Arkan Dinda

Arkan Dinda
Kesepakatan



Arkan bangun ketika mendengar suara Adzan subuh. Mendengar suara air di kamar mandi Arkan juga memilih mengambil kamar mandi lain untuk mandi.


Arkan dan Dinda sudah selesai dengan sholatnya bersama Dinda, seketika Arkan merebahkan kepalanya di pangkuan Dinda. Dinda yang sedang bertasbih berhenti karena terkejut.


"Pijit yang," ucap Arkan.


"Hah," sahut Dinda yang aneh mendengar kata terakhir yang Arkan ucapkan.


"Yang," ucap Arkan lagi sambil mengarahkan kedua tangan Dinda di kepalanya.


Memijitnya juga, Walaupun Dinda dengan malu dan takut menurutinya. Pelan Dinda memijit kepala Arkan hingga Arkan terlalu nyaman sampai menutup matanya.


Sebenarnya Arkan merasakan sentuhan pijatan kepala yang Dinda lakukan, tidak sampai tertidur.


Nyaman, satu kata itu membuat Arkan merasa benar-benar di layani dengan baik.


*


Melangkah memasuki kelas setelah di antar Arkan dengan motor tadi.


Sampai di kelas langsung duduk dan membuka buku, buka-buka saja.


Kiran masuk kelas membuat pintu terbuka hingga membentur dinding.


"Dinda heeey," ucap Kiran dengan heboh.


Seketika semua yang di kelas menatap Dinda lalu berbisik.


Salah tempat sepertinya, Kiran terlalu cepat membuat semua orang bereaksi pada Dinda.


"Apa?" Tanya Dinda dengan malas. Kiran membereskan buku yang sedang Dinda baca dan menarik tangan Dinda kekuar kelas.


Di sini didepan papan mading, Lagi!


Sraaak.....


Robekan panjang Dinda buat menjadi dua bagian untuk karton bertuliskan namanya dan juga berita buruk keluarganya dan disana juga menyeret nama ibu Rian.


Beto datang dan berhenti.


"Loh berdua ngapain disini?" Bertanya sok polos sambil makan permen karet. Dinda menoleh menatap Beto dengan tatapan dingin. Dengan perasaan kesal Dinda menarik tangan Beto dan membawa kertas karton yang di sobeknya.


Di atas atap sekolah.


Beto menepis tangan Dinda dengan kasar pergelangan tangan Dinda sakit. Kiran menunggu didekat pintu tangga turun dari atap.


Kiran melihat ekspresi Beto berubah masih saja bingung.


Kenapa Dinda membawa Beto.


Dinda memegang pergelangan tangannya yang nyeri.


Dalam hati Dinda mengingat perkataan kak Arkan waktu subuh ketika memijat kepalanya.


Kak Arkan bilang kalo nanti waktu dateng kesekolah jangan kemana-mana langsung kekelas habis dari kelas Kiran bakalan datengin Dinda. Dan itu bener kata Kak Arkan sesuai.


Kiran sebelum ngajak Dinda sampe ke mading Kiran bilang Dinda harus kontrol emosi.


Sekarang di atap sekolah tidak bisa kontrol emosi lagi. Sifat Beto juga berubah tiba-tiba.


"Kenapa lo ajak gue kesini?" Seketika meniup permen karetnya dan mengunyahnya lagi.


"Lo, gak berhak ganggu dan usilin hidup gue, Siapa lo, Jangan kira gue beg* Lo itu sengaja kan ngelakuin ini semua di tempel di mading kalo bukan lo siapa Kepala sekolah, Lo bercanda," ucap Dinda sudah sangat kasar bukan perempuan kalem sekarang yang Kiran liat tapi preman pangkalan tukang palak.


Beto menyeringai tipis mengantongi kedua tangannya di saku dan berjalan maju perlahan lalu mengambil karton itu dan menatap setiap berita yang tertempel.


Dan situs yang bisa di cari kebenarannya.


"Hati-hati sama ucapan lo, Lo tahu gue temen sekelas lo dan gue gak pernah mau ngurusin hidup lo, Lo gak kenal gue dan gue juga gitu," ucap Beto menatap Dinda dan melempar kertas karton itu ke wajah Dinda.


Beto memegang bahu Dinda dan meremasnya perlahan. Kesakitan sekarang, remasan tangan Beto di bahu Dinda seperti mau mematahkan tulang bahu Dinda.


"Jangan sombong mentang-mentang Lo deket sama pewaris tunggal keluarga kaya, Lo tahu gue sebeb itu gue usilin hidup gue, Lumayan Tiga puluh juta cuman nyebarin aib bohong keluarga lo," jelas Beto dengan wajah menatap sinis.


