Arkan Dinda

Arkan Dinda
Belajar dari sesuatu



Tidak lama Arisan mulai setelah mamanya Kiran datang bersama Dinda dan Kiran.


Pesanan mereka juga langsung datang.


"Jeng, Dia kan anak yang nikah sama Om-om kenapa kamu ajak kesini kamu gak malu, Trus dia masa iya anak kamu, kamu gak malu diakan bar-bar banget," ucap Ibu-ibu dengan pakaian heboh, ibunya Lily.


"Oh.. maaf ya, Sayangnya saya bangga sama mereka karena mereka lebih fokus pada hal penting, contohnya sekolah," ucap Mamanya Kiran pas kena membuat bungkam ibunya Lily menjawab hal lain tapi, itu nyambung.


"Oh, Masa iya fokus sekolah kok udah nikah berarti udah kena tubruk kan ya," ucap ibunya Jeni mulai mengompori yang lainnya setelah ibunya Lily diam.


Tersenyum Dinda dan Kiran ketika di tatap jijik. Bukannya tenang tersenyum manis-manis mereka sedang menahan iblis dengan senjata tajam supaya gak keluar dan malu-maluin mamanya Kiran.


Di mobil Mamanya Kiran udah bilang diem aja pesen makanan, karena Mamanya Kiran yang bawa Dinda juga Kiran, Mamanya Kiran juga akan membuat semua ibu-ibu gak akan berani lagi buat gunjing terang terangan.


Jadi sekarang Dinda, Kiran diem aja makan-makan apa aja puas-puasin.


"Sepertinya jeng-jeng semua ini harus menjaga sopan karena kalo sampe ucapan kalian didengar suaminya, Huhuhu... saya gak tahu deh gimana nasib suami kalian."


Diam semua.


"Kok jadi pengen denger anaknya ngomong sendiri gak kamu aja," ucap ibu-ibu dengan gelang rantai emas.


Dinda dan Kiran nenoleh tersenyum.


Ucapan ibu-ibu gelang rantai emas itu bener-bener memancing masalah.


"Ohya, Saya rasa kalian gak boleh terlalu tahu, Saya kamari bersama mereka berdua, mau menjelaskan jika kalian dan anak-anak Kalian yang satu sekolah atau kenal dengan dua gadis itu, Saya harap jangan cari masalah terlalu rumit, Bahaya!" ucap Mamanya Kiran.


Tiba-tiba ibunya Lily dan Jeni berdecih dan memperlihatkan kalo tidak suka.


"Masa! kayaknya kalo dari tadi dapet pembelaan dari jeng terus berarti... oh.. jangan jangan bener lagi kalo suaminya orang gak punya terus sok sok an terus nikahnya sama anaknya jeng yang masih kuliah itu ya, sama Yuda," ucap Ibunya Lily menduga-duga tiba-tiba.


Menguji kesabaran sekali epribadeh! Dinda sudah tidak tahan es latte hampir habis.


"Sepertinya tante harus menjaga sopan walaupun saya masih muda, Bukannya sok dewasa maaf banget tante-tante cantik, Tuh.. dirumah di tempat kerja, kasian anak sama suami kalo lagi kumpul jangan gosipin orang, Inget bangkai itu bau banget saya aja gak mau suruh makan bangkai, nah kalo tante-tante kayaknya udah kebiasaan ya, Nih saya masih manusia tapi, tante-tante semua Monster!"


Penjelasan Kiran dengan pemikiran Dinda.


Dinda harus sopan kalo Dinda yang seperti itu bisa habis dia sama Arkan. Kalo Kiran.... Ah.. Mamanya sama Anaknya aja sama jadi gak masalah.


"Haah.. ya ampun gak sopan banget kamu," ucap ibu-ibu dengan kaca mata.


"Ohya.. Itu bagus Saya dukung tapi, besok lagi Kiran kamu jangan seperti itu kalo ada mama," ucap mamanya Kiran pada Putrinya.


Kiran mengangguk menatap semuanya.


"Pantesan didikan gak bener dari mamanya," ucap Ibunya Jeni.


"Bagus lah.. Kalo Anda nilai saya mendidik anak saya tidak benar lalu bagaimana didikan Anda hingga berani membully teman-teman sekolahnya bersama Lily, Yaa.. Itulah sahabat dari ibu turun ke anak berdampak buruk, sahabat anak juga bisa membawa sampah pada tempat kotor yang sampahnya yang tidak seberapa malah tambah kotor sampah bau, menjadi lebih kotor," ucap Mamanya Kiran dengan santai dan tenang menurunkan sedikit kaca mata coklatnya.


Beberapa Menit ke depan Arisan selesai kini Semua kembali pulang setelah mereka lelah.


Ibunya Jeni dan ibunya Lily menghampiri Dinda dan Kiran.


"Kamu itu anak dari istri yang sah tapi di umpetin walaupun sah kalo anak diluar nikah gimana?" ucap ibunya Jeni dengan wajah meremehkan.


Huuh rasanya Kiran ingin mencubit pipi ibu itu dengan keras. Dinda ingin memberi es pada mulut ibunya Jeni dan Lily agar diam sementara waktu.


Ketika tangan ibunya Lily terangkat dan meremas pergelangan tangan Dinda kencang. Seketika itu mamanya Kiran datang dan mencengkaram tangan ibunya Lily lebih kuat.


"Ingat ya, Keluarga Brathadika dan Xavier gak akan diem kalo kerabat nya yang tenang di ganggu, Jangan sembarangan melukai anak-anakku, melalui anak-anak kalian ingat baik-baik," ancaman mamanya Kiran membuat tangan ibunya Lily terlepas begitu saja dan mereka berdua pergi.


