Arkan Dinda

Arkan Dinda
Bukan menantu yang baik?



Arkan masuk dan melihat wajah Dinda sudah sangat setres ketakutan dan menangis sesegukan.


"Kemarilah duduk," ucap Kakek dengan tenang. Arkan tidak mengindahkan ucapan atau sambut kakek meminta Arkan duduk. Tanpa banyak suara Arkan melangkah lebar menghampiri Dinda dan menarik dagunya melihat matanya sangat sembab, apa segitu dalamnya hinaan kakek pada Dinda.


"Ayo pulang, Lo pulang juga Syifa," ucap Arkan dengan suara tegas besarnya wajahnya datar. Sambil menggenggam tangan Dinda menarik pelan mengajak Dinda berdiri.


Tatapan Pak Johan sangat tajam. Kakek meresa perintahnya di abaikan kali ini.


"Arkan." Suara Tinggi Kakek mengintrupsi orang yang ada di ruangannya seketika tegang.


"Cukup kek, Apa yang kakek minta dari Dinda.... Arkan, cicit, kakek minta perintah apapun Arkan turutin."


"Asal, jangan Kakek sentuh Dinda."


"Kalo perintah itu buat ngejauhin Arkan sama Dinda Arkan tolak! Arkan milih Dinda," ucap Arkan di tekan emosi besar dan di setiap ucapannya yang terlihat hanya bicara dengan sopan menutupi amarahnya Arkan sudah terlihat marah sekarang, bagi Kakek yang mengenal jika emosi Arkan tertahan seperti itu bukanlah hal baik.


"Kamu itu pewaris kamu juga harus punya keturunan bukan malah pake pengaman Liat Kakek dapet semua obat cegah kehamilan dan juga penyataan dokter klo Dinda memasang alat tanam di rahimnya supaya tidak bisa hamil, Apa kamu mau menunda, Ingat Arkan kalo perempuan sudah berkarir dia akan melupakan suaminya atau jangan-jangan Dinda sengaja melakukan itu untuk membuatkamu seperti mesin uangnya," jelas Kakek seketika membuat salah satu tangan bebas Arkan mengepal keras urat di tangannya sampai terlihat, dan orang yang melihat kepalan itu tahu jika tangan Arkan siap memukul seseorang. Dinda meraih tangan Arkan dan berusaha memohon untuk tidak lepas kendali.


"Siapa yang kakek percaya, Arkan atau informasi itu, Arkan yang tinggal dengan Dinda Arkan tahu alasan Dinda. Gak mungkin Dinda ngelakuin itu, Arkan memang gak pernah memperbolehkan Dinda minum obat itu," jelas Arkan menahan emosinya yang hampir memuncak dengan terus bicara sopan pada Kakeknya.


Plaak.... Kakek menampar Arkan membuat Dinda makin takut. Arkan terdiam.


"Udah kak, Dinda yang salah, Maaf Kek, Kakek jangan salahin Kakak," ucap Dinda sambil menangis menutup kepalan tangan Arkan sambil berdiri menunduk. Arkan tiba-tiba mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Dinda.


"Syifa, Johan keluar kalian !" Kata Kakek dengan tegas dan dingin.


Syifa dan Pak Johan keluar dari ruangan Kakek.


Rayhan melihat kakaknya Dinda keluar dan asisten Kakeknya Arkan keluar, Merasa aneh ada yang salah.


"Sekarang bisa kamu jelaskan, Salahnya kakek bilang untuk minta keturunan, itu semua supaya Dinda tahu arti pernikahan tanggung jawab, Liat itu semua laki-laki yang dekat dengan istrimu apa baik seorang menantu dari keluarga Brathadika dan sudah memakai nama Prawira di belakang namanya malah sering berboncengan pergi dengan lelaki, apa itu baik, Tidak! Ingatkan Kakek saja untuk memilihkan calon terbaikmu," ucap Kakek dengan marah dan kesal ditambah menatap sinis Dinda terang-terangan. Dinda hanya takut diam tertunduk.


"Ini semua karma karena Menantuku dulu seorang yang tidak jelas asal usulnya dan sekarang malah mendapat Menantu perempuan yang sering bersama pria luar sana," ucap Kakek mencibir dengan remeh menatap Arkan dan Dinda lebih lama.


"Baik! Sekarang! Kasih Tahu Arkan, dimana Kakek tahu itu Dimana kakek tahu kalo Dinda salah karena menunda kehamilan, Arkan udah cerita semuanya ke kakek tentang Perusahaan Farmasi dan Urusan Arkan sama Pak Jersey juga Giovano, Apa yang kakek mau lagi, cari tahu kenapa Arkan sama Dinda belum ada momongan, Dinda masih sekolah Kek, Kakek Paksa Arkan aja Kakek kasih Arkan waktu aja, Arkan juga menikahi Dinda itu sah gak main-main, Kalo Kakek mau cicit Keturunan Kakek sabar, Ini hal sensitif kek," jelas Arkan masih menahan emosi mengesampingkan cibiran kakek.


