
Di ruangan Kepala sekolah dua lelaki tampan duduk dan menatap para Orang tua dari teman-teman Lily.
Di luar seorang perempuan dengan pakain semi formal dan blezer berwarna coklat muda itu melangkah kaki dengan sedikit cepat.
Sampai di ruangan uks, Dinda yang duduk bersandar langsung di peluknya dan di lihat bagian mana yang terluka.
"Kakak..." Kesal Dinda Wajah badannya di putar-putar Asyifa. Tidak lihat jika leher belakag Dinda perih.
"Kamu Ya ampun, Kenapa gini, Ya Allah... Kiran kamu juga lebam. Liat siapa mereka berani buat kamu gini," ucap Syifa melangkah keluar uks.
Seketika Dinda menahan Syifa.
"Kakak gak usah lah nanti kalo Kak Arkan sampe denger gimana?" ucap Dinda.
Seketika di sebelah Kiran horden penyekat ruangan itu mengeluarkan suara Lily tertawa, dengan emosi Syifa membuka tirai atau horden penyekat.
"Oh.. ini yang mau cari mati sama adek gue, Heh Lo pada ngaca Keluarga mana lo maen hantem ade gue, Lo kalo mau ngebully yang bekelas napa, Lo ngebully kayak bekas tahanan napi buronan lagi," ucap Syifa seketika membuat Lily dan teman-temannya diam bungkam dan kesal juga.
"Kamu tahu Kiran? Dinda?"
"Kak Arkan dan Kak Yuda kamu udah tahu dan mereka ada di ruangan kepala sekolah sebagai wali kalian."
Ucapan Syifa berhasil membuat semua teman Lily bungkam. Termasuk Lily yang bungkam kesal sekaligus meremas seprai ranjang uks.
Di ruang kepala sekolah Dinda dan Kiran di bawa masuk oleh Syifa.
"Permisi Pak," suara itu datang dari Syifa. Sambil melangkah masuk setelah membuka pintu.
Dinda masuk betapa terkejutnya jika Dinda melihat ada Arkan. Malu banget rasanya mana di tatap dingin tajem juga.
Kiran menatap arah lain ketika tatapan mata Yuda sama tajamnya seperti Arkan, Yuda juga menyentuh keningnya memijit sebentar.
Kenapa Kiran menjadi adik perempuan jika tahu Kiran seperti ini harusnya dia menjadi adik lelaki Yuda saja, Sepertinya ibunya salah makan waktu mengandung Kiran.
"NAH.. INI.. INI YANG UDAH DORONG ANAK SAYA, KAMU KALO PUNYA ANAK ITU DI URUS YANG BENER MASIH MUDA UDAH PUNYA ANAK UMURNYA GAK JAUH BEDA," Bentak ibu Lily dengan tidak sopan.
Melewati batasan, Ibunya Lily tidak berpikir panjang tanpa sengaja kalo Asyifa di katai sangat tua.
"Maaf.. Sebelumnya, apa saya dan dua adik saya boleh duduk." Asyifa menekan kata adik saya sambil wajah terpaksa senang lalu melirik sadis Ibunya Lily.
Kepala sekolah mengangguk mempersilahkan juga.
Dinda dan Kiran duduk disebelah lelaki tampan itu lalu Syifa di tengahnya.
Tidak lama datang Lily.
"Silakan kamu duduk," ucap Kepala sekolah pada Lily.
"Mami anak itu penjarain aja mana buat kepala lily bocor, Liat juga di cakar," ucap Lily menunjukan dirinya seperti sangat teraniaya.
Benar-benar bagus ekting Lily disini yang kepalanya luka dua kali adalah Dinda.
Seketika Arkan menegakkan tubuhnya aura negatif dan menyeramkannya tanpa suara membuat semua menatapnya tanpa perintah.
"Apa kantin sekolah mempunyai cctv?" Kata Arkan dengan suara dingin.
"Ada Arkan tapi, sudah lama rusak karena kabelnya putus dan sekarang masa perbaikan jadi tidak bisa di bilang bisa merekam," jelas Bu Ayu.
Bu Ayu ada disitu.
Arkan menatap para orang tua yang wajahnya marah menatap tak suka pada Dinda dan Kiran juga Arkan dan Yuda. Mereka juga tidak tahu siapa Arkan dan Yuda.
