
Pagi hari datang dengan cerahnya Indri sibuk membangunkan Lorenzo yang baru tertidur setelah sholat subuh di masjid.
"Dek... Bangun, Maam, liat Enzo susah banget bangunnya," ucap Indri.
"Sirem aja kak," sahut Papanya dari dapur.
Lorenzo di tempat tidur langsung bangun dan melompat dari kasur melangkah ke pintu dan membuka pintunya.
"Berisik kak... Mau tidur aja ribet gak ada kuliah kak pagi ini, napasih aah..."
"Eh.. Ganteng... Denger ya.. Bangun siang seret rezeki, Tuh dari tadi Rita nungguin katanya mau ada omongan sama kamu," ucap Indri lalu pergi. Lorenzo menutup pintu kamarnya lagi dan bergegas mandi dengan mendengkus malas.
Di meja makan. Ibunya Lorenzo dan ayahnya Lorenzo mengajak Rita sarapan sekalian.
"Ah... Makasih tante, Gak enak saya," ucap Rita malu ketika Ibunya Lorenzo membuatkan Roti bakar coklat untuk Rita.
"Gak masalah sayang. Makasih ya kamu mau dateng pagi sarapan bareng kita, Aduh... sayang kalo Lorenzo bukan buaya darat pasti sekarang kamu yang jadi pacaranya."
Lorenzo menarik kursi membuat Ibu dan ayahnya menoleh.
"Anaknya di jelekin mulu, Ta.. Gak usah dengerin mereka suka gitu, Maaf Ya ta," ucap Lorenzo pada Rita yang tersenyum mengangguk kecil di bawah meja Rita mencubit perut samping Lorenzo.
Lorenzo mengaduh di tahan menoleh menatap tajam Rita.
"Brengs*k Lo suruh gue nunggu lo bilang katanya cepet. Lagian juga lo nahan tugas gue Zo," ucap Rita dengan tersenyum merapatkan giginya.
Lorenzo nyengir aja gak takut dengan ucapan Rita.
"Iya.. Tapi, itunya gak enak Ta. Sakit tahu, lo nih ngelunjak ya di minta dateng gue mau ajak sesuatu malah kek gini lo, Gak tahu terimakasih lo, Preet," ucap Lorenzo lagi.
Deheman ayahnya Lorenzo membuat keduannya seketika diam dan meletakan tangan diatas meja makan seperti sedang menunggu untuk makan bersama di mulai.
"Cie.. Dah mau bisikan-bisikan jangan-jangan mau main rumah tangga beneran ya, Tenang kok Zo Gue sebagai kakak lo menyetujui, Mau giimana, tanggal berapa, dimana tempatnya mau pesen apa ayo cepet!"
Kak Indri membuat keduanya jadi malu dan kedua orang tuanya bersemangat.
"Kak!" Kesal Lorenzo. Indri diam dan duduk pura-pura tenang tidak terjadi apapun.
Setelah sarapan Lorenzo pergi ke Restoran nya untuk memeriksa beberapa hal dan juga membicarakan tentang pekerjaan yang Rita mau.
"Gue cuman ada ini buat lo, Maaf karena sedeket apapun itu, kita kalo di tempat kerja cuman pekerja," jelas Lorenzo.
Rita mengangguk.
"Iya.. kitakan musuhan. Tenang aja sih santai, Gue makasih karena Lo nawarin kerjaan ini pas banget gue butuh. Dan kapan gue bisa mulai?"
Lorenzo menoleh memberikan kertas selembar pada Rita.
"Lo mau mulai sekarang bisa dan isi ini dulu," ucap Lorenzo tenang dan serius. Rita mengangguk dan mengerjakan mengisi biodata dan kelengkapan lainnya.
Seketika pintu ruangan Lorenzo terbuka. Ternyata itu Lolita.
"Haay.. Sayang gimana kabar kamu lama loh kamu gak jenguk aku aku kangen banget apa lagi waktu malem itu," ucap Lolita. Seketika Rita tersedak dan terbatuk keras. Lorenzo langsung memberikan air minum untuk Rita dan tisu.
"Lo kenapa bisa gitu?"
Rita menggeleng melanjutkan kembali mengisi biodata berkas untuk bekerja.
"Sayaang," Manjanya Lolita pada Lorenzo yang beralih menatap Rita.
Lorenzo berdehem.
"Kamu Mau apa?" ucap Lorenzo.
"Ah.. Kamu tahu aja aku mau jajan hari ini sama minta ongkos dong buat ke bali besok ke rajaampat juga," jelasnya sambil mengulurkan tangan meminta uang.
"Oh.." Lorenzo bangkit dan mengambil sesuatu di ruangan lain, lalu memberikan dua gepok uang ratusan dan setelah itu Lolita memeluk dan mencium pipi Lorenzo.
"Cukup?" Tanya Lorenzo. Lolita mengangguk cepat.
"Iya. nanti kalo kurang aku telpon kok," ucapnya Lolita sambil memegang kedua tangan Lorenzo.
