Arkan Dinda

Arkan Dinda
Singgah



Sampai di rumah dengan aman Dinda turun dengan pincang dari atas motor kakinya yang perih tidak dirasanya hingga Arkan membuka pintu gerbang lebar dan memasukan motornya Dinda berjalan masuk dan mengambil kunci di tasnya.


"Mampir kak?" ucap Dinda. Arkan tidak menjawab hingga Arkan masuk kedalam teras Dinda.


"Kenapa gak boleh?" ucap Arkan.


"Yaa. bukan gitu tapi, kan udah malem dirumah gak ada orang dan..."


"Capek gue, kasih gue minum?" ucap Arkan dengan santai.


Arkan tidak bisa pergi jika orangnya belum datang mengabari jika mereka ada di posisi.


Dinda tidak tahu itu.


Arkan masuk setelah Dinda mempersilahkan masuk duduk di ruang tamu Dinda pergi ke dapur untuk mengambil air.


"Maaf ya kak air putih aja, soalnya Dinda gak bisa buat teh apa kopi," ucapnya sangat polos dan jujur.


Arkan diam dan meminum air itu.


"Kak Dinda ke belakang sebentar." Arkan mengangguk.


Beberapa menit kemudian dinda datang dengan pakaian dan wajah yang segar dan kakinya sudah bersih.


Arkan menatap ke kaki Dinda. Dinda juga mengikuti arah pandangan Arkan.


"Dah gak sakit kok kak," ucapnya sambil menghentak hentakan kakinya.


Tak lama Arkan bangkit dan Dinda menatapnya.


"Loh mau kemana kak. Dinda lama ya apa .. eh.. apa kakak gak nyaman maaf ya kak kelamaan pasti Dinda," ucapnya menatap Arkan.


"Enggak lo sebentar siap-siapnya, Gue pulang lo jangan buka pintu buat siapapun yang gak di kenal kalo gak ada orang rumah gak papa," ucap Arkan sambil mendekat ke Dinda.


Dinda gugup dan mundur perlahan selangkah.


"Eh... Iyaa. kaka Dinda tau kok kan udah tujuh belas tahun masa gak mudengan." Kata Dinda.


Seketika Arkan mengangguk beberapa kali pelan dan pergi sambil pamit. Dinda menjawab Iya dan melangkah mengantarkan Arkan setelah motor Arkan berlalu pergi. Dinda langsung menutup pagar rumahnya.


Di gang depan. Arkan menghentikan motornya di pinggir jalan dan menatap ponselnya menelpon seseorang. Tidak lama dua orang datang dengan berjalan santai.


"Kita disini." Kata mereka salah satunya bersuara Arkan menoleh mengangkat wajahnya dan mengangguk. Arkan mematikan ponselnya dan turun dari motor melepas helmya.


"Bantu gue," ucap Arkan. Mereka berdua mengangguk.


Arkan kembali menaiki motornya dan memakai helmnya lalu langsung berlalu pergi.


Di sini ruangan lain di markas tengkorak. Mereka menghabisi seorang yang tidak bisa menjalankan tugasnya dengan memotong lengannya menjadi empat bagian masing-masing lengan menjadi dua.


"Kalian tidak becus. Aku ingin gadis itu dan Arkan akan mudah aku hadapi." Marahnya dengan kesal. Seketika orang yang bertugas sebagai pemotong lengan temannya di tembak mati oleh orang yang menyebutnya pimpinan.


Di tempatnya sekarang Arkan baru saja sampai rumah dan akan keluar lagi belum juga sampai di tangga seorang perempuan memeluknya dari belakang dengan kasar Arkan melepasnya dan menatap tajam, Arkan tidak suka dirinya di sentuh siapapun kecuali, Arkan sendiri yang mengizinkannya.


