
Dinda kembali menghampiri yang lainnya dan bermain basket.
Disini di kantin Arkan dan lainnya Duduk lalu Rian ada di belakang Arkan seketika Lorenzo sengaja mengambil makanan Rian untuk duduk satu meja bersama mereka.
"Yan... Sini lo sendiri baek, gak bark lo, kesambet lo makan dirian aja," ucap Bagus.
Justin menatap Rian dengan mengangguk.
"Aelah.. lo takut ya ama pak Bos karena ketangkep basa lo ngobrol ama calon bininya," ucap Lorenzo menggoda Rian.
Seketika Rian berdiri dan duduk di depan Arkan dan di samping Justin.
"Gak.. gue biasa aja," ucap Rian santai. Arkan menatap Rian malas.
"Lo suka bilang Dinda itu orangnya over thinking, jadi jangan salahin gue kalo dia punya rasa khawatir amalo, Gue tahu dia karena gue pernah deket, semoga aja tuh.. Mak Lampir kagak buat masalah," ucap Rian menunjuk Citra yang berjalan kemari mendatangi meja Arkan dan teman-temannya.
"Apaa...eh.. Citra maksudnya," ucap Lorenzo. Seketika Citra datang Lorenzo dan lainnyaembuang wajahnya Rian tetap menatap kedepan Begitu juga Arkan.
"Arkan aku mau disini sama kamu bolehgak, Temen kamu suruh pindah aja," ucap Citra.
Seketika sedikit bisikan terdengar di telinga jam Arkan dan teman temannya.
"Ih.. liat kak Arkan mau sama Kak Citra, ih cocok pasti."
"Iya dari pada sama Dinda Kak Citra lebih cantik dah tinggi ramping body Bagus lagi."
"Kak Citra paling bagus di banding Kak Dinda aku yang anak baru kelas sepuluh aja lebih suka sama Kak Citra dari pada Kak Dinda."
"Eh.. kalo Helem itu di pake Kak Citra lagi berarti fix pacaran mereka."
"Gak juga cocok biasa aja."
"Dah sih ah... buruan adegan manisnya."
"Temen-temen Kak Arkan kayaknya ganteng juga apa Kak Citra ngincer temen-temennya kak Arkan."
Ucapan dari adaik-adik kelas sebelas dan sepuluh yang bercampur jadi satu di pendengaran Arkan dan teman-temannya.
Bruak...
"Ups... Maaf.. Kesenggol gak sengaja ya, Maaf lanjutin lagi makannya gue lewat aja," ucap Dinda dengan cengiran khasnya.
Dinda mengantri es boba dan bersama Yeni Dinda membawa dua cup lalu ada beberapa cup di bawa Yeni.
Arkan menatap Dinda yang acuh.
Arkan berdiri seketika pergi meninggakan teman-temannya seketika Lorenzo menggeser tempat.
"Sini, duduk," ucap Lorenzo menawari.
"Ogah," ucap Citra kesal dan memilih duduk di tempat lain. Seketika Justin dan Bagus menggeleng.
Baru keluar melangkah menjauh dari Kantin Arkan di panggil Bu Ayu. Arkan segera menghampirinya dan pergi mengikuti ajakan Bu Ayu.
*
Disini di perpustakaan Arkan di tugaskan untuk mengerjakan beberapa latihan untuk keperluan akademik Arkan perintah Guru Arkan tidak ingin bertanya lebih banyak, katanya sih untuk mendaftarkan Arkan di universitas terbaik dan jika bisa Arkan masuk jajaran siswa paling genius.
Arkan membuka buku tebal yang belum selesai ia pelajari. Seketika ada pesan dari Dinda.
Arkan ada di perpustakaan. Lupa!
Arkan benar-benar Lupa. Jika Dia sudah Janji dengan Dinda pulang bareng.
Arkan melihat pesan masuk tapi tidak membukanya dan segera berlari keluar sekolah.
Terlihat Dinda ada di pos satpam.
"Dinda," ucap Arkan sambil mengedarkan pandangannya. Melihat Dinda ada di pos satpam Arkan tenang.
Ada-ada saja Arkan lupa ini hampir magrib Arkan belum pulang dan sudah janji untuk pulang bersama Dinda.
Dinda menoleh. Tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada satpam.
"Makasih ya pak dah nemenin ngobrol." Kata Dinda sambil menghampiri Arkan.
Satpam itu mengangguk dan mengangkat tangan tersenyum.
"Kakak lama juga," ucap Dinda menghampiri Arkan. Seketika Arkan memberikan hodienya dan memberikan.
