Arkan Dinda

Arkan Dinda
Jangan sepelekan masalah kecil



Arkan keluar rumah sakit dengan jas sudah di sampirkan di tangannya. Rayhan juga ikut keluar bersama Arkan ke depan.


Baru saja Istrinya dan Dinda datang dengan membawa vitamin dan segala keperluan untuk kehamilan Dinda kedepannya.


"Kakak!" Seperti anak kecil yang manja Dinda menyapa Arkan dari jarak yang hampir mendekat.


Arkan tersenyum menatap Dinda dan melebarkan tangannya. Dinda tersenyum Arkan ingin menerima pelukannya dan langsung memeluknya yang sudah berlarian mendekat. Arakan sadat Dinda sedang hamil.


Om Rayhan juga sama. Begitu juga jantung Arkan deg-degan jika tersandung dan jatuh tidak tahu bagaimana nasibnya.


"Kakak," ucap Dinda ketika menubruk Arkan dengan sedikit kencang. Seperti terhuyung kebelakang rasanya. Arkan sedikit meringis khawatir bukan sakit di tubruk Dinda tapi, Arkan takut menyakiti sesuatu didalam perut Dinda.


"Hati-hati ada nyawanya Dinda," ucap Arkan menunjuk perut Dinda. Dinda tersenyum lebar tanpa beban dan rasa bersalah.


"Maaf Kak... Heheh."


"Om Tente. Aku pulang Dulu," ucapnya Sambil menciumi tangan Tante Arkan dan Om Rayhan.


"Iya Din, Hati-hati... Kamu kalo mau lari-lari nanti pas udah delapan bulan sekalian keluar anaknya,"Om Rayhan pada Dinda seketika di cubit istrinya.


"Enggak bener sayang, jangan dengerin om kamu yang Sengklek," ucap Tantenya Arkan.


Dinda mengangguk tersenyum Arkan juga pamit.


Mereka pergi dan meninggalkan Om tantenya melihat mereka masuk mobil.


Duduk di dalam mobil. Dinda mencari sesuatu di pelastik yang bersamaan membeli vitamin tadi.


Arkan melihatnya.


"Buat apa?"


"Ganjelan kak, Gak enak kursinya kebetulan di beliin tante tadi soalnya Dinda bilang kadang gak enak duduk senderan lama di mobil."


Arkan mengangguk dan melihat Dinda tenang dengan duduknya baru menjalankan mobilnya.


Setelah Tenang Dinda dengan duduknya Arkan melajukan mobilnya perlahan.


Setiap ada polisi tidur keluar rumah sakit Arkan pelan-pelan.


"Pelan banget kak?"


"Ada kamu, aku harus hati-hati sekarang apa lagi dia anak pinter, Gara-gara dia juga aku gak tahu kalo kamu udah telat tiga bulan dan gak ngalamin muntah segala macem, dan sekarang dia baru kasih tahu," ucap Arkan.


Dinda tersenyum mengusap perutnya perlahan.


"Kakak Kira-kira aku kayak gimana setelah hamil?"


Pertanyaan aneh Dinda seketika membuat Arkan terdiam menoleh lalu fokus ke jalanan lagi.


"Mau kamu hamil atau belum hamil kamu Tetap cantik sayang, Sekarang tambah cantik," ucap Arkan.


Pipi Dinda langsung memerah malu.


Tapi, semua itu menghilang ketika perkataan Kakek waktu itu untuk Arkan tetap menikahi perempuan lain, Dinda mengingat lagi.


Seketika suasana mobil sepi.


Arkan juga diam saja hingga ponselnya bunyi dengan layar panggilan nama Kakek.


"Kakek Kak."


Arkan menoleh.


"Tolong pasangin Bluetooth nya," ucap Arkan. Dinda mengerti dan mengambil alat pendengar telinga ketika sedang menyetir dan memasangkan salah satunya di telinga Arkan dan menyambungkannya di ponsel Arkan.


