Arkan Dinda

Arkan Dinda
Demam



Arkan terkekeh seketika membuat Dinda berhenti menangis dengan lucunya Dinda menatap wajah Arkan yang hampir tertawa melihat wajah bekas menangis.


Arkan membuka hoddinya dan ternyata ada Rompi anti peluru dobel dan kaos hitam Arkan pakai. Dinda menatap Arkan yang mengerjainua dengan wajah berhenti menangis dan tatapan marah memukul dada Arkan kencang.


Violetta terkejut dan tak menyangka jika Arkan sampai seperti itu.


Di atap gedung itu, Maulana dan semuanya sudah turun bersama semua temannya dan orang-orang nya Arkan, sekearang mereka semua ada didalam mobil van besar bersama Kuta dan tiga temannya Kuta.


Sedangkan Rettrigo dan lainnya menyusul Arkan.


Mereka melihat Beto terluka dan Arkan memperlihatkan rompi anti pluru. Berarti terjadi sesuatu tadi.


Tanpa melepas helemnya mereka semua turun menghampiri dan membereskan kekacauan.


Arkan menatap Violetta dengan tatapan datar Perlahan di belakangnya Dinda melangkah tidak kuat seketika pingsan lemas tubuhnya.


Dinda sebenarnya terkejut dengan dua kali suara tembakan di tambah menangis, itupun sempat-sempatnya Arkan berekting tertembak sungguhan.


Dinda yang jatuh belutut dengan sepontan Rettrigo berseru memanggil Dinda. Arkan menoleh dan berbalik melihat Dinda jatuh di atas aspal dengan wajah pucatnya.


"Sayang, Kamu," ucap Arkan lembut merasa badan Dinda panas dingin keringat banyak, tanpa banyak alasan Arkan membawa Dinda bangun tidak terlalu pingsan tapi, seperti sangat lemah Dinda menatap Arkan.


"Pusing," keluhnya di dalam pelukan Arkan.


*


Sampai di rumah dengan mengendong Dinda di punggungnya dari turun motor dan sekarang masuk ke dalam rumah Arkan meletakan Dinda di kasur.


Mengganti baju Dinda dan melepas sepatunya Dinda meringis memegangi kepalanya Arkan mendekat dan menempelkan punggung tangannya.


Arkan Mengambil baskom berisi air kompresan.


Di tempatnya Rayhan langsung bergegas pergi melihat keadaan Arkan dan Dinda.


Dalam perjalanan Rayhan mengomel emosi terus, dan di tenangkan istrinya yang menemaninya mengemudi malam ini.


Rama di tinggal di rumah dengan pengasuhnya dan pelayan empat orang di rumah karena baru saja terlelap tidur.


Sampai di rumah Arkan.


Rayhan main masuk saja karena pintu depan belum di kunci.


Arkan yang keluar dari dapur dengan santai melihat kedatangan Rayhan seketika Rayhan menarik Arkan dalam pelukannya dan membuat tubuh Arkan menegang terkejut.


"Di mana Dinda?" tanya Rayhan melepas pelukannya.


Arkan melangkah mengantarkan ke kamar.


Di dalam kamar Dinda sudah tertidur dengan kain kompresan didahinya.


"Tante periksa dulu, boleh di luar sayang," ucap Bundanya Rama pada Suaminya dan Arkan keponakannya.


Di depan kamarnya Dinda Arkan canggung sekali di tatap Rayhan dan sempat memeluknya juga. Arkan terdiam dan menatap kearah lain dengan ekspresi wajah tenang.


"Apa kau terluka?" ucap Rayhan dengan nada khawatir tapi, ekspresinya akan marah.


"Tidak," sahut cepat Arkan.


"Maafkan Om, Om baru pulang luar kota dan mendengar dari salah satu anak buah kamu yang mengabari bawahan Om, sebenernya sudah sejak lama Om mendesak Gio untuk membagi informasi jika kamu kenapa-kenapa."


Arkan mengangkat wajahnya menatap Rayhan. Senyuman tipis lalu semakin lebar.


"Terimakasih Om khawatir, Arkan minta maaf ngerepotin Om," ucapnya tidak enak hati.


Arkan mengangguk sekali pelan.


"Om kesal karena Violetta bisa kabur dan bertemu Alderos, Om sudah menyelesaikan tentang T3Y, Peroyek membuat para kriminal kelas kakap bebas dari penjara dan hukuman mati, Hasilnya semuanya tertunda dan bukti nyata semua yang Gabriel punya sudah masuk dalam sidang di semua negara yang Gabriel jangkau," ucap Paman melangkah melihat lantai bawah.


