
Emang paling enak kalo habis pulang sekolah itu mampir beli es jendol pake cincau.
Mumpung Kak Arkan belum jemput Dinda minum Es ngumpet-ngumpet.
"Weeh.. Seger," seru Dinda sambil menatap Yeni Lia dan Kiran.
Seketika tin...tin...
Suara kelakson motor membuat Dinda bergeming.
Meminum lagi esnya dengan nyaman dan berbalik duduk di kursi yang di sediakan penjual es depan sekolah.
Lia Yeni Kiran sudah sangat ketakutan tahu, siapa yang sedang melipat tangan di atas motor matanya menatap Kiran Yeni dan Lia lalu melirik Dinda.
Siapa lagi kalo bukan kak Arkan!
Seketika Yeni dan Lia berseru bersamaan.
"Kita pamit duluan, Gue duluan Ran," seru Yeni mewakilkan Lia yang diam hanya iya-iya saja setelah Yeni bicara untuk pulang duluan.
Arkan mengangguk samar dan sekali kedipan kedua mata samar.
"Hehe.. Kak, Duluan," ucap Kiran yang juga berbalik menyusul Yeni dan Lia. Dinda yang asik minum seketika mengajak temannya duduk malah hilang entah kemana. Kiran mendengar Jika Yeni dan Lia pamit tapi, cepat sekali menghilangnya.
"Loh pada kemana kan mau du..Duk Eh..."
"Kakak udah dateng, Sebentar minum dulu ya, aus," ucapnya beralasan. Dinda sudah takut jika di sidang kalo udah sampai rumah.
Nanti, banyak omelan jangan jajan diluar, Haah Dinda sudah meramalkan itu sekarang sambil minum es cincaunya.
Dengan cepat mengahabiskannya dengan gak nyaman, sama sekali, Dinda meminum es cendol cincaunya.
"Nih bang makasih ya," ucap Dinda membayar lalu membuang sampahnya di tempat sampah dekat pohon halte.
Arkan memberikan Dinda helm dan Dinda menerima memakainya lalu Naik ke atas motor perlahan.
Dalam perjalanan Dinda mencium bau sate.. bakso dan makanan lainnya jarang-jarang penciumannya tajem, faktor kurang makan ini mah.
Seketika Arkan berbelok arah lain, tidak ke rumah tapi, tempat lainnya.
Berhenti sebentar untuk sholat ashar. Dinda dan Arkan masuk ke dalam masjid.
"Pake celana panjang," ucap Arkan ketika menghentikan Dinda yang akan mengambil Air wudhu di tempat perempuan.
Dinda terdiam ekspresi wajahnya bingung menatap Arkan yang sedang menggulung tangannya dan celananya.
"Kan pulang emang mau kemana," ucap Dinda.
"Pake aja nanti tahu, seragamnya ganti sama sweter," sahut Arkan lagi.
Dinda mengangguk pelan kembali melangkah pergi ke toilet perempuan. Masalahnya mau bertanya lagi Arkan sudah pergi masuk ke dalam tempat wudhu laki-laki.
*
Selesai sholat Ashar, Dinda sudah dengan celana training dan swetter abu-abunya seragamnya di lepit di masukan ke dalam tas sekolahnya.
Arkan melihat pakaian Dinda hanya menatap saja tidak ada komentar apapun.
Dinda kembali naik motor dengan nyaman dan Arkan memberikan Dinda hlem. Siap berjalan keluar halaman Masjid.
Roda motor masih berputar melintas di atas Aspal. Seperti nyaman dan sejuk perlahan udara sekitar. Seketika Dinda sadar jika tempatnya berada jauh sedikit dari jalan raya. Jalanan yang sepi jarang penduduk bahkan bisa di bilang sepi.
"Kak ini dimana?" Tanya Dinda tidak ada sahutan Arkan.
Aspal baru dan banyak sampah dauh kering diatas Aspal.
Lembab sekali Aspal baru yang masih terlihat hitam sama seperti Arkan datang untuk menggantikan Giovano sebagai ketua.
Dinda kembali diam sampai motor Arkan di halaman seperti rumah besar seperti kastil juga atau semacamnya.
Setelah terening sekolah swetter abu-abu dan rambut di ikat biasa.
Dinda seperti sedang menjadi anak nakal yang bukannya pulang ke rumah malah mampir kemana-mana.
"Loh itu kan motor Beto," ucap Dinda membuat Arkan tersenyum tipis.
"Ayo masuk, nanti ada binatang buas," ucap Arkan pada Dinda.
Dengan takutnya Dinda yang mendengar kata binatang Buas. Dinda langsung ikut Arkan masuk.
