Arkan Dinda

Arkan Dinda
Tindakan Arkan



Arkan terdiam dan menatap Dinda.


Kakek masih merasa bersalah dengan sikapnya. Rayhan hampir saja lepas Kendali tadi akan menghajar Kakek didepan Arkan.


"Lihat.. Apa yang sudah anda Lakukan. Apa anda sebegitu teganya hingga Dia yang bahkan belum ada di dunia ini ingin, Anda mau buat menghilang dari hadapan Anda dan Arkan karena ketidak tahuan Anda, alasan yang pasaran Anda hanya perlu bersabar apa anda selalu seperti itu," ucap Rayhan menarik urat marahnya.


"Apa sedikit saja Anda tidak berpikir jika sesuatu terjadi pada Arkan dan Dinda bahkan Anda belum sampai memikirkan dampaknya, anda akan menyesal seumur hidup karena telah membuat mereka kehilang hal yang bahkan anda berdua inginkan. Pemaksaan... semua anda lakukan demi keluarga, Demi Arkan. Lain kali pikirkan yang ada disekitarnya lihat sejauh mana yang bisa kita ketahui, kita lakukan jangan pernah teburu-buru," ucap Rayhan lagi.


Kakek terdiam seketika berdiri dan menatap Dinda yang takut menatap Kakek.


"Maafkan Kakek, Nenek juga, Maaf kami..." ucap Nenek terhenti Ketika Kakek pergi begitu saja dengan wajah marah meninggalkan Nenek yang bicaranya belum selesai.


"Sayang," ucap Istrinya Rayhan berusaha menenangkan Rayhan yang emosi. rayhan ingin mengejar kakek dan nenek untuk membuat mereka berdua sadar.


Kakek seketika menghentikan langkahnya. Rayhan dan istrinya menoleh Arkan menatap neneknya Dinda masih duduk diam menatap kakinya dan lantai.


"Kamu tetap akan menikah dengan Zalfa walaupun Dinda hamil."


Seketika Arkan terdiam wajahnya seperti ingin membunuh semua orang di hadapannya.


Rayhan yang hampir kembali lepas kendali lagi langsung di tahan Istrinya lagi.


"Mereka... Aaargh.." Kesal Rayhan.


"Kalian beruda ada Om dan tante. Ingat Tante bilang kalo semuanya di luar kendali Tante sama om yang akan jaga kalian."


Istri Rayhan menatap Dinda. Seketika Dinda mengangguk mengerti. Dan Arkan menoleh dengan tajam menatap Rayhan dan istrinya.


Di rumah lain Kedua orang tua Zalfa dan Zalfa sendiri sangat senang karena tanggal pernikahan langsung di tentukan dan secepatnya mereka akan menikah.


Tapi, ketika masuk kedalam kamar Zalfa menatap cermin. Memperlihatkan perutnya yang buncit tertutup baju panjang dan mantel.


*


Di rumahnya Kakek duduk dan menatap istrinya yang masih berdiri.


"Kali ini Kamu kelewat batas. Apa seperti ini. Walaupun benar Dinda melakukan kesalahan fatal kemarin setidaknya sekarang dia terbukti hamil dan telat tiga bulan. Apa kamu tidak memikirkan perasaan Arkan?"


Nenek sangat marah pada Kakek. Kakek diam saja.


"Iya aku tahu tapi, semua udah terlanjur. Memalukan jika membatalkannya dan kerja sama mereka dengan perusahan itu sangat baik tidak ada alasan setelah mereka tahu Arkan punya istri saja mereka masih mau menerimanya."


Kakek menjawab ucapan Nenek sama sama panik dan kesal.


"Terserah, Jika sampai Dinda dan anaknya bermasalah aku akan pergi dan kau urus semuanya, Aku terpaksa melakukan hal itu pada Arkan, Arkan pasti waktu itu mengira jika aku berubah. Kau juga kenapa selalu tidak sabaran Apa kau mau kehilangan cicitmu setelah kehilangan Ambar dan Alano. Kau juga ingin Menceraikan wanita yang sedang hamil seperti Dinda, Kau tidak lebih jahat dari seorang kakek yang tidak menginginkan cicitnya hadir."


Seketika Nenek menangis pergi kekamarnya dan di temani asistennya.


Kakek melangkah ke ruang kerjanya dan duduk di kursi kerjanya dengan kasar menutup matanya berharap jika semuanya tidak terjadi dan membayangkan jika semuanya hanyalah mimpi tapi, ketika membuka mata ternyata rasa bersalah itu masih ada dan membuat Kakek semakin sedih.


*


Arkan ada urusan dan janji USG hari ini tidak bisa di batalkan Dinda tidak mau pergi jika tidak dengan Arkan.


Arkan menghela nafasnya. Terdengar suara mobil masuk halaman. Tidak lama Nenek datang dengan membawa banyak barang.


"Assalamualaikum sayang," ucap Nenek menghampiri Arkan dan Dinda.


Dinda langsung diam ketakutan.


"Waalaikum salam."