Dari tempat duduknya Rita menahan kesal dan ingin muntah.
"Iya... Kita Putus aja ya sekarang aku bosen, Makasih ya udah bersihin hartaku," ucap Lorenzo. Seketika seperti pecahan kaca keras Rita ingin tertawa rasanya.
Sedangkan Lolita melepaskan pegangan kedua tangannya pada tangan Lorenzo.
Menatap kesal lalu beralih melipat tangan.
"Bagus lah untung kamu udah kasih kartu kredit kamu," ucap Lolita.
Lorenzo tersenyum.
"Oiya.. Maaf ya cantik tapi, Hari ini kartu kredit itu aku blokir dan yaa... itu uang sisa nya aku kasih," ucap Lorenzo di lembutkan.
Lolita pergi dengan marah membanting pintu.
Rita langsung tertawa terbahak-bahak.
"Lo ngapa?" Bingung Lorenzo melihat Rita tertawa setelah Lolita pergi.
"Kagak Zo.. Lo.. Hahah.. Lo abis sedekah," ucapnya. Rita masih tertawa.
Lorenzo tersenyum. Gimana gak nganggep sedekah cewek gitu minta duit mulu tiap Dateng dan baru jadian seminggu udah Duaratus juta di abisin.
*
Di sini di rumah Arkan setelah kembali dari kampus Arkan melihat Dinda bicara bersama di halaman dengan seseorang dan itu adalah Daniel.
"Kak," ucap Dinda ketika Arkan sudah berdiri disampingnya.
"Arkan sudah pulang kamu?" Daniel bicara dengan tenang.
Arkan diam dan menarik Dinda mendekat padanya.
"Kami bukan Musuh, Hey.. Biar aku jelaskan."
Frozo bersuara dari Gazebo sambil memberi makanan ikan.
"Lalu."
"Ya Kami kemari ingin berkunjung saja lagi pula ini mintanya Rasya jika tidak aku juga tidak ingin, apa kau tidak kasihan kami ini di usir oleh om mu karena kami minta makan dan numpang mandi."
"Yaa.. Frozo.. Berhentilah kau memalukan ku kau ini bersikap gelandang terus." Kesal Daniel.
Dinda tertawa.
Daniel dan Frozo memperhatikan Dinda.
"Eh.. Maaf Om.. Abis Om Daniel sama Om Frozo dari pagi ribut mulu kayak anak kecil."
Arkan menoleh.
"Eh.. Maaf Kak...Kamu berangkat Om Daniel sama Om Frozo dateng."
"Sepertinya makin panas gimana kalo kita minum jeruk es," ucap Frozo menarik tangan Dinda.
Dinda tersenyum mengangguk Arkan menatap kepergian Dinda dengan Frozo dan menoleh menatap Daniel.
Seketika rokok Daniel keluarkan dan memantik koreknya. Melirik Arkan dan menawarkan Rokoknya.
"Tidak, Dinda akan marah."
Daniel mengangguk tersenyum dan mengantongi Rokoknya lagi dan menjepit Rokoknya diantara jari telunjuk dan tengahnya.
"Penurut sekali," ucap Daniel.
Arkan tersenyum.
"Kau tahu aku merasa sudah bertemu dengan Alano di masa depan. Sangat disayangkan waktu itu aku sedang tidak bersamanya dan aku juga Frozo merasa kesal marah pada Rayhan. Awalnya kami bersama tapi karena Gabriel kami merenggang Diantara kami berempat Rasya Yin paling mendukung jika kita bersama jika kita bermusuhan dia akan marah dan meledakan markasku ataupun Frozo ataupun Alano dan Rayhan. Tapi, satu yang tidak menyukai jika Alano dekat dengan ibumu dan membuat Gabriel kuat adalah Rosella Betricias. Oh Ya.. Aku dengar putri bungsunya ada bersama mu," ucap Daniel panjang dan menoleh pada Arkan lalu merokok lagi menghembuskan nafasnya jauh dari Arkan.
"Silla, Dia yang bersamaku, sedangkan Sella tidak," ucap Arkan.
"Ya.. Itu maksudku, Silla, kejadian di penjara itu Rosella selamat dan sedang mengandung, kurasa dia sudah melahirkan bukan?"
Arkan mengangguk.
"Kurasa tapi, Silla masih memberi kabar jika ibunya belum ingat apapun dan semoga saja ibunya tetap menjadi ibu yang sekarang," ucap Arkan pada Daniel.
"Ya.. semoga."
Daniel sebenarnya tidak suka karena Rosella Betricias lah Gabriel senekat itu bersama Lametta membunuh Ambar dan Alano.
Daniel melirik Arkan.
Daniel tersenyum.
"Aneh ya.. Kami datang berlaga seperti musuh lalu membuat teror tapi, kau tahu jika kami mendatangi semua rumah teman keluargamu hanya untuk berbagi rezeki dan ya hadiah kecil."
Arkan tersenyum tipis.