"Arkan kamu inget aku, Aku Citra teman kamu masa kamu lupa, Oiya besok aku sekolah di tempat kamu loh dan oiya aku juga akan bareng kamu setiap hari hihi.. seneng banget aku," ucapnya dengan wajah yang riang. Seketika akan memeluk Arkan Arkan menjauh lagi dan menghadang dengan telapak tangan kanannya.


"Lo Citra," ucap Arkan datar. Wajahnya sangat dingin.


"Iya.. ya ampun Arkan gak lupa ternyata ok aku mau sama nenek dulu byee..." Katanya sambil berlalu pergi.


Arkan menatapnya dengan tatapan datar lalu acuh berjalan ke dalam kamarnya.


*


Hari ini sekolah libur, Arkan tidak keluar kamar ketika Citra masih bersama dan dan berada di rumah ini. Arkan akan keluar kamar jika penting dan tidak ingin bertatapan langsung dengan Citra. Arkan pergi dengan buru-buru membawa helmnya dan hlem Dinda. Tidak tahu kenapa Arkan membawanya tapi, Arkan memang punya dua hlem yang mirip dengan milik Dinda dan itu di simpannya di kamar.


"Eh.. Arkan tunggu dulu, kamu mau keluar ya, oiya. bisakan aku ikut?" ucap citra berharap banyak.


"Gak." Jawabnya singkat dan pergi. Seketika Nenek masuk bersama asistennya.


Arkan tersenyum tipis dan menghampiri nenek mencium tangan neneknya dan pipi kanan neneknya.


"Arkan keluar dulu nek," ucapnya. Nenek mengangguk dan menatap kepergian Arkan. Di tempatnya Citra dengan kesal menghentak-hentakan kakinya dan melangkah pergi kekamarnya, eit... bukan kamarnya tapi, kamr kakeknya Arkan.


"Permisi kek." Kata Citra.


Kakek berbalik.


"Iya nak ada apa kenapa kamu lesu begitu duduklah," ucap Kakek. Citra duduk di kursi sofa dan menatap kakek dengan malas.


Kakek menghela nafasnya.


"Arkan memang begitu, kamu harus pintar-pintar mendekatinya." ucap Kakek dengan lembut.


*


Di disni depan Cafenya Dinda baru saja masuk dari membuang sampah. Melihat ada Arkan mengantri dan ada Justin juga yang lainnya Dinda segera pergi ketempatnya dan membantu temannya.


Dinda menekan alram pemanggil pelanggan seketika Lorenzo datang dan mengambil pesanan teman-temannya bersama dengan Bagus.


"Eh.. Dinda.. lo kerja disini juga," ucap Bagus.


"Iya kak." Sahutnya singkat.


Dinda menatap Arkan yang sibuk memaikan ponselnya lalu kembali bekerja.


Setelah selesai bekerja hari ini Dinda akan pulang baru melangkah pergi untuk pulang Arkan dengan motornya dan helm yang sama ada disana.


"Kakak... lagi nunggu siapa kak?" ucap Dinda yang berniat menyapa Arkan dengan wajah cerianya. Seketika Arkan menoleh dan mengantongi ponsenya.


"Lo!"


Arkan memberikan helm pada Dinda. Dinda menunjuk dirinya tepat di wajahnya.


"Hah.. Kakak lucu bercandanya Kakak nungguin siapa aku akan gak minta kakak jemput atau kakak lagi perlu bantuan Dinda? Iya?" ucapnya dengan menatap wajah Arkan.


Arkan tidak menjawab dan malah menegakkan badan Dinda dengan menyentuh bahu Dinda Arkan memakaikan helm untuk Dinda.


"Gue anterin lo pulang," ucap Arkan datar. Arkan naik ke atas motornya dan Dinda juga naik Seketika Dinda di tarik Arkan untuk memeluknya. Dinda rasanya ingin terbang.


Udah berapa kali di bonceng sama kakak kelas idola dan gebetan sekaligus ini, Dinda jangan peingsan, sambil menepuk-nepuk dadanya agar tidak tegang dan berdebar cepat.


