
Arkan memanggil Kuta dan meminta Kuta mengantarkan bingkisan ini ke rumah Dinda.
"Bos.. masa," ucap Kuta ragu.
Seketika Arkan tahu maksudnya, Hanya Kuta yang berani meminta ongkos jika Arkan memerintah atau meminta tolong.
"Ambil beli bensin," ucap Arkan.
Asik.. lumayan uang kemaren yang Arkan kasih karena menjaga Dinda belum habis sekarang ngirim paket kayak gini aja di kasih enam ratus ribu. Senangnya Kuta.
"Makasih Bos... Waah baek deh Bos." Seru Kuta dengan wajah bahagia tak terkira.
Kuta segera pergi menjalankan tugas i markas Arkan banyak berpikir menyusun puzzel jalan keluar agar semuanya selesai.
Duduk di Sofa dengan mengkat kaki dan meletakannya di meja.
Tiba-Tiba Pak Jersey mengirimkan pesan suara dan juga vidio.
Arkan membukanya dan mulai mendengar dan melihat.
Dari rekaman itu.
"Apa aku harus mengaku juga disini Kalian hanyalah orang-orang yang di bodohi. Lepaskan saja Aku aku tidak akan menceritakan semuanya termasuk ketua mafia bernama Alano itu yang sekarang tiada bernama kalian hanya akan mendapat informasi kosong," suara Farah orang yang Arkan dan Teman-temannya tangkap di rumah sakit.
Lorenzo dan Bagus yang mendengar itu menghampiri Arkan, dan Rian Justin juga Yuda juga menghampiri Arkan.
Hanya itu rekamannya, Arkan memutar vidio.
"Jangan katakan kalo aku yang harus menjelaskannya Farah kau yang harus mengatakannya," ucapan Lametta dengan wajah yang kesal.
"Hey... Lametta mengaku saja kau yang menghabisi mereka," ucap Farah kesal.
"Ck...Sialan Gabriel yang memerintah kami memberikan informasi itu pada Kepala keluarga Brathadika, Dia yang menembaknya dan aku tidak melakukan apapun," ucap lametta.
"Heeh..Kalian ingin keringanan tidak," ucap Pak Jersey.
"Iya," sahut mereka kompak.
"Lametta menembak orang bernama Alano tepat di jantung selain Alano ada Farhan dan juga lima irang lainnya dalam jam yang sama beda hari di tempat yang berbeda." Farah yang mengatakan itu.
"Tidak begitu, itu semua idenya dan Gabriel, Dia membakar Wanita bernama Ambar setelah keluar dari supermarket malam itu korban lainnya adalah penjualan gadis di bawah umur pengedar narkoba dan minuman," jelas Lametta tidak kalah banyak menunjukan bukti itu.
Vidio berhenti lalu muncul pesan singkat Pak Jersey.
"Itu pengakuan mereka," pesan singkatnya.
Seketika telepon masuk pak Jersey.
"Maaf Arkan aku hanya ingin kau tahu, Aku harap kau bisa menerimanya dengan lapang," ucap Kak Jersey.
"Terimakasih atas pemberitahuannya pak, Saya akan tenang sebisa saya," ucap Arkan.
Telepon tertutup. Seketika sunyi!
Lorenzo dan Justin menyentuh Bahu Arkan Bagus juga berdehem.
"Kita semua turut berduka atas terungkapnya semua kecelakaan itu," ucap Bagus.
Arkan mengangguk.
"Gue ngerti, Makasih kalian," ucap Arkan.
Bangkit dari duduknya dan meraih helemnya.
"Dinda," ucap Rian.
Arkan mengangguk.
Semua membiarkan Arkan pergi.
*
Sebelumnya Arkan mengajak Dinda bertemu di atap sekolah dengan menjemputnya.
Arkan dan Dinda ada di atap sekolah sekarang.
Dinda memakai sweter rajut yang Senta buat.
