
Sudah seminggu Arkan dirawat dirumah sakit Sehari sebelumnya Yuda sudah lebih dulu pulang. Dan kemarin Arkan pulang kerumah.
Di hari ini pukul enam pagi setelah menyiapkan tugas sekolah dan Lainnya siap sudah. Arkan bergegas berangkat sekolah.
Sampai dirumah dari rumah sakit itu waktu sore dan malam Arkan bisa tidur dan sekarang Arkan harus sekolah lagi, Tidak ada kata untuk istirahat lagi Sudah seminggu istirahat dan sempat tidur malam itu belum cukup, Bagi Arkan waktu istirahat kemarin dan semalam adalah terlampau sangat cukup.
Arkan menenteng helm keluar kamarnya sudah siap dengan pakaian seragam sekolah dan juga sudah membawa tas sekolah di gendongannya.
Nenek Seketika menoleh melihat Arkan.
"Sayaang, Nak makan dulu," ucap Nenek. Arkan menoleh seketika Kakek nya melewati Arkan dengan aura dinginnya.
Arkan hanya biasa saja, tidak takut atau kaget, karena itu memang kakeknya.
Arkan duduk dan mulai sarapan, Hanya sedikit!
Nenek menatap Arkan.
"Heeeh.. kenapa tidak banyak?" ucap Nenek.
"Sudahlah dia ingin sekolah bukan membuat perut buncit," ucap Kakek dengan wajah datarnya. Nenek Arkan seketika terdiam dan tersenyum menghampiri Arkan.
Mencium kening Arkan sekilas dan Arkan mengambil tangan Neneknya lalu Kakeknya. Kakeknya diam saja, Arkan menurunkan lagi uluran tangannya untuk menyalimi tangan kakeknya.
Arkan tersenyum manis pada Neneknya.
"Arkan berangkat, Assalammualaikum."
"Waalaikum salam," jawab Nenek sambil tersenyum menatap Arkan Kakek juga menjawabnya pelan.
Arkan melangkah lagi keluar dengan menenteng helmnya lalu mengeluarkan motornya.
Seketika itu Arkan merasa aneh. Arkan mengingat jika motornya ah.. iya lecet.
Arkan akan memperbaikinya nanti di bengkel. Arkan langsung menaiki motornya dan menyalakannya setelah siap Arkan mulai menjalankannya. Setelah motor keluar gerbang sapa pagi seperti biasa untuk pak Joko.
*
Di sekolah Arkan baru saja sampai dan masuk ke dalam parkiran dan saat itu juga Justin baru saja akan membuka helmnya.
"Dah.. masuk aja, Sehat lo," ucap Justin.
Arkan mengangguk sambil membuka kancing helmnya.
Lalu berjalan berdampingan bersama Justin masuk ke dalam kelas.
Dinda sempat melihat Arkan, dari jauh. Dinda hanya bisa menatap dari jauh, seketika Arkan menoleh menatap Dinda sekilas lalu kembali berjalan. Arkan juga sekilas menangkap raut wajah sedih Dinda.
Di kelasnya Arkan baru saja duduk dan tidak lama Citra main masuk dan memeluk Arkan Seketika Arkan terkejut, berbalik dan melepas pelukan Citra lumayan kasar. Tapi, bagi yang melihatnya itu biasa saja.
"Arkan.. kamu udah sehat.. gimana kamu pasti pengen aku jenguk ya.. tapi, Kakek kamu gak nge bolehin dan Kakek kamu bilang Gak ada yang boleh jenguk kecuali Arkan udah pulang dan sekarang udah sekolah, berarti boleh dong kalo aku kangen-kangenan sama kamu," ucap Citra panjang lebar.
Dinda yang baru masuk kelas dan mulai pelajarannya hanya diam dan memperhatikan seketika menghela nafasnya dengan kasar, ada sedikit perasannya yang tidak terima jika Arkan itu Amnesia. Sepertinya, bohong tapi, jika salah maka Dinda sendiri yang malu. Dinda terdiam di bangkunya.
