Arkan Dinda

Arkan Dinda
Rumah Kakek atau Rayhan



Sudah mulai masuk sekolah Dinda juga mulai membereskan peralatannya untuk berangkat sekolah.


Sarapan Pagi Arkan dan Dinda duduk dan saling diam.


"Kamu mau di rumah Om Rayhan atau di rumah kakek," ucap Arkan to the point.


Dinda menghentikan minum susunya dan menatap ke arah Arkan lalu mengambil air putih di gelas lain.


"Aku di rumah aja sendiri Aku gak mau ke rumah lainnya kalo kerumah Kak Syifa bisa, aku juga gak mau, Dirumah sendirian aja," ucap Dinda langsung.


Arkan mengangguk.


"Apa Gressia biasa masuk rumah?"


Dinda menatap Arkan dengan senang.


Arkan meminum tehnya dengan tenang. Lalu bangkit dari duduknya.


"Nanti aku kasih tahu habis pulang sekolah jangan bareng siapapun tunggu aku," ucap Arkan memperingati, masalahnya masuk sekolahnya nanggung hari sabtu besok minggu.


Anggukan cepat Dinda. Segera membereskan bekas makannya dan segera pergi keluar.


Arkan sudah siap dengan motornya dan sekalian kekampus ada perlu dengan dosen pembimbingnya.


*


Di sekolah Dinda masih masuk di jam pelajaran kedua.


Di jam pelajaran ke tiga ternyata kosong. Satu kelas bersorak gembira setelah guru jam pelajaran pertama dan kedua keluar.


Rumpi ala Yeni berkumpul jadi satu dan sekarang sedang diam-diaman Dodi merasa aneh, Apa para Gadis-gadis lenjeh termasuk Bebeb Kirannya sedang ada lomba tahan bicara satu jam.


Tak.. Tak... Tak...


Pulpen Lia di ketuk-ketukan diatas meja. Beto bernyanyi dengan suaranya yang lumayan bersama Dodi dan teman lainnya seketika Cosplay jadi permaianan Ff dan permaina Kotak-kota.


"Lo jangalangin, didepan kita ada musuh," suara anak lelaki di kelas Dinda menggunakan sapu lidi sapu ijuk penggaris dan pengapus sebagai geranat. Pakaian mereka sudah di tanggalkan kancingnya. Kemoceng di kelas pun menjadi senjata dengan peluru besar, ceritanya lagi perang.


Dinda menghela nafasnya.


"Kak Arkan mau pergi katanya urusan, dan itu waktu selesainya gak tentu. Gue sendirian dirumah cuman di temenin Gressia sama Rettrigo lagi," ucap Dinda.


"Oh itu iya Kak Rian sama Kak Arkan yang pergi, Bang Yuda bilang gitu semalem masalahnya semalem ada urusan mendadak makanya di jam sebelas keluar rumah," jelas Kiran.


Dinda mengangguk.


"Kak Arkan harusnya keluar tapi, katanya di rumah aja karena Gue sendirian, Btw Sorry ya kemaren gue gak jadi full acaranya sama kalian," Seru Dinda tak enak hati mengingat kejadian malam.


"Fine aja keles," Kata Chintiya dengan kipas di tangannya, kebetulan ac di kelas di matikan karena di luar sangat mendung akan turun hujan.


Nanti kalo panas lagi ac akan hidup.


Dinda menatap keluar jendela dengan awan hitam mendung.


"Tiiinn.. Bom meledak Dueeer," Suara anak lelaki lagi memenuhi ruang kelas Dinda.


Terkenal berisik dan Dinda adalah perempuan kelas itu juga terkenal banyak kasus Bp tapi, tidak sampai masuk ruang Bp.


Sama dengan Kiran mereka berdua itu satu.


"Bosen gais maenan apaan gitu biar seru," ucap Dinda.


Tiba-tiba ide muncul di kepala Yeni.


*


Di kelasnya yang barusan berakhir Lorenzo dan Bagus menghampi Arkan di kursinya dan juga Justin. Tidak lama dari luar Rian masuk dan mengisyaratkan amplop coklat.


"Warung pak Joko aja," ucap Yuda menunjuk warung pojok kampus yang biasa di jadikan tempat nongkrong kang ojek.


Yuda baru dateng maen ajak ajak pergi tapi, mereka semua memang ingin pergi.