Di ruangannya Kakek dan Pak Johan. Bersamaan itu ada dua orang tuanya Zalfa duduk dengan wajah tegang dan panik.


"Arkan bisa-bisanya kamu lakukan itu tadi," ucap Kakek menatap kearah orang tua Zalfa.


"Iya Kek," Sahut Arkan singkat.


"Kamu tidak tahu jika resikonya besar, Ingat Arkan ini bukan masalah sepele ini menyangkut dua perusahaan dan kerja sama yang sudah bertahun-tahun terjadi dengan sangat baik."


"Aku tahu Kek," jawab Arkan dengan tenang.


"Apa kamu mau membuat Kakek kehilangan semua aset berhaga kakek karena kebodohan kamu membatalkan kerja sama sebelah pihak. Anak tidak tahu diri, Kamu ceroboh!" Kakek hampir kesal sendiri bicara di telepon.


Wajah Kakek malu di tampakan di hadapan Dinda sekarang karena sikapnya waktu itu.


Arkan menghentikan mobilnya di lampu merah.


"Arkan akan tanggung semuanya. Kakek lupa siapa menantu kakek dan bagaimana Kakek bangkit lagi, Aku ini putranya kuasa penuh dari Alejandro aku pegang," ucap Arkan seperti orang sombong tapi, kenyataannya begitu. Keputusan sebelah pihak dan harus membayar Denda itu tidak masalah selagi Arkan bisa melakukannya kenapa tidak.


"Kamu sombong!"


"Aku lupa itu dasar Anak Prawira," ucap kakek lagi.


Seketika telepon terputus. Arkan mengambil ponselnya dan menelpon Alejandro.


Dengan bahasa asing.


Setelah apa yang ingin Arkan katakan Alejandro setujui Arkan tersenyum.


Di tempatnya. Alejandro dan dua asistennya sekarang menyiapkan beberapa hal yang Arkan minta. Dan juga beberapa aset berhaga untuk menggantikan Aset yang sudah Arkan sia-siakan karena semuanya demi Arkan tidak menikah dengan perempuan selain Dinda.


"Kenapa kak," Dinda tiba tiba ingin tahu dan Arkan terdiam menoleh sebentar mengusap kepala Dinda.


"Gak sayang, Gak papa gak ada masalah."


Dinda mengangguk menatap Keluar jendela.


Di rumah Kakek di ruangan Kakek baru saja di tinggal pergi kedua orang tua dari Zalfa.


"Aku tidak berharap mereka menjadi besanku setelah Arkan selihai ini melakukan semuany, Aku atau dia sendiri yang membuat dirinya menjadi seorang yang sangat cerdas dan bergerak dua langkah lebih baik, Dasar putra Prawira," ucap kakek menatap pintu keluar.


Pak Johan hanya diam mendengan ucapan Kakek.


Di ruangannya Syifa bersama Stella baru saja sampai setelah mengambil dokumen pembatalan kerja sama dari perusahan Ibunya Zalfa.


"Tante. Apa aku ketinggalan berita kenapa Arkan malah batalin kerja sama. Dan kenapa kita kesana kok kayaknya pada gak suka," ucap Syifa menatap Stella.


"Ini yang pasti, bukan masalah sepele," ucap Stella.


"Iya Tante bener, Aduuh pening kepalaku Tante... karena masalah Dinda kemarena sampe Kakek Arkan manggil aku, Sekarang Arkan minta surat pembatalan kerja sama aku yang ambil, sebenernya tuh ada apa sama Dinda dan Arkan sih," Gemas Syifa memikirkan keduanya sambil memijat pangkal hidungnya.


Asyifa melangkah duduk di sofa di temani Stella dan tidak lama datang minuman cafe yang Stella pesan.


Setelah Istirahat di rumah Arkan mengajak Dinda keluar. Setelah Dinda memohon untuk pergi keluar katanya kemana aja yang penting jalan.