Mana percaya jika kemarin Bagus mendapat suntikan dana besar dan orang tua Bagus juga mendapatkan hadiah besar. Lalu Lorenzo juga mendapatkan saham besar dan orang tua juga Kak Indri mendapatkan keuntungan bisnis besar lalu Justin Rian Kak Luna dan Stella ibunya Rian.
Daniel dan Frozo bersama Rasya Yin itu melakukan kerja sama pada semua perusahan teman-teman Arkan dan memberikan syarat untuk berbagi setiap waktu pada mereka yang butuh karena Tiga orang itu pusing harus meletakan semua uangnya dimana.
Apa lagi Rasya Yin dia sudah menjadi ibu angkat untuk anak-anak di puluhan panti asuhan yang didirikannya semua anak angkat Rasya Yin sukses berjaya. Terkenal tidak bisa punya anak dan tidak ingin menikah Rasya Yin bebas dari **** bebas.
Apa lagi Daniel dan Frozo jangan di tanya Mereka sama dengan Rasya hanya saja mereka sampai membuat para manula sebagai ibu dan ayah mereka. Panti jompo tempat orang tua yang lanjut usia yang mana keluarga tidak bisa mengurusnya karena beberapa alasan. Dengan berwajah iblis berhati malaikat, kadangkalanya, Daniel dan Frozo selalu melayani mereka para Manula.
"Kau tersenyum berarti kau tidak percaya," ucap Daniel.
"Tidak. Aku percaya."
"Dan ya.. Untuk Utami mungkin Rasya belum selesai mengurusnya. Kau jangan berikan aset berharga itu sia-sia."
"Tidak aku memberikannya pada Kakek."
"Baiklah.. terserahmu, Kau bisa bergabung dengan perusahaan otomotif ku dan perusahan Star-up milik Frozo jika ingin. Kapan saja."
"Menyogokku untuk memperbolehkan kalian disini?"
Daniel seketika terbatuk asap rokonya sendiri.
"Hey.. Kau terlalu cerdas.. ayolah aku ini keluarganya biarkan lah aku menengoknya kadang kala."
"Sudahlah Paman ingin datang, datang lah aku tidak melarang asal jangan menculiknya atau Om Rayhan akan mengamuk," ucap Arkan.
Daniel terkekeh bersama Arkan.
Dari dalam tepat di depan Pintu Dinda tersenyum melihat Arkan akrab dengan pamannya yang baru dilihatnya Awalnya Dinda ragu pagi tadi tapi, ketika Rasya Yin menjelaskan panjang lebar lewat telepon Dinda berusaha percaya dan benar mereka memang baik dan mereka juga pemalu awal dekat Dinda Sekarang Mereka terbiasa karena Dinda menerimanya.
Di rumahnya Zalfa Rasya Yin dan Yolan menatap Utami dengan tatapan yang tajam.
"Tidak bisa jika hanya kalimat kalian berdua ucapkan," ucap Rasya Yin pada Utami dan Suaminya yang sebenarnya ada juga di hadapan Rasya Yin.
"Kau tidak melakukannya dengan benar kau juga membohongiku berarti hutang budimu denganku masih ada," ucap Utami menggebu.
"Oh Ya.. Aku sudah membuat Dinda menyingkir dari jalanmu dengan suka relanya dia, Dan pesan Dinda adalah silakan jika Arkan mau dan putrimu mau?"
"Yin Kau tidak bisa sesuka hatimu begini aku tidak terima ini." Ayah Zalfa marah.
Rasya terkekeh.
"Kalian ini yang Bod*h Dengar! Jika kalian sentuh keponakanku aku akan habisi kalian Hutang budi adalah nyawa berarti bayarannya Nyawa dan kemari aku menyelamatkan suamimu dari kecelakaan di tebing apa itu bukannya lunas," jelas Rasya dengan tenang.
Utami berdecih.
"Hem.. kurasa teh ini sangat manis hingga kepalaku pusing bicara pada kalian berdua. Dan satu lagi Aku akan mengambil Zalfa setelah dia melahirkan anaknya dan bersama kekasih akan tinggal denganku kasihan aku melihatnya tinggal dengan orang tua tidak akur macam kalian."
Seketika Utami menatap marah.
"Apa yang bisa kau berikan ingin membawa putriku jika aku memperbolehkannya sekarang?"
Di dalam mobil. Rasya duduk bersama Zalfa dan semua pakaian yang perlu Zalfa bawa.
"Tapi, mereka bukannya mereka orang tua ku?" Zalfa sedih menatap keluar jendela.
Menggunakan kaca mata hitamnya Rasya Yin tersenyum dan mengambil tangan Zalfa.
"Anggap aku ibu mu atau temanmu atau bibi mu, terserah karena aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu, dan ya Kapan kau dan Diego akan melangsungkan pernikahan kapan kelahiran anak ini," ucap panjang lebar Rasya mengalihkan perhatian Zalfa.
"Terimakasih anda mau menerima saya, semoga ini adalah kenyataan baik, Saya juga tidak tahu kapan dan bagaimana Diego sendiri yang akan mengaturnya.
Rasya Yin mengangguk.