
Giovano bergerak duduk di kursi yang empuk dan menyandarkan punggunya,
seseorang dengan jaket denim dan celana dasar hijau botol dan kaus putih masuk bersama Anak laki-laki yang mirip sedekit dengan Arkan.
"Apa kabar keponakanku," ucap Rayhan menyqpq Arkan.
Arkan bergeming. Ada senyum aneh di wajah Rayhan.
Rama nama Anak Rayhan menghampiri Arkan dan memegang tangan Arkan tanpa takut sempat sebelumnya menggandeng tangan Rayhan.
"Kakak." Saura anak kecil itu membuat Arkan bergeming.
Hingga berucap kedua kalinya dengan suara Keras.
"KAKAK ARKAN SOMBONG!" Arkan menoleh ketika Kata sombong terucap oleh anak berusia tujuh tahun itu.
"Papa.. Ini kakak ku kan kalo gitu kakak cantik dirumah sakit itu Pacar kakak Arkan.. iyakan Pah," ucap Rama dengan polos.
"Ck.. Buset.. Berani amat tu anak ama Arkan bentak segala," ucap Lorenzo berbisik.
"Persis..." ucap Bagus berbisik sambil membayangkan seseorang.
"Dinda juga gitu kalo omongannya gak didengerin," ucap Rian seketika membuat lorenzo dan Bagus menoleh kearahnya. Rian menoleh menatap Lorenzo dan Bagus.
"Kenapa." ucap Yuda menatap Lorenzo yang menatap Rian.
"Gue curiga nih orang keknya dendam banget ama lo Tin," ucap Lorenzo seketika Justin kesal dengan Lorenzo yang suka menyeret orang dalam masalahnya.
"Lah kok gie Lo tuh cari masalah mulu," ucap Justin berbisik tidak terima.
Rian segera membuang pandangannya fokus kedepan lagi Enggan menoleh menatap Yuda Justin dan Lorenzo.
juga Bagus yang selalu menatapnya curiga.
"Eh.. Tapi dia tahu kalo Dinda di rumah sakit," ucap Justin berbisik.
"Iya," ucap Lorenzo menyahuti dengan berbisik.
"Diam lah," ucap Yuda, Seketika mereka berhenti bicara.
Rayhan mendengar semuanya dan menatap semuanya sambil berjalan ke dekat Giovano.
Rayhan mengusap kepala Putranya.
"Duduk dengan benar Jangan mengganggu," ucap Rayhan dengan datar pada Putranya.
Arkan melirik pada Rama yang menatap Rayhan dengan takut dan wajah Polos mengangguk mengerti berbalik dan duduk di kursi dekat komputer dan keybord.
"Aku bukan otak di balik semua kejadian itu," ucapannya tanpa basa basi sempat melirik ke Arkan.
"Apa alasan anda Tuan Rayhan Raxen Brathadika," ucap Arkan menyindir.
Senyum aneh diberikan Rayhan pada Arkan.
"Dia memang orangku tapi, Aku tidak memberi perintah apapun padanya, Jika penghianat berbuat sesuatu pasti tanpa sepengetahuan tuannya jika Tuannya tahu itu berati perintah Tuannya, Jika aku mengatakan salah satu orang ku apa kalian percaya," ucap Rayhan.
Seketika Yuda mengangkat tangan berbarengan dengan Rian.
Yuda menatap Rian juga menatap Yuda ada sorot mata yang tidak mau kalah.
"Lalu apa hubungan anda dengan secorpion?" ucapan itu Yuda dan Rian bersamaan.
Rayhan menatap datar mereka. Seketika melangkah kedepan di berdiri di tengah sehingga semua bisa menatapnya.
"Aku pemimpinnya tapi, Bukan aku yang memerintahkan mereka, Satu orang yang identitasnya hampir sama denganku dia bisa meniru suara bahkan segala ekspresiku, dia begitu menyukai kekuasaan yang Tengkorak punya, Jika aku berdmda di manapun, Kalian bisa mengenaliku dari sikapku, tapi mungkin sulit untuk kalian tapi, Giovano tshu, Putraku juga bisa mengenaliku dengan baik walaupun ada ratusan wajah mirip denganku," ucap Rayhan.
Arkan masih bergeming.
Rayhan menoleh melirik kearah Arkan tatapan Arkan masih sulit di pahami Rayhan.