Arkan melihatnya dan tersenyum senang karena cocok dan Dinda terlihat manis.
"Makasih Kak. Apa kakak mau ngomong sesuatu kenapa bawa Dinda kesini, bukannya nanti atau tadi bisa ngomong aja dirumah," ucap Dinda polos.
"Gue...hem.. enaknya gimana ya, Lo denger gue ubah ucapan gue lo ke Aku kamu gak waktu di rumah sakit," ucap Arkan yang tahu jawabannya pasti menggeleng dan tidak. Arkan terlihat lucu di depan Dinda.
Dinda menggeleng.
"Emang pernah Kak Arkan ngomong gitu," ucap Dinda dengan bingung dan polos.
Arkan terdiam masih menatap ke depan, malu menatap Dinda.
"Kak.. Hari ini aku dapet paket dari orang dan ternyata itu Kuta, Pasti Kakak yang yang kirimkan, Makasih ya kak, Sweter rajutnya bagus pasti mahal ini rajutan khas tangan-tangan terlatih, mahal pasti, tapi, kalo Dinda gak terima, kasihan Kuta pasti Kak Arkan marah, Jadi Dinda terima, Dinda pake, Besok lagi kakak jangan kasih apa-apa ya, Cukup kakak nyaman sama Dinda dan Dinda bisa ngobrol sama kakak santai, Gak lebih dari itu, Dinda cukup banget sama yang kayak gituan," ucap Dinda panjang.
Arkan menyeringai tipis. Perempuan seperti Dinda yang terlalu mudah cukup yang terlalu sederhana bahagia, Apa bisa bahagia jika bersama Arkan?
Dinda menoleh ke arah lainnya berung ulang karena sepi.
"Kak... Kok Dinda ngersa gugup ya, masalahnya terakhir ke atap Dinda masuk rumah skait sekarang... hem.. bukannya gitu kak tapi," ucap Dinda ragu takut jujur jika tidak nyaman karena Arkan, Dinda terpaksa melawan takutnya. Seketika Arkan menoleh.
"Maaf... kejadian itu gak bakalan terulang buat seterusnya. Dan.. Dinda, ada satuhal yang harus kamu tahu," ucap Arkan serius berbalik badan menatap Dinda.
Dinda terdiam menatap Arkan serius.
"Gue, Akan selalu ada buat lo, ngomong lo gak nyaman, ngomong kalo gak suka, jangan di simpen sendiri... Dinda lo mungkin akan benci gue," ucap Arkan dengan tatapan dinginnya
Mata Dinda menatap netra yang menatapnya serius itu
"Kenapa kak," ucap Dinda.
"Gue punya Geng bahaya dan lo pasti tahu kalo Kuta Gareng Diyo Rettrigo yang pernah ketemu lo, mereka semua Mafia tengkorak, Gue... Ketua mereka," ucap Arkan.
Dinda terdiam menunduk kedua tangannya mengepal.
Mundur perlahan Dinda gemetar hebat kaki dan tubuhnya.
Reaksi Dinda sangat takut.
"Ka..Kakak Ketua Mafia, Kakak bukan cuman geng motor aja," ucap Dinda dengan suara yang gemetar.
Arkan mengangguk dua kali dengan tatapan serius.
"Haah... Gak.. Kakak, Pasti gak sejahat itu, Kakak... Kakak gak suka darah kekerasan senjata dan... Hiks.. Kakak," ucap Dinda terhenti seketik wajahnya terangkat menatap Arkan.
Dinda saking takutnya mengeluarkan air mata dan menangis kecil.
Arkan menunduk malu tidak berani menatap Dinda, Arkan sudah tahu jika ini terjadi, benar jika seharusnya Arkan tidak mengatakan yang sebenarnya, Dinda akan tetap dekat dengannya tapi, jika Dinda tahu dengan sendirinya Arkan tidak akan bisa berbuat apapun.
"Maaf... Maaf," ucap Arkan berulang.
