Arkan Dinda

Arkan Dinda
Very disappointed



Nenek baru saja datang kerumah meminta Dinda membuat kueh bersama dan Dinda yang sedang senggang juga mengikuti ajakan Nenek. Ketika Kueh sudah matang. Dinda di minta Nenek mengambil sesuatu di bagasi mobil.


Setelah Dinda kembali lagi masuk Dinda di panggil Nenek lagi. Tiba-tiba Nenek mengelus perut Dinda.


"Sudah datang Bulan," ucap Nenek dengan lembut mengajak Dinda duduk.


"Eh...iya kemaren udah agak lama udah selesai, Iya, kenapa nek?" ucap Dinda pelan. Gugup nenek tiba-tiba tanya tentang itu.


"Hem." Tersenyum menatap wajah manis Dinda.


"Nenek minta tolong kamu anterin kueh ini Kantor nanti biar supir nenek yang Anter, sekalian nenek pulang, Nenek harus pulang cepat nanti ketahuan Kakek kalo nenek sering dateng ngerumpi sama menantu Cucu," ucap Nenek sambil tersenyum hangat.


"Di kantor?" ucap Dinda bingung dengan suara pelannya.


"Iya, Arkan udah pulang, tapi, masih ada kerjaannya di kantor kamu samperin aja kesana," ucap Nenek.


Anggukan dua kali kepala Dinda tanda mengerti. Dinda mengikuti Nenek berjalan keluar. Seketika di mobil Nenek menoleh tersenyum melihat Gressia dan Rettrigo.


"Oh.. Itu tetangga depan kesini katanya main mereka pindahan dari luar, mereka juga nunggu orang rumah pulang katanya mereka gak di kasih kunci cadangan, Kak Arkan juga kenal kok nek," ucap Dinda menatap cemas semoga berhasil alasannya.


Nenek beralih menatap Dinda.


"Oh.. gitu, iya gak papa," ucap Nenek. Tidak masalah, Nenek juga tahu, lagi pula rumah Arkan sudah banyak pengaman elektronik jadi mau ada orang asing tidak di kenal juga tidak masalah.


Dinda mengangguk menatap malu sambil tersenyum ke arah Gressia dan Rettrigo.


Gressia mengangguk dengan tersenyum.


"Gue aja yang ngikutin, lo di sini," ucap Rettrigo pada Gressia.


Mengangguk dan kembali duduk di Gazebo.


Mobil nenek sudah pergi menjauh. Tidak lama Rettrigo dan motornya mengikuti mobil yang barusan keluar halaman rumah bosnya.


*


Setelah mengantar Nenek dan sempatnya di berikan jamu untuk kesehatan rahim. Dinda memang kaget tadi, sampai segitunya dan ini jamu! Dinda masih deg-degan dan gugup.


"Maaf non, udah Sampe," ucap Pak sopir.


Dinda yang melamun menatap sebotol jamu kesuburan itu tiba-tiba kaget dan sepontan menjawab iya.


"Iya Pak, Oh sampe, Ini kantornya," ucap Dinda.


"Iya Non," sahut Pak Sopir lalu mempersilahkan Dinda keluar karena pintu sudah di bukakan sejak tadi tapi, Dinda masih diam melamun saja.


Turun dari mobil.


"Makasih ya Pak, Bapak pulang aja nanti Dinda bisa bareng Kakak," ucapnya.


Sopir mengangguk dan pergi dengan mobilnya. Di tempatnya Rettrigo berhenti dan memperhatikan Dinda yang masuk ke dalam kantor.


Di depan halaman Kantor masuk mobil mewah berwarna dongker.


Rettrigo tidak memperhatikan mobil itu.


Di dalam lobi Dinda bertanya pada resepsionis dimana ruangan Arkan tapi, tidak di tanggapi.


"Permisi Mb boleh tahu dimana ruangannya Kak Arkan," ucap Dinda dengan sopan untuk ke dua kali.


"Maaf ya, Kak Arkan, maksud kamu Pak Arkan, Kami harus punya janji dulu sebelum mengizinkan anda masuk," ucap salah satu resepsionis itu.


"Tapi, saya di suruh nganterin ini kueh dari..."


"Maaf Dek kamu itu dari kurir mana Setahu kami Pak Arkan tidak pernah memasan makanan di luar beliau akan pulang jika mau makan Istrinya bukannya baru saja lewat tadi, anda gak tahu ya, pake blezer hitam kaca mata, cantik lagi." Terang-terangan salah satu teman Resepsionis itu mengatakan jika Arkan memiliki istri lain. Memotong pejelasan Dinda dan menjadi hal salah paham.


