mau yang mana nanti kalo Lala mau lagi Om pesenin." Kata Lorenzo dengan wajah terpaksa tersenyum.
Tatapan Arkan selalu membuatnya menciut jika tatapan Bagus tidak seberapa tatapan Arkan sudah sangat menusuk jantungnya tapi, kenyataan begitu.
"Lo Papahnya?" Celetuk Justin.
Bagus berdehem mengangguk.
"Pilihan lo bener Gus," ucap Arkan tiba-tiba. Seketika Yuda dan Justin,Lorenzo tertegun.
"Bener-bener Banyak kejutannya hari ini gue beberapa kali ngerasa bener-bener kaya orang Kudet." Kata Yuda dengan terkekeh dan mengaduk minumannya dengan sedotan lalu meminumnya.
"Seriusan lo?" ucap Justin dan Lorenzo bersamaan.
Arkan kembali diam memainkan ponselnya sambil bersandar dan membiarkan Lala senang dengan pangkuannya.
Dari tempatnya duduk Arkan, Dinda memperhatikan Arkan dengan Lala. Rasanya Dinda senang dan adem memandangnya.
Tiba-tiba Arkan melirik ke arah Dinda seketika Dinda langsung berbalik dan berpura-pura tenang. Arkan seketika Menatap layar ponselnya.
*
Di rumah. Citra bosan sangat-sangat.
"Aku pulang aja Nek Kek. Arkan gak pulang-pulang pasti kerumah cewek itu, padahal ibunya pelacur tapi, Arkan seneng banget bareng sama dia, apa lebihnya dia anak haram aja." Kata Citra dengan kesal.
Kakek menatap Citra yang mulai berjalan masuk ke dalam kamar dan mengeluarkan koper dan tasnya.
"Di anterin sopir ya." Ucap Nenek tiba-tiba.
"Iyalah.. masa harus naik kenderaan umum, Nanti apa kata orang, Nenek juga maka nya jangan selalu manjain Arkan, kan jadi sulit di aturnya, Padah apa kurang nya aku, bukan aku yang kurang mungkin didikan Nenek yang salah," ucap Citra dengan sombong dan angkuh di barengi dengan tingkah yang membuat seseorang harus sabar menghadapinya.
Kakek datang dan membawa tangan kanannya untuk mengantarkan Citra langsung ke rumahnya.
"Aku mau pertunangan di atur cepat." Bicara Citra menuntut.
Seketika Citra pergi dan melangkah ke dalam mobil yang di siapkan untuk mengantarnya.
Setelah mobil berlalu Kakek menghela nafasnya.
"Apa kamu masih terus memaksanya tidak bisakan biarkan saja dia bahagia dengan caranya, semua keinginanmu sudah semuanya di turuti patuhi kabulkan dan tanpa bantahan. Apa kau akan melakukannya juga pada anak kita Putri, sehingga Mereka berdua tiada dan Arkan sendirian." Ucapan Nenek yang seketika membuat tangan Kakek mengepal.
"Aku hanya ingin dia dalam hal baik saja tidak buruk seperti ayahnya dan Ibunya yang membangkang pada kedua orangtua kandungnya sendiri."
Bantah keras Kakek menatap mata sendi nenek.
"Iya.. baiklah itu masalahmu dan urusanmu, Jika masih kekeh... kau mau menjodohkannya Silakan aku tidak akan menghalanginya, Tapi... Syaratnya jangan pernah hentikan aku untuk terus dekat dan menasehati juga merangkulnya, Aku tidak bisa membiarkannya berjalan sendirian dengan penuh luka batinnya," ucap nenek.
Kakek terdiam seketika melemahkan kepalannya. Kakek terdiam ketika mendengar suara nenek, istrinya sendiri menangis dan bicara dengan serak tangis. Selama ini Kakek tidak pernah mendengarnya selama Arkan disisinya sekarang ketika Kakek akan membuat perjodohan suara serak tangis itu kembali terdengar, di telinganya yang pendengarannya masih sangat tajam.
Kakek menatap sendu telapak tangannya dan seketika mengepal erat.
Kakek berbalik dan menatap ke depan ke langit cerah berwarna biru.
Masuk Kakek ke dalam ruangan yang selalu membuatnya bisa berlama-lama ruangan dengan tatanan yang tidak berubah dengan kenangan barang-barang yang tidak pernah rusak atau berubah tempat. Seketika Kakek menghampiri Laci meja kerjanya.
Beberapa lembar foto dan senyuman di foto itu membuat Kakek terduduk di kursi kerjanya dengan kasar. Lemas Kakek ketika kembali mengingat ucapan Nenek.
Kakek menangis sambil menatap foto itu seketika Kakek menutup matanya dengan lengannya. Kakek sangat sedih dan hancur. Samar seketika suara tawa anak kecil terdengar di pikirannya tawa itu membuat kesedihan kakek bertambah.
'Haha... Hihi... ini aja.'
'Hah.. Hahah.'
Seketika samar ada suara memanggilnya dengan nama Papah tak lama suara tangisan anak kecil dibarengi teriakan memanggil namanya Kakek.
'Papah... heheh... Papahku...'
'Papah... nakal Papah...'
'Kakek...Huaah... Kakek... Arkan jatuh.. Kakek... hiks sakit.'
'Arkan sayang Kakek nenek... Kakek hehe....'
Suara tangis Kakek memenuhi ruangan itu pintu yang terbuka sedikit membuat Nenek bisa melihat suaminya yang sedang sedih. Nenek menutup pintu perlahan tanpa suara.
Nenek pergi dari depan pintu mencoba untuk bersikap tenang dan santai, merasa tidak melihat apa-apa.