"Dan untuk Alderos kendalinya ada pada lidahnya dan bukti palsu yang pandai di ubahnya, Dia pengusaha, dia juga termasuk jajaran Anggota pendiri dan kerja sama Farmasi di Indonesia, Paman harap kamu dan Rian bisa membereskannya cukup bahaya untuk setatus kamu yang sudah memiliki tanggung jawab Dinda," jelas Om Rayhan menatap Arka dengan tatapan seriusnya.


Arkan lebih menatap Om Rayhan dengan tatapan lebih serius dan Yakin.


"Sebenernya Arkan gak nyaman ninggalin Dinda sendiri di rumah, tapi, kalo Arkan bisa minta tolong Om... Dinda tinggal sementara di rumah om bulan januari besok," ucap Arkan.


Rayhan mengangguk.


"Pasti bisa. Kamu ngomong sama Tante Om setuju, Tante juga harus kamu tanya, Dan maaf kalo Thaliya memang gak suka sama Dinda jadi kamu jangan terlalu kaget kalo tahu tentang ini," jelas Rayhan lagi.


"Iya Om, Arkan tahu itu, Arkan percaya sama Rama, Dia juga bakalan jagain Dinda dan Tante juga. Thaliya emang gak suka sama Dinda karena nenek lebih perhatian banget sama Dinda dan lebih meminta banyak juga untuk segera hamil," jelas Arkan.


Rayhan mendengar itu diam. Tertekan juga anak masih sekolah di minta untuk hamil, orang tua kuno sulit membuat mengertinya.


Arkan berbalik ketika mendengar suara pintu kamar di buka. Rayhan juga berbalik melihat Istrinya keluar dengan senyuman.


"Kondisi Dinda baik-baik aja dia cuman Deman, kecapean dan kamu, Jangan terlalu lama mainnya sama Dinda," ucap Tante memperingatkan.


Arkan terdiam sedikit ada ekspresi malu. Bundanya Rama bisa lihat itu karena juga tahu tentang mimik wajah seseorang yang sulit memperlihatkan berbagai ekspresi pada orang asing atau di perlihatkan seperti Arkan. Arkan terlihat datar tapi, sebenarnya malu dia.


"Waah.. Bagus itu Om kasih kamu semangat, Om juga nasehatin jangan terlalu cepat, pengaman perlu, ingat Dinda masih sekolah."


Setelah selesai berkunjung Rayhan dan istrinya pergi pulang kembali kerumahnya meninggalkan Arkan dan Dinda.


Dinda duduk di pinggir ranjang untuk ke toilet seketika lemas berpegangan pada pinggir ranjang.


Arkan membantunya ketika baru keluar kamar mandi.


Dinda menatap Arkan malu.


*


Di rumah Arkan pagi ini ramai teman Dinda main hanya ada perempuan, lelaki tidak boleh karena Arkan juga sedang keluar.


Lia Yeni Chintiya dan juga Kiran heboh, tahu ketika Dinda hampir celaka dan sekarang demam.


Mereka datang membawa banyak makanan dan untuk hari ini makanan diluar di izinkan Arkan masuk dan memakannya di rumah Arkan.


Dinda dan lainnya asik menonton Drama di tv lebar ruang tengah dekat dapur duduk di lantai beralaskan karpet berbulu.


"Bagi gue seblaknya," seru Dinda.


"No.. Dinda lo lagi sakit, makan level biasa aja bisa nyonyor lo makan punya Chintiya ama Yeni," Omel Kiran melihat Dinda ngiler dengan kuah seblak Yeni yang merah.


"Sosis bakar lo, Lia bagi gue," minta Dinda. Lia memberikannya dan makan bersama.


Di depan mereka sudah ada seblak, ayam goreng bakso pentol, Sosis bakar, minumannya Es cincau ijo. .Mantep dah!


Seketika ada degan tertembak mereka menjeda kunyahan dan suapan seketika itu mereka kembali melanjutkan makannya dan menikmati Drama di tv.


Di markas tengkorak Arkan mengintrogasi Violetta sendiri di temani Rian.


Sulit di mintai keterang hingga di detik terakhir Arkan menggunakan ucapan haram yang ia ucapkan pada orang lain.


Dengan rayuan lembut dan ucapan santai Arkan membuat Violetta bangga diri dan mengatakan semuanya setelahnya ekspresi Arkan kembali semula dan membuat Violetta kecewa.


Arkan dengan teganya pergi meninggalakan Violetta yang histeris sambil menangis.