Arkan Dinda

Arkan Dinda
Arisan



Dinda masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Sholat bersama Arkan sekarang.


Selesai sholat isya Dinda mendekat ke samping Arkan dan mengambil tangannya lalu menciumnya.


"Makasih kak, Selama ini sabar sama Dinda," ucap Dinda.


Arkan mengecup dahi Dinda.


"Dinda," ucap Arkan dengan tenang dan berbalik menatap wajah Dinda.


Ada rasa yang aneh sekarang, ada hal yang belum pernah Dinda rasakan sebelumnya seperti rasa bahagia yang berlebihan, Dinda menepis itu, tidak! Dinda harus bersikap biasa tapi, Kak Arkan selalu baik dan manis perhatian, menikahi Kak Arkan keajaiban sekarang pdkt lalu sepasang kekasih halal, oh... Dinda mau pingsan, berlebihan yaa.. Tapi, Kak Arkan juga bersikap seperti itu pasti ada alasannya.


Gak semua harus ada alasannya Dinda, Jangan anggap Arkan tidak bisa membaca raut wajah Dinda, Arkan saat ini sedang memahami Dinda perlahan, Dinda juga belum paham tentang perlakuan manis Arkan.


Setiap hari setiap waktu setiap saat mengungkapkan perasaan dan mengatakannya, Hey... itu bukan Arkan Prawira Brathadika.


Sekarang mengobati Luka kecil Dinda dan mengatakan sesuatu.


Tapi, gagal karena Dinda kaku seperti patung dan gemetaran takut.


"Kakak.. Kok gini Gak mau lah pake baju aja," ucap Dinda dengan menutup dadanya dan memegang bahunya dengan menyilangkan tangannya.


"Rambutmu panjang lukanya sulit dilihat kalo masih ada kerah baju," alasan Arkan dengan wajah datar.


Dinda menatap Arkan Horor dan sulit membuka kaosnya.


"Aw.. Sakit sekarang," ucap Dinda mendesis ketika sikutnya mengenai lengan kaos pendek.


Arkan mengambil alih membukakan baju Dinda. Sekali tarik baju terlepas dan memperlihatkan punggung Dinda dengan kain miniset hitam.


Arkan seketika malu pipinya memerah tanpa Dinda tahu. Arkan sangat lucu sekarang ekspresinya.


Dinda masih bergetar takut. Tiba-tiba tangan Arkan menyentuh lehernya dan mengobati luka leher belakang dan mengganti perban yang Dinda pasang dengan pelster berukuran sedikit besar persegi.


"Balik badan, Dinda," ucap Arkan tenang. Seketika Dinda berbalik dengan malu.


Arkan berdehem.


"Kakak!" Kesal Dinda karena ekspresi dan deheman Arkan.


Arkan menepis rasa malu mengganti dengan tatapan serius. Arkan mengikat rambut Dinda yang menutupi kening, ketika di ikat terlihat dahi memar dan lecet dahi lebar itu sudah lepas dari perban ketika kaos tertarik keatas.


Arkan memberikan pelester kecil dan kompres es.


"Pakai ini besok sekolah biar gak terlalu biru," ucap Arkan mengambil betadine lagi.


"Ehm," Dinda menerimanya dan menempelkannya di dahinya dengan tangan kanan.


Sikut Dinda di lihat Arkan di obati Arkan dengan pelan sedikit perih Arkan meniupnya.


"Kamu kenapa gak ngelawan," ucap Arkan seketika Dinda melotot kaget.


Heeh.. kok malah gini, kak Arkan kan ini. Sedikit terdiam berpikir Dinda merasakan hembusan angin di sikutnya yang terluka.


"Kamu bukannya diam aja kan tadi?" tambah Arkan lagi lalu menatap Wajah Dinda dengan datar.


"Baju kak," ucap Dinda mengalihkan pembicaraan dengan mengambil baju di dekat Arkan dan memakainya.


Entah! Kenapa Dinda teringat ucapan Lily yang bilang jika Dinda sudah menikah.


"Kak, Apa emangnya kalo perempuan nikah sama lelaki harusnya di rumah perempuan atau di rumah lelaki," ucap Dinda sambil memainkan ibu jarinya takut. Mengalihkan pembicaraan lagi.


"Kamu tanya itu untuk apa," sahut cepat Arkan tanpa ada jeda diam.


"Ya kan Dinda pernah denger hal itu, terus, Lily bilang Dinda nikah sama om-om," ucap Dinda takut.


Tiba-tiba air matanya jatuh dan tidak bisa berhenti. Arkan meraih dagu Dinda sebentar dan menatap wajahnya.


Arkan serius dengan mengamati wajah sedih Dinda.


"Kamu menyesal, Kamu malu, atau kamu ..."


"Enggak Kak, Gak maksud gitu tapikan Dinda nikahnya sama Kakak bukan om-om, kakak di katain om-om dan..."


"Dinda dengerin, Kamu itu gak perlu mikirin hal gak penting sekarang kamu tenang semua hal gak penting itu akan hilang kalo mereka gak dianggap," ucap Arkan perlahan seketika memeluk Dinda.


