Arkan Dinda

Arkan Dinda
Diam saja.



Arkan baru saja turun dari tangga kamarnya setelah membersihkan dirinya dari debu. Hari ini Arkan pulang sedikit terlambat karena bengkelnya tutup lembur.


Arkan melangkahkan kaki ke dapur mencari makanan. Ketika akan membuka lemari nenek memanggil Arkan.


"Kamu lapar, Lemari sebelah kiri itu nenek sisakan untuk kamu," ucap Nenek dengan nada yang begitu perhatian pada Arkan.


Arkan membukanya mengambil makanan itu meletakannya di atas meja pantry.


Nenek juga ikut duduk didepan cucunya. Arkan menatap neneknya yang tersenyum menunggunya makan sampai habis.


"Hari ini apa saja yang kamu lakukan, sudah lama kamu tidak cerita pada nenek," ucap nenek sambil memperhatikan Arkan yang terus menyuap dan mengunyah makanan yang sangat di nikmatinya.


"Apa kamu ingin nambah, nenek sengaja masak makanan kesukaan kamu, pengasuh kamu yang membantu nenek sedang sakit jadi nenek sama pelayan lain yang masak," ucap Nenek dengan tersenyum.


Ketika Tidak ada air putih didekatnya Arkan menoleh kesana kemari dan akan berdiri mengambilnya. Seketika.


Nenek beranjak mengambilkan gelas dan teko air yang jaraknya sedikit jauh.


"Minum pelan," ucap nenek menyerahkan pada Arkan. Arkan menerimanya dan meminumnya.


Selesai Arkan makan. Nenek mengambil piring bekas Arkan seketika Arkan menyentuh tangan neneknya dengan lembut.


"Biar Arkan aja nek," ucapnya datar masih dengan nada sopan.


Nenek mengangguk membiarkan Arkan yang membereskannya.


Setelah selesai mencuci piring bekas makannya. Arkan kembali duduk di depan neneknya. Arkan diam saja menatap ponsel yang hanya di geser-gesernya dengan jari telunjuk dan di geletakan tidak di pegang.


"Arkan..." Nenek memanggil dengan nada lembut.


Arkan mengangkat wajahnya menatap mata dan wajah neneknya.


"Nenek penasaran kamu itu punya pacar gak.. kalo punya kenalin sama nenek dong," ucap nenek dengan wajah yang tidak kaku tidak datar juga, bibirnya terus memperlihatkan senyumnya.


Tatapan lembut selalu ada untuk Arkan, seperti sekarang.


Arkan menatap neneknya, senyuman tipis Arkan yang hanya diberikan pada nenek dan ibunya.


Arkan mengambil tangan neneknya.


"Enggak ada Arkan masih fokus belajar dulu," ucap Arkan tenang dan wajah datar nadanya juga lembut dan sopan.


"Hemm.. gitu, tapi, kalo ada nenek mau dikenalin," ucap nenek lagi. Arkan mengangguk kecil menatap neneknya.


*


Pergi ke tangga untuk masuk kedalam kamarnya Neneknya baru saja di panggil kakeknya untuk bicara. Arkan yang sudah menaiki tangga seketika berhenti di tangga ke sembilan dari bawah.


"Tunggu, Turun dulu kamu?" Kakeknya Arkan menoleh. Berbalik dan turun pelan menuju kakeknya.


Seketika.


Plak...


"Kamu itu harus cuek jangan pernah bantu orang lain yang bahkan enggak pernah bantu kamu, kalo kamu mau bantu orang yang menguntungkan buat kamu enggak gak ada keuntungannya."


Arkan memegang pipinya yang terasa panas. Arkan mengangkat wajahnya menatap kakeknya yang terlihat marah padanya. Arkan rasa Kakeknya sudah tahu tentang masalahnya membantu kakak perempuan Justin dan juga keponakan Justin.


"Mereka itu berteman dekat dengan kamu karena kamu anak orang kaya jika bukan anak orang kaya, mereka akan menjauhi kamu," ucap Kakek lagi dengan nada lebih marah.


Arkan hanya diam saja wajahnya menatap lantai.


"Kalo orang tua ngomong tatap wajahnya jangan nunduk, tahu salah kamu hah," kata Kakek lagi dengan nada marahnya.


Arkan tetap diam di tempatnya. Arkan melakukannya mengangkat wajahnya menatap kakeknya.


Plaak... tamparan keras di pipi yang sama kedua kalinya bisa membuat merah pipi Arkan dan sudut bibirnya robek sedikit.


"Gak berguna, sulit sekali mengajarkan kamu untuk bisa mendapatkan keuntungan dalam hal apapun."


Kakek pergi begitu saja dari sana meninggalkan Arkan sendirian. Arkan menunduk, tangannya mengepal keras kedua tangannya terlihat memerah dengan kepalan yang kuat itu.


Setelah kakek pergi dari arah dapur Nenek datang membawa alat kompres es.