Jika Dinda tidak sadar situasi sudah ada keributan sejak tadi.


Padahal yang ada di depan mereka adalah Nyonya Prawira.


Dinda terdiam menatap biasa saling bergantian.


"Kalo boleh tahu di mana alamatnya," ucap Resepsionis itu malah menanyakan pada Dinda hal tentang kurir makanan.


"Maaf Bu, mb, saya Bukan Kurir saya kesini itu di suruh nenek buat nganterin kueh bikinan saya dan Nenek ke Kak Arkan langsung," ucap Dinda mulai malas dan lelah bicara dengan dua perempuan itu.


Seketika mereka saling tertawa menutup mulut kedua resepsionis itu merasa lucu, mengira lagi jika Dinda bukan kurir tapi fans fanatik Arkan.


"Heeh.. situ lagi ngelucu, maaf ya, kita lagi sibuk banyak kerjaan sebentar lagi itu mau jam makan siang, lebih baik kamu anterin ke alamat yang bener," ucap teman resepsionis itu.


"Hihihi miiif yi kiti ligi sibik binyik pikirjiin," mencibik menatap arah lain.


Lalu berbalik lagi.


" Heeeh.. Mb kasih tahu cepetan saya itu mau ngasih ini terus pulang," ucap Dinda menahan emosinya.


Tidak di tanggapi lagi Dinda mulai kesal, sudahlah asal pergi saja masuk entah kemana yang penting masuk aja dulu. Lewat tangga darurat aja.


Dinda membuka tudung jaketnya dan mulai menaiki tangga dengan santai dan sambil menatap ponsel seketika pesan masuk yang sama. Seketika itu Dinda tidak sengaja membuka pesan dan melihat jika orang ini ada di ruangan pimpinan dan menjelaskan juga lantai berapa ruangan sebelah mana.


Nih orang aneh apa gimana malah di kasih tahu, oh... maksudnya mungkin Dinda suruh datengin dan nangkep basah gitu... ih maaf kali yaa, gak sepemikiran Dinda gitu mending ngelakuin hal bermanfaat dari pada gitu.


Eh.. Tiba-tiba rasanya Dinda keringat dingin mual seperti mau muntah sungguhan. Perut Dinda gak enak rasanya.


Dinda melangkah cepat menaiki tangga dan harus sampai di ruangan Arkan.


Baru sampai tangga lantai lima belas Dinda tidak beristirahat. Cepat naik lagi Akhirnya sampai dan masuk ke arah ruangan Arkan. Dinda asal masuk saja dan meletakan kueh di atas meja. Sadar samar juga gak sengaja Dinda liat papan nama di meja dengan tulisan Arkan Prawira dan entah apa nama belakangnya. Dinda menerobos ruangan yang dekat dengan rak buku dan melihat ada kamar mandi Langsung masuk saja dan kebetulan gak di kunci.


Muntah, Memuntahkan semua isi perutnya yang di makan sarapan tadi.


Dinda belum makan apapun siang tadi.


Setelah merasa nyaman tapi, masih lemas Dinda bangkit dan keluar kamar mandi dengan santai keluar dari ruang istirahat pimpinan dengan santai lalu menutup pintu seketika itu Dinda melihat Arkan menatapnya duduk di kursi dan memandangi Dinda yang baru saja menutup pintu ruang istirahat.


Didepannya ada perempuan asing yang namanya adalah, namanya... Ayo Dinda telmi harus ingat nama perempuan itu sekarang.


Seketika ada bohlam lampu menyala di atas kepala Dinda seketika terbakar dan menatap marah perempuan itu. Violetta namanya!


Dinda mengambil kantong berisi kueh dan memeriksanya dulu sebelum di berikan ke Arkan.


"Apa ini..."


"Gak usah tanya kalo mau? Makan, kalo gak buang aja gak papa, Kata resepsionis di bawah istri cantik Pak Arkan udah bawain makan siang blezer hitam kaca mata dan cantik," ucap Dinda seperti menyindir dua orang di ruangan itu.


"Tapi, Din..."


"Males.. gak usah ngomong, apa! bilang keluar kota tahunya ke rumah tu cewek," ucap Dinda kesal.


"Kecewa kak, Masa iya Kakak tidur seranjang Kakak liburan, kakak juga kekantor gak langsung pulang ke rumah, ngomong aja kalo udah selesai bakalan bilik kik bilik... Bakalan baik... bakalan balik apa di bilik," ucap Dinda terus dengan emosi menggebu matanya memerah dan seketika air matanya jatuh.