Mereka memang terkenal tapi, tidak semua orang juga tahu siapa Arkan dan Yuda.
Arkan kembali diam.
"Dinda kamu mau bilang sesuatu?" Kepala sekolah memanggil Dinda.
"Gak usah pak, Kalo emang ketahuan salah ya salah kalo bener ya bener, Biarin mereka yang salah bersenang-senang nanti kalo udah ketahuan Bangkainya baru kita kasihan sama mereka," ucap Dinda dengan berani diangguki oleh kepala sekolah. Karena kepala sekolah juga berpikiran gitu.
Lily mengepalkan tangannya marah kesal. Bu Ayu dan kepala sekolah masih memperhatikan wajah Dinda dan Lily.
Sebenarnya Arkan menahan marahnya tapi, berusaha di tenangkan.
Sebelumnya Arkan dan Yuda juga lainnya ada di tempat tongkrongan masing-masing.
Jika Yuda hampir sampai di Markas tengkorak, baru setengah jalan setelah dari kampus sedang kan Arkan baru selesai menghela nafasnya di warung dekat markas geng motornya.
Telpon kepala sekolah membuat Yuda dan Arkan langsung pergi ke sekolahan.
"Kalian berdua ini gak punya orang tua ya, malah suruh anak-anak gini jadi walinya." Sindirian ibu Jeni.
"Kamu juga punya adek dua didik yang bener," ucap ibunya Jeni lagi.
Syifa harus menahan kesalnya. Seketika Lily menangis.
"Huuuh.. Liat Mereka semua pasti sogok kita pake uang mereka, ini gak adil pak kepala sekolah masa iya kita yang ada di bawah di suruh buat diem dan menahan semua penghinaan ini, gak adil ini pak," ucap Lily.
Tidak sadar sedang dengan siapa mereka berurusan.
"Hem.. Permisi, Kita selesaikan ini secara kekeluargaan gimana? Asal Kalian tahu, Adik kandung saya Dinda Alea tidak akan melakukan apapun jika dirinya tidak di paksa untuk melakukannya. Jika yang saya lihat di vidio viral versi lengkapnya kalo yang bersalah bukan Dinda melainkan kalian yang salah mengaku benar, Tidak ada jawaban, hem? Jika kalian mau melakukan penyelesaian masalah secara kekeluargaan. Baiklah! Kita liat siapa yang salah, Oiya, jangan tanya saya tahu nomor kalian semua dari mana. Saya jelas bisa tahu karena saya sangat sayang sekali sama adek saya," penjelasan Syifa membuat semua tidak suka juga malas mendengar.
Tiba-tiba.
Ponsel orang tua teman-teman Lily menerima pesan notifikasi.
Semua melihatnya, pesan vidio dari nomor asing. Waktu di buka ternyata vidio viral dari versi lengkapnya dari awal Lily datang dan memberikan makanan bau lalu menjambak Dinda lalu menampar Kiran lalu ada yang memukul leher belakang Dinda ada yang melempar Mangkok pada Dinda.
Seketika Syifa menoleh pada Yuda dan Arkan. Dengan di sambut tolehan mereka berdua. Sambil tersenyum tipis Syifa kembali menatap kepala sekolah dan wali teman-temannya Lily.
"Oiya Bapak kepala sekolah juga bisa melihatnya di ponsel bapak," ucap Syifa tidak lama berbunyi dan di buka oleh kepala sekolah ponsel pribadinya.
Lily mengepalkan tangannya marah.
"Ini tidak bisa di biarkan semuanya bisa seperti ini karena kelalaian kami Arkan, Maaf karena membuat Dinda menjadi terluka dan teraniaya seperti itu," terang kepala sekolah yang sangat malu dan, tak nyaman perasaannya, karena sikap Arkan terlampau tenang, mereka pihak sekolah jadi segan.
"Apa pak! kok gitu pak! Mereka gak bisa di gituin lah pak," ucap Lily tidak suka.
"Kamu saya sekorsing selama sebulan sekaligus kerjakan tugas tambahan tentang mata pelajaran yang ada di setiap harinya dua kali lipat," terang kepala sekolah membuat Lily menatap tidak percaya dan marah tidak terima.
"Pak kok saya aja," kata Lily.
"Semua teman kamu cuman di sekorsing saja untuk kamu dan Jeni ada tugas sendiri," terang Kepala sekolah lagi.
