
Memasuki perusahaan besar yang ada di Swiss.
Tepat di ruangan rapat sudah ramai dan tertata rapi dan tertib. Ada beberapa Dewan rapat penting juga pengusaha penting yang ikut hadir karena kerja samanya yang cukup baik bahkan sangat baik, juga salah-salatunya adalah ayah Citra.
Gabriel Qnciz masuk dalam salah satu jajaran orang penting di dalam perusahan Swiss yang mengadakan rapat setiap satu tahun terakhir. Salah satu perusahaan terkemuka dan hanya satu orang pemiliknya.
Dari sana juga terlihat pada asisten pribadi atau sekertaris para Dewan rapat sekarang.
Tanpa Arkan tahu jika Kakek, Giovano, dan juga Rayhan ada di ruangan lain dengan kamera pengawas yang mereka gunakan untuk melihat dan memantau ruangan rapat Dewan sekarang.
Ruangan yang luas dan mewah dengan meja panjang hitam kaca.
Arkan dan satu orang yang menjadi tanggung jawab di perusahaan Swiss memasuki ruangan, tak lama setelah itu dua perempuan cantik dan tas juga Dokumen Arkan di bawa mereka berdua.
Sudah terlihat berwibawa dan juga tegas padahal baru lulusan SMA kemarin.
Semua menyambut Arkan dan semua duduk setelah orang di samping Arkan mempersilahkan.
Mereka tak percaya jika usia Arkan masih muda. Wajah dan cara berjalan memasuki ruangan dan cara menatap semua orang di ruang rapat sangatlah terlihat berani dan dewasa.
Rosella Betricias istri dari Gabriel Qnciz ada di kursi tepat belakang Gabriel Qnciz.
Dari kacamatanya Rosella menatap tajam Arkan dengan seringai tipisnya.
Lalu tak lama moderator mulai membuka rapat dan berlanjut susunan acara dan membahas tentang perusahaan Tiga jam lamanya rapat itu terjadi.
Hingga pukul sepuluh pagi waktu setempat di Swiss. Arkan meminta moderator mempercepat.
Beberapa dari dewan rapat penting di MC atau Marcquez company itu tak menyangka jika mereka bisa bertemu langsung dengan putra dari pemilik MC.
Sejak beberapa tahun lalu Rapat hanya di hadiri wakil dari keluarga Brathadika sekarang keturuan langsung dari Marcquez. Mereka semua tidak ada yang tahu apa hubungan Marcquez dan keluarga Brathadika. Dan tidak ada keinginan untuk mencari tahu.
"Sekian rapat hari ini...." Moderator mulai menutup rapat yang sudah selesai. Tidak lama setelah itu semua Asisten mendapat email dari dua perempuan yang masuk setelah Arkan. Suara pesan masuk di setiap ponsel Asisiten terdengar.
Para Atasan dan orang yang penting bangkit dari duduknya dan Arkan juga bangkit mereka saling pamit untuk pergi, tanpa salaman. Mereka meninggalakan berkas mereka diatas meja di hadapan mereka sebelum pergi.
Nanti akan ada yang mengambili Berkas itu.
Dari tempatnya Rosella dan Gabriel tidak bergerak dari kursinya, hanya mereka berdua yang tidak keluar. Arkan menatap dengan wajah datar dan dingin.
Tidak lama setelah itu masuk Justin Lorenzo dengan Rian dan Bagus mereka menggukanan setelah jas rapi khas seperti tentara bayaran lengkap dengan radio di telinganya sebagai alat komunikasi.
"Hahah.... Apa yang kalian mau?" ucap Gabriel seperti menyepelekan Arkan. Tawanya sangat berani.
Arkan bergeming.
Moderator tadi maju ke hadapan Gabriel memberikan tab dan memutarkan vidio. Rosella melangkah mendekat dan berdiri di belakang suaminya. Kedua perempuan tadi bersiap dengan pistol di belakangnya yang tertutupi tab yang mereka pegang.
Melangkah mereka mendekat ke Rosella.
Seketika Rosella menyadari sesuatu dan akan bergerak seketika itu sebuah pistol mengancanm perut bawah Rosella. Perempuan yang salah satu memegang postol sudah lebih dulu melakukan aksinya mengancam Rosella.
Sialan, umapatnya karena saat ini Rosella tengah mengandung.
"Bunuh saja keduanya mereka bukan anakku," ucap Gabriel dengan tenang secara tiba-tiba membuat Rosella menatapnya dari belakang dengan marah, apa suaminya Bodoh bicara seakan itu mudah.
Setelah mengucapkan itu Gabriel meletakan tab itu.
Arkan mengedikkan bahu dan tak lama Veronica masuk bersama Citra Rosella dan Citra Silla.
Silla langsung mendekat ke arah Arkan berdiri di belakang Arkan dengan wajah menunduk seketika itu membuat tangan Gabriel mengepal keras.
Tatapan mata Gabriel marah dan rahangnya mengeras marah seketika menoleh pada istrinya sadar jika Rosella tidak bisa bergerak karena janinnya sudah di ancam pistol.
"Apa kau balas dendam Ha... Siapa yang ingin melakukan semua itu sebenarnya ulah Rayhan Raxen paman mu sendiri, Kau mau melukai warga sipil, Apa senjata sekarang mainan mu nak," ucap Gabriel dengan wajah marahnya.
Arkan berdiri seketika mengokang senjata dan menarik pelatupnya, jenis senapan yang biasa Alano bawa kemanapun dan sekarang Arkan pegang dari Rayhan sewaktu itu memberikannya pada Arkan. Senjata yang Giovano berikan ada Arkan simpannya dengan baik. Arkan tidak akan termakan racun omongan Gabriel.