Arkan diam diam tersenyum.


Memangnya apa yang Arkan lakukan setelah pertemuan wali murid. Arkan datang ke ruangan kepala sekolah sendiri bicara empat mata dengan kepala sekolah.


Memberitahu status Dinda dan Arkan, Arkan juga menjelaskan tentang hal yang harus di lakukan Dinda selama di sekolah, pada kepala sekolah, Ya.. awalnya kepala sekolah terkejut bukan main tapi, memang ada yang berani dengan nama Brathadika.


Walaupun kepala sekolah, Keluarga Brathadika masih memberikan hak kuasa penuh dan keputusan besar untuk setiap keturunan ataupun keluarga Brathadika yang bersekolah dan menimba ilmu di SMA itu. Salah, hukum! Jangan kasih kelonggaran semua diberi sesuatu yang sama rata, berdiri di bawah peraturan sama rata.


Setelah pembicaraan panjangnya Kepala sekolah menyetujui penjelasan Arkan. Arkan selama ini tahu jika Dinda memang sering bermasalah kadang di bilang membuat masalah padahal tidak sama sekali.


Arkan makanya tidak terkejut jika dirinya di panggil.


"Pertanyaan ku belum kamu jawab Din," ucap Arkan dingin.


Dinda mendangak menatap Arkan dalam pelukan yang sedikit longgar.


"Kakak pasti udah tahu vidio itu kakak kan...." ucap Dinda berhenti.


"Aku mau dengerin dari kamu langsung," ucap Arkan datar.


Dinda menghela nafasnya menceritakannya dari A sampai Z Dinda memeragakan bagaimana dirinya melawan.


Arkan mengusap kepala Dinda.


"Besok kalo kamu di gitu in lawan tapi, jangan terlalu, kamu boleh keras tapi jangan terlalu keras, Kalo gak terlalu penting di balas gak usah, buang-buang tenaga aja," ucap Arkan. Seketika membaringkan tuhnya. Dinda juga mengikuti Arkan.


*


Hari jumat, Hari yang sangat terhebat untuk Dinda dan Kiran karena kalo hari jumat mereka pasti pulang bersama dan Arkan pasti banyak tugas untuk kali ini Mamanya Kiran menjemput mereka berdua sendirian dengan mobinya sendiri.


"Tante," ucap Dinda ketika Kiran mendatangi Mamanya dan Dinda juga menyalami tangannya.


"Sayang ikut Mama, tante juga ngajak kamu Dinda, yups," ucap Mamanya Kiran.


"Haah, Kemana?" Kata Dinda dan Kiran bersamaan.


"Kamu izin dulu sayang sama Arkan," ucap Mamanya Kiran tidak menjawab pertanyaan malah minta Dinda izin dengan Arkan sebelum pergi. Sambil meminta mereka naik ke mobil.


Arkan menerima telepon dari Dinda ketika akan berangkat menjemput.


"Assalammualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Kak, mamanya Kiran ngajak Dinda keluar, boleh?"


"Iya."


Telepon terputus.


Arkan menatap ponselnya dan melangkah lagi mendekat ke mobilnya yang sedang di rawat juga di cek mesinnya di bengkel.


Yuda mampir, seketika menatap Arkan.


"Apa gue bilang, Nyokap pasti ngajak Dinda," ucap Yuda.


Arkan terdiam fokus lagi pada mobilnya tadinya mau menjemput Dinda karena sedang senggang kebetulan, biasanya setiap hari jumat Dinda pulang sendiri. Pas mau di jemput ternyata ratu sosialita minjem Dinda duluan.


Sampai mereka di cafe tempat ibu-ibu arisan sosialita Mama Kiran membawa Kiran dan Dinda masuk dengan menggenggam tangan mereka.


Di tempat mereka sedang mengobrol seru seketika berhenti.


"Ih itu jeng..." salah satu ibu-ibu bersuara ketika melihat mamanya Kiran dan dua gadis SMA datang bersama.


Beberapa di antaranya langsung terkejut karena tahu siapa dua gadis itu.


"Permisi aku datang membawa dua anak gadisku, yang satu sahabat anak ku yaah, sudah aku anggap anak juga, kenalkan ini semua teman-teman mamah sayang," ucap Mamanya Kiran.


"Oh.. Jeng kayaknya itu anak-anak bermasalah di sekolahnya," ucap Ibu-ibu yang menggunakan gelang rantai emas.


"Oh iya, kalo gitu itu yang viral kemaren, eh kalo gak salah dia yang nikah sama om-om katanya," sahut ibu-ibu dengan kaca mata.


Terpancing mereka semua, lihat saja ini Arisan yang mamanya Kiran dan sahabatnya mamanya Kiran adakan akan mengetahui siapa Dinda dan siapa Kiran.


Enak saja mereka main menjelekkan Kirannya yang terus terang ibunya, ibu kandung ada didepannya, dan Dinda juga kerabatnya. Lihat saja mereka hari ini mamanya Kiran akan memperlihatkan sesuatu tak terduga.