
Beberapa jam lagi setelah subuh dan setelah itu sholat dan mandi Dinda akan beraktivitas sekolah lagi, sudah berapa lama lagi Dinda mau dirumah sekarang sejak dua hari sebelum hari pertama sekolah di liburkan liburan kenaikan kelas. Dinda sudah kembali kerumahnya sendiri kemarin.
Dua minggu libur kenaikan kelas sudah, besok pagi Dinda akan kembali sekolah lagi tapi, sebagai kelas dua belas bukan kelas sebelas lagi.
Asik.... senangnya sudah kelas dua belas sebentar lagi bebas dari seragam. Tingga nunggu jodoh... eh jodoh kayak punya aja Dinda.
Aslinya jomblo abadi nanti keabadian akan hilang ketika pangeran datang.. Hiyaa... Dinda puitis banget, padahal pangeran juga kagak pernah dateng orang gak di minta dateng.
Sekarang tinggal tidur dulu sebelum semuanya segera terjadi.
Di tempatnya Arkan berbeda waktu dimana Dinda sudah malam dan Arkan masih dengan langit cerahnya.
Arkan masih berkutat dengan laporan dan laptopnya. Arkan juga berkuliah sambil ngantor di Swiss sebelum sepuluh hari Arkan tidak bisa kembali pulang tapi, jika Arkan mengerjakan lebih cepat sudah pasti akan lebih cepat juga pulang dan kuliah daring terhindarkan.
Seketika Lorenzo Justin dan Rian masuk bersama Yuda.
"Bagus-Bagus Lo... Ngirim gue pesan dah kayak lo cewek gue, Sialan lo buat gebetan gue ilfil kampret lo," ucap Yuda pada Bagus sekaligus menjitak kepala Bagus.
Wajah tanpa dosanya Bagus menoleh dan seketika tawa kerasnya membuat Yuda tersulut emosi menyebalkan bukan.
Saat itu juga di ruang kerja Arkan Yuda dan Bagus saling bertengkar menjambak dan juga saling menjahili dan bertengkar dengan pelukan juga mengumpat didepan wajah masing-masing.
Justin Lorenzo Rian menonton temannya bertengkar sambil mengerjakan tugas dari Pak Jersey dan juga tugas kuliah mereka yang sudah mulai sejak bulan kemaren,
sebenarnya mereka semua pintar,
termasuk Lorenzo tapi waktu mengerjakan ujian mereka malas,
karena mereka sudah berkuliah, kuliah latihan dulu di bulan lalu sebelum kelulusan kira-kira menjelang semester pertama.
Bagus Lorenzo Terlihat malas tukang nyontek dan jiplak salinan dari tugas Arkan tapi kadang mereka juga kalo mengerjakan tugas mandiri nilai harian lumayan besar.
Pikir mereka untuk apa waktu mengerjakan ujian kelulusan dengan berpikir keras lagi pula sudah mulai kuliah ini di kampus setelah lulus ini, jadi santai saja, begitulah pikiran Bagus Lorenzo.
Beda dengan Justin dan Arkan yang tetap belajar, tapi, Justin juga tidak jauh beda jika malasnya memiliki kesamaan dengan sikap Bagus dan Lorenzo.
Jika Rian walaupun hanya tukang tidur tapi, otaknya encer masuk sepuluh besar juga walaupun begitu baru pindah.
"Lo...yang aneh.." Bentak Yuda
"Lo kan juga jawab chat gue oon." Bentak Bagus.
"Lo...." Sama-sama bentak di depan wajah.
Terus saja mereka menunjuk hingga sebuah suara tembak mainan terdengar dan menghentikan kegiatan keduanya bertengkar.
"Stop Om kayak anak kecil, Gak malu," ucap Alex.
"Iyaa Syam tembak aja biar mati sekalian kaya ayah nembak penjahat," ucap Syam dengan wajah tengilnya membuat Rian menahan tawa. Tapi, Lorenzo tawanya menyembur.
"Wahaha.... Lo berdua mirip kayak Alex ama Syam anaknya Pak Ale," ucap Lorenzo sambil tertawa.
Seketika itu Arumi masuk.
"Permisi Tuan maafkan adik-adik saya," ucapnya.
"Tidak masalah biarkan saja, Teman saya baru datang tolong buatkan minum," ucap Arkan. Seketika Arumi mengangguk.
Seketika itu Yuda langsung malu dan bangun dari karpet setelah bergulingan di atas Karpet bersama dengan Bagus.
" Eh.. tunggu Maaf bisa tahu nama kamu," ucap Yuda dengan bahas Inggrisnya lumayan fasih.
Arumi mengangguk.
"Eh... Iya bahasa Indo saja saya bisa sedikit, Kamu Yuda kan anak geng Motor di SMA Ghanesa?" ucap Arumi yang seakan tahu dan kenal Yuda.
Seketika Lorenzo berseru.
"Heem... Ada pengagum ada yang tak menyadari cielah lama-lama pada punya kisah romansa masing-masing, Huuu, Gak keren gue ajah sulit dapet kisah romansanya." Kesal Lorenzo.
Seketika Yuda berdehem, kenapa dirinya terkenal sampai luar negeri padahal bertemu dengan perempuan ini saja baru.
"Eh.. Iya kok kamu bisa tahu," ucap Yuda yang cengegesan.
