
Baru selesai dengan makan pagi, Arkan bergegas menyiapkan motor dan akan berangkat. Ketika itu suara kelakson didepan rumah membuat Dinda bergegas keluar Arkan menatap Dinda yang berlarian menjauh.
"Eh.. Maulana, ngapain kan gue udah bilang gak usah jemput, gue ada yang anterin," kata Dinda dengan memunculkan setengah badannya dari gerbang kecil.
"Yaa gak papa kali sekali aja gue anterin lo apa masalahnya." Katanya sambil mengulurkan helm untuk Dinda.
Gerbang besar terbuka.
"Masuk," suara datar Arkan seketika membuat Dinda menciut takut menurut masuk kedalam Dinda.
Tinggallah Arkan dan Maulana.
"Gue kira lo bakalan sekarat semalam ternyata lo masih bisa hidup sekarang." Cemoohnya dengan berani seringai ejekan dan raut wajah menjengkelkan bagi Arkan terlihat oleh Arkan.
"Ok lah... Nanti ada waktu gue akan langsung dapetin Dinda seutuhnya, Karena lelaki macam lo itu gak akan baik buat masa depan Dinda," ucapnya lagi membuat Arkan bergeming.
"Setidaknya bicaramu tidak ngelantur berarti anda tidak gila," kata Arkan seakan menyindir halus Maulana dan masuk kedalam menutup pintu pagar.
Maulana memukul udara dengan helmnya marah kesal di katai gila oleh Arkan.
Dinda sudah selesai cuci piring dan sekarang sedang minum air.
"Kak..."
Arkan diam.
"Kak... Ih Kakak," panggilan Dinda lagi, tidak di hiraukan.
Arkan masuk keruang kerjanya mengambil dua helm dan juga tas kuliahnya juga kunci.
Setelah siap Arkan memberikan helm pada Dinda yang sedang menggunakan sepatu.
"Bahaya ni kayaknya ngambek beneran," ucap Dinda berbisik pelan sambil berdiri menjejakkan kakinnya untuk membuat sepatunya nyaman di pakai dan mengambil helm.
Berlari kecil sambil memakai helm.
"Kak jangan diem aja, Kak...." Kesal Dinda karena tidak dia ajak bicara.
"Ih.. Kak maaf kak," ucap Dinda lagi hampir mau menangis.
Arkan masih diam saja dan naik ke motornya. Dinda juga naik juga.
Sepanjang perjalanan hanya diam saja Dinda jadi merasa bersalah.
Memeluk dari belakang tiba-tiba rem mendadak Arkan membuat helm Dinda juga membentur hem belakang Dinda.
"Kamu gak papa," ucap Arkan khawatir.
"Iya Kak... Ada apa kak," ucap Dinda.
Seketika Sebuah kucing akhirnya sampai di sebrang Arkan kembali melanjutkan motornya berjalan.
Dinda mengerti ketika melihat kucing bunting melewatinya.
Sampai Arkan dan Dinda disekolah. Beruntung masih jarang siswa-siswi yang datang. Lily gang juga belum kelihatan.
Setelah pamit Dinda pergi masuk kedalam sekolahan.
*
Bruaak... Loker Dinda di banting pintunya oleh Lily gang.
"Heeh... Murahan, masih sekolah lagi lo gue kira lo mati," ucap Jeni teman Lily.
" Halah... Dia mana punya malu waktu itu teriak gak jelas ngejar kakak kelas idola sekolah sekarang di perhatiin Maulana cowok tajir tampan pinter, Masa iya si cewek murah, kek dia emang gak malu," ucap Lily.
Seketika semuanya berbisik sambil melewati Dinda dengan suara yang samar-samar Dinda mendengar jika ada banyak yang mengatainya.
Okay... Fine... sekarang Dinda harus berani masuk Bp sekali aja gak masalah, tapi masih pagi masa iya masuk Bp.
Halah dari pada keterusan nih mulut Jabl*y gak bisa didiemin.
"Aaaa!" Teriak Lily ketika Dinda menjambak rambutnya didepan semua orang.
"Lo kalo ngomong beguna bermanfaat dikit napa, Iya kalo gue murah kenapa masalah buat, enggak kan, Gue yang murah kenapa? Lo merasa mahal... Ya kali Lo mahal Lo ngapain jam sepuluh malem duduk di pinggir jalan pake motor metic apa lo cewek metic," ucap Dinda seketika membuat semua teman Lily diam.
Lily mati kutu sekarang.
"Lo... Sialan," murka Lily membalas jambakan rambutnya pada Dinda dan saling dorong.
Dinda melepasnya dan mendorong Lily sampai jatuh. Dari sana Bu Siskan dan Bu Ayu melihatnya.
Dinda mendorong Lily.
Jeni dan lainnya langsung berekting sakit dan sedih Lily juga memanfaatkan keadaan.