Arkan mengizinkan Dinda memeluknya. Di mobil mewah dengan sopirnya, seseorang mengepalkan tangannya. Mobil itu mengikuti Arkan sampai rumah Dinda.


Baru sampai di depan Rumah tidak lama Ibu Dinda keluar dengan pakaian yang rapi.


" Ibu.. Ibu mau kemana?" ucap Dinda menyapa ibunya. Arkan melihat jika ibunya Dinda acuh saja.


Dinda langsung membukakan pintu gerbang lebar untuk Ibunya dan mobil ibunya keluar. Seketika Arkan mengetuk jendela mobil ibunya Dinda sebelum kembali jalan menjauh. Ibunya Dinda menurukan jendelanya dan menatap Arkan.


"Maaf Tante. Saya boleh singgah sebentar main sama anak tante, dan kemaren juga saya nganterin dan singgah sedikit lama di rumah tante," ucap Arkan dengan sopan.


Ibu Dinda menatap Arkan dengan tersenyum menganggukkan kepalanya, mengatakan semuanya dengan wajah ramah juga bersahabat. Dinda tidak bisa tahu apa yang ibunya katakan dan Arkan katakan. Dan Dinda hanya bisa memandangi ibunya yang ramah pada Arkan.


"Iya, gak masalah, silakan, inget dia anak gadis dan kamu masih sekolah, Hati-hati." Pesan ibu Dinda sebelum menutup jendela mobilnya dan tersenyum juga sebelum menutupnya. Mobil berjalan menjauh. Dinda hanya diam menatap ke pergian ibunya.


"Apa kakak mau mampir juga," ucap Dinda dengan bingung.


Arkan mengangguk.


"Oh kalo gitu motornya masukin aja kayak kemaren, disini kurang aman apa lagi motor kakak mengkilap terus." Arkan segera pergi ke motornya dan memasukannya kedalam pagar, halaman garasi. Dinda melangkah dan membuka pintu dengan kunci tergantung ibunya tidak sempat mengunci ketika tahu Dinda sudah pulang.


Dinda masuk lebih dulu lalu Arkan Lalu suara salam Arkan, ketika masuk seperti pertama waktu itu. Dinda menghangat perasaannya, suara Arkan ketika mengucap salam sangat bagus baru saja salam gimana kalo di imamin ketika sholat.


Dinda akan langsung terbang mungkin.


Arkan duduk tidak lama Dinda datang membawa segelas air putih.


"Kakak mau makan apa, Dinda cuman ada mie instan sama roti tawar susu ada Roti kering kayak biskuit coklat gitu," ucap Dinda.


"Gak... gak usah air aja cukup." Kata Arkan dengan biasa. Dinda duduk di depan Arkan Sofa yang di tengahnya ada meja memisahkan Dinda dan Arkan.


Dinda diam. Hingga nafas Dinda ketika menghela terdengar lalu suara jam dinding.


"Ehm.. kak apa kakak mau ngajarin Dinda, kakak kan pinter, maaf yaa kak jadi guru les Dinda nih Heheh..."


Arkan menatap Dinda dan mengangguk.


"Boleh mana yang belum ngerti?" ucap Arkan menatap Dinda. Dinda terkejut tersenyum lebar dan seketika berdiri.


"Bentar kakak aku ambil buku nya dan semuanya, Oiya kakak sampe jam berapa?" ucap Dinda untuk mengira-ngira pelajaran apa saja yang penting dan agar tidak sia-sia.


"Gak tahu," ucap Arkan santai. Dinda terdiam seketika Dinda bersemangat dan berlari kekamarnya.


...Hari ini aku senang dia singgah dan bicara lama denganku, walaupun aku tidak tahu dia akan pergi atau tidak... jika bisa aku mengubahnya, Singgah menjadi selamanya~Dinda Alea....