Arkan Dinda

Arkan Dinda
Tidak bisa mendekati lagi



Arkan masih diam menikmati sepuntung rokok hingga habis dan mematikannya dengan menginjak puntung itu sampai benar-benar tidak ada bara apinya.


Arkan bersandar seketika itu. Seorang perempuan datang dan memberikan Arkan sekaleng bir.


"Lo bilang langsung pulang, malah mampir lo, Lo gak tahu ini kan deket banget ama rumah cewek yang waktu itu Lorenzo sama temen-temennya datengin."


Arkan menghela nafasnya. Mendengarkan Indri bicara.


"Kak Indri ngapai kesini, Kakak bukannya pulang malah samperin dan kasih bir?" Balas Arkan pada perempuan yang Sebenarnya adalah kak Indri kakaknya Lorenzo.


Indri ingin mampir kerumah temannya. Pas waktu dari masjid Indri liat Arkan baru keluar dan pakai sepatunya dan pergi kemobilnya, sejak saat itu mendekat Ke Arkan untuk melihat apa yang Arkan lakukan disekitar sini.


"Ditanya malah balik tanya, kan gue tanya ama lo Arkan," ucap Indri dengan wajah kesal, tapi ada sedikit senyuman. Arkan menerima uluran sekaleng bir dari tangan Indri.


Tanpa sadar Dinda sebenarnya melihat Arkan dan menurunkan dirinya dari tumpangan ojek tapi ketika akan memanggil ternyata seorang perempuan cantik ada didekatnya.


Dinda mundur perlahan dan menjauh, seketika Dinda berlari menjauh terus. Memilih menjaga jarah tidak melihatnya dan tidak menghampirinya, Dinda tahu jika ini bukanlah saatnya dan mungkin tidak ada saat yang tepat.


Sudahlah Dinda pulang saja.


Arkan menghabiskan birnya lalu membuang dan bangkit dari duduknya. Seketika menoleh Arkan melihat seseorang berlari. Dan ketika ditangan orang itu terdapat gelang tatapan Arkan menajam pada gelang di tangan orang itu dan ternyata itu Dinda!


Arkan bergegas menghampiri.


Indri di tinggal sendirian.


"Jangan di kejar lo belom cerita apapun ke gue," ucap Kak Indri ketika Arkan sudah jauh beberapa langkah.


Arkan menghentikan larinya seketika itu ucapan kakeknya terngiang di ingatannya.


"Gak perlu kak," ucap Arkan berbalik menatap kak Indri yang menatap Arkan sambil memainkan kuku jarinya.


Indri menganggukkan kepala beberapa kali sambil melihat Arkan berjalan mendekat ke bangku tempatnya duduk dan kembali seperti sebelumnya diam.


"Yaa.. Gak papa terserah lo hak lo tapi, gue mau kasih tahu kalo sebenernya lo itu masih di ikutin bawahannya pak Johan," ucap Indri dengan berbisik Arkan jelas mendengar ucapan Indri.


Seketika menoleh kesana kemari.


Benar, Ternyata ada mereka di mobil dekat dengan mobil Arkan.


Arkan berbalik melangkah menghampiri Kak Indri.


Duduk diam saja tanpa banyak bicara. Arkan membiarkan Dinda pulang sendirian.


"Gue bilangin lo, Semua orang punya kebahagiaannya sendiri-sendiri tapi, gak selamanya." Terjeda ucapan Indri.


"Gue tahu lo kayaknya bener-bener ngejaga tuh cewek tapi, Lo juga harus tahu kalo mereka bisa pergi tapi keluarga akan tetap bersama walapun mereka menghindar, Darah lebih kental dari pada air, Kakek lo mau yang terbaik sedangkan lo mau yang lo butuhin, Dan kalian sama-sama keras kepala," ucap Indri.


"Darimana?" ucap Arkan, menanyakan kenapa Indri bicara itu apa Tahu tentang masalah Kakeknya Arkan.


"Tebak aja. Karena Lo dan Kakek lo terkenal diantara gosip kolega, Ambisi lo sama Bokap lo sama tapi, Ambisi lo sama Kakek lo cuman beda sedikit."


Seketika ponsel Indri berbunyi. Panggilan vidio Lorenzo. Seketika di buka panggikalan vidio itu.


"Woyy.. Kak Balik lo, ngeluyur mulu ada Mamih noh cariin lo tanyaain tentang kantor kapok gak lo, Makanya nikah biar di rumah gak sok sibuk," ucap Lorenzo tak berhenti ketika tatapan Indri menajam.


"Adek kurang ajar, Malu lo gue lagi di tempat umum liat lo! gak gue tambahin sangu sekolah lo," ucap Indri seketika mematikan panggilannya sepihak.


Arkan pura-pura Tuli.


Seketika berdiri.


"Aku pulang duluan kak," ucap Arkan.


Indri mengangguk.


Mereka sama-sama pergi dari taman danau dekat masjid.


*


Arkan kembali kerumah tempat tinggalnya sekarang di rumah orang tuanya.


Arkan memasukan mobilnya setelah pagar di buka olehnya dari ponsel. Lalu menutup sendiri setelah sendor pagar di lewati mobil Arkan.


Melangkah masuk melepas sepatu dan jasnya meletakan di tempat cucian.


