Arkan Dinda

Arkan Dinda
Jarak yang jauh



Pagi datang kembali waktunya masuk sekolah untuk ujian lagi dalam beberapa hari saja lagi lalu ujian kelulusan ini akan selesai. Bisa di hitung tinggal beberapa kali lagi Arkan dan teman-temannya kelas dua belas menginjakkan kaki ke sekolah.


Dinda dan teman-temannya juga sedang melaksanakan ujian seminggu untuk ujian kenaikan kelas.


Dinda tidak merasa nyaman karena Kak Arkan yang waktu itu minta maaf lewat kak Lorenzo tapi, Dinda gak kasih jawabannya...


Nantilah Istirahat mungkin Dinda akan menghampiri Kak Arkan. Meluruskan permasalahannya. Sapa tahu baik-baik aja.


*


Berlarian menuju lorong kelas dua belas Dinda harus cepat sebelum Kak Arkan keluar dari kelasnya tadi sempat, Dinda bertemu Kak Rita di kantin dan sempatnya melihat Kak Syifa pergi ke taman dekat lapangan Futsal.


Dua kelas terlewati akhirnya sampai di lantai tiga kelas tiga.


Ini deket Kelas Kak Arkan, tadi Dinda sudah tanya katanya kak Rita, habis ujian kak Arkan di kelas sampe jam pulang. Kalo gitu Dinda samperin ke kelasnya sekarang.


Disini Dinda hampir berdiri didepan pintu kelas Kak Arkan.


Masuk Enggak masuk enggak.... Haah.. dilema aja.


Sebenarnya dari jendela yang terlihat dari dalam Arkan melihat Dinda lewat tapi, Arkan diam saja membiarkan Dinda yang Arkan kira cuman lewat.


Seketika di depan Pintu, Arkan melihat Dinda berdiri disana. Tidak kunjung masuk, Arkan jengah melihatnya, risih.


Arkan berdehem.


Dinda yang bimbang dan terus berpikir ini baik atau tidak, seketika itu kaget, dengan deheman Arkan.


Dinda menoleh ternyata ada Justin dan Rian di dalam kelas bersama Arkan.


"Permisi... Kak Aku masuk ya?" ucap Dinda dengan cengegesan dan pamit dengan sopan.


Rian dan Justin menatap Mengangkat wajah melihat Dinda didepan pintu.


"Kita keluar bentar," ucap Rian mengajak Justin yang seketika paham dan pergi menunggu didepan kelas.


Dinda menghampiri Arkan dengan sekotak kueh di tangannya.


"Eh... Kak Gak kekantin?" ucap Dinda malu, basa-basi.


"Enggak." Singkatnya.


"Oh iya... Kak Ada kueh nih Dinda tadi malem bikin buat di bawa ke sekolah buat sarapan tapi kebanyakan dan Dinda udah kok nyicipnya, Oiya.. Kakak makan aja satu nanti kalo enak boleh ambil lagi, atau semua juga gak papa," ucapnya basa-basi lagi.


Hanya mengatakan itu rasanya seperti ujian matematikan waktu hampir habis. Gugupnya suasanya pas Arkan natap langsung ke muka Dinda.


Arkan menatap uluran kotak kueh itu dengan diam. Seketika tanpa di minta Dinda meletakannya di atas meja Arkan dan duduk di bangku depan Arkan.


"Kakak kenapa gak ngomong sendiri kerumah? Kakak bisa nyamperin Dinda? Dinda gak marah, kita bisa jadi temenan kok," ucap Dinda. Seketika Arkan membuka kotak kueh itu dan mengambil sepotong dan memakannya.


Dinda menatap dan memperhatikan.


"Kak Kakak marah karena Dinda ngejauh kemaren... Maaf Ya kak Gak papa Dinda gak masalah kalo Kakak marah karena emang Dinda yang salah.


Kakak sebentar lagi kan mau...." Terpotong dengan suapan kueh ke mulut Dinda dari tangan Arkan.


"Jangan bahas itu," ucap Arkan singkat dan kembali Diam.


Dinda memakan kuehnya sambil mengangguk anggukan kepalanya.


Dinda tersenyum senyum menatap Arkan memakan lahap kuehnya. Hingga tidak terasa tinggal sedikit.