Dinda mengambil nafas dan mengatur nafasnya.
Seketika Dinda menutup wajahnya yang memerah wajahnya malu.
"Kak Arkan senyumnya manis banget... Aaaa.. Dinda gak kuat," ucap Dinda ketika wajahnya tertutup kedua telapak tangannya.
Arkan terkekeh. Tiba-tiba Dinda semakin memerah wajahnya malu.
Arkan tambah gemas dan mengusap kepala Dinda.
"Ayo ikut, Aku mau tunjukin sesuatu kekamu?," ucap arkan.
Dinda membuka kedua telapk tangannya dari wajah.
Haaha... Kak Arkan bilang Aku kamu!
"Aku kamu, kenapa kak... kok ah.. jangan-jangan kakak mau aja ya, ya udah gak papa," ucap Dinda dengan atusias.
Arkan mengangguk dengan senyuman diwajahnya.
"Haaah.. Berarti gak ada lo gue kak, Kalo Dinda pake kata Lo gue gimana Boleh?" Menggoda Arkan seketika Arkan memasang wajah kesal.
"Gak." Jawab Arkan cepat. Dinda tersenyum sennag.
"Oiya. Kak kakak memangnya kemaren kemana?" ucap Dinda.
"Ketemu temen." Sahut cepat Arkan singkat sambil melangkah berbarengan dinda turun dari Atap.
Dinda terdiam.
"Siapa?" ucap Dinda lagi penasaran.
"Yang kasih sweeter itu," ucap Arkan jujur.
Dinda terdiam.
"Ehm.. Berati cewek dong, kalo cowok gak mungkin dong, Berarti bener itu Kuta yang anter, Kakak ini... Dinda gak bisa di bohongi," ucap Dinda.
Arkan menatap Dinda menghentikan langkahnya sebentar.
"Kalo Kakak punya temen cewek gak masalah kakak mau punya temen kayak yang kakak bilang, Gak masalah Dinda bebasin kok, Kita juga gak ...papa," ucap Dinda mengerem mendadak takut keceplosan.
Tadinya sih mau bilang kalo kita bukan siapa-siapa karena Kak Arkan gak ngajak pacaran huuh.. gimana ya, Cemburu salah gak cemburu kok pengen cemburu, Dinda Aneh.
Sambil berjalan keluar sekolah Arkan mengajak Dinda untuk naik ke motornya. Seketika memakaikan helm dan itu membuat Dinda terkejut.
*
Arkan menatap Dinda dengan wajah sedikit senang tapi dalam hatinya Arkan sangat senang. Di rumah kakeknya, Dinda datang ketika Kakek dan Nenek sedang tidak ada dirumah.
Turun dari motor Dinda berjalan duluan Arkan hanya menatap Dinda dari belakang.
Deheman Arkan seketika, Dinda menoleh.
"Eh... Heheh Maaf," ucap Dinda mundur lagi dan berjalan berbarengan dengan Arkan.
Sekarang Dinda duduk di ruang tengah bosan terlalu lama Dinda bangkit dan mulai melangkah penasaran tentang rumah besar ini tidak sengaja berjalan-jalan.
Tiba diruangan yang pintunya putih Dinda tidak sengaja membukanya.
"Waah.. rapi, Yaaelah kalah Dinda," ucapnya untuk menyindiri dirinya yang sama sekali kebal sindiran.
Dinda masuk dan melihat semua ruangannya seketika Dinda melihat ada ikan yang dulu Dinda ingin beli karena dulu masih Sd uang jajan harus irit Dinda hanya sering melihatnya.
"Ih.. Lucu," ucap Dinda memaikan jarinya di luar aquarium dengan lampu biru dan tersenyum
Arkan seketika melihat tidak ada Dinda di tempat lalu menoleh keatas, Kamarnya? Kamarnya terbuka. Arkan naik keatas membawa dua minuman.
Arkan masuk dan melihat Dinda bermain dengan Ikannya.