"Maaf sepertinya jalur keluarga sepertinya tidak bisa di pakai sekarang. Sekolah sudah memberikan hukuman, Saya sangat berterimakasih karena ini adil untuk adik-adik saya," ucap Syifa sangat senang dan bangga juga sedikit melirik pada ibu Jeni dan Ibu Lily.
Memerkan kalo mereka menang tanpa ada nya tangan kotor.
*
Dinda dan Arkan sampai dirumah sekarang.
Dinda berjalan pelan sambil menyeret tasnya.
"Mandi." Kata Arkan dengan datar.
"Gak papa kak, Aku mau makan dulu," ucap Dinda. Maksudnya tentang lukanya.
Arkan tidak bicara dan malah menatap Dinda dengan tajam.
"Hiih.. Iya iya aku ke atas," ucap Dinda dengan melangkah lebar menaiki tangga. Takut tatapan tajam Arkan Dinda melangkah pergi.
Di rumah Yuda menatap Kiran yang duduk di atas sofa dengan melipat kakinya.
"Adek gak bisa kalem, ntar kalo mama tanya jawabnya apa?" ucap Yuda ketus.
"Halah bilang aja, kesikut temen," jawab Kiran dengan santai.
Seketika suara mobil didepan lalu pelayan berlarian menyambut Mama dan Papa Kiran pulang dari luar kota.
Benar-benar waktu yang gak tepat.
"Sayang, Eh.. kok, Abang adek perempuan kamu abis kamu apa in.." Baru datang Mamanya Kiran langsung kaget dan menyerang Yuda dengan tatapan marah dan introgasi tiba-tiba.
"Yuda!" ucap Papanya kali ini dengan wajah marah.
Si Kiran malah memasang wajah polos.
Yuda menghela nafasnya, memang adik kurang di ajari.
Yuda menjelaskan semua masalahnya dari awal lalu sampai dia mendapat panggilan kepala sekolah lalu Kiran dan Dinda, tak lupa juga Yuda menjelaskan semuanya yang terjadi di ruangan kepala sekolah.
"Oh.. gitu, Wali murid kurang ajar, Enaknya papa Apain sayang," ucap Papa Yuda langsung merubah ekspresinya.
Seketika Kiran merubah wajahnya menjadi jahat.
"Udah lah pah gak usah di pikirin sekarang mama lebih suka kalo Kiran gak mulai duluan biasanyakan Kiran hampir kalah walaupun ngelawan," ucap Mamanya yang membuat Yuda dan papanya aneh.
"Ah kok gitu mam," ucap Kiran.
"Iya, Mereka semua pasti salah satu teman sosialita mamah, tenang aja biar mama yang urus, Mereka akan dapet dobel karena berani nyerang kepala Dinda dua kali," ujar Mama Kiran sangat serius dan ekspresinya seperti orang yang sangat licik.
Papa, Yuda dan Kiran menjadi takut dan bingung.
*
Di dapur sekarang Arkan duduk di hadapan makanan yang sudah matang.
"Dinda," suara Arkan melihat Dinda yang tidak makan.
"Perih kak, sakit pusing lagi, Emang brengs*k gak mau ngalah bau lagi seragam sekolahnya, Mana besok pake lagi, Hiks... Kak Dinda kesel, dia orang cari masalah terus, Wali nya Lily juga ngatain Dinda tadi juga, apa katanya, anak dari keluarga gak bener jadinya gak bener... baguslah Jeni bisa buat kamu luka-luka," ucap Dinda sembari menangis mengingat apa yang di katakan Ibunya Lily dan juga Ibunya Jeni disaat saat selesai dari pertemuan.
Arkan mendekat duduk di samping Dinda dan mengambilkan sedikit nasi dan lauk.
"Makan dulu nanti aku rapiin perbannya," Kata Arkan dengan lembut dan tenang sambil merapikan rambut Dinda di sampirkan ke kupingnya mengalihkan pembicaraan Dinda.
"Dinda," panggilan Arkan ketika Dinda diam saja.
"Gak usah kak, makan sendiri aja," ucap Dinda menolak halus.
Arkan mengangguk membiarkan Dinda makan sendiri. Dirinya juga makan bersama Dinda.
Di kamar Arkan membantu mengobati luka Dinda Dinda.