Arkan mengangguk menuruti kemauannya.


Arkan membawa Dinda ke Markas sebelumnya Arkan meminta semuanya jangan ada yang memberi tahu Dinda dan juga bersihkan beberapa tempat. Silla dan Gressia akan menjaga Dinda dan termasuk kemanapun Dinda pergi.


Pesan itu langsung sampai pada Hansimon dan semuanya mengerjakan sesuai keinginan Arkan.


Bersamaan itu sebenarnya Pak Jersey sedang ada di markas tanpa Arkan tahu.


Sampai di markas Arkan turun dan membukan pintu untuk Dinda dan memberikan mantel hangatnya, udaranya akan dingin menjelang magrib.


Dari dalam Silla dan Gressia datang menyambut Dinda.


"Nona." Sapa Mereka Dinda menoleh.


"Hay.. Kalian apa kabar lama ya gak ketemu," ucap Dinda.


"Kami Baik Nona," sahut Silla.


"Aku titip istriku," ucap Arkan melangkah masuk sebelumnya mengecup dahi Dinda.


Dinda menatap Arkan yang pergi.


"Ehmm... Nona ada sesuatu indah sebelah sana anda bisa kesana sebentar kami akan temani," ucap Gressia mengalihkan pandangan Dinda.


Dinda menatap bingung menoleh kearah yang Gressia tunjukan


"Ada apa disana?"


"Sesuatu yang indah," ucap Silla.


Dinda mengangguk mereka berdua menemani Dinda pergi ke arah dimana tempat santai menatap matahari terbenam dekat bangku taman sembari melihat hewan yang sedang duduk juga bermalasan menikmati matahari terbenam.


Di dalam Arkan mencari Gareng seketika Gareng datang dan baru duduk.


Seketika itu Arkan melihatnya dan menghajar Gareng tanpa ampun hingga Gareng yang terkejut tidak bisa melawan sampai Gareng tersungkur dengan wajah banyak darah dan Arkan menghajar hingga di wajahnya sendiri hanya ada raut tanpa ekspresi.


"Cukup! Kamu bisa membunuhnya," ucap Pak Jersey. Seketika Arkan melempar kerah baju Gareng dengan kasar.


"Lo Jawab Gue, Lo yang buat Dokter Zalfa Hamil dan minta dia cari pengganti ayah dari anaknya yang udah di kandung 7 bulan, jangan Kira Gue lo bisa B*go in, Lo pikirin nasib anak itu Baj*ngan," Kesal Arkan. Dengan beralih berjongkok di hadapan Gareng dan seketika itu Gareng mengangkat wajahnya dengan malu.


"Maaf Bos."


"Gue gak bisa Maafin lo kalo Lo belom minta Maaf sama Zalfa, Gue bilang jangan ada **** bebas, Lo ngelakuinnya dan Lo kebobolan kan," ucap Arkan dengan emosi wajah datarnya masih di tunjukan.


"Gue gak bisa tanggung jawab gue gak bisa sama dia, dia Dokter dan gue cuman apa, gak ada apa-apanya dan Orang tua dia gak suka kalo bukan kerjanya pegawai negeri, Gue bukan pegawai negeri," ucap Gareng dengan nada yang bergetar.


Arkan menepuk pipi Gareng dengan kasar dan kencang.


"Lo Laki, Lo udah buat Zalfa jadi ibu anak lo, dan Lo malah pergi gitu aja, Jadi enak di elo, Pahit di dia B*go," ucap Arkan lagi dengan kasar.


"Liat gue BangS*t. Gue lagi ngomong."


Seketika semua yang memperhatikan Arkan dan Gareng dengan gemetar ketakutan kecuali, Pak Jersey yang terkejut karena Arkan begitu marah dan terlihat kasar dan kejam.


"Maaf Bos." Takut Gareng hanya bisa mengatakan itu.


"Brengsek!" Arkan sangat kesal sekarang.


