
Setelah ujian tengah semester di akhir tahun ya... di bulan Desember. Juga sudah melewati masa dimana Arkan ulang tahun lagi.
Cepat sekali beberapa hari dan jam sudah terlewati hingga beberapa bulan terlewati hingga sampai di bulan Desember lagi.
Pernikahan Dinda dan Arkan hampir berjalan enam bulan atau kurang, mungkin... yah kira kira gitu kali, masalahnya yang nikah aja gak terlalu mikirin
Dinda memasukan buku ke dalam lemari. Liburan kali ini Dinda harus kemana dan apa lebih baik Dinda bantu Kak Arkan aja, oiya lumayan kali ya kalo jadi asisten suami kerja sama suami sapa tahu gajinya dobel tapi, buat apa juga? Orang kayak Dinda suka main komputer aja enggak.
Kemaren kak Arkan ulang tahun Dinda cuman buat kueh biasa terus acara makan-makan bareng temen-temen Kak Arkan ampe malemnya Dinda tidur pake baju Aneh, kayak baju ibu-ibu bersuami, eh... Dinda kan juga bersuami tapi, Dinda belum jadi ibu-ibu.
Dinda melangkah keluar kamar dan mendengar suara orang berenang di pagi ini jam juga masing terlihat jam berangkat sekolah.
Dinda dengan kaos kebesaran dan celana teraning selutut.
Dinda juga mengikat rambutnya menggulung sampai memperlihatkan leher putihnya.
Sebelum kebelakang Dinda melewati dapur.
Seketika menoleh melihat kueh tar keju dan coklat semalam di luar, diatas meja dekat toples kueh kering.
Masih didalam mika kueh tar itu.
Dinda mengingat dimana Thaliya datang kerumah bersama Nenek dan itu membuat Thaliya terus menatap Arkan tapi, tidak lama Nenek memberikan kueh dan mengajak ngobrol Dinda dan Thaliya di ruang tengah tanpa Arkan.
Seketika tangan Dinda mengepal kedua tangan Dinda sangat merah ada emosi terkumpul di dalam genggaman Dinda. Mengingat waktu malam itu.
*
Waktu malam itu Dinda di hadapkan nenek dan Thaliya yang sepertinya terlihat lebih cantik seperti pantas menjadi dokter ketika Dinda menilai penampilannya.
Tapi Neneknya seketika menjelaskan jika Dinda masih SMA dan Thaliya adalah calon dokter beda jantung.
Sedikit Down malam itu, rasanya derajat Dinda jauh sekali didalam keluarga ini.
Ada rasa sesak ketika Nenek baru menjelaskan kalo Thaliya adalah calon dokter beda jantung khusus.
Meringis dalam hati waktu malam itu.
Nenek juga memberikan nasehat pada Dinda agar tidak menunda kehamilan didepan Thaliya.
Seketika itu juga Thaliya menatap Dinda seperti terkejut. Lalu memancing nenek dengan pertanyaan macam-macam dan aneh-aneh.
Dinda tidak suka situasi ini, apa ini maksudnya permasalahan tidak karuan dalam rumah tangga Argh... Rasanya Dinda ingin nahan nafas selama dua jam di kolam.
Dinda sudah sangat tidak suka situasi ini tapi, Thaliya terus memancing nenek. Di akhir pembicaraan mereka yang menjadikan Dinda sebagai pendengar baik. Seketika Nenek memberitahu tentang warisan dan juga harta keluar dan kekayaan keluarga.
Bibit bobot bebetnya juga harus di perhatikan.
Sialan... Dinda ingat lagi. Kenapa harus ingat waktu malam itu padahal belakangan ini Dinda lupa. Gara-gara kueh tar keju itu.
Dinda menarik nafas lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Aku udah jadi istri sahnya Gak mungkin kalo misalnya Kakak gak dapet keturunan dari aku, tapi, kalo aku belum selesai sekolah bisa bahaya," ucapan Dinda untuk dirinya yang terpantul di kaca pintu kulkas.
Melihat Arkan dengan jubah Handuk biru dongker yang tidak di ikat.
Tampilan yang benar-benar membuat mata kaum hawa melotot tidak karuan dan ingin menyentuh bagian bagus disetiap tubuh Arkan.
Dinda mengeleng kencang dan menghentakan tangannya lalu berjalan mendekat ke Arkan.
"Kakak, Dinda mau tanya sama Kakak?" ucap Dinda mengebu dengan wajah lucunya berhasil membuat senyum cerah di pagi hari terlihat bersinar di wajah Arkan juga dengan wajah basah dan rambut yang basah dengan tetesan air.
"Tanya?" Menatap Dinda dengan satu alis terangkat.
"Kalo Misalkan Kakak di itu.. Ehm... Anu-anu sama. Dinda terus kalo gak.. eh, belum ada gitu gimana?" ucap Dinda membuat Arkan bingung.