"Maafin Nenek nak, Dinda jangan takut sama Nenek, nenek mau minta maaf sama mau bicara banyak sama kamu, Kamu udah USG?"


Dinda menggeleng. Arkan pergi kedapur mengambilkan minum untuk nenek.


"Kalo Gitu kamu pergi sama nenek ada Dokter terbaik yang pernah nanganin kehamilannya ibunya Arkan dulu kalo dia belum ada urusan," jelas Nenek.


Arkan masih berdiri menatap Dinda. Seketika Dinda mengangkat wajahnya menatap Arkan, Arkan mengangguk.


Dinda akhirnya mengangguk mau dan Nenek membantu Dinda bersiap.


Dinda seketika teringat perkataan Kakek.


Dinda terdiam dengan wajah sedihnya.


Arkan sekarang ada di depan sebuah tempat yang harus di datangi dengan pakaian formal dan lengkap dasi dan kemaja putih.


Om Rayhan menunggu Arkan didepan pintu masuk dan menatapnya dengan tajam.


Mereka masuk bersama ke sebuh gedung yang tidak terlalu mewah tapi, semua menganal Rayhan dengan baik.


Sampai mereka berdua diruangan pemilik gedung mereka diminta masuk dan di minta duduk.


Tidak lama dari luar muncul wanita cantik dengan dres Formal usia setengah baya masih tetap cantik.


"Kalian, Selamat siang."


Seperti sangat mengenal.


"Sepertinya Kalian kemari ingin membahas tentang Zalfa tapi, tidak bisa disni lebih baik kita cari tempat lain."


Wanita itu menyambut dan tahu jika akan membicarakan Putrinya.


"Maaf Tante, tapi, saya kemari bukan untuk itu tapi, Tante harus tahu jika Istri saya sedang hamil dan saya tidak bisa menikahi putri Anda apa anda ingin putri anda menjadi kedua kalinya di nikahi pria beristri?"


Seketika Ibu Zalfa menatap Arkan tidak suka dengan arah pembicaraan ini.


"Maaf Tuan Arkan, Apa anda tahu maksud ucapan Anda jangan asal Anda dari keluarga kaya bisa bicara seperti itu."


"Seharusnya Anda, yang bicara dan melamar tentang pernikhan pada orang yang tepat tidak seperti situasi ini," ucap Rayhan yang mulai tidak sabaran.


Ibunya Zalfa berdecih melipat tangannya. Memberi isyarat pada bawahannya untuk keluar.


"Jika sudah Seperti ini apa anda berdua ingin menolak, Jika sampai seperti ini terpaksa saya harus membatalkan kerja sama dengan perusahaan mertua anda dan kakek anda."


Arkan memberikan kertas surat pernyataan tanda tangan dengan materai nominal yang besar.


"Apa!" Ibu Zalfa menatap dengan Emosi.


"Anda pikir saya takut? Anda tidak bisa membuat saya mengambil posisi dan situasi sama seperti mertua saya dengan menempatkan istri pertama anak pertama saya di posisi kedua, Anda pikir saya bodoh, putri Anda sudah Hamil 7bulan dengan pria lain dan malah meminta saya menikahinya."


Rayhan tersenyum tipis meremehkan wajah pias ibu Zalfa. Arkan memang baik dalam hal bicara membuat lawan ketakutan.


"Saya Akan pergi dari sini, dan pertimbangkan dengan baik asisten atau kakak ipar saya yang mengambil surat pembatalan kerja sama ini harus sudah anda tanda tangani."


Kalimat Arkan lontarkan sebelum Benar-benar pergi.


Setelah perginya Arkan dan Rayhan. Tangan ibu Zalfa mengepal keras. Jauh dari perkiraannya.


Masalahnya ibunya Zalfa tidak tahu siapa pemilik perusahaan Marcquez diluar negeri. Kakek Arkan sengaja menyembunyikan identitas perusahan Marcquez dari media walau ada saja yang muncul ke publik Gerak cepat kakek membuat semua terkendali.


Ibu Zalfa tidak bisa berbuat gegabah jika sadar siapa Arkan. Tapi, sayangnya Ibu Zalfa tidak tahu.


"Aku harus memiliki menantu seperti cucu Bratha dan memang harus seperti itu, tidak bisa yang lain, putriku yang malang, Aku akan menyingkirkan istri pertamanya dari jalan mu lihat saja," ucap ibu Zalfa dengan menggit kuku panik dan gelisah.


Seketika Ibu Zalfa tersenyum senang ketika ide muncul setelah mondar mandir terus berpikir.


Di ruangan lainnya. Ruangan periksa kandungan Nomor antrian Dinda baru saja di panggil dan masuk bersama Nenek.


Dokternya ternyata masih muda dan Itu adalah Zalfa.


Dinda tidak tahu tapi, Nenek kenal.


Sedikit terdiam.


"Ah.. Iya silakan masuk," ucap Zalfa dengan Ramah. tapi, Nenek berpura-pura biasa tidak mengenal Zalfa dan Zalfa juga menunjukan hal yang sama.