Arkan Dinda

Arkan Dinda
Kesabaran Arkan



Dinda yang baru sampai di rumah langsung memasukkan motor ke garasi. Setelah masuk ke dalam rumah.


Seketika seseorang dengan sekboard lewat dan melempar sesuatu seketika tanpa sengaja Boby yang memang sedang lewat langsung menggapai dan tertangkap.


Seseorang yang memastikan barang yang di lemparnya masuk halaman rumah Dinda tapi, tidak bisa karena Boby menangkapnya.


Terkejut orang itu berlari dengan sekboard nya.


"Target barusan." Kata Boby mengabari temannya lewat komikasi radio telinga.


Sampai didepan gang seketika mobil sport coklat berhenti seketika itu sekboard berjalan sendirian meninggalkan pemiliknya yang jatuh karena menabrak mobil yang menghalangi jalannya.


Dinda masuk kedapur menyiapkan makan malamnya yang hanya nasi instan dan juga jajan yang di belinya di luar.


Seketika Dinda menangis.


Tangisan ini sudah di tahannya sejak datang ke rumah Syifa.


"Hiks... Kenapa.. kenapa aku gak bisa kayak mereka, apa ibu begitu karena aku anak yang gak di inginkan atau aku emang jelek, Iya Kak Syifa cantik Ibu Cantik Ayah Syifa juga ganteng, Aku bukan keturunan mereka langsung. Apa setega itu semuanya. Sendirian semuanya sendirian. Tapi, dilihat orang aku bahagia, Bohong banget nih takdir nyata."


Seketika Dinda mengusap air matanya kasar dan makan makanannya dengan menangis.


Disini sekarang Markas geng motor Arkan dan Lorenzo juga lainnya. Setelah dari markas tengkorak Arkan langsung ke markas geng motornya.


Langsung masuk dan mengambil air mineral dingin lalu duduk di kursi dekat meja dan menatap keluar jendela.


"Woy.. Ngapa lo gak beres keknya, Masalah lo sama Mafia tengkorak," ucap Devano dengan santainya sambil bermain ps.


"Hm." Tanggapan Arkan ketika malas bicara.


Sudah cukup sepertinya Devano bertanya. Sekarang semuanya yang ada di markas atau tempat tongkrongan diam senyap tidak bersuara mereka sibuk semua dengan urusan mereka masing-masing.


"Gue rasa Arkan marah banget, masalahnya Lorenzo ama Justin, Bagus belum datang." Seorang yang baru datang dan duduk teman main ps Devano dengan nada bicara berbisik.


Di perjalanannya membawa orang asing dengan sekboard akhirnya Boby datang dan membawa orang asing dengan topeng wajah putih masuk dan duduk dengan kasar di kursi yang orang teman Boby tarik untuk orang asing itu duduk.


Salah satu dari teman Boby, bukan anak geng motor saja melainkan Mafia tengkorak kiriman Arkan.


Boby juga hampir masuk menjadi anggota Mafia tengkorak Arkan tapi, Boby tidak ingin bahaya setiap hari, Geng motor trekk dan juga adventur di geng motor Arkan saja sudah kena omel orang rumah mau ke tingkat nakal golongan Mafia bisa habis Boby dengan orang rumah.


Arkan melempar botol kosong yang sudah di bentuk remuk dan berbentuk bulat kedalam keranjang sampah.


"Siapa?" Suara Arkan dengan dingin seketika membuat semuanya mundur dan menggeser untuk membiarkan Arkan duduk menghadap orang yang barusan di bawa Boby.


Boby membuka masker topeng itu dan Diyo salah satu anggota mafia tengkorak itu memberikan kertas dengan batu belum mereka buka sama sekali.


Terlihat lengannya sebelah kiri milik Diyo terdapat tato tengkorak dengan tulang berpola melingkar.


"Ngomong lo," ucap Boby.


Tidak ingin bicara justru suara kekehan yang terdengar.


"Jauhi semua yang berkaitan dengan Mafia tengkorak jika semua keluarga mereka mati kau hanya bisa menyesal," ucapnya lalu tertawa di akhir ucapannya.


Seketika Arkan lepas kendali dan memukulnya dengan brutal, seketika itu juga Yuda dan Justin menahan Arkan, Yuda Lorenzo Bagus dan Justin baru saja datang dan mendengar suara perkelahian langsung bergegas.


Orang itu sudah terkapar di lantai dengan batuk darah dan wajah penuh luka dan lebam. Masih saja terbatuk batuk bekas pukulan Arkan di perutnya.


"GUE TANTANGIN KETUA LO, PENGECUT... GUE TAHU DIA BISA DENGER DAN LIAT KARENA LO MATA-MATANYA."


Di ruangan dengan sofa hitam merah dan tv yang sangat lebar. Memperlihatkan wajah Arkan yang begitu jelas lalu wajah Yuda dan semua teman-teman Arkan.


Orang itu menatap serius seketika terkekeh dan meminta seseorang mendekat.


Membisikan sesuatu.


Orang yang di bisiki itu mengangguk.


Seketika di markas geng motor Arkan Arkan menarik radio dan penyadap suara di seketboard lalu di jaket hitam orang itu.


