Arkan Dinda

Arkan Dinda
Tidak asing



Disini mereka berempat berkumpul tidak lama suara lonceng ketika pintu cafe di buka. Setelah Yuda datang Justin langsung membalik papan OPEN dengan CLOSE.


"Apaan nih keknya penting banget dah," ucap Yuda sambil duduk dan tidak lama pelayan datang membawa americano dingin dan kentang goreng lagi.


Cafe tempat biasa mereka datang, siapa lagi jika bukan Cafe milik kakak Justin dan sekarang sedang Justin pinjam dan sewa mereka yang tanggung.


"Urusan ini gak boleh sampai ketangan yang salah, Kemaren Giovano nyerahin kekuasaan ini ke gue dan bilang kalo gue harus nyelidikin antara Farles dan Hansimon." Kata Arkan lalu diam seketika.


Tatapan Justin, Lorenzo, Bagus, dan Yuda sudah berubah dingin.


Yuda tersenyum miring tiba-tiba lalu meminum es americano dengan santai dan tenang lalu menghela nafasnya lega.


"Gue kira gue aja yang ngerasa itu ternyata si Giovano sadar juga," ucap Yuda dengan enteng sambil memakan kentang gorengnya dengan begitu menikmati dan pelan-pelan.


"Lo tahu, Kok lo," ucap Lorenzo menatap Yuda meminta kejelas lalu menatap Arkan heran kenapa Arkan tidak tahu kenapa Yuda tahu lebih dulu.


"Gak gitu Zo. Lo tahu waktu itu gue sama Farles bikin rencana bantuin Arkan buat mengelabuhi anak buah Kakek Arkan, dan asal lo tahu ternyata Farles aneh waktu itu. Di sengaja gak keliahatan gak bantu tapi, tetep berjalan sesuai rencana. Dan waktu akhir rencana mau selesai gue gak sengaja liat Farles angkat telepon dari seseorang dan denger kalo dia nyebut nama Arkan dan tempat Arkan berada. Nah... saat itu juga deh gue buru-buru buat siasat gimana caranya Farles gak curigain gue, Akhirnya gue punya rencana. Dan waktu itu gue tenang karena Arkan ternyata sadar lebih cepat dan kita aman, Kakek Arkan masih belum tahu kalo Arkan masuk dalam organisasi ini," jelas Yuda dengan santai.


Lorenzo, Bagus mengangguk cepat menatap Arkan.


"Dan mereka sekarang lagi nyiapin sesuatu buat tiga tahun yang akan datang, gue gak tahu bisa gak buat cegah hal itu, tapi, kalo kita kerja dari sekarang kita gak akan nyesel nantinya," ucap Arkan pasti dan percaya penuh.


"Kadang Gue gak suka sama percaya diri lo Kan, tapi, kalo semua Pd lo bener gue gak bakalan ragu lagi," ucap Bagus kali ini dengan bangga dan senang sebelumnya lemas dan malas.


Arkan menatap Justin dan Lorenzo.


"Gue setuju apa yang harus kita lakuin," ucap Justin.


"Tapi, kita gak bisa sekarang ini langsung, kita pelan-pelan dan itu pasti, Diantara kita bisa jadi dia jadiin mata-mata bayaran Farles atau Hansimon, Kita gak tahu?" ucap Yuda.


"Atau Lo," ucap Lorenzo menatap Yuda dengan tajam menyelidik.


"Masalahnya lo curigain banget." Katanya lagi menatap Yuda.


Yuda hanya diam melipat tangannya dan seketika tangannya bergerak mengambil segelas americano.


"Gue emang gak suka perubahan yang lo bawa Kan," ucap Yuda tiba-tiba.


Seketika Justin dan Lorenzo berdiri dengan cepat Bagus mencegah mereka.


"Tenang kita dengerin dulu apa maunya?" ucap Bagus dengan nada hampir marah.


Arkan diam menatap tajam ke arah Yuda.