"Katanya mau pulang bareng tapi kenapa lama?" ucap Dinda polos. Arkan kira Dinda sudah pulang. Arkan tidak berharap jika Dinda menunggunya tapi, ternyata menunggunya.
Dinda terdiam ketika melihat Citra datang dengan rambut dan pakaian yang acak-acakan.
"Hay.. Dinda." Sapaan Citra membuat Dinda menatap heran.
"Hay.. Kak, Kok acak-acakan kakak abis jatoh atau apa," ucap Dinda seketika terganti dengan tarikan tangan Arkan.
Dinda naik ke atas motor dan Arkan segera pergi.
Di motor yang sedang berjalan Dinda mulai berpikiran buruk.
Arkan terdiam hingga mereka juga hanya terdiam tapi, Citra tersenyum bahagia sekali.
"Kita liat apa pikiran buruk itu bisa membuatnya menjauh dari Arkan." Kata Citra pada bayangannya di cermin kecil didalam.mobil.
"Kak," ucap Dinda sambil turun dari motor Arkan yang sudah berhenti didepan rumah ibunya Dinda. Rumah yang lama dan bukan baru.
"Aku mau tanya tapi, Dinda gak sanggup terima kenyataan," ucap Dinda terus terang Arkan menatap Dinda sambil melepas helemnya dan Dinda membuka hodie Arkan.
Seketika Arkan menghentikannya.
"Mau ngomong apa?" Kata Arkan serius. Dinda menghentikan tangannya membuka hodie Arkan dan memainkan tali Hodie.
Satu menit...
Lima detik....
sepuluh detik....
Dinda terdiam wajahnya lesu. Menghela nafasnya.
"Apa Kakak sama Kak Citra tadi di sekolah berdua dan aku disuruh nunggu kalian berdua gitu, Atau emang gak ada apapun?" ucap Dinda sambil menunduk takut salah bicara selesai bicara lalu selesai bicara Dinda berusaha kuat menatap wajah dan mata Arkan.
"Haah... Tapi, kak Hati manusia itu beda-beda ada yang bisa berubah dalam sekejap, apa rahasia dia terlalu besar buat di sembunyiin, atau Emang dia dekat hanya untuk mencari ke untungan," ucap Dinda takut menyinggung tapi, itu jujur Dinda bicara Asli tidak di buat buat.
Sekejap Arkan terdiam memikirkan perasaan dan dirinya lalu situasi Kakeknya semalam dan Siatuasinya sekarang bersama Dinda.
Arkan mengepalkan tangannya, sialan memang! Lihat saja Citra Betricias.
Situasi Citra memang bisa di bilang bagus untuk membuat Dinda bisa bicara seperti ini sekarang, tidak tahu kenapa perasaan Arkan ketika mendengar ucapan Dinda jadi kesal seperti Dinda tidak percaya dengannya tapi, kenapa Arkan kesal?
"Enggak semua itu mungkin Citra emang jatuh dan aku dari selesai kelas, Di perpustakaan sampe lupa kalo punya janji anter kamu pulang," ucap Arkan jujur menatap wajah dan mata Dinda.
Seketika Dinda bersemu merah wajahnya.
"Iya.. kak maaf Dinda cuman gak rela tapi, Dinda juga takut jadi hal yang buat diri Dinda sakit dan sedih karena keterpaksaan Dinda," ucapnya. Seketika Arkan menatap Dinda dari dekat.
Arkan mengerti jika ada rasa terpaksa menunggunya tapi, itu sebenarnya Dinda tidak perlu lakukan, Arkan akan paham dan maklum jika Dinda pulang duluan, Arkan juga lihat jika Dinda sudah lelah.
"Kamu gak percaya gak masalah, Yang penting Aku gak ngelakuin itu," ucap Arkan tegas menatap wajah Dinda yang sekarang malu juga bingung dan serba salah.
Dinda terkesiap kaget dan menatap netra tajam Arkan.
Sepertinya penyakit posesif Dinda kambuh sudahlah Dinda... Cukup udah santai dan biasa bisa. Sementara aja Dinda sabar, Besok sementara nanti lama-lama kebiasaan dan Dinda pasti bisa sabar.
"Makasih kak dah nganterin Dinda pulang Oiya.... Kak Rian cuman minta maaf aja dan Kak Rian juga tanya Dinda kenapa gak nyamperin Kak Arkan, Dinda gak kasih tahu kok alesannya, cuman itu yang Aku sama Kak Rian omongin," ucap Dinda. Arkan menatap Dinda lalu mengangguk dan berbalik mengambil helmnya. sebenarnya ada hal lain lagi tapi, apa iya Dinda harus bilang juga?