"Kamu suka," ucap Arkan.
"Iyaa.. Nih lucu, Eh... Kak Arkan," ucap Dinda sadar jika dirinya menjawab ucapan seseorang. Dinda berbalik dengan kursi dan melihat Arkan disana Arkan meletakan satu gelas di atas nakas satunya di meja dekat sofa ruang kamarnya.
"Kakak.. Maaf Dinda keluar aja, ini kamar orang ya, Maaf," ucap Dinda seketika bangkit dan melangkah seketika itu langkahnya terhenti dengan suara Arkan.
"Duduk Aja, Buka pintunya yang lebar." Kata Arkan dengan wajah Datarnya. Takut-takut Dinda melakukannya membuka pintu lebar dan melangkah duduk di sofa, sebelumnya mendorong kursi yang ada di depan Aquarum ketempatnya semula.
"Kamu gak sopan," ucap Arkan. Dinda tertegun.
"Eh.. Maaf kak, Dinda penasaran, Bosen sendirian ini rumah kak Arkan sendiri," ucap Dinda asal.
"Ini ruamah Kakek," ucap Arkan. Dinda mengangguk seketika sadar dan terkejut meneguk ludahnya kasar, meringis takut.
"Eh.. Di luar aja yok kak," ucap Dinda mulai malu dan tak enak.
"Gak perlu sebentar lagi aja kita keluar rumah, ucap Arkan seketika membuat Dinda menatap heran.
"Laah.." ucap Dinda.
Arkan menatap Dinda.
"Minum, Kalo gak mau gakpapa," ucap Arkan. Dinda terkejut, langsung menyambar gelasnya di meja.
"Eh.. enggak kok kak Di minum kok," ucap Dinda
"Ini kamar ada pemiliknya, kamu masuk gak se izin pemiliknya, Kamar ini gak pernah ada yang berani masuk kecuali di izinkan," ucap Arkan dengan ajah Datar. Dinda menciut takut sekali sekarang.
"Yaa.. Makanya kak keluar aja yuk, Pantesan kamarnya rapi, Maaf yaa buat yang punya kamar, maaf Dinda gak ngubah apapun cuman pinjem kursi tadi sama ikannya bagus, Soalnya Ikan itu lucu," ucap Dinda dengan wajah takut.
Arkan terkekeh, puas mengerjai Dinda yang polos.
Arkan menggeleng.
"Aku yang punya kamar ini," ucap Arkan.
Tersedak Dinda ketika minum lalu terbatuk dan minum lagi dengan pelan.
"Kakak Bercanda mulu, Ih serem gak lucu, Eh.. Dinda suka kok, Kak Kayak gini ya kalo sama Dinda soalnya senyuman kakak manis dan ganteng banget, Itu punya Dinda aja, Yang lain gak boleh apa lagi kak Citra." Oceh Dinda panjang yang ketika kesal lalu mengubahnya dan membuat wajah arkan yang merasa bersalah menjadi tersenyum lagi.
Arkan mengangguk.
Sekarang Mereka keluar seketika Dinda menyenggol foto yang tergeletak diatas nakas karena mengambil ponselnya, posis foto tergeletak begitu saja.
Pecah kaca bingkai itu dari senggolan tangan dan jatuh ke lantai.
Arkan menoleh.
"Aw..." Berdarah jari Dinda seketika Dinda menghisapnya dan kembali membereskannya.
Melihat foto dua orang dewasa itu membuat Dinda merasa tidak asing, yang laki matanya mirip Arkan yang perempuan cantik dan putih kulitnya seperti Arkan.
"Itu orang tua ku," ucap Arkan ketika Dinda lama mengamati foto itu.
Dinda terdiam. Merasa bersalah sekarang Dinda.
Ih.. sifat Cerobohnya Dinda... Dinda sebal. Kenapa?Dind kenapa menyulut api masalah, Ih... malu Dinda.