"Kamu apa sayang, siapa apa kenapa, kenapa ini anu itu. Gimana sih kamu?" Arkan menghampiri Dinda dan berdiri didepan Dinda jarak selangkah lagi Dinda bisa menempel pada Arkan.
"Ih.. Kak Maksudnya buat Dedek bayi tapi, kalo belum ada di kasih sama Yang Kuasa, apa Kakak Bakalan tinggalin Dinda dan milih sama Thaliya, Nenek kan juga pengen cicit yang sempurna katanya buat mewarisi kekayaan perusahan Harta keluarga," ucap Dinda menatap Arkan.
Lagi-lagi beda di mulut beda di hati mulut Dinda mengatakan kalo Dinda itu selalu tidak apa-apa dan baik-baik saja tapi, matanya berkaca-kaca.
Arkan menyentuh kedua pipi Dinda dengan tangannya yang basah dan lembab dingin.
"Anak maksud kamu?" Jelas Arkan membuat Dinda mengangguk di kedua pegangan tangan Arkan di masing-masing pipi Dinda kanan kiri.
"Kamu percaya sama aku?" tanya Arkan lagi.
Dinda mengangguk lagi seketika mengeleng.
"Enggak juga, kakak kan bilang jangan terlalu percaya sama Kakak. Dinda juga udah bilang kalo hati manusia itu pasti berubah."
Arkan menyamakan wajahnya dengan wajah Dinda. Dinda dengan sedih menatap wajah Arkan Seketika Arkan berdiri tegak.
Arkan membawa menuntun Dinda untuk duduk di kursi.
Arkan mendudukan Dinda dan Arkan berlutut dan memegang kedua tangan Dinda di pangkuannya.
"Apapun kekurangan kamu aku terima. Aku nikah sama kamu bukan karena bentuk fisik kamu atau karena aku suka kamu jadi orang pertama buat Aku tersenyum, bukan. Tapi, semua itu adalah emang jalan yang aku pilih mau selamanya duka mau suka terus tiba-tiba Duka berkepanjang, Aku terima asalkan Kamu tetap sama aku, terima aku, Aku ini bisa lengkap karena kamu, Kamu segalanya di dunia dan kamu juga perempuanku di akhirat nanti, gak ada yang bisa gantiin kamu, Teman hidupku buat susah senang cuman kamu, Jangan pernah mikiran kata orang kata Kakek, kata nenek. Cukup aku cukup sholat kamu yang utama, Doa kamu itu juga bisa buat kamu kuat."
Tanpa sadar Dinda merasakan kehangatan yang Arkan berikan sangat tulus Balasan rasa suka Dinda yang diam-diam selama ini terbalaskan. Dinda merasa kurang pantas tapi, Semuanya terus membuat Dinda pantas bersama Arkan, Arkan sendiri yang membuat Dinda sampai disini duduk disini menjadi perempuan yang di sayang tapi, masih memiliki kegadisannya sampai sekarang.
Dinda tidak kuat Dinda menangis.
"Tapi, Kakak kalo, Kak Arkan gak punya pilihan pasti milihnya Thaliya karena Kakak cucu dan anak dari mama Ambar satu-satunya Kakak juga punya banyak perusahan besar yang butuh penerus... Kalo kemungkinan buruknya aja," ucapan Dinda seketika membuat Tangisnya sendiri semakin deras mengalis hingga tangan Arkan yang mengenggam kedua tangan Dinda terkena tetesan air mata Dinda yang hangat.
Sedih Arkan mendengarnya pilu sekali, Dorongan batin dari neneknya belum pernah Arkan Alami sampai seperti ini, Dinda merasakannya begitu menyakitkan kelihatannya.
Setiap nenek datang dan membahas cicit, Dinda selalu menangis dan kadang tidak mau cerita sampai benar-benar ingin meledak Dinda baru cerita.
Persetan dengan Thaliya sepupunya dari Om Rayhan, Arkan tetap akan memilih Dinda apapun Resikonya. Situasi menikahi Dinda adalah setelah hilangnya dua kebahagiaan sempurna jika sekarang Arkan menuruti perintah Kakek menikahi Thaliya demi penerus Arkan akan sangat menolak, Hati dan perasaan Dinda sebagai perempuan yang paling Di cintai adalah yang utama setelah kata sah di ucapkan para saksi, Arkan yakin jika Dinda adalah perempuan yang sehat dan juga perempuan yang kuat.
Arkan akan tetap bersama Dinda. Tanpa ditanya Dinda juga pasti memilih Arkan karena tanpa sadar dalam setiap pandangan mata, di rumah ini, Dinda hanya tahu Arkan.
Setiap tidur malam hanya ada wajah tampan sempurna membuat malamnya indah.