Memang wilayah yang jauh dari pemukiman bisa di bilang kastil itu jauh dari aspal. Setelah Aspal habis disana tanah merah dengan jalanan yang kering karena selalu di beri bubuk pengeras entah seperti apa bentuk dan dengan alasannya untuk anak buah Hansimon dan Bawahan Arkan mondar mandir.
Warga sekitar tidak curiga karena mereka juga tidak pernah datang ke ujung Aspal yang letaknya hampir mendekati tengah hutan padat yang belum terlalu banyak di jamah manusia.
Tapi, di tahun lalu sudah ada yang membeli dan Warga sekitar di kabarkan tidak bisa sembarangan kesana, katanya dari mulut kemulut kalo orang kaya yang membeli lahan lebar itu di isi dengan binatang buas dan surat perjanjiannya juga sudah di tanda tangani kepala desa dan orang penting lainnya yang ada di wilayah itu, salah satu persyaratannya juga sangat baik karena mereka berani memegang tanggung jawab jika tidak akan ada hewan buas yang masuk pemukiman.
Pagar? Tentu. Dimana mata pencarian perkebunana Warga sudah di batasi tembok tinggi. Dan rencananya setelah aspal habis itu akan di pasang Pagar digital dan pos penjaga seperti satpam rumah tapi terdiri sepuluh kelompok lengkap senjata orang yang menjaganya.
Seperti area lindung yang super ketat.
Warga tahunya jika orang kaya yang membeli tempat itu pasti juga sudah sepakat dengan pemerintah pusat.
Jadi warga acuh dan masa bodo. Lagian mereka juga tidak ingin tahu yang penting mereka tidak terganggu itu sudah cukup dan tidak ingin penasaran lagi.
*
Dinda yang masuk ke dalam sebelumnya sempat melihat halaman dengan berjalan pelan seketika masuk kedalam sekarang terkejut benar-benar terkejut.
Karena ini seperti musium tulang. Ada pajangan tengkorak hewan dan beberapa tumbuhan langka di awetkan kayaknya kw.
"Wah!" Seru Dinda. Arkan hanya diam berjalan masuk Dinda melewati beberapa ruangan dengan pintu kaca.
Eh.. Markas tengkorak sudah di renovasi waktu kejadian malam itu di serbu anak buah Gabriel dan penghianat.
"Kak ini, eh... Beto," ucap Dinda seketika berbelok masuk membuat semua orang yang mendengar menoleh dan menatap Dinda. Diam kaku seperti membeku di tempat tidak bisa bergerak.
"Beto ngapain disini, weeh keren gila, Lo jadi...." Sadar salah situasi Dinda langsung melempem seperti kerupuk masuk air, diam tidak bisa berisik sekitarnya semua pria.
"Dinda," ucap Arkan membuat semua orang di ruangan itu langsung menunduk. Aura kepemimpinan yang tajam membuat semuanya menunduk takut.
Tak lama Silla dan Gressia datang.
"Dinda sini sama kami aja," ucap Silla membuat Dinda menoleh cepat ke belakang Arkan.
"Tapi Beto?" ucap Dinda menatap Arkan setelah menatap Silla dan Gressia yang datang.
Tiba-tiba datang Hansimon yang baru masuk ruangan itu seketika menunduk takut, Rettrigo yang datang dengan wajah menguap dan handuk di lehernya tiba-tiba kaget.
"Non-Nona." Kata Rettrigo yang kaget.
"Loh kok banyak yang.... ini tempat apa kak?" ucap Dinda dengan wajah heran dan bingung ada sedikit raut wajah kesalnya.
"Markas tengkorak, Jangan masuk sembarang tempat, banyak laki-laki buas disini," ucap Arkan seketika menatap Dinda dengan lembut tapi, bagi anak buah dan mereka yang ada di ruangan itu sekarang, bahasa Arkan tatapan itu seperti iblis dengan wajah malaikat. Hansimon saja takut.
"Eh.. Ehm... ya udah deh," ucap Dinda seketika tangan Arkan mengambil tudung jaket dan memakaikannya pada Dinda.
"Leher kamu milik aku sayang," suara serak Arkan membuat Dinda malu.
Tiba-tiba anak buah yang memperhatikan leher putih Dinda langsung keringat dingin.
"Ini Silla dan Gressia, kamu bisa sama mereka dulu aku ada urusan," ucap Arkan menatap semuanya dengan datar.
Dinda mengangguk samar pelan dan meraih uluran tangan Silla.
Sepeninggalan Dinda semua langsung pucat. Mereka yang di tatap Arkan hanya bisa gemetaran sedangkan Beto sibuk dengan monitornya lagi sehabis di sapa Dinda dan Dinda pergi dari ruangan itu.