Arkan juga sudah melihat foto-foto itu Arkan selama ini tahu Gressia selalu melaporkan kegiatan Dinda. Jadi Arkan tahu hal yang sebenarnya terjadi sama Dinda selama ini.


"Kakek tunggu kamu, kalo sampe Dinda belum hamil, Kakek akan carikan kamu istri yang lebih baik, Sudah berharap besar kalo kamu bisa kasih dari perempuan yang kamu suka kenyataannya malah Perempuan gak tau diri yang mau dapat nama dari keluarga besar, Kakek malu dan menyesal." Kakek menghela nafasnya. Menatap Dinda yang masih menunduk menangis.


"Ini urusan rumah tangga Arkan, Kakek cukup diam, Arkan harus bisa mengurus ini semua..."


"Memang seperti itu, Istri minum obat pencegah kehamilan saja kamu gak tahu," Ocehan Kesal kakek dengan wajah datar kecewa.


Arkan menghela nafasnya menahan amarahnya seketika menarik Dinda keluar dari ruangan Kakek.


Semua keluarga dari Kakek dan nenek melihat Arkan yang wajahnya tegang dan merah di salah satu sisi wajahnya dan menarik perempuan yang menangis sesegukan.


Sampai Arkan di luar Arkan memakaikan Helemnya Dinda dan tersenyum menatap wajah sesegukan Dinda dan memakai helemnya sendiri dengan wajah datar.


Arkan pergi keluar dari halaman rumah Kakek dan pergi ke suatu tempat yang menangkan tidak langsung pulang ke rumah


*


Setelah mampir di Masjid terdekat Arkan kembali pergi ke sebuah tempat yang rindang dan rumputnya bersih, pohonnya juga tertatarapi di pinggiran jalan setapak ada kursi putih dan Pohon besar.


Sebelum masuk Arkan membeli minuman dan meminta Dinda menunggu di motornya.


Sekarang mereka sudah didalam duduk di bawah pohon besar yang harum dengan bunga yang sedang mekar dengan daunnya yang lebat.


"Ka-kak maaf kak, Maaf Dinda salah Dinda yang salah," ucapnya masih dengan tangis dan tangannya bergetar tidak bisa membuka tutup botol air mineral.


"Aku gak marah sama kamu," ucap Arkan lembut mengambil botol itu dari Dinda dan membukakanya lalu mengangkat wajah Dinda dan mengusap air matanya.


Menyampirkan rambutnya ke telinga.


"A-aku gak tahu obat itu kak aku baru pulang sekolah aku gak tahu kalo kakek manggil dan Aku gak tahu kapan foto itu, Aku gak tahu obat apa yang kakek maksud alat apa yang kakek maksud Dinda enggak ngerti semuanya!" Jelasnya dengan takut dan masih bergetar tangannya suaranya juga berusaha untuk tenang.


Arkan berbalik menatap Dinda yang duduk menyampingi Arkan.


"Tenang, Minum dulu, Aku gak maslaah kamu mau ngapai kamu mau apa?"


Dinda menurut untuk minum. Setelah menghela nafasnya lebih tenang Arkan memberikan Dinda minuman manis.


Dinda menerimanya dan meminumnya.


Yogut teh hijau.


"Kamu gak usah takut! Aku gak bakalan jauhin atau ninggalin kamu kalo kamu memang beneran minum itu dan pakai alat itu," ucap Arkan mengarah ke barang penunda kehamilan.


"Foto itu aku gak percaya karena aku percaya sama Kamu," ucap Arkan.


Dinda menggeleng.


"Din-Dinda kasih kakak semua yang Dinda punya Dinda gak mau liat kakak di marahin Kakek berantem sama Kakek, Dinda emang anak yang nakal tapi, Dinda gak tahu alat obat kayak yang kakek bilang jangankan tahu pegang dan liat aja Dinda baru kali ini, selama pelajaran tentang anatomi tubuh manusia dan organ reproduksi Dinda selalu kabur, Jadi Dinda cuman tahu tentang menjaga kesehatan aja kalo obat atau alat pencegah yang kakek bilang Dinda beneran gak tahu kak," jelasnya dengan pelan masih sesegukan, Lucunya, Orang sedang sesegukan malah menjelaskan tentang pelajaran sekolah, bagi Arkan Dinda sangat aneh dan lucu ingin terkekeh rasanya tapi, nanti tambah sedih.


Arkan mengangguk dengan wajah tersenyum manis.


Arkan mengangkat tangannya mengusap Kepala Dinda.


"Iya, Dinda polos, Sekerang tenang aja jangan mikirin macem-macem."


Arkan curiga kenapa Dinda bilang pulang sekolah langsung di panggil jika itu benar seharusnya Dinda tidak sempat ganti tapi, Ini Dinda sudah berpakaian sopan. Dan Rettrigo bilang Thaliya bawa Dinda paksa dan marah-marah.


Gressia juga mengatakan hal yang sama seperti Rettrigo bilang. Arkan benar-benar kesal jika baru melihat Dinda seperti ini ketika sebulan Arkan tinggal pergi.