"Kalian gak salah curiga, dan asal kalian tahu gue bersyukur kalian bisa curigain orang dan gue paling salut sama Arkan karena dia udah tahu semuanya di awal-awal masuknya dia dateng bareng Giovano. Giovano awalnya gak sadar tapi, setelah tahu dia juga kaget karen lo udah tahu duluan," ucap Yuda dengan wajah bengisnya. Menatap Arkan. Karena Giovano tahu dari Arkan tapi, Belum sepenuhnya percaya dengan ucapan Arkan.


Arkan menyeringai dengan wajah datarnya.


"Maksudnya apaan sih kok gue bingung yak," ucap Lorenzo kesal.


"Maksud Yuda adalah Arkan udah tahu terus Arkan juga yang ngasih ciri-ciri mencurigakan ke Giovano, Maka itu Giovano baru tahu, kalo telat kita semua habis dan penjara dan hukuman berat nanti kita," jelas Justin.


Bagus dan Lorenzo mengangguk.


Mereka berdua mengerti sekarang.


"Dan bukannya bagus kalo kalian gak ada Casino barang ilegal terlarang dan kalian hampir jadi bawahan negara bergerak di balik kegelapan dan dilindungi hukum karena Arkan." Celetuk Bagus tiba-tiba.


Seketika itu Yuda terkekeh kecil. Karena Bagus dan Lorenzo sepertinya sangat mudah di tipu.


"Dia hanya becanda," ucap Arkan lagi dengan datar dan ini sedang dalam situasi serius.


Yuda berdehem dan menepuk bahu Arkan beberapa kali.


"Tunggu gue minum," ucap Yuda.


"Gue gak bercada di bagian gue buat rencana sama Farles dan tentang Arkan dan Giovano, kalo tentang gue mata-matanya Farles apa Hansimon itu bercanda sekarang.... karena itu masalalu, sebelum Arkan dateng dan buat semuanya berubah, gue bersyukur karena dia yang buat gue bisa bernafas lega, gara-gara Arkan hidup gue masih bisa tenang."


Jelas Yuda yang memuji Arkan dan hampir membuat Cafe ini berantakan karena perkelahian.


Bagus dan Lorenzo tidak percaya begitu saja.


"Gue tahu dia," ucap Arkan seketika pasti dengan tatapan tajamnya seketika beralih menatap Lorenzo dan Bagus lalu Justin.


Justin langsung menipiskan bibirnya.


"Ini pasti.. Arkan selalu," ucap Justin menyindir sikap Arkan jika sesuatu duluan tidak langsung berbagi Info .


"Ya Allah.. Arkan kau teman terbaik dan terpintar ditambah cerdas tampan dan sedikit bicara, bicara kalo penting baru banyak bicaranya," ucap Lorenzo seperti kereta tidak ada remnya.


"Buset... Santai baek lo Zo," ucap Bagus karena Lorenzo memalukan.


"Ya abisnya, Punya temen satu sulit di tebak. Gue sabar die gak sabar gue ikhlas die nyebelin giliran gue tenang-tenang Alim ke anak lagi di stop uang jajan sama Emak eh, Dia... di Gus ngajak gelud mulu, heran gue sama Lo Tin," ucap Lorenzo mulai ngawur hingga ketika akan menunjuk Arkan tatapan Arkan menyeramkan hingga berlasan menunjuk Justin sebagai pelampiasan di akhirnya.


"Justin, kok dia," Beo Bagus bingung.


"Laah.. Sape, die?" ucap Lorenzo menunjuk Bagus seketika Bagus menjitak kepala Lorenzo.


"Bener.. bener banget absurdnya mereka." Celetukan Yuda seketika.


"Apa!" Kata Bagus dan Lorenzo bersamaan, dengan nada kesal.


Yuda terkekeh. Seketika Arkan berdehem Bagus dan Lorenzo berhenti.


"Sisanya kita bahas di online aja gue ragu kalo kita bahasya di tempat ini walaupun ini Cafe kakak gue," ucap Justin.


Arkan mengangguk setuju lalu yang lainnya. Mereka mulai bicara biasa dan Justin kembali membuka Cafe.