Di kelasnya Arkan tidak melakukan apapun kecuali memperhatikan guru yang menjelaskan.
Rian yang satu kelas dengan Arkan menatap Arkan dari samping.
Rian seketika membuka bukunya dan melemparkannya sesuatu pada Arkan.
Arkan seketika Menatap kertas si atas mejanya. Tanpa ingin menoleh Arkan membukanya dan membacanya. Seketika itu Arkan merobeknya.
Arkan tetap tenang dan diam.
Rian bingung dan aneh. Sudahlah kenapa harus pusing memikirkannya.
*
Di atap Arkan menatap ke depan, angin diatap cukup kencang. Arkan duduk di kursi kayu panjang dan menyandarkan punggungnya dengan tenang.
Bruak...
Suara pintu Tempat keluar masuknya orang dari atap..Pintu itu tidak pernah pelan setelah Syifa membantingnya waktu itu.
"Mau ngomong apa lo sama gue," ucap Arkan.
Seketika Orang itu tersenyum. Iya.. Rian yang datang, Rian meminta Arkan bicara empat mata dengannya.
"Lo mau buat Dinda celaka lagi," ucap Rian. Sambil mendekat dan bersandar pada pagar tembok sepinggang pembatas atap.
Arkan menatap Rian dengan wajah datarnya lalu mengerjap dan menghela nafasnya.
"Gue rasa dia aman-aman aja, Lo... apa yang mau lo omongin ngajak gue kemari cuman tanya itu aja, Buang-buang waktu gue," ucap Arakan datar.
Rian melipat tangannya memainkan rahangnya dengan menatap kelain arah.
"Gue tahu Lo ngejauh dari Dinda karena lo nyerah.. ok gak papa gue bisa dan Lo jangan pernah ganggu gue sama dia."
Rian pergi begitu saja dari Atap meninggalkan Arkan. Arkan masih duduk di kursi yang sama dan dengan wajah yang datar sama seperti tadi tidak berubah.
Arkan menatap kedepan. Lalu bangkit dan melihat ada sebuah kaki dan itu adalah Dinda di belakang sana dengan duduk di sofa dan menangis.
Benar-benar tidak ada kerjaan. Apa hanya menangis pekerjaannya. Arkan pergi saja meninggalkan Dinda di sana.
Dinda tidak tahu jika ada Arkan atau Rian. Dinda hanya diam saja dan Dinda kira itu mungkin suara angin dan anak-anak yang merokok bersembunyi di atap sekolah.
Pulang sekolah Dinda berjalan ke luar gerbang sambil menenteng helm seketika Arkan naik keatas motornya tiba-tiba suara Citra membuat lamunan Dinda Buyar. Dinda menoleh ternyata Arkan dengan Citra.
Huuuh... sudahlah Dinda tidak bisa berharap lagi, Seperti dulu hanya mengetahui Kak Arkan dari jauh saja. Dinda tidak ingin Kak Arkan jadi sakit lagi Karena Dinda.
Seketika Dinda melihat jika Arkan punya helm yang sama dan itu di pakai untuk Citra.
"Hah..." Dinda tidak percaya. Ternyata Kak Arkan membuat Dinda di permainkan.
Lihat saja Dinda akan membuat Kak Arkan lebih sakit, Dinda kira Kak Arkan hanya memberikan helm ini untuk Dinda tapi, ternyata, Citra menggunakannya. Dan Melewati Dinda dengan mesra berboncengan sambil memeluk.
Kak Arkan juga tidak menolaknya. Kesal... Dinda sakit hati sekarang.
Tiin..
"Mau bareng gak?" ucap Rian dengan motor sportnya. Dinda menoleh.
"Enggak kak Dinda udah bawa helm sendiri, ojol dateng sebentar lagi," ucap Dinda menolaknya.