Dinda yang masih senyum-senyum memeperhatikan Arkan seketika kaget karena Arkan menatap wajahnya intes dan tajam.


Tadi waktu Dinda tatap muka Kak Arkan melengos sana sini. Sekarang kaget ketangkep basa mandangi muka orang ganteng.


"Eh... Ya udah kalo kakak gak marah Heheh... Dinda balik ke kelas dulu, Makasih ya kak udah di habisin," ucap Dinda seketika menyambar kotak kosong dan pergi keluar dari kelas Arkan.


Arkan menatap Dinda dengan senyum tipis. Tanpa Dinda tahu


Pura-pura bahagia didepan Arkan, Apa maksudnya?


Seketika Arkan meletakan tangan di lipat diatas meja dan meletakan dahinya.


Arkan kembali diam.


Keluar kelas Dinda pamit pada Justin dan Rian dengan sapaan dan terimakasih.


Rian dan Justin masuk masih dengan bermain game. Tak lama Lorenzo dan Bagus masuk dengan botol air mineral.


Seketika Lorenzo memberikan satu botol pada Arkan.


"Nih.. Lo nitip tadi," ucap Lorenzo.


Seketika Arkan mengangkat kepalanya dan menerima botol air mineral yang berisi air mineral dingin dan meminumnya.


Tidak bisa bergerak dan hanya mengikuti perintah.


Tidak berguna dan terbuang tidak di pandang dan rendah tidak ada kata yang baik untuk membuat semunya jelas.


Katakanlah untuk tidak menyakiti perasaan Dinda tapi, Arkan sudah terlanjur membuatnya hancur berharap pada yang semu memang sudah sangat menyakitkan sejak dulu.


Sekarang Arkan sudah bisa mengambil keputusan untuk dirinya tapi, perintah Kakek tidak bisa di bantah sama sekali.


Arkan menatap Dinda yang berjalan keluar sekolah dengan Kiran dan sambil tertawa.


Dinda masih bisa tertawa setelah harapannya hilang sebenarnya Dinda sungguhan tidak suka pada Arkan. Tapi, Arkan bukannya, cuman memberi perhatian biasa tapi, kenapa jadi Baperan gini!


Arkan bingung dengan Diri Arkan akan memantapkannya nanti Arkan harus menyelesaikan semua masalah ini lalu masalah perasaannya.


Arkan pergi melajukan motornya keluar sekolahan.


Dinda yang baru keluar gerbang dan menunggu Angkot seketika naik dan bertemu Citra didalam Angkot.


"Eh.. Dinda kamu naek Angkot!" ucap Citra yang sebenarnya Citra Silla Betricias Bukan, Citra Rosella Betricias.


Oh... jangan-jangan Kak Citra kepentok jendela terus amnesia. Tiba-tiba Dinda berpikiran dan membayangkan hal aneh pada kepala Citra.


Seketika Angkot rem mendadak saat itu juga Citra Silla Betricias memasang alat pelacak di tas Dinda dengan mudah. Jika bukan karena ancaman Citra Rosella. Citra Silla sebenarnya malas melakukan ini, benar-benar malas.


Di rumah besar. Citra Rosella tersenyum bangga Akhirnya dia mendapatkan lokasi Dinda setiap saat dan waktu jadi bisa setiap hari Citra Rosella memantaunya.


*


Arkan baru saja keluar dari Perusahan Ayahnya setelah pukul tiga sore tadi dengan pakain formalnya setelah rapat penting.


"Tuan," panggilan Pak Johan setengah berlari menghampiri Arkan.


Arkan berhenti tepat disamping mobilnya.


"Sepertinya Anda harus memiliki Asisten Saya tidak bisa terlalu menghendel semuanya karena semua berkas juga urusan perusahaan sangat-sangatlah penting, Seharusnya saya tidak membicarakannya disini tapi Anda sulit saya temui," ucap Pak Johan.


Arkan menatap Pak Johan dan mengulurkan tangannya. Meminta tas berisi berkas itu.


"Tidak usah. Untuk perusahaan Ayah biar aku sendiri yang urus untuk perisahaan Kakek Aku bisa mengurus dengan bantuan Pak Johan, Aku masih perlu belajar jika punya asisten aku tidak akan banyak belajar."


Seketika ucapan Arkan membuat Pak Johan tersentil.