"Aku jujur memang meminta menembaknya tapi, bukan didada aku juga yang datang kerumah sakit waktu itu, Aku menyelinap masuk, dan satu lagi, Keponkanku, Jangan sambungkan Brathadika dengan namaku karena Kakekmu tak suka," ucap Rayhan dengans serius. Tidak ada eksprei untuk menanggapi ucapan Rayhan.
"Berubah, Pernyataan Anda tidak konsisten Tuan Rayhan, Anda bilang anda tidak memberi perintah dan penghianat yang melakukan itu, Apa maksud Anda?" ucap Arkan dengan Formal.
Arkan bangkit dari duduknya dan beralih pergi.
"Semuanya menyangkut dengan masa lalu Giovano dan Ayahmu, Jika kau bergerak terlelu dalam mencari tahu, Resiko besar akan di terima gadis itu sama seperti adikku, ibumu dan Istri ayahmu, Ambar tidak akan suka," ucap Rayhan dengan suara yang membuat langkah Arkan berhenti di depan pintu kaca.
Arkan berhenti di pintu kaca yang terbuka mendengarkan semuanya.
Seketika melanjutkan lagi langkahnya untuk pergi.
Semua menatap punggung Arkan yang mulai menjauh pergi.
"Mungkin sampai disini pertemuan kita aku berharap Kita bisa bertemu lagi di Indonesia," ucap Rayhan. Seketika Rama menghampiri ayahnya dan Rayhan langsung mengangkat Rama dan menggendongnya.
Rama menatap semuanya dan Rayhan langsung pergi setelah menatap Giovano dan mengangguk sama juga mengatakan kata pamit dari isyarat tatapan mata.
"Waktunya kalian istirahat. Semoga besok kalian tidak bertemu mereka," ucap Giovano seketika mereka juga mengangguk.
Yang di maksud mereka adalah para orang-orang atau tetangga Giovano. Sepertinya Giovano sudah memperkirakan hal yang istrinya lakukan untuk keenam bocah-bocah ini.
*
Liburan setelah Ujian dan raport wali murid yang ambil.
Dinda sekarang duduk di Ayunan didalam taman rumah.
Ponsel Dinda pegang sejak tadi hanya Kiran yang membalas pesannya.
Suara angin dengan cuaca berawannya,
angin itu membuat sesuatu di taman membuat dedaunan saling bergesekan dan bunga kertas yang layu terlepas dari batangnya.
Seketika suara itu...
Yang mengatakan jika tembakan itu memang untuknya dan demi keselamat.
Lalu Suara Kak Arkan yang terakhir didengarnya tentang, jangan tutup mata, sampai suara Kak Arkan meninggi, Dinda ingat itu suara itu Dinda dengar di bawah alam sadar Dinda. Dinda tiba-tiba ingat karena sekarang Dinda tidak sedang memikirkan hal membuatnya lelah. Tiba-tiba saja itu datang, pikiran yang membuat Dinda kepikiran sekarang.
Di rumahnya kediamannya Citra sedang sibuk menatap layar ponselnya membaca laporan orang yang pergi bersama Farah, Seharusnya Citra tidak gegabah, Tato itu di curigai tidak oleh Arkan atau perawat disana? Tunggu kenapa tiba-tiba Citra memikirkan tato itu sekarang tapi, seperti biasanya Farah berhasil harusnya Citra tidak berpikiran negatif. Semoga saja disana hanya tahu jika Farah orang yang disuruh untuk memebuat Dinda Celaka saja tidak sampai jauh.
Sebenarnya Citra tidak tahu jika Dinda sudah sadar dan sekarang ada di rumah ayah Syifa. Citra juga tidak tahu jika Arkan bukanlah lawan sebanding dan tanpa sengaja Citra menggalikuburannya sendiri didepan Arkan, Citra tidak tahu siapa anggota tengkorak, Citra hanya tahu sebatas tahu tidak sampai tahu menyeluruh tentang Tengkorak atau secorpion.
Citra melamun seketika mengepalkan ponsel.
Tarrrk...
Kaca riasnya pecah, Citra melempar ponselnya ke kaca itu. Ponselnya tidak masalah tapi kaca itu pecah.
Citra menjambak rambutnya sendiri seperti orang frustasi.
Seketika tersenyum dan berdiri menatap wajahnya di cermin rusak.
