
Dinda baru saja sampai dirumah Lia untuk sekedar acara kumpul setelah di antarkan Arkan. Sempat Arkan ingin keluar dan Dinda ingin izin berkumpul juga, tenang saja izinnya tidak menginap tapi, Acaranya jelas ada teman lelaki satu kelasnya.
Arkan pergi keluar juga karena bersamaan Dinda yang keluar sekalian Arkan mengantarnya, maksudnya dari pada Dinda sendirian lebih baik Arkan mengizinkan Dinda berkumpul dengan teman-temannya sesekali, Arkan juga tahu dirumah pasti Bosan hanya sendirian.
Sekali-kali tidak masalah Dinda berkumpul bersama temannya di malam hari.
Arkan ada perlu karena seseorang mengajaknya bertemu lewat telepon setelah sholat Isya tadi.
Sekarang Arkan sampai di gedung tua dan diatas atapnya ada seseorang berdiri dengan menatap ke bawah. Sepi tidak ada kendaraan atau seorang pun yang lewat.
Kali ini Arkan tidak akan gegabah seperti waktu itu di minta Maulana datang ke gudang tua.
Sekarang alat yang terpasang di cincin hitam Arkan sudah mengirim sinya lokasi pada Rettrigo dan Kuta juga Diyo di markas.
Masuk lokasi jelasnya tidak lama mereka meluncur ketempat dengan mobil van hitam.
Arkan melihat ada dua orang berbadan besar menatapnya. Keduanya menatap Arkan dari bawah. Seketika mengajak Arkan masuk ketika akan di sentuh tangannya Arkan menariknya sebelum terkena sentuhan pegangan tangan kedua lelaki berbadan besar
Wajah datar tanpa ekspresi sedang memahami situasi.
Menaiki tangga ke atas lalu menemui dua orang lagi, sekarang empat orang bersama Arkan.
Sampai di atap Arkan melihat orang yang sengaja berdiri membelakanginya dengan mantel biru dongker lalu berbalik ketika salah satu lelaki badan besar membisikan sesuatu. Senjata, sarung tangan hitam.
Sempat teralihkan karena memperhatikan orang didepannya seketika itu tangan Arkan di cekal kedua orang berbadan besar tanpa sadar ponselnya di ambil oleh orang satunya lagi dan diserahkan pada orang dengan mantel biru dan senjata.
"Arkan Prawira, ingatkan kalo gue bakalan, tetap, akan, ambil Dinda dari lo dan gegara lo, Violetta lo tangkep juga," ucap orang itu seketika membuka masket hitam yang menutup mulut hidungnya.
Maulana, ya dia, dia yang merencanakan semua itu.
Arkan seketika melakukan perlawan ketika asiknya Maulana mengoceh hal yang Arkan sama sekali tidak mau dengar.
Beberapa serangan untuk empat orang berbadan besar. Seketika itu Maulana terkekeh. Melepaskan tembakan ke udara lalu mematikan ponsel Arkan yang sedang terhubung dengan panggilan Dinda. Tanpa sadar jika ponselnya sudah berpindah tangan tatapan tajam wajah datar Arkan tidak berubah tetap fokus pada Maulana. Jika sampai terjadi sesuatu jangan salahkan Arkan membuat Maulana kehilangan suaranya.
Di tempatnya Kiran Dinda menjatuhkan ponselnya ke tanah tadi Dinda sempat mendapat panggilan lalu terdengar suara orang berkelahi dan suara kekehan seperti tertawa orang asing disana lalu suara telepon.
Dinda mematung bingung harus apa? Kiran yang melihat Dinda langsung mendekat.
Lia juga langsung mendekat.
"Dinda lo kenapa? Dinda ngomong jangan gemetaran kayak gini gue jadi takut."
Kiran menatap Wajah Dinda yang pucat pasih.
"Kak Arkan Ran... Kakak!" Histeris Dinda. Seketika entah tenaga dari mana Dinda meraih ponselnya menghapus air matanya dan berlari keluar. Beto yang baru datang membawa beberapa jus di cup besar plastik dengan es, matanya mengikuti arah Dinda pergi.
Beto langsung menatap Kiran dan lainnya. Dodi langsung melepas celemeknya menghampiri Dinda.
"Gue aja," ucap Beto serius dengan Dodi.
Dodi menghela nafas. mengangguk membiarkan Dinda di urus Beto.
"Kakak.. gak boleh! gak boleh kayak gini tembakan itu suara itu pasti itu Maulana kemaren udah Violetta mereka sebenernya kenapasih, orang gak guna kurang kerjaan," ocah kesal Dinda sambil terus berjalan keluar dari halaman rumah dan kompleks perumahan Kiran dengan jalan kaki berusaha mencari ojek online.
Tidak ada yang dekat. Dinda melihat aplikasi pesanan tidak ada satupun tukang ojek disekitar nya.
Kelakson motor nyaring di telinganya ketika menoleh ternyata Beto.
"Ikut gue," ucap Beto.
"Lo mau ngapin Gak waktunya bercanda ya To," ucap Dinda kesal setengah mati khawatir sedih seperti gelisah lebih mendominasi.