Sampai di warung pak Joko, Yuda memesan mie rebus karena kantin kampus tidak bisa alias rame terus kalo Yuda Arkan dan lainnya masuk kantin kampus hanya makan makanan kecil dan pergi, masalahnya perempuan-perempuan kampus mengagumi ketampanan Yuda Lorenzo juga terutama Justin dan Arkan, kalo Bagus jangan di tanya sudah ada yang sampai menembaknya terang-terangan. Tapi, di tolak langsung di tempat gak pake bawa pulang.


"Sewa warungnya sebentar," ucap Lorenzo seketika diangguki semuanya dengan santai.


Lorenzo dan Yuda menghampiri pak Joko dan istrinya bicara panjang dan mereka mengangguk. Seketika Mereka membereskan warung dan meninggalkan sisa untuk Arkan dan teman-temannya.


Motor mereka di jajar rapi menutupi warung dan Warung di beri tulisan tutup.


"Kita kayaknya gak bisa bantuin kalian terlalu banyak, Walaupun pengen sampe selesai, cepet tuntas masalah Alderos,"ucap Justin.


"Gue setuju sama lo Tin, Kan.. emang kagak bisa gitu Gue ikut jadi tiga orang sama Kalian," ucap Lorenzo.


Rian baru saja duduk setelah membuka tas mengambil laptop dan mengeluarkan amplop coklatnya.


"Sebenernya kalian ada tugas tapi, ini agak ya lumayan, Langsung ada bayarannya sama Pak Jersey masalahnya ada salah satu pengusaha yang kekayaan nya mirip Arkan yang ngebiayaain sampai berkas dia bisa di tarik dari perusahaan parasit punya Alderos Sozhak dan satu persatu sempel yang ada di Farmasi yang bisa kalian ambil."


Penjelasan Rian sambil Arkan membuka amplop coklat dan membaca kertas-kertas itu juga beberapa foto.


"Ada lima berkas inti di perusahaan yang Alderos Sozhak kendaliin, Pertama Farmasi, Bisa bagi tugas Yuda Justin bagian data terus Bagus ama Lorenzo bagian sempel. Tugasnya sama perusahan pertama sampe lima tapi, kemungkinan di perusahaan tiga empat lima ada perubahan rencana tapi, ya kita liat aja nanti di lapangan," jelas Arkan memberikan satu persatu kertas.


Yuda membaca Kertas itu dan Justin juga membacanya. Lorenzo dan Bagus dengan santai meletakan diatas meja membacanya biasa.


"Lo serius serahin sempel sempel obat bahaya sama kita," ucap Bagus serius menatap wajah Arkan.


Arkan mengangguk.


"Lo hapal banget," ucap Lorenzo melipat tangannya.


"Om Rayhan, gue pernah di kasih tahu masalah itu," ucap Arkan serius menatap kertas didepannya.


"Terus bagian lo sama Rian apa?" Yuda menatap Rian dan Arkan.


"Kita berdua bakalan ambil semua data tersembunyi sampai dimana orang tua Alderos Sozhak tinggal, termasuk dimana anaknya bisa bersekolah tk," jelas Rian kali ini.


Semua jelas mengangguk.


Arkan mengetik sesuatu di ponselnya lalu semua ponsel Yuda Justin Lorenzo menerima Email masuk.


"Anggap mempermudah kalian." Singkat Arkan. Tugas Arkan dan Rian itu menggali lebih dalam sedangkan Yuda Justin Bagus Lorenzo, merek berempat cukup data yang sudah muncul di permukaan dan harus cepat proses sidang juga sangat dekat.


*


Dinda duduk diam di depan tv setelah sholat isya. Di kamar ada tv cuman males mending di ruang tengah sambil makan camilan.


Dinda seketika kaget karena Arkan memakan sosis bakar yang tinggal sepotong.


"Makan itu terus, Aku kasih semuanya ke tetangga biar gak ada makanan kayak gitu dirumah," ucap Arkan kesal.


"Kakak.. Ih.. kan aku pengen jangan lah kak," memohon tapi, percuma Arkan tidak menanggapi.


Dinda kesal pergi kekulkasnya dan melihat semuanya, ada, masih sama. Kak Arkan hanya menggoda nya saja.


Dinda kembali membuat roti bakar dan Sosis bakar.


"Kak Aku rasannya sekarang gemukkan padahal aku udah makan banyak kemaren timbangan 55 sekarang masa 45 kan aneh," oceh Dinda dari dapur Arkan diam saja menatap layar ponselnya.


"Terus." Arkan menoleh.


" Yaa Itu lah pas di kaca perutnya juga gendut."