Di perjalanannya menuju pulang ke rumah Dinda tidak sengaja melihat Syifa bicara dengan seseorang.


"Jenggot putih item di kepang itu bukannya orang yang waktu itu hampir nabrak anak kecil mau nyebrang di zebracros." Katanya pada dirinya sendiri. Seketika Dinda pergi dan bersembunyi di balik tong sampah gang sempit dan buntu. Seketika beberapa menit Dinda keluar ternyata mereka sudah selesai.


Berjalan pulang untuk menikmati waktu ini Dinda. Sampai Dinda di dekat lampu merah. Dinda mengambil uang lima ratus perak di selah trotiar yang tidak sengaja di lihat Dinda..


"Lumayan, tabungan duit nemu, gak masalah. Bawa ke bank kalo kaleng miskin udah penuh," ucap Dinda pada dirinya. Kaleng yang di maksud adalah tabungan Dinda khusus uang logam yang di temukan di jalanan.


Seketika seorang membekap Dinda dan menariknya hingga terseret sepatu Dinda juga lepas.


"Aaak..." Teriak orang itu karena Dinda menggigit jarinya hingga berdarah, Seketika lepas Dinda berlari tidak lupa mengambil sepatunya, Berlari dengan kencang hingga menginjak paku payung.


"Sialan kejar dia," ucap orang itu. Dianda yang baru melepaskan paku dari tepaknya dengan menahan sakit seketika panik dan berlari lagi dengan kencang.


Dinda berlari kencang kadang menoleh ke belakang untuk memastikan orang yang akan menculiknya tadi masih mengejarnya atau tidak.


Dengan terus berlari, tidak bisa berteriak minta tolong karena tidak terpikir lagi oleh Dinda.


Sampai di pertigaan jalan Dinda menuruni tangga yang menuju ke kompleks bawah yang ada di bawah dengan langkah cepat melewati gang-gang sempit. Hingga hampir menabrak kucing. Dinda sampai di jalanan terbuka lagi yang biasa mobil atau motor lalu lalang.


Seketika seseorang menarik tangannya dan menutupi dirinya menyembunyikannya di balik tubuh besar dan tegapnya.


Seketika Dinda menghela nafasnya seketika itu juga tangan besar itu membekap mulut Dinda. Seketika itu juga tatapan mata Dinda mengarah ke atas. Arkan!


Takdir macam apa ini kenapa Takdir ini bisa sangat menguntung Dinda.


"Hm.." Bicara tidak jelas sambil mengangguk.


Dari arah lain mobil van hitam melewati mereka dan Arkan masih sama menutupi Dinda.


Tambah buruk suasananya seketika mobil itu berhenti tepat disamping mereka yang awalnya sudah pergi melewati malah mundur lagi. Seketika itu dua orang asing datang dan masuk ke mobil.


Arkan menoleh ketika mobil itu berjalan pergi.


"Kakak," ucap Dinda dengan berbisik.


"Ssst...." perintah Arkan untuk Dinda diam.


"Mereka! Sialan.. apa mau mereka?" ucap Arkan berbalik pergi dari hadapan Dinda.


"Ayo naik," ucap Arkan.


"Tapi, kak..." Ucap Dinda terputus ketika sebuah batu tajam menyenggol lukanya. Perih...


"Kenapa," katanya dengan bingung tetap dengan wajah datar. Pandangan Arkan turun ke tanah, darah?


"Gue anterin lo sampe rumah," ucap Arkan dengan dingin.


Dinda menatap tidak percaya. Seketika ingin menolak Arkan mengklakson Dinda hingga terkejut kaget.


"Ih. Iyaa iya," ucap Dinda dengan cepat naik keatas motor Arkan. Seketika Arkan pergi dengan kecepatan sedang.


Dalam hati Arkan bersyukur karena datang di waktu yang tepat. Hal ini tidak bisa keluar batas hingga Dinda sasarannya.


Arkan mengeratkan pegangan stang motornya dan mengertakkan giginya. Dalam hati benar-benar marah.