Di tangga menuju atap Dodi Wira dan Boby berjalan naik.


Seketika pintu terbuka Dodi melihat Kiran.


"Beb ngapain disini," ucap Dodi masih sempatnya bercanda.


"Lah elo Dodi ngapain disini, bab beb gue bukan pacar lo, Kuping!" Kesal Kiran.


Dodi cengengesan.


Seketika mereka berempat beralih atensi karena suara keras yang mirip tamparan. Dan Dinda, Beto disana.


Dinda memegang pipinya yang merah dan Beto yang santai setelah menampar Dinda.


Ketika Dinda akan membalas Beto menahannya.


Dodi di tahan Kiran Boby juga Wira.


"Bisa di marahin Arkan kita kalo tuh ceweknya lecet" kesal Dodi.


Boby Wira dan Kiran bergeming. Sudahlah Dodi juga diam jangan gegabah.


"Lo bilang gue cewek murah, Tamparan lo gak seberapa, Gue gak masalah lo nampar gue tanpa maksud tapi, kalo gue tanya sama Lo, Lo bakalan jawab apa, tentang ibu lo yang sebentar lagi bakalan sekarat, Jangan kira gue ngancem, enggak gue gak ngancem lo To, Gue cuman kasih saran... nasehat, Juga kata dari Kak Arkan buat lo," ucap panjang Dinda.


Beto menatap Dinda masih dengan kunyahan permen karet dan tangan kembali ke sakunya.


"Lo di janjiin kalo lo mau ngikutin mau mereka lo bakalan bisa selametin ibu lo tapi, sayang mereka bohong dan lo cuman jadi alatnya doang, Lo masih temen gue, gue gak minta kak Arkan nyamperin lo sendiri dan gue urus lo dengan cara gue, Kak Arkan bilang urusan lo bisa berbuntut panjang kalo gak mau buka mulut sama gue," ucap Dinda.


Beto bergeming.


Seketika Dinda memberikan rekaman medis ibu Beto dari ponselnya dan memberikan vidio ibunya yang tersenyum senang dan mengatakan nama Arkan sebagai penolongnya dan mengatakan untuk sekolah yang rajin. Jangan suka mengganggu Dinda. Vidio tentang ibu Beto berdurasi dua puluh menit.


Hingga selesai Beto melihatnya.


Seketika Beto membuang wajahnya dan menyerahkan ponsel pada Dinda.


"Gue terpaksa, Lo bisa laporin gue kepolisi karena lo emang ngebuat ibu Gue seneng," ucap Beto tiba-tiba.


Kaget Dodi dan Boby juga Wira.


"Segampang itu." Ucap Mereka bertiga bersamaan Kiran hanya Diam saja.


Di tempatnya Maulana dan Violetta tersenyum dengan bangga.


"Ternyata mudah juga buat ngehasut Beto, Bentar lagi ibunya juga bakalan mati," ucap Violetta dengan wajah yang sangat senang.


Maulana yang baru akan berangkat kesekolah tiba-tiba menarik rambut Violetta kasar hingga mendanga menatap Wajah Maulana dengan posisi duduk.


"Bokap Gue ngeluarin duit banyak buat lo idup dan kembali dari neraka, sekarang lo malah ngancurin semuanya dengan ulah ceroboh lo, Tol*l!"


Dengan kasar Violetta menarik rambutnya dari jambakan Maulana yang kasar.


"Apa maksud lo, Beto kan bisa buat kita..."


"Diem Tol*l! Lo pernah ketemu Arkan di supermarket si Arkan sama Dinda dan Lo tahu kalo dia orang udah nikah, Dan waktu lo mau nabrak Dinda Arkan curiga dan dari lo dateng ke kantornya Arkan itu udah buat Arkan semakin curiga, Sekarang dan kemaren malam semua data kita di retas dan hasilnya kita gak bisa berkutik dan juga semalem Dinda nelpon gue tanpa suara asal Lo tahu yang megang hp Dinda itu Arkan, Selama lo ngirim hal aneh ke hp Dinda Arkan bisa tahu semua kemaren dan langsung bertindak, Liat lo nanti malem Bokap bakalan ngamuk sahamnya anjlok lima belas persen," ucap Maulana dengan tarik urat marahnya pagi pagi.


Violetta seketika terdiam lesu menatap kosong lantai dan memikirkan kemungkinan buruknya.


Tidak... tidak bisa.


Maulana sudah pergi berangkat sekolah sedangkan Violetta masih sibuk berpikir keras tentang cara lainnya membuat Arkan menjadi miliknya dan kedudukan tengkorak juga bisa menjadi miliknya sendiri bersama Arkan bukan Alderos Sozhak yang juga mengincar kedudukan itu.