"Haha... tidak..tidak akan bisa tahu siapa aku dan siapa Farah, Arkan hanyalah orang biasa bukan seorang yang bisa mencari tahu identitas seseorang sampai ke pembulu darah hingga anggota keluarga yang paling jauh, Hilang lah firasat praduga ini," ucap Citra pada dirinya didepan cermin.
Seketika Citra menarik nafasnya dan menghempuskannya perlahan. Citra kembali tersenyum wajahnya tenang. Mengontrol emosinya.
"Bibi, tolong ganti cermin di kamar ya, Kacanya pecah gara-gara aku terlalu senang menang lotre," ucap Citra seperti Citra yang manja. Dengan alasan kebohongan yang selalu terikat di kehidupannya
Pelayan segera mengerjakan perintah Citra.
*
Di paviliun atau ruangan yang terpisah dengan Mansion Giovano Arkan masuk dan duduk di ruangan istirahat. Tidak lama Rian Yuda Lorenzo dan juga Bagus, Justin masuk dengan bercanda.
"Lo.. Maaf ni ye Kan," ucap Lorenzo.
Arkan menoleh menatap Lorenzo.
"Sebelumnya kita gak mau tahu masalah lo tapi, kenapa ini semua nyangkut sama keluarga lo dan Om Lo seorang Mafia juga dan punya anak yang kenal sama Dinda juga gak takut ama lo, Lo pernah ketemu ama Om lo sebelumnya, tapi, dari yang kita tahu, Lo kayak kagak punya Om, Maaf nih yaa," ucap Lorenzo.
Seperti orang Syok Lorenzo berekspresi. Arkan menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Entahlah," ucap Arkan yang malas menjawab.
"Gue tahu sebenernya lo anggota Tengkorak dan gue sengaja diem aja, tapi, karena Lo gak seperti dugaan gue, Gue menghargai apapun keputusan lo buat Dinda dan buat kebahagian lo," ucap Rian tiba-tiba membuat Bagus dan Lorenzo berdecak kagum.
"Beneran lo," seru Bagus.
"Hem," Anggukan Rian.
"Sekarang Kita tahu semua orang-orang yang udah ngebuat semua permainan buatan ini, sampe ke tahap mereka sengaja ngasih bocoran rencananya," ucap Yuda sudah berpikir sangat jauh sepertinya.
Arkan berpikir, Setelah mendengar ucapan Yuda. Arkan merasa jika ini seperti terkait dan pengakuan rayhan membuat Arkan yakin diantara ketiga kelompok itu ada salah satu atau beberapa dari mereka ingin mencari cara menggeser Arkam dari ketua Tengkorak.
"Kita gak bisa lama disini Kan, Bisa aja orang yang mirip Om lo dan orang yang pengen kekuasaan secorpion dan Tengkorak itu buat Dinda atau orang terdekat lo celaka," ucap Justin seketika membuat semua langsung terkejut dan menatap Justin dengan tatapan praduga seketika itu mereka menunduk ada yang menganggukan kepalanya samar.
"Iya.. Mereka sengaja mancing lo karena mereka pengecut dan gak berani datengin lo secara langsung," ucap Lorenzo seketika membuat Arkan menoleh kearahnya.
"Berarti kita harus punya permainan khusus buat nangkep belut yang ukurannya jumbo," celetuk Rian seketika membuat semuanya menatap Rian.
"Bahasa lo lama-lama kayak Lorenzo dah absurd gak bermutu, tapi, lo abstrak berisi... Ya kan Zo," ucap Bagus. Lorenzo berdecih menatap kesal Bagus. Rian tersenyum tipis menggeleng.
"Huuh... Lo ikut-ikut aja," ucap Lorenzo menyalahkan Rian.
Arkan Yuda dan Justin saling menatap Lorenzo Bagus dan Rian dan yang Didatatap seketika diam dan bingung.
Seperti ada hal menakjubkan di balik masalah rumit kali ini. Seketika Lorenzo mengampit Rian dan Bagus juga.
"Lo masuk geng kita lagi, Lo temen kita, Otak lo encer juga kayak susu kedele," ucap Lorenzo, Rian mendengkus kesal.
Arkan mengangguk samar. Semua melihat Arkan mengangguk dengan wajah serius dan sedikit senyum aneh seperti ada ide baru yang Arkan dapat sepertinya.