Kak Arkan pergi dengan wajah datar dan dingin seperti Kak Arkan yang pertama kali Dinda lihat dan itu terjadi setelah Kak Arkan berpaling dari wajah Dinda. Baru kali ini Dinda lihat dan sadar.
Gimana gak over mikirnya orang Kak Arkan ganteng pake banget manis pake banget kalo senyum, di tambah pinter dan juga mendekati kata sempurna.
*
Di luaran di bengkel tepat Bagus dan lainnya baru saja tutup Arkan datang.
"Tumben lo lama dapet tugas lo," ucap Justin.
"Iya," sahut Arkan seperlunya. Lorenzo menepuk bahu Arkan.
"Citra masih disana gue tahu itu!" Seketika semua menatap Lorenzo.
Bengkel tutp mereka hanya sekedar ganti oli atau membenarkan sedikit baut yang longgar di motornya atau mengganti kapas rem.
"Lo tahu," ucap Bagus pada Lorenzo.
Lorenzo mengangguk.
"Gue gak sengaja nengok keatas waktu nerawang duit baru yang gue kirain palsu pas kita semua mau ke parkiran. Gue liat di teras atas kelas Tiga, Citra ngobrol sama cewek dan itu dia sempet noleh ke gue terus senyum." Penjelasan Lorenzo membuat Arkan sedikit berpikir Justin juga.
"Ya Ampun Kan gue lupa, Ceweknya itu...ehm.. Zo lo liat mukanya," ucap Bagus.
Lorenzo mengingat ingat.
"Haah, Dia cewek itu," ucap Bagus dan Lorenzo bersamaan membuat Justin menutup telinganya karena tepat berteriak di samping telinganya.
Di rumahnya Dinda sedang membaca buku dan mengerjakan beberapa latihan dari guru dan memakan camilan, tv pasti menyala.
Di depan rumah Dinda Gareng Kuta dan Diyo sedang mengobrol didalam mobil.
Seketika ada yang mengetuk jendela mobil mereka.
Tak..tak..
"Permisi," perempuan yang mirip dengan perempuan yang mengobrol dengan Citra.
"Apa.. lo sono," ucap Gareng.
"Lo yang deket," ucap Kuta.
Gareng berdecak. Seketika mereka bertiga keluar.
"Maaf Mas... Apa mas tahu alamat ini, saya baru disini," ucap Perempuan itu dengan nada bicara yang medok.
Gareng seketika mengusap tengkuknya.
Bingung Gareng ini adalah alamat rumah dinda tapi, tidak pernah mereka melihat siapa pun datang kecuali adiknya Yuda.
Diyo mendapat panggilan lalu mengangkat teleponnya.
"Yaa.. apa.. kenapa gak bilang," ucap Diyo sambil menatap foto dengan panggilan yang masih terhubung foto yang baru dikirim oleh Hansimon.
Di markas Arkan dan lainnya yang sudah disana sejak beberapa menit lalu mendengar telepon Diyo.
"Sialan," umpat Diyo.
Di markas tanpa basa basi Arkan dan teman-teman lainnya pergi dengan menaikan kecepatan motornya.
Diyo menghampiri Gareng dan Kuta.
"Lo tahu gak," ucap Diyo biasa saja.
"Gue bukan orang sini," ucap Gareng Kuta dengan bingung di buat-buat.
"Yaa..gimana ya mb maaf ya kayaknya kita juga gak tahu kita lagi nungguin temen kita nih maaf ya," ucap Kuta.
Perempuan itu mengangguk. Lalu pergi. Tidak lama setelah itu sebuah mobil datang dan membuat perlawanan duluan.
Diyo dan Kuta segera menghalangi mereka dan membuarakn Gareng melindungi Dinda di dalam rumah.
"Berisik banget," ucap dinda yang mendengar suara ribut-ribut.
Melangkah ke dekat jendela mengintip seketik Dinda melihat Gareng disana sedang berkelahi.
Dinda segera menelpon siapapun tapi, jari dan otaknya mengetik nomor panggilan Arkan.
"Kok gak diangkat." Tiga kali Dinda menelpon semuanya sibuk tidak di angkat.
Segera Dinda mengunci pintu garasi juga jendela semuanya di kunci.
Di luar semuanya kalah dan tertangkap mudah oleh Kuta dan Diyo.
Perempuan itu lincah dan membuat terus perlawanan tanpa sadar perempuan itu menggunakan belati tajam.
Tertusuk di bagian perutnya. Gareng meringis. Dinda melihat itu. Seketika perempuan itu melompat masuk dari memanjat pagar.