Dinda menoleh menatap perempuan yang tersenyum bangga.


Dengan cepat Dinda melangkah pergi walaupun pusing dan mual. Seperti asam lambungnya naik.


Tidak perduli lewat mana Dinda masuk lif tekan tombol yang Dinda paham beruntung ada OB turun bareng, OB dan OG sekalian.


Arkan terdiam menatap kantong berisi kueh Dinda dan menatap marah Violetta.


"Loh.. Kenapa Arkan, Aku gak ngapa-ngapain lo, ngomong aja enggak," ucap Violetta dengan senyum kemenangan ketika tatapan Mata Arkan tajam.


Sebelumnya.


Arkan bangkit dan berdiri dari duduknya. Arkan seketika sadar Dinda masuk dan melihat Dinda seperti orang kebingungan Arkan akan menghampirinya tapi, sudah ke buru masuk toilet kamar mandi Dan bersamaan itu dua orang asistennya masuk untuk minta laporannya di periksa.


Arkan kembali lagi keluar dari ruang istirahat dan memeriksa laporan ketika Dinda selesai dua asisten juga baru keluar.


Violeta sama sekali tidak dianggap Arkan sejak masuk tapi, Dinda malah salah paham dan kecewa.


*


Tatapan Arkan menajam tanpa ekspresi pada Violetta.


"Keluar." Nadanya masih pelan tapi penuh emosi.


"Kan aku...." ucapnya sok manis seketika berhenti.


"Keluar atau mau lewat jendela lantai tiga puluh" ucap Arkan dengan aura negatif memenuhi ruangan.


"Arkan kamu gak kayak gini lo, aku kan baik niatnya kasih kamu makan siang terus pulang," ucap Violetta sama sekali gak terima kalo Arkan mengusirnya.


"Keluar atau gue gak segan ngasarin lo," ucap Arkan syarat akan makna mengerikan.


Violetta malah terkekeh.


"Lo buang waktu karena malah ngurusin gue." Tiba-tiba tangan Arkan mencekik leher Violetta.


"Lo lebih baik pergi jangan gangguin hidup gue karena gue gak pernah suka sama lo, ngerti! Harusnya lo pikirin diri lo yang selamet dari neraka dan malah di kasih kesempatan," ucap Arkan dengan tatapan tanpa ekspresi.


"Enggak... Eng..pas.. Le..pasin," ucap Violetta dengan setengah nafasnya. Arkan tidak main-main sekarang ucapannya mengasari Violetta benar-benar dilakukannya.


Jatuh di lantai dengan terduduk, Violetta bangkit dan menatap marah Arkan.


"Sekarang apa? Jendela, pintu keluar, lo ke neraka," ucap Arkan semakin kasar dengan memberi pilihan karena Violetta tidak pergi juga. Arkan bukan tidak mau mengerjar Dinda tapi, Arkan tahu Rettrigo pasti masih mengikuti Dinda.


Sampai di Lobi Dinda berlari keluar seketika di tahan petugas keamanan.


"Lepasin ih," ucap Dinda yang kesal di sentuh lengannya.


"Pegang dia pak laporin ke polisi karena mau berbuat onar," ucap Resepsionis.


Seketika Dinda dengan kekuatan tenaga seadanya walaupun lemas kalo terpaksa, Dinda masih bisa menendang seseorang.


Menendang dan menggigit petugas hingga tangannya lepas dari lengan Dinda lalu pergi setelah bebas. Di katain pembuat onar liat kalo bukan resepsionis kantor Arkan udah Dinda ancurin tuh bedak tebelnya.


Berlari kencang sampai di luar Dinda mencari halte untuk istirahat. Berlari lagi.


*


Di lobi Arkan baru sampai dan di depannya Violetta berjalan dengan marah sambil Melewati petugas dan resepsionis yang berkumpul.


Arkan berhenti menatap orang-orang itu. Seketika salah satunya sadar mereka langsung malu.


"Ingatkan aku untuk membuat surat peringatan pada kedua Resepsionis yang sekarang bekerja," ucap Arkan di dengar petugas keamanan dengan sempatnya Mata Arkan melirik tajam pada dua Resepsionis yang mengigil ketakutan. Karyawan yang ada di lobi juga mendengar itu.


Mereka seketika merasa takut dan berpikir berkali-kali untuk membuat masalah. Hal kecil yang mereka perbuat sepertinya akan langsung di pecat.