"Ayolah.. gak papa sekali-kali... Gue janji gak akan buat lo takut," ucap Rian terus merayu.
Dinda tersenyum paksa menggeleng.
"Enggak kak Makasih," ucapnya tidak lama ponselnya bunyi Dinda pergi meninggalkan Rian begitu saja.
Dinda naik ojol dan langsung pergi pulang. Rian masih menatapnya menjauh.
Di perjalanan tepat lampu merah. Dinda dan Citra juga Arkan bersebelahan. Seketika Citra berdehem.
"Hai.. Dinda." Sapa Citra dengan ramah.
Dinda menatap sekilas dan tersenyum paksa mengangguk.
Dinda medikit menatap Arkan dari belakang lalu membuang pandangannya.
Dinda diam saja.. Dinda bingung sekarang harus apa.
Dinda ingin tenang dan menangis nanti setelah selesai sedihnya Dinda akan kembali ceria, ayo semangat Dinda. Sekali dua kali jatuh bisa bangkit terus dan melompat tinggi itu Dinda jika kali ini jatuh dan tidak bisa bangkit berarti itu bukan Dinda.
Pikir Dinda pada Dirinya.
Sampai di rumah Citra. Arkan merebut helnya dari Citra.
"Loh.. kok diambil Kamu aja ngasih ke Dinda juga..." Ocehan Citra. Arkan tidak menanggapi dan memilih pergi setelahnya.
Seketika Akan menyalakan motonya Citra menarik jaket Arkan. Arkan menoleh setelah motornya menyala.
"Makasih hari ini Arkan, Kamu mau nganter aku pulang, dan Kamu mau nurutin permintaan Aku, Besok pagi kamu jemput aku ya," ucap Citra.
Arkan tidak mengangguk ataupun mengiyakannya Arkan langsung pergi begitu saja.
Citra masuk kedalam rumahnya.
Di bengkel Arkan sibuk dengan motornya yang di lis agar lecet tidak terlihat.
Lalu sibuk dengan pelanggan.
"Bukan Maksud gue ngurusin urusan orang tapi, Gue.. kok kasihan ama Dinda ya," ucap Lorenzo.
Bagus mengangguk membenarkan ucapan Lorenzo.
"Arkan udah dewasa biarin aja dia milih mana yang baik dan buruk. Dia juga udah sering ngambil banyak keputusan Besar selama ini." Celetuk Justin tiba-tiba.
Bagus mengangguk juga untuk ucapan Justin.
"Kalian berdua bener, Lebih baik, kita biarin buat urusannya si Arkan. Kita juga suruh diem aja sama Dia, gak boleh sampe ada yang minta penjelasan apapun sama Dia selama semuanya belum selesai." Penjelasan bagus Arkan mendengarnya juga pembicaraan Justin dan Lorenzo.
"Makasih kalian bantu gue," ucap Arkan tiba-tiba, Seketika Justin menoleh.
"Kita kan keluarga, tenang aja napa," ucap Justin.
"Hemm.. Kita teman rasa keluarga," ucap Bagus.
"Kita temenin lo sampai selesai masalah lo tapi, gue minta lo jangan nangisin Dinda," ucap Lorenzo.
Seketika tempelangan dari Bagus membuat Lorenzo menoleh kaget dan menoleh cepat.
"Laahhh. Sakit Guuus," ucap Lorenzo kesal.
"Heh.. Buaya.. lo itu sering buat Cewek nangis lo nasehatin gitu ke Arkan, tanpa lo bilang dia udah tahu," ucap Bagus.
"Ya elah Gus gue lebih tahu perasaan cewek sedangkan Arkan dia masih kaku Brow... Butuh penjelasan dan didampingi," jawab Lorenzo.
Justin menggeleng.