"Dinda ya ampun apa yang kamu lakuin." Terkejut ketika Bu Siska tiba-tiba membantu Lily dan Bu Ayu memnatap marah Dinda.
Dinda awalnya aneh dengan ekspresi Lily dan seketika Bu Siska datang, ok... Dinda mengerti.
"Ngapa Ekting semua yang gue bilang bener, Gue gak mau ya lo tiap hari gangguin gue dan nuduh gue, jatahlo biasa di kasih jam tiga pagi Transfer om 30 jeti buat Lily sama Jeni," ucap Dinda dengan berani padahal masih ada Bu Siska dan Bu Ayu.
"Hiks.. Ibu masa Dinda ngatain Lily anak haram, sama cewek gak bener," ucapan Lily seketika membuat Bu Siska tak habis pikir. Seketika itu tarikan telinga Dinda di rasakan sakitnya sekarang.
Bu Ayu menjewer Dinda dan menariknya ke lapangan.
Lily mengucapkan makasih pada Bu Siska dan akan pamit kekelas. Dalam hati mereka bersorak ceria senang sekali. Berjalan meninggalkan tempat Tkp mereka saling bangga satu sama lain karena Dinda yang di hukum.
*
Di lapangan.
"Maaf Bu," ucap Dinda dengan menunduk takut, tahu bersalah.
"Dinda.. Dinda pagi, pagi kamu sudah buat malu aja, sekarang berdiri disini sampai saya balik lagi dan kamu baru bisa masuk kelas." Jelas Bu Ayu lalu pergi meninggalkan Dinda sendirian.
Seketika Kiran datang dan akan mendekat tapi Bu Ayu mencegahnya.
"Mau dihukum juga kamu, sama-sama Bandel, anak gadis aja gak ada kalemnya," ucap Bu Ayu dengan wajah kusutnya.
Kiran menatap Dinda. Dinda tersenyum mengangguk dan bersuara pelan mengatakan Gak papa.
Kiran akhirnya pergi.
Tanpa Dinda tahu Kiran memberitahu Arkan.
*
Dinda duduk sampai tertidur di halte. Suara motor membuatnya bangun.
"Eh.. Pulang kak," Kata Dinda. Baru akan naik ke motor seketika kakinya sakit. Setengah sadar dari kantuknya juga.
"Kak bentar ya," ucap Dinda yang kesakitan Arkan bisa merasakan pegangan tangan Dinda di bahunya sangat kencang.
Dinda haus mau es... eh es doger boleh dong!
"Kakak.. Mau itu...berhenti dulu ya," ucap Dinda. Arkan mengangguk menepikan motornya.
Baru akan turun Arkan menahan Dinda.
"Gak usah."
"Bang Esnya satu di bungkus." Ucap Arkan lalu memberikan selembar uang lima puluh ribu.
"Laah.. Mas.. gede banget uangnya lima ribu aja," ucap penjual Es.
"Aku ada kak," ucap Dinda seketika Arkan mengambil esnya dan memberikan pada Dinda.
"Abang ambil aja kembaliannya," ucap Arkan lalu pergi.
"Eh.. Makasih Maas," teriak penjualnya. Dinda masih menatap tak percaya dan masih memperoses apa yang Arkan lakukan barusan.
Arkan fokus pada kemudinya. Dinda terdiam sambil menahan pegal di kakinya.
"Kamu kenapa?"
Haah... Dingin banget nanya nya.
"Tadi Dinda ribut sama Lily geng gara-gara ngatain Dinda cewek murahan, abisnya kesel Jambak aja trus Dia balik jambak Dinda, terus aku dorong Lily buat lepasin jambakannya. Padahal tadi juga Dinda balik ngatain Lily kalo dia cewek metic eh Dia marah.. Padahal jugaan Dinda ngasal, terus ketahuan Bu Ayu sama Bu Siska," ucap Dinda panjang lebar.
"Kaki kamu," ucap Arkan.
"Oh.. Kaki, Tenang aja berdiri tiga jam di lapangan aman, biasa kok, lagian udah sering," ucap Dinda lagi.
Arkan tersenyum di balik hlemnya.
Dinda yang aneh atau Arkan yang merasa terhibur mendengar Dinda mendapat hukuman.
Dinda kalo udah bar-bar banget aneh dan buat kaget aja sikapnya tiba-tiba bisa di luar dugaan.
Sampai di rumah Ternyata Kakek dan Nenek ada di rumah dan membuat Dinda kaku juga takut malu.
"Kak... malu," ucap Dinda.
Arkan turun dari motor dan melepas helemnya lalu Dinda membuka helmnya pelan dan Arkan mengambilnya.
Dengan memegang tangan Arkan Dinda berjalan pelan mengikuti langkah lelaki didepannya.