"Kak Emang tugas kakak itu lama, Kakak hati-hati jangan sampe kayak kemaren. Dinda udah kakak itu in kalo hamil gimana? Masa iya kakak tega sama Dinda sama Dedeknya," Ucapan Dinda mengalihkan pandangan Arkan tapi langsung menatap ponselnya lagi dan mematikannya meletakan di atas meja lalu mengganti Drama dengan Film yang lebih bagus.


Dinda datang dan meletakan camilan malamnya.


"Banyak minum air putih kamu makanan itu mulu air putihnya kurang," ucap Arkan datar. Seketika bangkit dan pergi ke dapur lalu keluar ke kolam renang Dinda acuh saja.


"Tanya apa jawab apa, Pasti gitu mulu, mengalihkan pembicaraan juga mengalihkan duniaku ganteng banget sih." Dinda memakan camilannya lagi


Beberapa menit berlalu sampai makanan Dinda habis dan sudah duduk dua menit yang lalu setelah mencuci bekas makannya.


Dinda tidak melihat Arkan masuk. Penasaran Dinda berjalan menghampiri Arkan sebelumnya mengambil remot mematikan tv.


Dinda menoleh kesana kemari tidak ada Arkan melangkah keluar seketika terlihat Arkan meroko di sana dekat garasi ujung dekat halaman rumput di garasi yang menyimpan semua mobil mahal milik ayah Arkan.


Dinda menghampiri Arkan disana seketika semakin dekat terlihat jelas Arkan sedang merokok.


Melihat kedatangan Dinda mendekat rokok Arkan dimatikan.


"Mana Rokoknya, Dinda minta," ucapnya dengan kesal.


Arkan memberikannya bungkus kosong Dinda malah marah.


"Kakak.. Jangan ngerokok ih sama aja kakak gak sayang Dinda. Males Dinda gak sayang kakak kalo Kakak ngerokok gini," kesalnya marah dan pergi seketika Arkan menghampiri dengan langkah lebarnya dan memeluk Dinda dari belakang.


"Ih.. Gak usah pegang-pegang malesin minggir Bau rokok," kesalnya memberontak ingin lepas.


"Ini Terakhir," ucap Arkan seketika Dinda membalik badannya memegang kedua pipi Arkan dan menatap matanya dengan menarik wajah Arkan mendekat kearahnya.


Arkan menatap tajam mata Dinda. Dinda tersenyum lebar.


"Serius, Kakak gak boong lagi kan," ucapnya.


Enggak, gelengan kepala Arkan. Baikan, Arkan mengecup dahi Dinda.


Membawa Dinda ke dekat garasi mobil dan duduk di kursi santai mirip ayunan dengan kayu.


"Kamu kenapa gak mau di rumah Kakek," ucap Arkan sambil mencium wangi rambut Dinda dan memainkannya.


"Takut Dinda sama Kakek, Takut nenek tanyain Dinda tentang ini itu tentang sekolah kalo sampe nenek nanya juga, bisa gak sekolah lagi Dinda," jelasnya.


Satu tangan Arkan merangkul bahu Dinda.


"Kalo om Rayhan?" tanya Arkan lagi santai.


"Thaliya, Dinda kayaknya gak cocok sama dia," ucap Dinda menjawab pertanyaan Arkan. Arkan mengangguk mengerti.


"Tapi kalo..." Seketika Arkan berhenti karna Dinda mengejutkan dengan menolehkan wajah ke arah Arkan cepat memasang wajah memelas.


"Tapi Kalo di rumah Dinda bisa maen ketempat temen bisa ke rumah kak Syifa bisa ke pasar apa super market kan biasa di temeni Gressia."


"Kamu seneng banget aku gak dirumah, Jangan selingkuh yang penting," ucap Arkan dengan dingin dan tatapan tajam.


"Ya Allah Kak! Gitu amat jadi suami, Dinda itu cuman kelepek-kelepek sama Kakak sukanya cuman sama Kakak, Cowok cakep pinter rajin ibadah, sayang orang tua, sayang istri pekerja keras, mana bisa Dinda berpaling, Walaupun kita cuman makan nasi sama kacang atau nasi sama Garem Dinda tetep milih kakak, bukan rumah lainnya, sekrang Kakak itu rumah Dinda tempat Dinda berlindung dari hujan dan panas Kakak juga tempat bersandar yang nyaman banget plus-plus."


Arkan tersenyum mengusap kepala Dinda sampai kesal karena rambutnya berantakan.