Nenek tidak bisa berbuat apapun nenek juga takut dengan kakek. Kakek juga meminta Nenek untuk diam saja ketika kakek sedang memarahi Arkan.


Rasanya, sebenarnya Nenek ingin menghentikan kakek yang keterlaluan tapi, Nenek masih ingin menjadi istri yang berbakti.


Arkan melonggarkan kepalan tangannya perlahan mengangkat tangan lainnya untuk melepaskan tangan neneknya.


"Maaf nek Arkan mau sendiri," ucapan Arkan terdengar begitu menyedihkan di telinga nenek. Arkan lagi-lagi berhenti melangkah ketika nenek memanggilnya lagi.


"Arkan.. ini bawa alat kompresnya. Nenek enggak akan ganggu kalo kamu kompres pipi kamu," ucap Nenek. Arkan kembali berbalik mengambil alat kompres itu. Arkan kembali melangkah menaiki tangga.


Nenek menatap punggung Arkan yang perlahan menaiki tangga, tangan satunya memegang kompresan es yang di tempelkan di pipi.


Kasihan, Arkan terlihat tenang dan menerima semua perlakuan kakeknya.


Nenek juga sedih dan bersalah karena tidak bisa membela cucu kesayangannya.


*


Di kamarnya yang gelap dengan hanya lampu tidur diatas nakas menerangi kasurnya lalu lampu biru akuarium.


Arkan duduk di balkon dengan tenang wajahnya datar menatap langit Arkan juga sudah selesai mengompres pipinya yang terasa panas tadi sekarang sudah lebih baik.


Ponsel layar petirnya belum di perbaikinya. Arkan meletakan ponselnya di atas meja depan kursi yang ia duduki. Arkan masuk kedalam kamar mengambil laptop dan juga satu alat ponsel.


Arkan bisa mengganti layar yang retak itu sendiri. Tidak perlu pergi ke toko ponsel untuk memperbaikinya. Arkan sendiri saja bisa.


Arkan mulai mengutak atik ponselnya sedangkan semua kontak dan juga semua sosmednya di aktifkan di laptop.


Ketika selesai sudah mengganti dan memperbaiki retak di ponselnya. Arkan melihat ada banyak email dan juga pesan masuk banyaknya nomor asing yang masuk pesannya Arkan hanya santai saja. Pikirnya pasti dari beberapa orang yang biasa menghubunginya untuk bengkel atau urusan lainnya, bisa juga pesan penipuan.


Tapi satu pesan yang tidak sengaja Arkan buka. Pesan dari nomor asing yang terlihat dari cara pesan itu di ketik seperti bukan orang iseng.


"Assalamualaikum, Kak ini Dinda. Maaf kak soal yang pulang sekolah itu, Dinda makasih banyak karena bantuin Dinda."


Pesan singkat dari nomor asing isi pesannya dengan nama Dinda. Arkan acuh saja merasa tidak penting.


Seketika pesan masuk lagi.


"Kak Arkan boleh langsung hapus aja nomornya jangan simpen Dinda malu kalo sampe kak Arkan simpen nomornya."


Pesan dari Dinda lagi nomor yang sama.


Arkan menghela nafasnya panjang.


*


Dinda sudah sangat malu berjingkrakan tidak tentu seperti katak yang ingin keluar dari perangkapnya. Dinda menahan jeritannya dengan gemas. Dinda juga mengalami detak jantung yang tidak beraturan. Dinda senang sekali pesannya langsung di baca Arkan Dinda awalnya malu mengirim pesan tapi, ketika akan menghapusnya Dinda malah mengirimnya.


Ketika sudah di baca Dinda langsung senangnya luar biasa bahagianya luar biasa.


Dinda melihat pesan selanjutnya langsung di baca Lebih senang lagi Dinda, rasanya ingin pingsan sekarang.


Tanda Online diatas. Berarti Arkan sedang online.


Seketika akan mengetik Tanda online itu menghilang.


Dinda kecewa. Tapi, tidak masalah...Nomernya tidak di simpen tidak masalah. Pesannya sudah di baca Arkan saja atau dilihat Arkan saja Dinda sudah sangat senang.


Huuh.. rasa senang berlebihan ini membuat Dinda haus.


Keluar kamar Dinda melangkah memasuki dapur. Terdengar ketukan pintu. Dinda segera membukanya.


Ibunya.


"Ibu pulang," ucap Dinda.


"Diem lo, gue mau istirahat. lo jangan ngomong gue pusing denger suara lo."


Dinda terdiam.


Membiarkan ibunya berjalan sendiri dengan sempoyongan.


Dinda mencium bau alkohol dari pakaian ibunya dan parfum ibunya.


...Kemarahan membuat segalanya menjadi lebih sulit, dengan tidak mau menerima dan memahami keadaan dan juga mendengarkan penjelasan...


...~ Arkan Prawira....