"Gue yakin Bang Arkan baik-baik aja, lo sama gue atau besok lo bakalan liat nisan gue kalo lo luka di malem-malem gini pergi sendirian," ucapan Beto seketika membuat Dinda mengangguk kencang dan naik motor dengan berubah pikiran cepat.
Beto dan Dinda pergi dari tempatnya menuju tempat aman, markas, karena tidak bisa Beto membawa Dinda ke Bangunan tua itu.
"Kalo misalnya Dinda udah mikir lo tiada karena tembakan tadi apa yang bakalan dia lakuin ya, Mati juga atau bakalan dateng kemari?"
Maulana memancing emosi Arkan. Tenang Arkan tidak bisa langsung menghancurkan wajah tengil itu.
Arkan terdiam berpikir jika benar Dinda kemari tapi, tidak mungkin Beto ada disana Beto pasti akan menjaga Dinda. Beto juga tidak akan membawa Dinda kemari dengan bodohnya. Arkan yakin jika Beto membawa Dinda ketempat aman.
Seketika peluru Maulana lepaskan di bawah kaki Arkan.
Arkan beralih menatap peluru yang Maulana lepaskan dan hampir mengenai kakinya di bawah.
Arkan mengangkat kepala menatap wajah yang sok berani itu dengan dingin.
"Ingetin Gue kalo lo harus masuk rehabilitasi," ucapan Arkan seketika menyerang Maulana dengan tangan kosong tidak memberi jeda Maulana hingga jatuh terbatuk darah.
"Lo Bodoh. Beto juga, Pasti Beto pikir dia bakalan sampe markas yang terjadi enggak Beto gak bakalan sampe markas dan gue yakin dia udah kalah Dinda udah di culik," ucapan Maulana membuat Arkan bertambah marah, kenapa maulana tahu kalo Beto akan pergi kesana.
Tidak lama Rettrigo dan Kuta juga lainnya masuk dan membereskan beberapa orang menghampiri Arkan dan membisikan sesuatu. Mereka datang tepat waktu sebelum nyawa Maulana melayang di tangan Arkan.
Menoleh tajam dan menatap sengit Kuta.
Arkan pergi dengan rahang yang mengeras.
Di perjalanan Beto di cegat satu mobil hitam mewah.
"Lama gakketemu, tapi gue rasa ini pertemuan kita yang pertama," ucap seorang perempuan.
"Violetta," ucap Dinda melihat Perempuan dengan pakaian hitam jaket kulit dan senjata di tangannya.
"Ya.. Syukur lo ngenalin gue, Gue dateng susah payah lo, gak mungkin kan usaha gue terjun bebas ke laut sia sia kan."
Beto yang sempat menghentikan motornya dan turun tanpa membuka helm berbisik pada Dinda untuk lari.
Dinda mundur dan perlahan Beto melindungi dari depan.
Gerakan yang cepat dari Beto membuat senjata Violetta mengarah ketanah, peluru di lepaskan.
Dari arah lainnya sebuah motor dengan berboncengan orang menghentikan Dinda. Beto kalah tiga lawan satu dan Dinda dalam bahaya. Beto tidak bisa mendekat ke Dinda, Violetta harus Beto hentikan juga.
Dinda merangkak mundur dari terkejut jatuh terduduk di atas aspal.
Motor itu mendekat.
"Tunggu apa kalian lindas saja sampai mati!" Kesal Violetta karena lambat anak buahnya mengerjakan tugasnya membunuh Dinda.
Dari arah lain. Arkan mengencangkan motor klx hitamnya dan mendang pengemudi motor yang akan melindas Dinda.
Brak... Laju motor terlalu kencang mereka berbelok ketika Arkan menendang orang yang memegang stir, jatuh menabrak pohon dan satu tertimpa motor.
Arkan menghentikan motornya langsung menghampiri Dinda dan menariknya dalam pelukan.
"Argh..." Tertusuk Beto di bahian punggungnya dan pisau di tarik keluar juga membuat luka sobekan.
Dinda di minta berdiri di belakang Arkan. Beto yang sudah jatuh dengan punggung berdarah membuat Dinda ketakutan Di tambah pistol di tangan Violetta.
Dinda terauma kembali dengan pistol itu juga suaranya.
"Arkan gue suka sama lo, Lo pergi, gue mau bunuh cewek yang udah ambil lo dari gue," ucap Violetta emosi.
Pistol terangkat mengarah ke Dinda.
Dor... Dor...
Bukan Dinda yang kena tapi Arkan.
Dinda merasa tidak ada apa pun terjadi padanya seketika melihat Arkan didepannya Dinda melotot kaget bersamaan air mata yang keluar.
"Ka-kak..." Rintih Dinda melihat Arkan tersenyum Violetta seketika menjatuhkan pistolnya dan menggeleng. Masuk kedalam mobilnya segera tapi di cegah Beto lebih cepat.
Dinda menangis histeris. Tunggu! Darah!
Arkan tersenyum mengangguk samar dan mengecup kening Dinda.