*


Selesai perkumpulan sosialita terpaksa Dinda di ajak pulang oleh mamanya Kiran.


Seketika akan keluar dari cafe dan akan masuk mobil.


Arkan mengirim pesan untuk pergi ke Bengkel karena di rumah sedang ada pemberian obat anti serangga.


Karena kemari-kemarin tidak bisa sekarang baru bisa di pakai jadi sebisa mungkin tidak ada siapapun di rumah.


Mamanya Kiran mengantarkan Dinda ke bengkel.


"Tante, Maaf ya tadi itu..."


"Iya Sayang, gak masalah, ibu-ibu gak bakalan di masukin di hati besok kalo ada arisan mereka pasti dateng, Tante tahu itu pikiran kamu dan yang mengungkapkan Kiran," ucap mamanya Kiran.


Dinda terdiam mengangguk. Dari sepion depan mamanya Kiran tersenyum.


"Kamu bener, Biar ibu-ibu itu juga belajar sesuatu, sebenernya tante itu males kalo mereka udah kepancing omongan gosip, huh... panjangnya sampe subuh, kagak ada capeknya," ucap santai mamanya Kiran pada Dinda.


Mobil berjalan lagi setelah sempat berhenti di lampu merah.


Kembali berjalan dengan tenang dan melewati putar arah di tempat yang benar.


Sampai mereka didepan bengkel Dinda mengucapkan terimakasih dan salam lalu keluar setelah Kiran dan mamanya membalas.


Kiran juga pindah duduk didepan bersama mamanya.


"Heeh.. Yuda, Kamu disini, kenapa gak bantuin Papa kamu malah asik disini," ucap Mamanya Kiran.


"Ck.. Iya Mah, iya, Yuda balik kerumah nanti abis jumatan di masjid," ucap Yuda yang sedang berdiri disamping motornya.


"Ya ampun Sayang mama gak salah denger kamu mau Jumatan di...." Seketika Yuda memebekap mulut Mamanya.


"Mam Yuda malu jangan gitu lah Mam Males Yudanya," ucap Yuda Gemoy. Terlihat semua melongo, Ya kali sosok berbahaya Yuda bisa begitu gemoy nya ketika mamanya menggodanya.


"Oh.. hehe ya udah Mama balik ya gantengnya mamah, besok jumat gitu lagi ya," ucap Mama sambil berlalu dengan tersenyum ceria.


Dinda menghampiri Arkan dan teman lainnya.


"Ini Mamanya Kiran beli banyak," ucap Dinda meletakan ayam goreng krispy dan pizza juga ada minumannya.


"Wwahah... Dinda kebetulan banget boleh nih," ucap Lorenzo.


"Masuk kedalem aja," ucap Arkan ketika Dinda menghampiri Arkan yang sedang mengecek mesin mobil sport keluaran eropa milik Alano yang lama di garasi belakang dekat taman dan kolam renang.


Dinda menganggukkan kepala melangkah masuk ke dalam ruangan Arkan lalu melihat tempat yang nyaman untuk duduk.


Dinda menyalakan kipas dinding yang besar dengan volume kecil.


Sambil makan dan minum Seketika Arkan masuk dengan tangan yang bersih dan keringat yang basah di bajunya.


"Kak, gak bawa baju koko," ucap Dinda.


"Gak.." Sahut Arkan.


Dinda mengambil kaos bau keringat Arkan yang baunya parfum.


"Kotor itu taro disana aja," ucap Arkan ketika Dinda akan menggantungnya.


"Iya kak," ucap Dinda.


Seketika melihat lemari Dinda melihat ada hanger baju.


Penasaran. Dinda menghampiri dan membukanya.


"Nih ada Kaos kak," ucap Dinda dan memberikan pada Arkan.


Masih baru dan ada pelastiknya, Bau dinding dan bangunannya kayak masih baru, Dinda ngerasa nih bengkel abis renov. Dulu Dinda datengin belum kayak gini.


"Kakak Jumatannya Gimana?" Tanya Dinda sambil duduk di samping Arkan seketika Arkan meletakan kepalanya di bahu Dinda.


"Capek benget, masih ada lima menit sebelum jam Sebelas lewat." Kata Arkan.


"Kak!" Kesal Dinda karena Arkan malah meletakan kepalanya diatas paha Dinda.


"Apa?" Sahut Arkan dengan mata tertutup.


"Nanti..."


"Bilang Pak Johan, minta tolong siapin keperluan jumatan." Ucapan Arkan seketika membuat Dinda diam. Arkan mengulurkan ponselnya.


Dinda menerimanya.


"Password nya?" Tanya Dinda ketika ponsel meminta di masukan sandi.


"Tanggal bulan tahun lahir kamu Yang, Dah aku istirahat sebentar, usap-usap kepalaku yang," ucap Arkan lagi.


Aargh... Kak Arkan buat Dinda deg-degan, yang-yang... kata-kata kayak gitu masih aneh dan ini apa kenapa kepala minta di elus eh... Bikin Dinda makin malu, Kakak Arkan manja sekarang.


Dengan ragu gugup Dinda akan menyentuh dahi Arkan. Seketika itu sudah tersetuh. Arkan tersenyum tipis dengan mata tertutup.


Dinda mengelus kepala Arkan dengan lembut seperti sedang menidurkan anak berumur sepuluh tahun.


Setelah pesan yang Dinda ketik terkirim Dinda meletakan ponsel Arkan di atas meja.


Di luar Yuda Lorenzo Bagus dan justin duduk sambil makan-makan. Mereka juga sudah menutup bengkel.


Karena sudah hampir jam sebelas.