"Hm.. Maaf kan saya Tuan," ucap Pak Johan. Tapi, memang Pak Johan memang sudah terlalu tua mengurus para perusahan besar milik Kakek Arkan juga milik kedua orang tua Arkan.


Pak Johan memberikan tas berisi berkas dan Arkan menerimanya lalu membawanya masuk ke mobil.


Arkan membuka tas berkas itu dan melihat apa isi berkas itu ketika di dalam mobil.


Beberapa berisi proposal dan sisanya adalah berkas pembahasan.


Beberapa dari Berkas itu masih ada di jadwal besok ketika Arkan melihat jadwal di pesan yang Pak Johan kirim di ponselnya.


Arkan meletakan semuanya di bangku penumpang sebelah bangku kemudi.


*


Di Restoran dekat dengan pusat perbelanjaan Arkan menghentikan mobilnya dan membawa satu tas berkas. Ternyata Kakaknya Lorenzo yang menunggunya.


"Eh.. Lo... Kan," ucap Kak Indri ketika melihat Arkan yang duduk didepannya dan meletakan tasnya.


"Mau pesen apa lo Kan," ucap Kak Indri pada Arkan.


"Air mineral aja," ucap Arkan.


Indri mengangguk dan memanggil pelayan. Meminta pesanannya dan minta dua botol air mineral.


Indri tahu gaya hidup sehat Arkan tidak jauh dari air mineral karena itu kenapa Indri tidak memiliki Adik seperti Arkan malah seperti Lorenzo yang bar-bar.


Kakak yang kurang bersyukur memang.


Dua jam berlalu sekarang waktunya hampir lewat sholat Asar sebelum mendekat waktu magrib. Arkan meminta jeda pada Indri.


Indri mengangguk dan mempersilahkan Arkan.


Setelah Arkan kembali lagi dari sholat Asarnya Arkan duduk sebentar dan meminum airnya.


"Terimakasih," ucap Arkan.


"Iya.. Sama-sama, Mau langsung pulang atau lo mau mampir," ucap Indri pada Arkan yang sedang membereskan beberapa berkasnya.


Arkan mengangguk. Indri juga mengerti, maksud Arkan adalah iya, langsung pulang.


Berjalan keluar restoran dekat pusat perbelanjaan dengan menghampiri mobilnya Arkan Langsung melajukan mobilnya pergi.


*


Macet. Waktu pulang kantor jalan raya juga sangat pada dengan semua aktivitas bersaaman.


Arkan yang lama menunggu lampu kembali hijau seketika melihat jam dan tak lama terdengar azan berkumandang, Sempatkan untuk mampir ke masjid terdekat.


Selesai Arkan berjamaah bersama orang-orang yang sholat di masjid tersebut.


Arkan menyempatkan diri untuk duduk sebentar lalu kembali sholat sunnah.


Setelah sholat Arkan duduk sebentar beberapa menit kemudian bangkit seketika seorang dengan Gamis putih dan sorban menepuk bahu Arkan.


"Kamu sepertinya masih muda," ucap orang itu dengan wajah sangat nyaman di pandang.


"Iya Pak," ucap Arkan.


"Marii," ajaknya keluar masjid dan bicara di luar masjid.


Di depan sambil Arkan menggunakan sepatunya orang itu mengajak Arkan bicara panjang lebar juga memberikan nasehat panjang lebar. Seketika orang itu menepuk bahu Arkan lagi.


"Saya Pamit duluan," ucap Orang itu Arkan mengangguk tersenyum dan berdiri ingin berjalan bersama.


Tapi orang itu ternyata kembali lagi masuk ke dalam masjid.


*


Arkan mematik api di korek dan mendekatkan pada rokoknya.


Di depan Danau duduk di kursi di bawah lampu penerangan Arkan membawa dirinya duduk di sini ingin mendinginkan kepalanya.


Arkan merasakan ada jarak yang jauh tapi, Dinda... Arkan tidak tahu apa yang Dinda inginkan Arkan coba pahami Dinda tapi, lagi-lagi pemahamannya salah


Seketika Sebuah mobil Aila merah berhenti di belakang mobil hitam Arkan.


Seorang perempuan cantik turun dan menghampiri Arkan.


Arkan yang diam memandang ke depan seketika menoleh dengan tepukan dua kaleng bir beradu.