Arkan Dinda

Arkan Dinda
Pembasmi serangga



Pulang sekolah beneran Dinda melakukannya kini di halaman depan lapangan volly Dinda berhadapan dengan Lily and the gang. Kiran Lia dan Yeni duduk di sana menonton.


Jika sudah kewalahan baru Mereka maju.


"Lo Anak dari istri simpanan diem aja lo," ucap Jeni.


"Songong kayaknya nih anak," ucap Jeni lagi pada semua temannya memanasi Lily juga.


"Sok emang gegara helm di beliin kak Arkan, dianter pulang beberapa kali jangan ngerasa kecakepan lo," ucap Lily.


"Apa maksudnya yaa, Maaf tapi gue gak mau ribut gue cuman mau bilang gak ada untung dan gak dapet duitnya lo semua buat gue sengsara ngerti," ucap Dinda dengan melipat tangannya santai.


"Jaket kak Arkan kan itu," ucap salah satu teman Lily seketika mereka menajamkan sablon gambar itu yang bergambar tengkorak dan tulisan Adventure gang Free.


"Kasih gue tuh jeket lo gak pantes pake," ucap Lily seketika maju dan akan meraih jaket itu tapi, Dinda menahannya.


"Gue bilang gue gak mau ribut, Lo pada ngerti ngalus gak sih bahasanya, Dulu gue diemin karena gue masih kelas sepuluh sebelas gue sengaja lemah gue haha hihi kalo ketemu kalian, semua sengaja biar kalian ada kesempatan mikir tapi, Otak cetek lebih cetek dari gue malah gini jadinya di kasih hati mintanya ampela," ucap Dinda.


Seketika itu Hentakan tangan Dinda membuat tangan Lily sakit.


"Yang istirahat pertama itu adalah terakhir lo ngebully gue apa mau gue abisin lo di depan kepala sekolah mau lo pada," ucap Dinda.


"Halah anceman!" ucap Jeni dengan judesnya.


"Hiih.. Siniin jaket kak Arkan biar gue aja yang pake," ucap Lily lagi menarik narik jaket itu seketika sebuah tangan besar menekannya.


Maulana datang dan membuat Kiran juga Yeni segera menghampiri Dinda.


"Maul apaan sih lo dateng segala, gue gak di butuhin lo," ucap Dinda kesal.


Seketika Lily menatap Dinda marah dan pergi setelah melepaskan tangannya dari Maulana.


Dinda langsung pergi dari sana dan seketika itu Maulana mengejarnya dan seketika menarik tangannya dan seketika itu Maulana memeluk Dinda tapi, tidak bisa dan Dinda menahannya dengan tangan yang bebas dan mengepal bersamaan itu tinjunya yang keras memukul dada Maulana.


Arg....


Jika terpaksa pukulan Dinda bisa sangat sakit.


"Aagrh.. Sakit Din," ucap Maulana seketika melepas tangannya dan menjauh. Yeni Kiran dan Lia menahan tawanya agar tidak terdengar.


Dari kejauhan Lily dan gengnya menatap hiburan gratis itu dengan kekehan remehnya.


"Cewek murah, Yo Girls balik," ucapnya pada teman-temannya.


Di ruangan dengan masih membahas hal sama Arkan dan semuanya seketika menemukan siapa orang itu berkat Rayhan yang seketika memberitahu.


"Di telepon ini jangan matikan dulu," ucap Rayhan pada Arkan yang baru akan memutus sambungan teleponnya.


Arkan membesarkan suaranya dan Yuda juga Justin bekerja keras meretasnya.


Rian dengan tablet lipatnya seketika menemukannya setelah bantuan Justin.


"Namanya Alderos Sozhak," ucap Rian lalu memberikan transfer info pada Yuda.


Terlihat di proyektor besar itu wajahnya. Rambut putih dan berewok putih dengan wajah yang sangat segar, tua sih.


Seketika Biodata disamping foto itu muncul dengan jelas.


"Arkan membesarkan gambar itu dari mode sentuh hologram atau seperti menyentuh udara tapi ini seperti sentuhan virtual.


"Laah.. Lupa gue, ini proyektor Arkan," ucap Justin meletakan senter merah itu di seperti pen di atas meja.


Arkan menarik keluar gambar dari proyektor dan dan membuka semua tentang Alderos Sozhak.


"Kemungkinan dia akan lebih baik jadi tentang proyek tiga tahun itu adalah dia pemegangnya, bisa jadi!" ucap Rayhan di telepon seketika membuat Rian menoleh.


"Aku tahu itu, Giovano mengatakannya sekarang semua perusahan di tangan Giovano diserang dari bawah, rumah sakit dengan atas nama MC hampir di rebutnya jika bisa juga Farmasi yang ibumu kelola bisa saja jatuh ketangannya." Kata Rian yang baru sadar satu masalah yang sedang dia kerjakan.