"Mengumpat-mengumpatlah sesukamu Paman, Aku tidak akan melarang, Asal anda tahu apa yang anda lakukan membuat seorang anak hidup tanpa orang tua apa anda juga akan membuat seorang anak mati karena ayahnya Bodoh seperti paman yang egosi, Tanya pada Putri anda, Dia memberitahu segalanya padaku," ucap Arkan.
Yaa... Sengaja Arkan mempertemukan keempatnya dan membawa dua teman perempuan Veronica dalam rapat.
"See....Putri mu masih bisa tumbuh dengan baik walau dalam keluarga pembunuh, Aku kasihan melihat Silla," ucap Arkan dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Silla maaf, tapi Papamu memintaku untuk menghabisi Kakakmu dan kau, bagaimana menurutmu?" ucap Arkan yang terlihat jika saat ini yang bicara di dalam ruang rapat dengan mengokang senjata bukanlah Arkan tapi, orang lain.
"Gue gak nyangka kalo itu rival gue," ucap Rian yang bergidik ngeri melihat ekspresi Arkan yang menyakinkan jika dia sangatlah kejam.
"Diem lo bisa-bisa peluru nyasar ke kepala lo yan," ucap Lorenzo yang sekarang sedang waras dan tak ingin membuat moment kejutan dan menegangkan ini berantakan.
Arkan mengakat tangannya dan mengacungkan pistol ke dahi Silla seketika itu Gabriel murka dan melempar kursi dan menghajar dua lelaki yang mengekang kedua tangannya.
Ketika Gabriel berbalik menghampiri Arkan seketika itu Gabriel menghentikan langkahnya karena Silla menangis.
"Berhenti Pah, Silla mohon papa mengaku saja Silla tetep sayang Papa walau papa bukan papa kandung Silla. Silla sayang Kakak Sella yang selalu berniat bunuh adiknya sendiri dan Mama yang selalu pilih kasih, Silla kan udah bukan Silla dulu, Jadi mungkin sekarang kita harus pisah dulu semua," ucap Silla dengan linangan air mata.
Gabriel yang ada di hadapan Arkan adalah seorang ayah bukan penjahat yang menghabisi kedua orang tuanya.
Kemana perginya kebengisan dan kekejaman Gabriel Qnciz, Rosella Betricias terdiam menatap marah kedua putrinya.
Gabriel mengepalkan tangannya yang terluka dan berdarah juga rupa yang acak acakan.
Tidak lama di ruangan lainnya Pak Jersey datang Kakek Arkan menjabat tangan nya dan Juga berjabatan tangan dengan Rayhan dan Giovano.
"Tuan Bratha, Tidak sangka jika Anda datang kemari," ucap Pak Jersey yang sok akrab.
Kembali ke ruangan rapat yang masih menegangkan.
Tanpa sadar Citra Betricias melepaskan diri dengan tangan masih terikat.
"Papa Aku bunuh saja bagaimana!" ucap Citra Rosella dengan wajah senangnya. Berdiri di belakang Citra Silla dan mencekik lehernya.
"Baik aku menyerah ini demi putriku dan kalian harus menjaganya, Maafkan aku karena aku yang melenyapkan ayahmu dan ibumu," ucap Gabriel dengan tangan diatas.
Arkan tak semudah itu percaya. Tatapan Datar dan ekspresi tak terbaca.
Seketika Arkan bersandar pada meja rapat dan memainkan pistolnya.
Membiarkan drama keluarga berlangsung dihadapannya seketika tanpa semuanya sadar gerakan cepat Gabriel yang akan menembak Arkan seketika itu Arkan sadari dan menembak tepat di kakinya. Arkan tidak terluka sedikitpun dan tersentuh Gabriel sedikitpun.
Seketika itu ruangan rapat kotor dengan darah Gabriel.
"Hentikan semua ini Bawa saja mereka," ucap Arkan yang mulai bosan dengan permainananya.
Wajah Arkan sudah suntuk dan malas seketika Itu Arkan menarik tangan Citra Rosella menjauh dari Silla.
Dan menjatuhkannya duduk.
Di beri peringatan dan kemurahan Hati tidak di indahkan siapapun, malah menjadi hal yang dianggap remeh oleh mereka.
Rian dan Justin Lorenzo juga Bagus mempersilahkan beberapa anak buah Pak Jersey membawa keluar Gabriel dan keluarganya.
Saat itu sisi Lain Veronica muncul sebagai pelindung Silla membuat Silla lebih tenang.
Arkan menatap Veronica dan Silla.
"Kau yang urus Ver," ucap Arkan. Lorenzo juga Bagus dan Rian menatap Silla yang menangis ketakutan juga tertekan melihat kakak ibu dan ayahnya di bawa petugas berseragam khusus.
Veronica mengangguk dan memeluk Silla lagi.
Di ruangan lain Kakek bangkit dari duduknya bersama Rayhan.
"Aku akan pulang mungkin bersama Rayhan kau jaga dirimu baik-baik Gio," ucap Kakek pada Giovano.
"Baik Tuan," ucap Giovano dengan bahasa Inggrisnya.
"Hey.. Apa ini Kita sepakat damai, Panggilan ayah itu menyenangkan untukku, Apa lagi permainan kita membuat kejutan untuk Arkan masih belum selesai," ucap Kakek.
Seketika Semua tertawa renyah, ada banyak hal yang Kakek simpan dari Arkan ada banyak hal yang membuat Arkan penasaran pada Kakeknya tapi, Arkan merasa penasaran biasa. Sekarang Kakek akan membuat Arkan lebih lebih baik. Kakek memang diluar membuat Arkan malas dan beci tapi, tidak bisa.
Namun, sebenarnya Kakek hanya melakukan apa yang terbaik untuk Arkan.