Braak.


Seketboard itu Arkan patahkan jadi dua. Seketika Arkan menyabut penyadap suara dan kamera.


Seketika Arkan memukulnya dengan tangannya sendiri di atas meja hingga Kamera dan penyadap suara itu hancur.


Orang yang sedang menonton di tv besar itu seketika tersenyum.


Kamera lain di jaket hitam milik seorang yang Boby tangkap.


Akan merobeknya dan semuanya menatap apa yang Arkan lakukan. Seketika jaket itu di robek berjatuhan kancing yang merupakan kamera mini yang menampilkan siaran langsung.


Kraak....


"Ini semua Periksa cari lokasinya." Kata Arkan setelah memecahkan semua lensa kamera mini itu.


Seketika itu juga Devano mengambil cips-cips mini langsung mengerjakannya bersama Diyo.


Arkan seketika menarik orang itu duduk dan Arkan mendekat dengan duduk di depan orang itu.


"Kalian semua pulang dulu biarin anggota inti aja," ucap Justin ketika paham tatapan Arkan.


Semuanya saling mengangguk dan menjauh pergi ada yang pulang ada yang memang tinggal tapi mereka untuk sekarang harus menjauhi Arkan yang sedang mengintrogasi orang asing.


Arkan membaca surat ancaman itu.


Arkan mengepalkan surat itu dan menatap dengan marah pada wajah yang menjadi pelaku pengirim.


Pesan surat ancaman yang di tulis dengan warna merah dan ada abu bakaran yang baunya masih sangat baru terlihat jika kertas itu terdapat bekas bakaran kertas di ujung surat itu yang terlihat ke hitaman dan abu.


"Gue tanya... apa maksud lo," ucap Arkan dengan menarik urat lehernya.


"Sabar Kan," ucap Bagus.


"Gus.. jangan sekarang." Lorenzo menghentikan Bagus yang berusaha meredam emosi Arkan.


"Heh.... Gue gak tahu, Kalian semua akan habis kalo kalian masih melindungi perempuan itu dan perempuan itu juga akan mati ketika berdekatan dengan kalian, Kalian tidak bisa bertindak jauh."


katanya seketika.


Arkan masih menatap aneh.


Plaaak....


tamparan yang keras Arkan layangkan.


"Lo mau ngomong pake mulut lo atau mau pake darah lo... oh lo mau gue cabik-cabik," ucap Arkan dengan wajah bengis dan tatapan dingin. Ini pertama kalinya Arkan sangat menyerupai iblis hanya karena seseorang berusaha mengancam nyawa Dinda.


Seketika getar di lutut orang itu terlihat. Ia memang mengatakan tidak takut tapi, reaksinya beda,


tubuhnya merespon jika saat ini dirinya sedang sangat takut dan ingin segera pergi dari hadapan iblis manusia ini.


"Ngomong lo..." Kata Lorenzo dengan keras.


Arkan seketika bangkit. Masih menatap dingin orang itu.


Bruuusk..


Jatuh dari kursi karena tarikan Arkan di kerah kaosnya.


Sangat kasar Arkan menarik.


Seketika orang itu bangkit dan akan berlari seketika itu Boby memukulnya.


Hingga jatuh ke lantai.


Tak cukup sampai situ Arkan menarik kakinya lalu menjatuhkannya ke dalam kolam air hujan.


Orang itu muncul kepermukaan.


"Huuaa..h"


Mencelumkan lagi kepalanya.


Lagi.


Lagi.


"STOP.." Teriakan orang itu merasa sudah sangat tersiksa.


Arkan menariknya dan melemparnya kelantai.


"Gue tanya sekali lagi lo jawab yang jujur."


Semua menatap orang yang sedang di siksa dan Boby tangkap tadi.


Triing,triiing...


Suara ponsel Boby bunyi seketika mengangkatnya Boby langsung pucat.


"KAN.. GAK BAIK, CEWEK LO BAHAYA!!" Seketika Arkan pergi ke motornya tanpa basa basi meninggalakan petunjuknya pada Justin dan Yuda.


Arkan langsung melajukan motornya kencang.


Bagus dan Lorenzo juga pergi seketika.


"Mau kemana lo padaan." Kata Justin.


Tidak ada yang menjawab.


Sekarang Yuda Boby dan Justin mengurus satu orang ini.


"Boby. Lo panggil anak-anak wakil anggota inti." Perintah Justin langsung Di lakukan Boby.


"Gue panggil lima orang gue," ucap Yuda. Justin mengangguk.


Disini di bawah cahaya lampu sinar jingga yang hampir redup Justin mengikatnya dengan lakban hitam di kursi.


"Sekarang lo ngomong semuanya."


Suara Justin yang terdengan dingin.


Di luar lima anggota mafia tengkorak berjaga.


Diyon dan Devano masih melakukan tugas dari Arkan. Sedangkan wakil anggota inti masih berjaga keliling.


Seperti markas mafia sekarang, markas geng motor teman-teman Arkan, padahal tempat kumpul geng motor Arkan yang penuh suasana anak remaja.