"Kamu gak perlu tahu kan kamu pas itu udah mau lulus dan saya juga gak seberapa kenal sebenernya saya pernah lihat kamu waktu acara pensi," ucap Arumi menjelaskan.
Setelah mengatakan itu Arumi pamit pergi karena perintah Arkan tadi meminta diambilkan minum.
Setelah keluarnya dan tak sempat mengatakan apapun Arumi pada Yuda. Yuda seakan lemas dan kecewa.
"Namanya Arumi dia anak sulung Pak Ale jandro yang mengurus rumah dan perusahaan MC." Kata Arkan dengan menatap Yuda.
Yuda menoleh pada Arkan dan mengangguk.
Lorenzo membantu Yuda menutup tirai jendela dan menyalakan ke suhu ac agar sedikit lebih dingin Sebenernya sejak tadi sudah dingin tapi Yuda masih panas.
Membuka mantelnya Yuda memeriksa alat itu dan menggabungkannya dengan Laptopnya.
Yuda mengambil kursi untuk meletakan laptopnya.
Tok...tok...
Ketukan pintu dari luar ruangan bergegas Bagus membukanya.
"Maaf Ini ada minum dan camilannya," ucap Pelayan lain.
Bagus mengangguk. Dengan pahamnya Bagus meletakannya semua minuman di meja. dan mengambil air mineral untuk Arkan.
Ada Enam botol Bagus ambil dari pelayan kedua.
Meletakannya lima di atas meja dan melemparnya untuk Arkan. Seketika di tangkap Arkan.
Arkan memperhatikan semua letak dan tatapan rencana mereka.
"Sebenernya ini baru disini kita menyelesaikan tugas ini," ucap Yuda dan Justin memberi tanda lewat sinar titik merah.
Rian juga ikut dalam diskusi itu.
"Farles, Farah, Lametta, Rosella, Gabriel, dan Citra Rosella, Dua orang yang namanya tidak di ketahui tapi sudah mati terbunuh oleh orang-orangnya sendiri kecuali satu orang yang ada di markas di sekap bebas markas di jaga bawahan Hansimon, udah ketahuan sama om Rayhan dan habis sudah urusannya dengan om Rayhan," jelas Justin dengan rinci.
Mengingat waktu dimana semua hal terjadi tapi sebuah pesan mendadak datang dari email Yuda yang dikirim Hansimon.
Seketika ekspresi Arkan berubah mengeras.
"Argh," Geram Lorenzo dan justin ketika melihat mayat yang dimutilasi yang Hansimon kirimkan beserta laporan kasusnya.
"Ini orang yang nembak Dinda kenapa dia bisa kayak daging cincang gitu mana organ vitalnya di tempat lain pisah sama badanya."
Kata-kata Yuda membuat semua semakin kesal sambil membesarkan gambar dan isi email Hansimonpun juga mengejukan mereka semua.
Seketika Arkan bangun dan meminta Yuda memeriksa kabar itu.
Di tempatnya Arkan sambil menghubungi Hansimon.
*
Braak...
Semu terkejut diruangan itu Arkan memukul meja kaca hingga pecah.
"Ucapan Rosella ada benernya, Siapa orang ini," Kesal Arkan.
Seketika Rettrigo menghubungi Arkan jika Dinda terus di ganggu Maulana di sekolahnya dan itu membuat Dinda menjadi bulanan Bully. Dinda bisa melawan tapi, tidak bisa lama.
Di sekolahnya.
Dinda masuk kelas di jam terakhir dengan wajah kotor dan baju basah sedikit.
Kiran terkejut yang melihat Dinda seperti itu.
Buru-buru Dinda di berikan hoddi hitam milik Arkan yang tadi pagi Dinda pakai, Kiran yang mengambikan dan membantunya.
"Ini Pasti Ulah The Lily geng," ucap Yeni jengah seketika baru saja mengatakan Dinda di lempar botol bekas oleh Lily dan temannya seketika itu Dodi bertindak karena botol itu juga mengenai Kiran.
"Eh.. Apaan sih lo, Brengsek lo cewek gak ngalus-ngalus kasar bisanya," ucap Kiran marah.
Dodi seketika membubarkan semuanya.
"Liat lo pulang sekolah," ucap Dinda yang kesal.
"Sabar Din," ucap Kiran.
"Ya sabar gimana gue di katain jalan di lecehin pengen gue cakar tu muka," ucap Dinda.
"Ini Dinda yang kita kenal di kelas sepuluh bangkit dari kubur. Waktu itu lo kalem-kalem aja kelas sebelas sekarang kok tambah gila," ucap Yeni seketika membuat satu kelas tertawa.
"Yen, Lo koma Itu Dinda biang rusuh ya itu kalo lagi marah cumankan dulu ada Arkan pawang kalemnya sekarang gak ada dah gitu Bar-bar meningkat sesuai kebutuhan," ucap Beto seketika membuat Dodi dan temannya tertawa keras.
"Daah.. Berisik kalian mengganggu kesabaran gue yang lagi abis batrenya," ucap Dinda.
"Iya.. Dinda ngambek ae lo, dah kayak kucing jauh dari babonnnya," ucap Beto meledek lagi seketika Pulpen kosong melayang mengenai pala Beto dan berbunyi.
"Dah.. Deh, Kalian ini Dinda abis kebully malah di ejek-ejek gak ngotak lo pada ," ucap Lia dengan tatapan marahnya. Seketika semua diam. Lia sekali bicarakan langsuung kena hati.