"Lo tahu, Zalfa mau di jodohin sama gue dan Dinda lagi hamil, Lo bisa bayangin gimana anehnya posisi Gue, dan Lo gak akan tahu rasanya, Gue harus apain supaya Lo mati sekarang!"


"Arkan Sabar," ucap Justin yang ada disana.


Arkan menendang kursi didepannya hingga hancur. Justin maju bersama Lorenzo dan Yuda Rian dan Bagus memberikan Arkan tempat untuk duduk di Sofa.


"Nama Asli Lo Diego Yassya dan Lo cuman deket sama Zalfa, sekarang! Lo bilang ke gue kenapa lo gegabah Curut!" Lorenzo berjongkok didepan Gareng.


Seketika Gareng menangis. Dari ruangan lainnya terdengar keributan Anasty mengajak Zalfa keluar dan melihat apa yang terjadi.


Zalfa hanya diam ketika dirinya yang baru datang melihat Gareng menangis.


"Gue payah, Gue gak guna!" Gareng menyesal.


Yuda menarik kerah baju Gareng agar berdiri. Seketika terlihat wajah penuh luka pukulan Arkan. Seketika itu Zalfa memegang tangan Anasty dengan kencang dan tangan lainnya menutup mulutnya seketika air matanya keluar.


Tidak sengaja Arkan melihat keberadaan Anasty dan Zalfa.


"Masalah sepele jangan lo anggep enteng, Lo pikirin perasaan perempuan lo lahir dari perempuan yang udah bawa lo dalem perutnya sembilan bulan," ucap marah Yuda pada Gareng.


Zalfa menggeleng, Gareng memang harus mendapatkan hal itu karena Gareng dirinya sering di tanyai Hal tentang siapa ayah anaknya.


"Sepele bagi Lo, Lo gak tahu kalo Arkan sampe berantem hebat sama kakeknya karena Lo Tol*l," ucap Justin.


Baru kali ini Semua teman Arkan emosi dan marah mengeluarkan kata kasar. Karena kebodohan salah seorang geng menyeret Arkan dan Dinda.


"Zalfa baik mau nerima lo apa adanya, Baik mau ngandung anak lo selama tujuh bulan," ucap Arkan kembali mendekati Gareng.


"Sekarang lo liat sebelah kanan lo siapa yang lagi tangisin luka lo," ucap Arkan.


Seketika Gareng menoleh dan melihat Zalfa disana Zalfa membuang wajahnya dan pergi mengajak Anasty keruangan sebelumnya.


"Gue bantu lo, jangankan Gue semuanya juga bantuin lo kalo lo cerita, Kalo lo gak mau sama Lorenzo cerita, ke Yuda bisa atau ada Gue ada Rettrigo si jomblo tapi, diem-diem selirnya banyak bisa dia bantuin lo ngatasin jalan keluarnya," ucap Justin. Rettrigo yang diam-diam seketika mendengus ketika namanya disebut-sebut.


"Jangan sampe lo nyenggol bininya Arkan Bro," ucap Yuda lagi.


Gareng malu seketika Yuda melepaskan cengkraman kerahnya dan menjauh.


Pak Jersey menghampiri Arkan.


Memberikan amplop coklat.


"Itu tugas mu dan anak buahmu, Lakukan dengan baik. Aku tahu situasimu sedang buruk tapi, ini tentang istrimu juga," ucap Pak Jersey lalu pergi keluar dari tontonan geratis itu.


Gareng menatap Arkan.


"Apa gue masih bisa dapet maaf Kalian?" Gareng menatap semuanya Seketika Arkan acuh menoleh dan pergi meninggalkan Gareng.


"Arkan pasti maafin lo sekarang samperin cewek lo sama anaklo," ucap Yuda. Gareng mengangguk berjalan dengan pincang.


Lorenzo melihat Gareng berjalan hanya bisa ngilu.


"Bubar, apa kalian juga mau?" ucap Yuda. Semua langsung bubar dan menunduk takut.