Penjelasan Rayhan membuat keenam bujang itu berpikir keras seketika semua mengerti.


"Maksud anda Proyek T3Y adalah peroyek yang membuat satu dunia menjadi tempatnya kriminal berkumpul dan maka dari itu di butuh geng tengkorak untuk menjadi sasarannya dan untuk melengkapi itu berarti dia mengincar tengkorak setelah Arkan menjadi pemimpinnya, Cakupan tentang Arkan pewaris tunggal cepat sekali menyebar," ucap Rian seketika membuat ke enamnya berwajah serius.


"Iya. Dan maka dari itu aku masih mengawasi Dinda, Selagi Arkan jauh dari Dinda yang selalu bersama Arkan, mungkin ketika itu mereka kira sebagai Dinda kelemahannya, alhasil kejadian pertama waktu itu membuat Dinda koma, Mereka tidak bisa terima jika sebenernya Aku masih ada dan membantu tengkorak dan Arkan, Dan Hansimon juga sedang ada di rumahku saat ini membantu semuanya," ucap Rayhan.


"Heran gue ama orang ini jangan-jangan semua ada di dalam masa lalu lo Kan, Gue curiga!" ucap Lorenzo, celetukqnnya membuat Arkan berpikir.


"Semua emang berhubungan dengan masalalu Arkan dan Dinda tanpa sengaja," ucap Rayhan yang ikut menyahut.


"Bukankah Giovano mengatakan jangan terburu-buru sekarang kau sudah memegang ekornya cepat atau lambat mereka akan datang padamu tidak terduga nak," ucap Rayhan menarik nafas dan melembutkannya ketika di kata terakhirnya.


Seketika itu Arkan mengamuk melempar gelas ke dinding hingga pecah berantakan. Bagi Arkan ini di luar kendalinya cepat atau lambat permainannya bisa berbalik menyerangnya.


Sebelum itu terjadi Dinda orang pertama yang harus Arkan lindungi, Tidak ada yang boleh menyentuhnya.


"SIALAN," umpatnya.


Semua seketika terkejut.


"Jadi ini maksudnya Giovano," ucap Arkan pelan tapi, terkesan merinding di dengar Lorenzo dan Bagus yang belum reda dengan kagetnya.


"Gue keluar kalian istirahat duluan nanti," ucap Arkan dengan menarik urat masih dengan kemarahannya.


Arkan meminta alamat Alderos Sozhak yang ada di Swiss pada Yuda.


Seketika Justin mencekal tangannya.


"Tenang Kan, Gak gini selesainya lo sama aja masuk kandang singa, Gue bilang juga apa, Kita tim kerja sama sedikit kenapa?" kesal Justin seketika membuat amarah Arkan mereda sedikit.


Seketika itu semua duduk di sofa dan mulai berpikir.


"Aku pikir kau pasti butuh nama ini selain anak itu," ucap Rayhan seketika mematikan telepon dan mengirim informasi.


"Maulana," ucap Arkan pelan tapi Justin bisa dengar itu.


"Satunya Anak kelas 12 Ips," ucap Lorenzo ketika melihat ponsel Arkan di pegang Justin.


"Iyaa dulu dia anak kelas 11 ips sekarang 12 ips emang salah! benerlah," ucap Lorenzo ngotot dengan tatapan Rian.


"Enggak gue rasa ini ulah Violeta," ucap Rian seketika mengalihkan atensi Arkan yang kesal menjadi menatap Rian lekat.


"Iya Gak sengaja waktu itu gue liat Violetta ada didepan bengkel lo dan gue kira itu dia dan ternyata bener dong, Tapi, gue rasa kenapa cakupan dia bisa sampe sebesar ini gak masuk akal."


"Apa maksudnya lo manggil nama itu lagi Bambang,"kesal Lorenzo.


"Gak itu sengaja karena gue mergokin dia gak sekali dua kali, Gue rasa dia ada hal yang gak bisa kita tahu, Gue tahu waktu itu di lompat dari ketinggian dan mati tapi tentang peroyek T3Y itu gue juga ngersa punya tu anak," ucap Rian yang tiba-tiba menyimpulkan hal besar itu pada Gadis yang sudah di kabarkan meninggal bunuh diri karena mencitai Arkan sangat dalam lalu kecewa dan bunuh diri.


Seperti angin segar. Arkan mengambil air dan menenggaknya seketika meminta Semua menatapnya dengan meletakan gelas sedikit keras.


"Gue ada cara," ucap Arkan dengan seringainya. Ada ide cemerlang yang sudah dia susun rapih sekarang.


Ini mudah sebentar lagi semua akan selesai dan benar benar selesai, Gagalnya peroyek T3Y, yang tinggal beberapa bulan itu akan hancur lihat saja.