Arkan melakukan semuanya sendiri.


Kakeknya tak mengizinkan siapapun membantu Arkan dirumah besar itu.


Arkan memasak makanan untuk dirinya sendiri setelah mencuci tangan dan memakai celemek.


Beberapa menit Arkan masak selesai akhirnya.


Arkan pergi ke kamarnya merbersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya dengan kaos biasa dan celana selutut.


Tidak terasa azan Isya terdengar.


Sebelum keluar kamar Arkan menyempatkan diri untuk ibadah.


*


Arkan selesai makan.


Melangkah ke tempat cucian piring setelah bersih semua Arkan berjalan keruang kerja.


Seketika masuk matanya melihat ada beberapa kertas dan amplop coklat berantakan diatas meja kerja.


Arkan lupa itu adalah semua berkas yang Om Rayhan berikan kemarin padanya.


Sambil berjalan ke meja kerjanya, saat itu juga ucapan orang yang mengajaknya bicara di masjid di ingat Arkan.


Arkan duduk di kursi kerjanya dan menatap meja kerjanya lalu mengambil beberapa kertas dan amplop coklat.


Seketika Arkan melihat Foto Dinda dan Citra dan ada perbedaan mecolok di tas Dinda jika Arkan yang lihat.


Sial...


Mereka memasang kamera tersembunyi.


Arkan mengambil ponselnya dan menghubungi Yuda dan meminta Kiran untuk mereka berdua pergi kerumah Dinda dan memeriksa tas sekolah Dinda.


Jangan tanya kapan foto itu Arkan dapatkan. Selama permainan Arkan berlangsung informasi tentang semua itu masih akan terus masuk pada Arkan kecuali, tentang Gabriel yang sulit di kupas sampai akarnya.


Di tempat Dinda Yuda dan Kiran datang.


Sebenenarnya Arkan bisa menyuruh Rettrigo atau Gareng disana tapi, tidak mungkin membuat Dinda kembali khawatir.


Akhirnya Kiran dan Yuda yang Arkan minta bantuannya.


Dinda yang sedang belajar seketika mendengar suara gerbang di ketuk pun keluar.


Melihat Kiran melambai dengan suara cempreng yang tak asing Dinda membuka gerbangnya dan mengajak Kiran juga Yuda masuk.


"Dinda gue boleh belajar Bareng sama lo gak sampe jam sembilan aja bosen dirumah," ucap Kiran. Dinda berdehem mengangguk antusias. Seketika Kiran teringat kakaknya.


"Kakak gue boleh masuk kan," ucap Kiran.


"Iyaa. lagian sapa yang ngelarang, masuk aja kali." Kata Dinda.


disini mereka di ruangan tengah belajar bersama.


Kiran mencoba mengalihkan Dinda dengan meminta makanan dan minum atau mengambil sesuatu yang sulit di lakukan membuatnya menjadi enak.


Sedangkan Yuda memeriksa tas sekolah Dinda dan akhirnya ketemu Dua lensa.


"Ini ada tiga pasang, kenapa cuman Dua," ucap Yuda bisik sendiri.


Yuda pergi kekamar Dinda mencari di dasi atau sergam sekolah atau buku atau jam tangan.


Seketika terlihat jatuh di lantai depan pintu kamar.


"Ketemu," Kata Yuda pelan lalu kembali ke ruang tamu. Dan memainkan ponselnya.


Beberapa jam berlalu sekarang sudah pukul sembilan malam. Kiran pamit pulang dan Kakaknya juga sudah kembali masuk ke mobil duluan.


Di rumah besar di ruangan Citra Rosella. Umpatan keras di keluarkan ketika dua layar monitor berubah tidak ada gambar dan hanya ada titik hitam putih seperti semut.


Di sini Kiran menunggu di mobil ketika Yuda masuk kedalam rumah Arkan memberikan tiga lensa kecil seperti alat penyadap.


Yuda tanpa basa-basi langsung pergi. Arkan juga sempat mengucapkan terimakasih.


Di rumahnya, Dinda heran kapan kamarnya berantakan. Aahh.. mungkin Dinda lupa.


*


Sekolah lagi hari ini ujian lagi hari ini, itulah nyanyian Dinda dan Kiran di kelas bersama dengan Yeni dan Chintiya sedangkan Lia diam tenang di kursinya.


"Kira-kira matematika gue kemaren berapa," ucao Chintiya.


"Waaahaha... Gue kasih tahu lo, Tebak gue pasti 60," ucap Yeni dengan heboh.


"Huuh.. songong," ucap Chintya.


"Kalo gue kayaknya 3,5 deh," ucap Dinda.


"Laah..." Seru Yeni dan Chintiya bersamaan.


Dinda mengangkat bahu.


"Emang pelajaran kutukan, Kenapa gue gak bisa memahami dan memastikan untuk pelajaran matematika giliran di B.Indo pelajaran ngarang gue malah pake memahami dan pasti, kan kebalik," ucap Kiran.


"Tapi, gue memahami dirimu lo beb," ucap Dodi pada Kiran seketika Semua berseru. Kiran malah kesal.


"Terserah." Tingkah Absurd Dodi tiada tara jika hanya membuat Kiran kesal dan mengoceh memarahinya tidak karuan.


Seketika suara bel berbunyi waktunya ujian di awal mulai.