"Eeh.. mau apa lo, bentar gue ngomong sama dia, Kan Gue saranin Lo jujur sama Diri lo, Lo tu suka gak sih sama Dinda kalo gak, yaudah lo gak pake drama segala tapi, kalo lo suka lo sama aja nyiksa diri lo sendiri," jelas Lorenzo pada Arkan ketika Bagus akan menarik Lorenzo Lorenzo menyetopnya.
*
Melangkah ke tangga menapaki tangga menuju kamarnya.
Arkan baru pulang kerumah setelah Adzan isya. Arkan menenteng dua helm masuk kedalam kamarnya.
Pagi tadi memang membawa helm satu dari kamar karena Helm cadangan Dinda di tinggalkannya di garasi diatas motor Klx hitamnya.
Sekarang Arkan membawa gelm itu masuk ke kamarnya. Tidak sengaja belum sampai di depan kamarnya pelayan lewat.
"Bib tolong cuci helm ini nanti kalo udah kering taro aja di ruangan jemuran, Arkan sendiri yang ambil," ucap Arkan dengan Datar.
Pelayan itu tersenyum mengangguk dan menerima helm yang khusus Arkan beli jika Dinda Lupa, Cerobohnya Arkan selalu pelupa, untuk keamana Dinda, Arkan akan siap, contohnya helm.
Tapi, Arkan melakukan itu karena ingin bukan suka.
Arkan masuk kedalam kamar mandi setelah mengganti lampu kamarnya yang terang dengan lampu tidur dan tidak lupa Arkan memberi makan ikannya. Akuarium dengan Ikan yang Arkan pelihara dari kelas tiga Smp.
Arkan mandi dengan berdiri di bawah sower air dingin. Kepalanya rasanya sangat panas seharian ini. Arkan juga seketika menoleh kearah lukanya di perut.
Luka ini? Arkan harus seperti ini karena Luka ini.
Keluar kamar Mandi Arkan langsung melaksanakan kewajiban tanpa menundanya.
Selesai Arkan seperti biasa akan melakukan pekerjaan sekolahnya yang selama seminggu dirinya tidak masuk dan tugas menunpuk begitu banyak.
Sambil memakan makan malamnya Arkan mengerjakan dengan tenang Sesekali hanya memeriksa. Karena Arkan sedang makan jika sudah selesai makan Arkan akan mengerjakan tugas sekolah lainnya.
Seketika Arkan menoleh ke ponselnya rasa ada yang hilang. Tidak tahu kenapa Arkan menatap ponselnya lalu Arkan menyisihkan piring bekas makannya dan melihat ponselnya. Kosong.
Ketika membuka Pesan Arkan melihat banyak pesan Dinda belum di bukannya. Arkan mengatur setelan pesan agar Dinda tidak tahu jika pesan itu di bacanya.
Dinda.
'Kak gimana kabarnya?'
'Kak Nanti kalo udah bangun jawab pesan Dinda.'
'Oiya.. kak Emang kenapa bisa masuk rumah sakit.
Kak Aku kok kayaknya kangen ya.. eh tapi, gak udah di pikirin Maaf kak Maaf.'
'Kak.. Kalo Sakit jangan banyak mikir.
'Kak mau dinda temenin gak di rumah sakit.
Kak kalo sakit gitu emang baik ya kakak di rumah sakit mulu.'
'Kak Kakak beneran lupa sama Dinda.'
'Kakak Mau di bantuin inget lagi gak.'
Dan banyak lainnya atau cerita Dinda selama Di sekolah di pasar di tempat kerja. Hanya Dinda sendiri yang mengirim pesan tanpa di balas ada ratusan lebih Dinda Kirim tergabung dengan yang waktu pertama Dinda mendapatkan nomor Arkan pertama kali.
Arkan sebenarnya tidak menghapusnya sungguhan hanya mengarsipkan saja, Sekarang Arkan buka pesan itu begitu banyak seperti koran atau cerita pendek.